BETWEEN ( TERMINAL ) GIWANGAN ~ BUBULAK

BETWEEN ( TERMINAL ) GIWANGAN ~ BUBULAK
TAK INGIN IKUT CAMPUR


__ADS_3

“Jadi bagaimana Bu? Apa kita juga perlu cari pengacara?” tanya Aisy.


“Kalau kamu mau pakai pengacara, silakan,” jawab ibunya


“Kita sanggup kok bayar pengacara,” Menik tak takut harus kehilangan uang. Asal anaknya selamat.”


“Buat apa lagi test DNA Mas?” tanya Darno pada Joyo ketika mengetahui kakaknya lusa pagi ingin melakukan test DNA.


“Agar lebih valid Dek. Kalau cuma hasil yang kita pegang sejak dulu tentu akan bisa dia bantah. Tapi kalau dengan test DNA itu tidak bisa dia bantah,” kata Joyo dengan wajah tak bisa diduga.


“Ada apa sih?” tanya Ningrum.


“Enggak ada apa-apa,” jawab Darno. Dia tak percaya mulut perempuan. Bahkan walau itu mulut istrinya sendiri. Pasti nanti sama dengan Indri. Fitri sudah bilang hanya bicara dengan Indri, tapi nyatanya semua orang tahu.


Begitu pun masalah surat laporan polisi, hanya Indri dan dirinya yang diberitahu oleh Fitri, tapi sekarang satu sekolah sudah tahu semua. makanya Darno tak mau cerita pada istrinya karena takut bocor ke mana-mana.


“Mas benar-benar enggak mau membantu dia?” Darno memastikan apa yang dia dengan tadi.

__ADS_1


“Kemarin waktu kamu bilang dan memperdengarkan rekaman itu, aku sudah kasih tahu Menik bahwa Aisy akan ada masalah, tapi Menik bilang enggak usah dipikirin, karena istrinya Bambang hanya gertak sambal saja. Menik maupun Aisy sangat menganggap remeh istrinya Bambang. Jadi ya sudah Mas bilang sama Menik, kalau sampai terjadi permasalahan Mas akan lepas tangan. Itu yang kemarin Mas bilang saat pulang dari kantor,” jawab Joyo pada Darno.


“Mas juga bilang urus itu anak kamu, saat itulah dia marah dia mengatakan bahwa Aisy anakku karena saat menikah dia masih virgin.”


“Itu yang jadi pegangan dia bahwa tak mungkin Aisy bukan anak aku katanya. Aku akui, memang benar dia masih virgin saat kami melakukan malam pertama. Tapi kan Aisy lahir 4 tahun setelah kami menikah. Dia hamil setelah 3 tahun lebih pernikahan kami. Dan ingat kapan kita tahu semuanya yaitu masuk tahun ketiga pernikahanku ‘kan? jawab Joyo. Darno pun ingat kejadian 25 tahun lalu itu.


“Punya daftarnya Bu?” tanya Aisy menanyakan daftar pengacara yang bisa ia hubungi.


“Ya kamu tanya-tanyalah di kantormu. Pakai pengacara kantor kan lebih murah karena sudah kenal,” ucap Mukti.


“Cari di google lah, di mana lah. Kecuali kamu memang mau maju sendiri tidak pakai pengacara,” ucap Menik.


“Atau lebih baik kita minta maaf aja. Kita pakai jalan damai sehingga tidak ada penahanan atau apa pun,” kata Menik.


“Memangnya bisa kalau sudah dilakukan pelaporan seperti ini?” tanya Aisy.


“Ya bisa aja. Kita minta maaf dulu lalu negosiasi,” jawab Menik.

__ADS_1


“Ayo Bu kita ajak bapak minta temani untuk meminta maaf,” ujar Aisy.


“Bapakmu enggak mau ikut terlibat dalam persoalan kali ini. Dan ingat hari Senin pagi kita harus pergi sama bapak ke laboratorium.”


“Kenapa sih Bu aku harus pergi sama bapak?”


“Ya harus, itu sudah perintah bapak sejak kemarin. Waktu Ibu dikasih tahu soal akan di perkarakan, Ibu memang ngeyel. Ibu bilang paling perempuan tersebut hanya omong doang, hanya gertak sambal doang. Makanya bapak marah. Bapak bilang kalau terjadi seperti yang dia bilang maka bapak tidak mau ikut campur. Bapak akan lepas tangan dan bapak minta kita pergi hari Senin besok bareng dia.”


“Ibu sih pakai keras kepala,” protes Aisy.


“Mana kepikiran bahwa perempuan tersebut benar-benar melakukan semua yang dia katakan. Ibu pikir memang cuma asal ngomong aja. Cuma buat nakut-nakutin kamu,” Menik sama sekali tidak protes tentang kelakuan putrinya yang tetap ingin mengejar Bambang karena dia pun seperti itu. Tak peduli bahwa dia sudah punya suami, dia tetap ngejar-ngejar orang yang dia sukai. Jadi dia enggak problem buat hal tersebut.




![](contribute/fiction/7055660/episode-images/1690881130194.jpg)

__ADS_1


__ADS_2