
DARI SEDAYU ~ JOGJAKARTA, yanktie mengucapkan selamat membaca cerita sederhana ini.
JANGAN LUPA SUBSCRIBE YAAA.
“Mau masak apa siang nanti?” tanya Yanto pada Fitri. Hari Sabtu memang Fitri libur dan hari ini Yanto memang libur juga.
“Mau bikin apa sih Mas? Aku juga bingung,” tanya Fitri.
“Ya udah buat kita sih kita bikin rujak kangkung aja lah,” usul Yanto.
“Beli tempe buat di goreng sama kerupuk. Nanti sore ibu dan adik-adik kita bikinin sayur bening katuk wae sama ayam goreng,” kata Yanto.
“Masak ibu rawuh ( datang ), kok disiapin sayur katuk,” protes Fitri.
“Sudah enggak perlu istimewa kan seseorang walau itu ibu. Ikuti kebiasaan hari-hari kita saja. Adanya kayak gitu, enggak perlu di buat mewah. Belum tentu mereka senang dengan makanan mewah,” kata Yanto lagi.
“Ya paling enggak, ada apa kek masa cuma sayur katuk?”
“Enggak sayur katuk doang, itu kan ada ayam goreng dari pagi tinggal kita goreng nanti.”
“Memang kamu mau tambah apa?” tanya Yanto dengan lembut seperti biasa.
“Ibu senangnya apa ya Mas?” tanya Fitri.
“Ibu apa aja suka kok. Tapi dia memang lebih suka sayur bening seperti itu.” jelas Yanto tentang ibunya.
__ADS_1
“Kalau gitu nanti *ta*’ bikinkan urap *piye* Mas?”
“Ya urap juga bolehlah. Bikin urap aja sama ayam goreng. Sayur beningnya buat digadoin,” kata Yanto setuju.
Pagi ini mereka berdua sarapan nasi goreng. Sisa nasi semalam sengaja dibikin nasi goreng lalu ditambah dengan kerupuk oleh Yanto. Tadi dia juga membeli sate usus yang sudah tinggal goreng.
Sing menjelang sore adik-adik dan ibu mertua Fitri tiba.
“Capek Bu?” tanya Fitri menyambut Ibu mertuanya
“Enggak lah, wong cuma duduk di mobil koq capek,” balas Gendis. Yanto menurunkan oleh-oleh yang ibunya bawa. Ada satu tandan pisang kepok tua, ada sedikit daun pisang dan daun kemangi karena Gendis membawa patin segar yang masih hidup dalam ember berisi sedikit air.
Sedang Timah dan Herry melihat-lihat isi ruangannya rumah Yanto. mereka memang baru satu kali ini ke rumah Yanto di Jogja, kalau Ibu Gendis sudah 3 kali sedang bu Erlina tak terhitung.
“Herry ini nanti kamu bisa gelar yang ini Dek,” kata Fitri pada Herry. Ada satu kasur yang memang disandarkan di dinding.
“Nanti Mbak kasih spreinya buat kamu pasang ya,” lanjut Fitri. Jadi nanti Herry tetap akan tidur di kasur hanya tak di ranjang.
Di kamar Fitri dan Yanto pun sudah ada ranjang, tidak hanya kasur saja seperti saat mereka masuk atau pindah kesini.
“Kalian suka di sini?” tanya Yanto.
“Sama aja sih Mas biasa aja,” balas Herry yang tak pernah silau dengaan harta. Terlebih rumah Yanto ini hanya rumah dengan perabot biasa saja. Bukan rumahmewah seperti rumah pak Suradi.
__ADS_1
“Nanti malam kita jalan-jalan ya Dek,” janji Fitri pada Timah.
Fitri mengajak mereka semua makan sebelum pergi.
“Masih jam 05.00 sore Fit, masa makan?” tolak Gendis.
“Tadi makan siang katanya nggak mau karena sudah makan sebelum berangkat kesini. Sekarang makan malam kecepetan,” kata Fitri sedih.
“Sudah kita makan dulu nanti habis maghrib kita jalan Bu,” Yanto mencoba menjadi penengah.
“Walau nanti di sana kita makan lagi tapi setidaknya sayang kan ini sudah di masakan oleh Fitri,” lanjut Yanto mengajak ibu dan adik-adiknya ke meja makan.
“Mbak bikin sayur apa?” tanya Timah. Gadis kecil ini tak ingin kakaknya kecewa.
“Aku bikin urap sayur, bening katuk sama goreng ayam aja,” kata Fitri.
“Wah aku suka urap,” kata Herry.
“Ibu juga suka urap,” jawab Timah.
“Tapi Ibu juga paling suka sayur bening katuk atau kelor,” jelas Herry.
“Ya sudah kita makan dulu pokoknya semua suka.” jawab Yanto. Mereka pun semua makan dengan sukacita
Sehabis salat magrib Yanto dan Fitri membawa kedua adiknya tentu bersama ibu ke alun-alun kidul Jogjakarta.
__ADS_1
Sambil menunggu yanktie update bab selanjutnya, mampir ke novel karya yanktie yang lain dengan judul CINTA KECILNYA MAZ yok