
Hari ini keluarganya Harry akan mengambil dua ekor kambing yang sudah disiapkan oleh Timah. Menurut info aqiqahnya akan dibikin hari Kamis, jadi hari Sabtu ini baru kambingnya diambil.
“Kamu sudah sharelock alamat sini?” tanya Satrio.
“Sudahlah. Lagian yang ngambil kan yang pernah ambil ke sini waktu 2 minggu lalu, saat aqiqah anak kakakku,” kata Harry
“Oh iya ya,” jawab Satrio.
“Mungkin agak sorean karena kan biar nggak panas baru besok pagi mau dipotong,” ucap Harry.
“Bukan aqiqah-nya hari Kamis. Kok potongnya hari Minggu?”
“Katanya dipotong hari Minggu lalu nanti diolah hari Selasa atau hari Rabu karena yang bisa motong hanya punya waktu besok,” jelas Harry.
“Apa boleh?” tanya Tria.
“Kalau itu aku nggak tahu. Yang penting kan dibacakan doa lalu dimasak. Soal hukumnya aku kurang tahu. Apa harus langsung di olah? Tapi katanya sih Om ku bilang mau cari yang bisa potong hari Selasa malam sehingga hari Rabu pagi dimasak untuk acara hari Kamis malam Jumat. Semoga saja bisa,” ucap Harry lagi.
__ADS_1
“Iyalah semoga saja bisa. Jadi tidak mengganggu dan harus disimpan di kulkas. Daging dua ekor kambing tentu tak cukup disimpan di kulkas biasa,” kata Tria.
“Aku pulang ya,” kata Harry.
“Aku pikir kamu nungguin yang ambil kambing,” kara Herry.
“Nggak lah. Nggak ada urusan. Lagian dia juga bawa pulangnya ke rumah dia, bukan ke rumahku,” balas Harry.
“Terima kasih ya ilmunya hari ini. Aku nggak sabar nunggu hari Rabu untuk pertemuan di kandang,” ujar Harry.
“Ya nanti kamu datang saja hari Rabu untuk pertemuan rutin kita,” ucap Tria.
“Kok bawa?” tanya Harry.
“Ya mungkin kamu mau bawa ikan atau mau bawa telur atau mau bawa ayam. Terserah bawa saja semaunya,” kata Herry.
“Aku nggak ingin bawa apa-apa,” jawab Harry. Dia tak terbiasa. Beda dengan Satrio dan Tria karena mereka tinggal di kota tentu mereka suka pada sayuran segar yang petik di rumahnya Gendis. Kalau Harry kan juga tinggal tidak jauh dari Herry. Mereka masih sama-sama di desa dan tentu saja kalau untuk tanaman di kebun walau hanya sedikit-sedikit Harry punya lah. Atau beli di warung lebih murah daripada Tria.
__ADS_1
Di kota Solo pun harganya tetap lebih murah daripada di kota besar tapi maksudnya beda hasil dari panen di kebun dengan beli di warung atau di pasar itu yang Tria selalu sukai.
Sama seperti dengan ibu Erlina. Ibu Erlina juga memilih tinggal di desa karena kehidupan di desa sangat berbeda dengan di kota.
“Mungkin membawa belut? Kalau belut kan nggak banyak di jual umum,” tawar Herry.
“Enggak lah. Terima kasih,” kata Harry. Dia masih sungkan.
“Besok-besok lagi jangan pakai acara sungkan. Kita ini bersaudara,” kata Tria.
“Kalau kamu seperti itu kamu seakan tidak mau melebur menjadi satu dengan kami.”
“Tentu saja aku mau melebur menjadi satu dengan kalian. Aku ini saudara kalian kok,” bantah Harry.
“Kalau saudara nggak usah pakai acara rikuh.” ucap Tria.
“Oke, next time aku nggak akan rikuh. Tapi untuk kali ini jangan dulu lah. Nanti orang tuaku bingung tiba-tiba aku bawa sesuatu dari luar. Aku akan perkenalkan kalian dulu secara visual pada kedua orang tuaku, agar mereka tidak salah tangkap. Mereka pasti senang kok dengan kalian,” kata Harry lagi.
__ADS_1
“Aku sudah memperlihatkan video tentang Satrio dan umiku memang tertarik. Tapi kan tidak serta merta mengatakan bahwa aku sudah akrab dengan kalian.”
“Terserah bagaimana baiknya kamu saja lah. Kami juga tidak maksa kok” kata Herry. Sedang Timah masih tenang saja. Dia membereskan apa yang akan dia bawakan untuk Tria. Dia sengaja membawakan kembang pepaya mentah untuk Tria tentu saja dengan ikan patin mentah biar nanti Tria yang masak entah mau diolah apa.