BETWEEN ( TERMINAL ) GIWANGAN ~ BUBULAK

BETWEEN ( TERMINAL ) GIWANGAN ~ BUBULAK
KAMIGILEN


__ADS_3

“Ibu minta kalau kamu bertemu dengan Tini di mana pun, jangan pernah kamu bicara lagi berdua. Nanti ada orang melihat atau kebetulan Fitri melihat langsung itu akan tambah bubrah. Ibu enggak akan bisa menolong. Sekarang saja Ibu sudah tak bisa bergerak.”


“Apa pun yang kalian bicarakan. Apa pun yang kalian lakukan pasti ada orang yang akan membesar-besarkan dan itu sangat berbahaya. Sekarang saja bola pikiran negatif Fitri semakin besar setiap harinya.”


“Kalau kamu tidak sedang bersama orang lain, jangan pernah mau bicara apa pun.”


“Iya Bu. Aku juga enggak ingin kok bertemu dengan dia lagi,” jawab Yanto.


“Sekarang sebisa mungkin aku tidak pernah keluar sendirian. Baik itu cari barang atau pun cari alat. Selalu aku bawa satu orang pegawaiku untuk menemani karena aku takut terjadi salah paham bila tak sengaja bertemu seperti waktu bertemu dengan Aisy di rumahnya calon konsumen. Akibatnya jadi fatal.”


“Bagus kalau kamu sadar seperti itu. Karena sekarang posisinya sedang genting,” Gendis setuju dengan pemikiran Yanto.


“Iya Bu. Aku mengerti,” Yanto benar-benar hati-hati. Dia takut terulang kasus Aisy. Tujuannya bertemu dengan konsumen ternyata ada Aisy dan akhirnya bikin ribut karena Aisy sengaja bikin foto berdua dengan dirinya. Sejak kejadian Tini dia benar-benar antisipasi semuanya. Ke mana pun Yanto pergi harus selalu ada yang menemani. Memang jadi tak efektif karena tenaga kerja di bengkel jadi berkurang. Tapi keutuhan rumah tangganya adalah yang utama.


“Bambang!” sapa seorang perempuan dengan sedikit riang melihat wajah orang yang dia cari 10 hari ini ada di depan matanya.


‘Aduh, ini yang Ibu khawatirkan!’ pikir Yanto. Yanto kaget karena rumah yang didatangi ternyata ada Tini.


Dia dan montirnya sedang mengecek motor yang akan dia beli sesuai dengan iklan yang dia baca.


“Maaf jangan bicara apa pun dengan saya. Saya tak ingin terjadi salah paham,” Yanto langsung berdiri hendak pergi meninggalkan tempat itu/


“Kamu selesaikan saja, nanti langsung pulang dengan ojek online saja. Saya pulang duluan,” ucap Yanto pada montir yang menemaninya.


“Loh Pak ini bagaimana? Bapak belum kasih penawaran harga.” kata pemilik motor.

__ADS_1


“Urusan saja dengan montir saya. Saya tidak ingin terjadi salah paham. Rumah tangga saya sudah berantakan karena perempuan itu,” kata Yanto sambil menyalakan mesin motornya.


Tini kaget melihat reaksi Bambang seperti itu.


“Aku minta nomor yang dia pakai De,” kata Tini. Dasar perempuan tidak ada otaknya dia malah minta nomor alamat bengkel dan nomor teleponnya pada adik sepupunya yang sedang ingin bertransaksi motor tersebut dengan Bambang. Dia tak ingat peringatan Heru.


“Mbak enggak dengar ya Bapak tadi sudah bilang Mbak bikin gara-gara di rumah tangganya. Sekarang Mbak mau minta nomornya pada saya? Oh enggak Mbak. Mbak sudah membuat kegagalan transaksi saya tadi, jangan bikin saya tambah salah lagi dengan memberikan nomor bengkel tadi pada Mbak,” kata adik sepupunya Tini.


“Ono opo?” kata sang bulek waktu Tini bilang minta nomor telepon dan alamat bengkel yang tadi akan membeli motornya adik sepupunya.


“Aku butuh nomor bengkel itu Bulek, Dia itu teman aku waktu SMP. Aku ingin bicara dengan dia,” rengek Tini.


