
DARI SEDAYU ~ JOGJAKARTA, yanktie mengucapkan selamat membaca cerita sederhana ini.
\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~
“Jangan pernah kamu telepon saya. entah itu pagi siang atau malam. Kamu bukan siapa-siapa saya,’ kata Yanto saat dia tiba di rumah petakannya. Lalu dia langsung masuk kamar dan tidur.
Yanto memang langsung menegur Yani begitu tiba di Bogor tadi pagi. Kemarin pagi dia sudah ketahuan oleh Fitri. Bisa gawat kalau Fitri terus menyelidikinya jadi dia tidak mau Yani menghubungi dia kapan pun.
Yani kemarin menghubungi Yanto karena dia mau pergi bersama sepupunya yang datang menemani ketika dia mendatangi Bambang dulu di kantor PO. Kalau Bambang pulang kan gawat bisa ketahuan kalau dia pergi tak pulang.
Yani juga sebenarnya tak ingin menghubungi bila tidak mau kepergiannya ketahuan oleh Bambang.
“Bisa berikan teleponnya pada ibu?” tanya Fitri sore ini sepulang dari kantor. Sore seperti ini Herry tentu sudah pulang sekolah jadi dia bisa bicara dengan bu Gendis.
“Kenapa Nduk, kamu sehat?” tanya Gendis setelah bertukar salam dengan menantunya.
“Sehat Bu. Alhamdulillah. Ibu bagaimana?” Fitri balik bertanya pada ibu mertuanya.
“Alhamdulillah sehat Nak makin sehat karena rutin berobat,” balas Gendis pada Fitri.
__ADS_1
“Kamu telepon ada apa?” Gendis tahu ada hal yang enggak benar bila Fitri ingin bicara penting seperti ini. Karena biasanya Fitri selalu tak serius seperti sekarang nada bicaranya.
Fitri lalu bercerita bahwa Yanto mulai berubah, seperti dia tertekan tapi tidak mau cerita dan ada nomor telepon aneh. Fitri menceritakan tentang terminal 2 dan uang tabungan usaha yang tak pernah lagi Yanto isi dari uang operasional selain uang gaji rutin.
“Kalau begitu kamu sabar Nak. Kamu selidiki dulu. Bila dia salah kita luruskan dan ibu rela kalau kamu harus berpisah dengan Yanto bila dia salah,” kata Gendis pasrah. Gendis juga tak mau kalau anaknya membebani Fitri yang sudah sangat membantu dia dan Herry serta Timah.
“Baik Bu, asal Ibu tahu bahwa saya sudah lapor. Jangan sampai tindakan saya disalahkan,” jawab Fitri lagi.
“Iya Nduk enggak apa apa,” balas Gendis yang sangat terpukul dengan pengaduan dari Fitri. Sejak kecil dia selalu mengajarkan anak-anaknya jujur dan berlaku bersih. Bila benar Yanto mempunyai perempuan lain, tentu dia merasa kegagalan dalam mendidik anak-anak dan menjalankan amanat Suripto almarhum suaminya.
Hari ini saat Yanto pulang dan sedang mandi, Fitri langsung mengambil ponsel Yanto dan dia memencet nomor terminal 2, tapi tak ada jawaban. Telepon tak diangkat.
Tak lama masuk pesan dari terminal 2.
‘Katanya aku enggak pernah boleh telepon entah pagi entah siang atau malam, sekarang kenapa A’a telepon?’ begitu pesan lanjutan dari terminal 2.
Fitri lemas membaca pesan tersebut. Pesan dan panggilan keluar langsung Fitri hapus. Setidaknya Fitri sudah tahu bahwa memang ada perempuan lain di luar sana.
Fitri tahu bahwa perempuan itu pasti orang Bogor, karena panggilannya A’a bukan Mas.
__ADS_1
Dan di luar jam kerja Yanto tidak pernah keluar lebih lama, artinya perempuan itu pasti di wilayah kerja Yanto di Bogor, tak mungkin di kota lain. Bahkan ke Bogor pun Yanto hanya semalam langsung berangkat pulang lagi ke Jogja. Tidak pernah tambah waktu, Fitri yakin perempuan itu hanya sebagai tempat singgah bagi suaminya. Karena suaminya tak pernah pulang terlambat atau lapor tak bisa pulang atau pulang ditunda karena sesuatu hal.
Tapi biar bagaimana pun tentu dia terluka karena Yanto sudah menduakan nya.
“Apa sampai seperti itu?” kata Suradi. Akhirnya Fitri enggak kuat menahan semua sendirian. Fitri pun lapor kepada ibu dan ayahnya di Solo saat dia sedang mengecek pembukuan dan persoalan rumah kost di Solo.
“Yang Ayah tahu, dia laki-laki yang tidak pernah mau tergoyahkan oleh apa pun,” Suradi tak langsung percaya pada pengaduan anaknya.
“Iya Ibu yakin ada salah paham,” Erlina juga tak bisa langsung menelan semua info dari Fitri.
“Bagaimana salah paham kalau telepon dan pesannya sudah jelas-jelas seperti itu. Juga uang operasional tak pernah ada sisa lagi untuk dia tabung kan. Pasti karena dia harus menghidupi kekasih atau pacarnya itu kan?” jawab Fitri sengit.
“Kalau begitu lebih baik kamu pergoki, kalau sudah kepergok sudah jelas semuanya, baru kita ambil langkah,” kata Suradi. Dia juga tidak mau kalau anaknya disakiti.
“Baik Yah, nanti aku atur waktu dengan mbak Dina. Aku minta Mbak Dina mengancani aku untuk memergoki Mas Yanto. Aku juga akan membawa bu Gendis biar jelas semuanya.”
“Kalau begitu bu Gendis biar berangkat bersama Ibu saja,” jawab Erlina.
\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~
__ADS_1
Sambil menunggu yanktie update bab selanjutnya, mampir ke novel karya yanktie yang lain dengan judul ENGAGED TO HIS SON, MARRIED TO HIS DADDY yok