
“Ini mie apa? Enak banget. Aku tadi cuma ikutin pilihan Satrio aja karena kok Satrio pilihannya sama dengan Herry,” ucap Harry.
“Entah mengapa sejak awal aku dan Herry samaan pilihannya. Padahal waktu itu Herry duluan atau aku duluan. Pokoknya gitulah. Aku ngambil pasti dia ambil sama. Selalu begitu.” balas Satrio.
“Wah baguslah aku jadi nggak bingung,” ujar Harry.
“Itu poin kesalahan Mas Harry. Kita harus tetap mencoba menu lain makanya selalu setiap ada melihat menu baru di warung, toko atau supermarket, kami selalu ambil minimal 2 bungkus untuk kami coba.” mas Harry selalu cari aman dan nyaman dengan mengikuti orang lain. Saranku sekali lagi. Jadilah diri sendiri!” ucap Timah.
“Astagfirullaaaah. Kamu umur berapa sih? Bisa langsung menilai seperti itu?” Harry heran pada pengamatan anak kecil yang usianya terpaut 4 tahun dengan dirinya, Satrio dan Herry walau tingkat sekolahnya berjarak 3 tahun.
“Tadi aku mau beli saus sambal, tapi kata Herry di sini semuanya suka saus sambal tapi tidak menggunakannya untuk makan mie.”
“Saus sambal itu super enak,” kata Satrio.
__ADS_1
“Tetapi membuat rasa mienya jadi beda. Makanya kami lebih memilih menggunakan cabe rawit untuk rasa pedas. Saos sambal kami konsumsi paling untuk makan gorengan atau kerupuk.”
“Iya ya. Rasa mienya jadi beda kalau pakai tambahan saus sambal yang di luar kemasan. Memang lebih enak kalau untuk cari pedasnya pakai cabe rawit saja. Okelah aku mengerti,” ucap Harry yang makin tertarik dan berharap bisa mencuri banyak ilmu dari 4 sekawan ini.
“Mas Harry nggak perlu merasa wajib bawa-bawa untuk pertemuan berikutnya. Santai aja. Kami pun enggak merasa wajib walau satu team.”
“Nggak kok. Aku nggak merasa wajib. Aku masih punya beberapa sirup. Banyak malah. Besok aku akan bawa dua rasa untuk kita taruh di sini biar ada pilihan rasa. Tadi yang kamu bawa sirupnya sirsak kan ucap Harry pada Timah.
“Besok aku bawa yang mangga sama markisa. Jadi di sini ada pilihan rasanya,” balas Harry.
“Satrio aku ingin bergabung dengan tim penyuluhmu boleh? Aku tertarik dalam bidang lingkungan. Juga tertarik memberi penyuluhan pada orang lain. Aku tidak tertarik pada bisnis sama sekali,” kata Harry.
“Awalnya aku juga tak tertarik pada bisnis sama sekali. Tapi Timah membuka mataku untuk melakukan bisnis NIRLABA atau non profit. Aku harus punya penunjang, itu yang membuat aku punya pet shop kecil.”
__ADS_1
“Ya aku sudah mendengar itu. Nanti aku akan pikirkan bisnis apa yang akan aku lakukan untuk mendapat sedikit income. Tentu saja yang penting aku punya income buat beli pulsa, juga uang bensin untuk operasional. Jadi aku tidak minta pada kedua orang tuaku,” Harry memang sudah mendengar sejarah semua anggota team saat mulai usaha.
“Boleh kalau kamu memang tertarik untuk penyuluhan. Besok oh bukan, lusa, ya lusa bukan besok aku ada jadwal pertemuan. Lusa kamu bisa ketemu aku dan bertemu dengan tim aku. Tentu bukan di sini. Pertemuan aku akan dibuat di sekolahku. Kamu datang aja pulang sekolah. Nanti kita akan bertemu dan membahas semuanya dengan tim.”
“Oke. Nanti aku minta nomormu ya,” kata Harry.
“Aku beneran nggak kapok. Ini enak, mienya memang beda ya?”
“Iya memang. Terlebih kita bikin sendiri kebetulanhari ini yang bagian masak aku dan Tria, karena Satrio dan Timah tadi kan sibuk berembuk masalah kambing denganmu. Juga masalah sharing. Besok-besok mungkin gantian Satrio dengan Timah atau Satrio dengan Tria yang masak. Aku dan Timah yang sharing. Seperti itu siklus kami di sini. Jadi tidak selalu mengharuskan siapa yang masak. Semua harus bisa melayani dan mengingat kesukaan masing-masing apa. Maksudnya jumlah kuah, atau jumlah irisan cabenya,” ucap Satrio. Lelaki muda itu sangat berharap dia berkesempatan masak bersama dengan Tria lagi.
“Wah benar-benar pengaturan yang yahud. Aku suka banget jadi kita tidak ada yang dilayani ya? Semua harus melayani.”
“Prinsipnya dari kita untuk kita Mas,” jawab Timah.
__ADS_1
“Tidak ada yang big boss di sini. Semua sama. Pendapat kita pun semua sama dihargai,” lanjut Timah lagi.