“Lah kamu tadi enggak minta sama Bagus,” jawab ibunya Bagus atau buleknya Tini.


“Nanti Bulek upayakan minta pelan-pelan. Asal kamu jangan rewel,” janji sang bulek.


“Iya Bulek,” kata Tini. Bulek memang sangat memanjakan Tini karena 4 anaknya lelaki semua. Sehingga dia senang dengan Tini anak perempuan kakaknya.


“Kenapa Nang?” suara teduh dan lembut menjawat telepon yang Yanto lakukan. Begitu tiba di bengkel dia segera menghubungi Gendis.


“Yang Ibu bilang itu betul. Untung aku pergi sama pegawaiku,” Yanto langsung bicara membuat Gendis bingung.


“Maksudmu apa?”


“Pas aku barusan mau beli motor eh ada Tini di tempat penjual motor itu Bu. Aku langsung tinggalin montir ku di sana kalau enggak goal ya sudah. Daripada rumah tanggaku tambah ribut. Aku sekarang sudah ada di bengkel Bu,” jelas Yanto.

__ADS_1


“Kamu enggak ngomong apa pun sama dia? Atau malah ngobrol?” tanya Gendis minta kepastian.


“Dia panggil aku, lalu aku langsung bilang enggak usah ngomong apa pun karena kamu sudah merusak rumah tangga aku. Terus aku langsung pergi Bu. Aku jadi kamigilen ( ketakutan sampai gemetar ). Begini rasanya orang ketakutan lihat hantu kali ya Bu. Benar-benar yang bikin aku menggigil.”


“Aku enggak sadar pertemuan kemarin bikin rumah tanggaku seperti ada di atas bara api seperti sekarang.”


“Mungkin buat orang lain itu biasa Nak, tapi buat orang seperti kamu memang sangat luar biasa. Karena kamu mau aja digelayutin seperti itu.  Itu yang bikin Fitri berkali-kali juga enggak habis pikir sama kamu. Karena kamu bukan tipe orang yang mudah nempel sana nempel sini.”


“Saat ini banyak orang yang salaman sama teman lawan jenis aja cium pipi kanan kiri walaupun bukan muhrim. Kalau kamu orang seperti itu tentu Fitri enggak akan kaget melihat semua kejadian kemarin.”


“Kamu sama Yani aja belum pernah cium pipi apalagi yang lainnya yang boleh kamu lakukan ke Yani karena kalian sah secara agama. Nah kemarin kamu sampai di gelayutin, sampai saat ini akan terus terucap tak percaya dari mulut Ibu. Ibu juga enggak habis pikir Nang. Benar Ibu enggak habis pikir,” ucap Gendis terus saja tak percaya kejadian kemarin bisa seperti itu.


“Iya Bu. Aku juga bingung waktu itu kok bisa itu terjadi. Aku terbawa euphoria aku sama dia sama-sama masih anak-anak waktu masih SD dulu. Itu aja sih Bu. Aku hilang akalnya di situ. Aku cuma berpikir kami masih akrab seperti saat masih SD,” sesal Yanto.


“Aku sampai lupa kalau aku tuh udah dewasa dan punya anak dua. Aku cuma hilang akal sat itu. Tak berpikir sama sekali Bu. Kesalahan fatal aku tuh di situ. Aku langsung lari flashback ke masa lalu dan terbawa arus. Tak sadar bahwa aku tuh orang dewasa.”


“Itu pelajaran buat kamu. Sekarang harus kamu renungkan bagaimana caranya agar Fitri bisa kembali percaya sama kamu. Ibu sedih ini sudah dua minggu kamu kayak gini.”


“Ibu yang lihat aja sedih. Lebih-lebih aku yang ngalamin Bu.” ujar Yanto sedih.


“Makanya kamu berpikir.”


“Setiap saat aku berpikir lah Bu. Setiap salat juga berdoa agar ada jalan keluar dari masalah ini. Aku minta bantuan ayah dan bu Erlina, mereka tak bisa bantu. Sekarang aku hanya bisa sharing dengan Ibu saja,” jelas Yanto.


Gendis sadar, dia harus jadi pendengar yang baik bagi Yanto agar putranya tak merasa sendirian.

__ADS_1


__ADS_2