
Husein dan Riani melihat Satrio dan Tria makan dengan santai. Ada berbagai macam lauk di sana yang mereka suka malah kangkungnya dengan telur puyuh bumbu saus tiram juga kerupuk yang dijual di pasar bukan kerupuk udang mahal. Seperti biasa mereka juga makan tempe padahal ada lauk ayam juga daging.
“Kenapa kalian nggak makan lauk ini? Lauk ini banyak banget loh,” ucap Husein.
“Makan kok. Santai saja. Nggak ada yang dibuang di rumah ini. kalau pun nanti nggak habis malam ini, kami bisa simpan untuk kami bawa ke sekolah besok,” jawab Satrio.
“Sekere itukah kalian sampai bawa makanan ke sekolah?” kata Husein mengejek putranya sendiri.
“Jadi Papa anggap hanya orang-orang kere yang bawa bekal ke sekolah?”
“Picik sekali ya pikiran Papa. Papa nggak tahu anak calon presiden saja sampai SMA dia masih bawa nasi dan lauk dari rumah tanpa malu. Apa yang aneh kalau kita bawa makanan dari rumah? Itu lebih sehat dan juga kita nggak buang waktu harus antri di kantin. Kalau Papa nggak rela uang jajan yang Papa kasih kita tabung karena kita bawa makanan ya nggak usah kasih uang nggak apa-apa,” jawab Satrio mulai tersinggung.
__ADS_1
“Kamu sombong seperti itu karena sudah punya penghasilan kan?” tuduh Husein.
“Nggak juga tuh. Bukan karena kami punya penghasilan, tapi memang seperti itu yang kami terapkan sekarang. Kami bawa nasi juga lauk kadang tambah roti karena kami tidak mau buang waktu untuk mengantri di kantin.”
“Kalau Papa sibuk nggak usah lah urus kami. Kami bisa kok jaga diri. Jadi santai saja kami nggak akan kejeblos karena kami punya panutan yang bagus. Bahkan kami juga punya tutor yang masih SMP tapi sudah lebih bagus daripada anak sulung Papa dan Mama. Kasihan ya Pa, Ma, nanti cucu Papa lahirnya di penjara loh,” kata Satrio sinis karena memang Eka ternyata saat masuk penjara kemarin posisinya sedang hamil lagi.
Riani dan Husein tentu saja terkejut. Mereka pikir tak ada yang tahu kalau Eka sedang hamil lagi.
“Maaf ya, aku nggak minat lagi makan dengan orang yang sombong setengah mati padahal keluarganya busuk. Nggak sadar punya cucu nggak sah mau lahir di penjara tetapi ngatain orang bawa makanan ke sekolah kere. Kalau ini kedengeran sama amang ingin tahu saja apa yang amang bilang,” Satrio langsung berdiri meninggalkan meja makan. Dia langsung ke kulkas mengambil satu bowl salad dan dia bawa ke kamarnya untuk makan salad, Tentu saja dia membawa satu mangkok kecil untuk menuang salad dari bowl besar itu.
Riani dan Tria hanya melihat kepada Husein yang memang masih arogan sedang Tria hanya tertunduk saja dia suka makanan cah kangkung hasil kebunnya Satrio.
__ADS_1
“Aku lihat dari tadi Papa senang banget sih makan kangkung cah bumbu saus tiram itu,” ucapTria.
“Ya sayur kangkungnya enak,” kata Husein. Dia masih malu karena Tria dan Satrio mengetahui apa yang dia dan Riani sembunyikan.
“Enaklah. Orang itu hasil tanaman organiknya Satrio. Anak kere yang tadi Papa katain bawa nasi ke sekolah itu sudah tiga kali masuk TV loh. Karena dia berhasil jadi penyuluh pertanian tingkat SMA dan sebentar lagi akan jadi panutan beberapa sekolah. Sayang ya papa sama mamanya nggak tahu kehebatan anaknya sendiri. Lebih tahu tentang anaknya yang dipenjara saja. Benar-benar ironis memang. Yang berprestasi tidak dipandang sebelah mata yang kotor dan busuk malah dipuja-puja,” ucap Tria dengan berani.
“Tria!” bentak Riani. Tria memandang tajam ibunya tanpa gentar. Untung dia sudah selesai makan sehingga dia enak meninggalkan meja makan tidak seperti Satrio yang meninggalkan nasinya masih separuh. Tentu kalau ketahuan sama Timah, Satrio akan dimarahin karena meninggalkan nasi seperti itu.
Walau akhirnya nanti masih sisa itu bisa juga buat tambahan masuk ke keranjang pembuatan POC tapi setidaknya itu kan mubazir. Makanan yang masih bisa dimakan tapi ditinggalkan begitu saja.
Husein tak percaya bahwa anaknya sudah tiga kali masuk televisi dan dia juga tadi kaget bagaimana bila Gultom tahu kelakuannya sekarang.
__ADS_1