
“Aku enggak akan pernah lupa Mas perjuangan Mas Yanto saat mencari makan buat kita dulu. Aku juga ingat perjuangan Mbak Fitri bagaimana bisa menjadi istri Mas Yanto dan mereka membangun rumah tangga sejak awal. Walau aku masih kecil aku tahu mereka pernah hampir bercerai waktu masih Yanto kesandung kasus dulu. Aku ingat kok Mas, enggak akan aku lupa,” jawab timah. Anak perempuan tentu lebih peka daripada anak lelaki sebaya.
“Aku juga ingat bagaimana ayah memberi kita modal buat tabungan awal, sehingga aku bisa mempunyai usaha kambing yang maju. Begitu pun Mas bisa punya tambak. Semua itu tak akan aku lupakan dan aku sia-siakan.”
“Bila nanti aku hidup di kota bukan akan menjadi gadis kota. Mbak Fitri aja yang dari lahir sudah kaya tidak menjadi urakan dan bergaya enggak genah atau ngelayab ke mana-mana. Terlebih aku yang basicnya adalah anak ayah Suripto dan ibu Gendis,” jelas Timah yang sangat menjunjung tinggi nama kedua orang tuanya.
“Kalau kamu memang sadar itu Mas juga setuju. Mas juga tidak ketakutan melepas kamu bila harus tinggal di kota nanti,” jawab Herry .
“Tapi kamu harus bilang ke ibu secara pelan dan baik-baik jangan sampai dia terluka. Aku yakin ibu enggak akan cepat mengizinkan walau sudah ada Mbak Fitri juga Daffa dan Daanish di sini. Masalahnya sekarang ibu Erlina dan ayah Suradi tinggal di sini.”
“Kamu masih SMP dan anak perempuan, jadi saran Mas, kamu jangan terlalu berharap agar tak sakit bila di tolak ibu nanti. Mas baru akan ke kota bila kuliah nanti,” Herry menasihati Timah agar bersiap menerima penolakan Gendis.
“Mbak bisa ngobrol sebentar?” pinta Timah.
“Ada apa Dek?” tanya Fitri. Dia tahu pasti ada persoalan pelik yang adiknya hadapi. Buat fitri yang anak tunggal, sejak belum pacaran dengan Yanto, dan mereka memang tak pernah pacaran. Herry dan Timah bukanlah adik iparnya. Sama seperti Suradi yang tak pernah menganggap Herry dan Timah hanya sekadar adik ipar Fitri.
__ADS_1
Suradi dan Fitri menganggap Herry dan Timah adalah adik kandung Fitri, anaknya Suradi.
“Aku dapat surat ini Mbak,” kata Timah.
Fitri pun membaca surat beasiswa tersebut
“Masalahnya di mana?” tanya Fitri hati-hati.
“Aku enggak enak bilang sama ibu kalau aku akan pindah ke rumah kota bila menerima beasiswa itu Mbak. Aku takut bu terluka,” jelas Timah.
“Menurut Mbak, ibu tak akan terluka Dek, dia hanya akan sedih. Kalau kamu tidak pindah ke kota bagaimana Dek?”
“Ya sudah nanti Mbak bilang dulu sama Mas Yanto ya. Bagaimana enaknya. Mbak enggak berani mengambil keputusan sendiri, karena ini menyangkut kesiapan mental ibu berpisah dengan kamu.”
“Kalau sekarang kan enggak terlalu repot Mbak, tiap hari bisa video call tidak seperti dulu waktu mas Yanto ke kota.”
__ADS_1
“Beda Dek. Kamu anak ragil ( bungsu ) dan kamu perempuan satu-satunya anak ibu. Waktu Mas Yanto ke kota masih ada ayah, jadi ibu masih punya kekuatan. Saat ayah enggak ada, Mas Yanto kan hanya meneruskan sekolah, bukan meninggalkan ibu sebelumnya.”
“Bukan Mbak melarang kamu. Tidak. Sama sekali tidak, Mbak malah senang. Tapi kan sekarang ayah dan ibu sudah tidak tinggal di rumah kota. Mereka pasti juga enggak akan kasih izin kamu tinggal sendirian di rumah kota tanpa ada mereka,” jelas Fitri.
“Kalau ayah dan ibu masih tinggal di rumah kota, mungkin beda. Ibu Gendis pasti akan kasih izin kamu karena kamu tetap berada di bawah pengawasan orang tua. Kalau tinggal sendiri rasanya sulit ada izin dari 4 orang itu Dek.”
“Kamu persiapkan saja mentalmu itu, jangan kecewa bila kondisinya seperti tersebut. Kamu masih SMP, beda bila kamu di rumah kota sendirian bila SMA nanti.”
“Iya Mbak, aku mengerti. Makanya aku minta pertimbangan Mbak dulu bagaimana.”
“Prediksi Mbak, mas Yanto mau pun ibu tidak akan kasih izin sih, karena tidak ada Ayah Suradi dan Bu Erlina di sana,” Fitri memberi gambaran pahit lebih dulu agar Timah siap mental.
“Mas Herry juga bilang begitu kok Mbak,” jelas Timah.
“Ya sudah, yang penting Mbak sudah kasih bayangan ya. Jangan sampai kamu terlalu kecewa berat.”
__ADS_1
“Iya Mbak. aku juga akan terima kok. Aku sadar kalau ayah dan ibu Erlina sudah menetap di sini. Pasti beda bila keduanya masih di rumah kota. Terima kasih ya Mbak.”