BETWEEN ( TERMINAL ) GIWANGAN ~ BUBULAK

BETWEEN ( TERMINAL ) GIWANGAN ~ BUBULAK
LAPOR PADA AYAH SURADI


__ADS_3

“Apa ayah dan bu Lina ikut menginap?” tanya Timah.


“Bukan menginap lah namanya wong itu rumah mereka,” Herry meralat kalimat adiknya.


“Ya menginap dong, kan sekarang tinggal di sini bukan  disana lagi, walau  sama-sama rumah mereka sih,” kata Timah.


“Kayaknya kalau kita bilang dari hari Jumat sore kita akan ke rumah kota, pasti beliau lebih dulu berangkat deh,” Kata Bu Gendis.


“Kayak enggak tahu ibu kalian aja. Ibu kalian kan enggak akan mau rumah belum siap untuk kedatangan kita, jadi dia pasti datang dari hari Jumat pagi,” lanjut Gendis tentang besannya yang sudah jadi ibu bagi ketiga anaknya juga.


Yang lain pun tersenyum karena seperti itulah Erlina. Mereka bukan membicarakan keburukannya tapi memang Erlina sangat perhatian terhadap semua tamu dan itu diwarisi pada Fitri yang sangat care terhadap tamu.


“Kalau begitu kamu bilang aja Yank ke ibu, bahwa kita akan menginap di sana hari Jumat. Kemungkinan pulang hari Senin sore karena akan mengurus sekolahnya Timah,” saran Yanto pada istrinya.


“Sebaiknya kita berdua ke sana Mas. Kita bilang soal Timah yang akan sekolah di kota, kalau kita bilang bahwa kita menginap karena ada urusan Timah nanti mereka tersinggung. Jadi lebih baik kita ngomong dulu bahwa dia akan sekolah di sana lebih dulu.”


“Baru kita bilang akan urus pendaftaran hari Senin, bukan kita bilang urus dulu. Beda tanggapannya,” jelas Fitri.

__ADS_1


“Oke seperti itu, nanti kalau hujan sudah reda kita ke sana,” Yanto menyetujui pendapat istrinya.


“Sekarang aja yuk pakai mobil jangan pakai motor. Enggak usah nunggu hujan reda. Sekalian aku mau bawain pepes tahu buatanku tadi,” ajak Fitri.


“Ya sudah kalau mau sekarang ayo. Timah mau ikut enggak?” kata Yanto


“Ikut lah,” jawab Timah.


Akhirnya Herry dan Gendis pun juga ikut umpel-umpelan di mobil, yang penting mereka berangkat tidak kehujanan.


"Tumben pagi-pagi kompak gradak gruduk ke sini. Ada apa ini?” tanya Erlina melihat besan dan anak serta menantunya semua datang bersama dua cucu mereka. Tentu Erlina dan Suradi senang melihat cucu-cucu mereka datang pagi-pagi.


“Kalau begitu bagaimana kalau kamu bantuin Ibu masak?” jawab Suradi.


“Ibu mau masak apa? Mbak Fitri tadi sudah bawakan pepes tahu lho,” jelas Timah.


“Belum tahu mau masak apa. Ibu belum melihat yang ada di kulkas apa stock yang ready. Tadi pagi kami masih makan nasi gudeg sama tempe bacem.” Erlina menjawab pertanyaan putri kecilnya.

__ADS_1


“Aduh dua-duanya manis,” kata Timah yang suka makanan pedas.


Ya itulah, karena kamu enggak ada, ya dua-duanya manis masakannya. Kalau ada kamu pasti ada oseng pedesnya,” jawab Erlina yang hafal kesukaan Timah.


“Ini sebenarnya ada apa toh?” tanya Suradi yang merasa pasti ada sesuatu berkaitan dengan kedatangan rombongan ini.


“Itu loh Yah, Bu, Timah mau matur kalau dia dapat beasiswa dan minta restu dari Ayah dan Ibu,” kata Herry. Yanto tak konsen karena dia mengejar Daanish yang berlari ke belakang.


“Wah Genduknya Ayah memang hebat. Selamat ya Nduk,” kata Suradi bahagia.


“Matur nuwun Ayah,” jawab Timah.


“Beasiswa di mana?” tanya Erlina.


“Di SMP 1 Kota, Bu,” jawab Timah.


“Oalah terus piye Nduk?” kata Suradi.

__ADS_1



__ADS_2