BETWEEN ( TERMINAL ) GIWANGAN ~ BUBULAK

BETWEEN ( TERMINAL ) GIWANGAN ~ BUBULAK
BIDADARI?


__ADS_3

Yanto tiba di rumah kota saat akan masuk waktu maghrib.


“Ma ini ada titipan dari Herry. Dia bilang Mama suka kasih anak-anak menu belut,” Yanto memberikan belut beku dari Herry tadi.


“Terima kasih Pa. Nanti aku juga akan langsung bilang terima kasih ke dia,” jawab Fitri.


“Ini dibumbui buat goreng ya. Lalu dipisah jadi tiga tempat, jangan jadi satu jadi nanti setiap mau goreng cukup satu kotak tidak di keluarin semua karena kebanyakan.”


“Iya Mbak,” Jawab pembantu rumah tangga Erlina.


“Oh ya, yang sepertiga tadi di bikin buat pepes aja. Anak-anak suka kok di bikin pepes kan bumbunya juga enggak pedas. kayak bumbu ikan goreng aja.”


“Iya Mbak, akan saya bikin malam ini biar bisa buat sarapan besok pagi.”

__ADS_1


“Ya buat sarapan besok pagi, anak-anak menu itu aja.”


“Ma, Papa mau minta maaf. Papa sudah sadar kesalahan Papa. Papa sudah ingat semua yang Papa lakukan kemarin dan Papa tahu itu salah. Bahkan salah besar. Maafin Papa,” kata Yanto ketika mereka akan tidur malam.


Sayang Fitri hanya diam kalau urusan persoalan itu. Fitri tak mau menjawab apa pun tapi kalau urusan lain Fitri masih jawab. Jadi Fitri bukan diam 100%. Dia tetap bicara kalau untuk urusan di luar kasus Tini. Tapi kalau sudah untuk urusan Tini, dia diam seribu bahasa.


Yanto sudah tak bisa berbuat apa-apa lagi istrinya benar-benar sudah diam kalau untuk masalah kemarin. Dia akan menenangkan diri dulu akan membiarkan Fitri tidak ngamuk.


“Bapak memanggil saya?” tanya Tini dia masih berdiri saat dipersilakan masuk karena belum disuruh duduk.


“Maaf Pak. Apa karena persoalan kemarin?” tanya Tini.


“Persoalan kemarin itu sangat fatal. Kamu melukai banyak hati. Bukan hanya istrinya Bambang saja tapi hati anak-anaknya. Hati saya dan hati kedua orang tua saya.”

__ADS_1


“Kamu telah melukai hati bidadari hidup saya dan hati bidadari hidup kedua orang tua saya. Buat saya istrinya Bambang itu adalah bidadari yang Tuhan turunkan walaupun tugasnya tidak tuntas. Jadi silakan kamu angkat kaki dari sini ini SK kamu saya pecat tanpa pesangon,” jabab Heru.


‘Bidadari pak Heru dan orang tuanya? Memangnya siapa sih istrinya Bambang?’ batin Tini kesal.


“Pak, tapi saya tidak salah kan Pak. Saya cuma ngobrol loh,” bantah Tini.


“Ngobrol dengan tidak beretika sampai bergelayut di lengan tamu seperti itu, apa itu sopan?”


“Semua orang banyak yang lihat. Mau ditaruh muka saya di mana? Semua orang bisa aja bikin video bahwa tata usaha saya bergelayutan mesra kepada seorang lelaki yang sudah punya anak dua dan itu di ruang terbuka. Bagaimana bila kalian di ruang tertutup bisa bayangkan? Kamu mencoret nama baik yayasan saya!”


Tini kaget mendengar kata-kata itu. Benar di depan umum aja mereka seperti itu pasti pikiran orang akan menjurus ke sana. Tini tak pernah berpikir bahwa kelakuannya bergelayutan itu akan menjadi omongan orang-orang di tata usaha. Dia juga telah mencoret nama Bambang.


“Tapi Pak, jangan pecat lah. Saya butuh pekerjaan ini,” pinta Tini.

__ADS_1


“Kalau kamu bisa membersihkan nama baik yayasan, saya akan angkat kamu lagi. Bisa kamu?” tantang Heru.


Tini diam seribu bahasa. Bagaimana dia akan membersihkan nama yayasan bila sudah hancur lebur?


__ADS_2