BETWEEN ( TERMINAL ) GIWANGAN ~ BUBULAK

BETWEEN ( TERMINAL ) GIWANGAN ~ BUBULAK
TERMINAL DUA


__ADS_3

DARI SEDAYU ~ JOGJAKARTA, yanktie mengucapkan selamat membaca cerita sederhana ini.


JANGAN LUPA SUBSCRIBE YAAA.



‘*Alhamdulillah aku bisa sampai Jogja dengan selamat. Padahal pikiranku sedang tidak benar*,’ ucap Yanto dalam hatinya. Yanto blank sejak kejadian kemarin di Bogor.



\*‘Bagaimana aku menghadapi Fitri? Aku enggak akan bisa menatap wajah istriku yang polos dan tak bersalah. Ya Allah dosa apa aku sehingga harus mengalami hal seperti ini?’ \*keluh Yanto. Dia malas dan berjalan gontai menuju rumahnya. Tak seperti biasa sangat semangat bila telah tiba kembali di Jogja.



‘*Aku harus bagaimana? Aku sangat mencintai dia, tak pernah aku berniat selingkuh. Tak pernah satu kali pun aku ingin menduakan nya. Tak pernah satu kali pun aku ingin menyakitinya*,’ pikiran Yanto buntu kalau ingat kejadian dia bisa berbaring di sisi perempuan lain. Sedang dengan Fitri yang sudah sah saja dia tak langsung berani menggauli nya.



‘*Apa sebaiknya aku cerita ke ibu ya, biar ibu yang memberi masukan padaku apa yang harus aku lakukan terhadap Fitri. Satu-satunya perempuan yang aku cinta*,’  lamun Yanto. Dia tak sadar sejak tadi istrinya mengamati kelakuannya yang aneh.



‘*Tapi Ibu juga sangat mencintai Fitri, tentu dia kecewa setelah tahu apa yang aku lakukan. Ya Allah aku harus bagaimana*?’ pikir Yanto setiap dia melihat wajah istrinya tercinta.



Kadang malam-malam dia bangun hanya memandangi wajah Fitri yang tak ingin dia sakiti.



 ”Ada apa Mas? Ada apa? Mas punya persoalan apa di kantor kok sampai seperti ini?” tanya Fitri saat mengguncang Yanto yang menjerit saat sedang tertidur.



‘*Aku enggak tahu apa yang aku rasakan. Barusan aku mimpi bus yang aku kendarai masuk jurang dan aku berteriak*,’ Yanto hanya membantin saja sambil menutup wajahnya.


__ADS_1


“Aku enggak apa-apa Dek, enggak apa-apa, enggak apa-apa, maafkan aku ya maafkan aku,”  hanya itu yang bisa Yanto ucapkan. Dia tak mungkin bercerita tentang mimpi buruknya. Tentu akan membuat Fitri ketakutan.



Sejak itu Yanto menjauh dari Fitri karena merasa bersalah. Dia yakin tak pernah melakukan hal yang dituduhkan hanya tak ada saksi atau bukti. Yanto sangat putus asa.



Satu bulan berlalu, Yani dan ibunya mendatangi Bambang di kantor PO. Saat itu Yani ditemani seorang lelaki muda yang dia bilang sepupunya.



“Saya mau bicara serius, mau di sini biar semua orang tahu atau kita bicara di luar,” tantang Yani. Tak enak dengan semua teman-temannya Bambang pun mengajak Yani, ibunya dan sepupunya ke warung makan di seberang terminal.



“Ada apa?” tanya Bambang datar. Dia merasakan ada suatu hal buruk yang akan dia hadapi.




“Lalu?” tanya Bambang.



“Ya kamu harus nikahin saya,” jawab Yani lagi.



“Bagaimana mungkin?’ kata Bambang.



“Ya mungkin lah, ini buktinya,” kata Yani mengeluarkan test pack.


__ADS_1


Bambang tak bisa mengelak karena ada bukti itu. Dia harus bertanggung jawab terhadap anak tersebut walau dia tidak cinta pada Yani dan baru bertemu satu kali sebelum kejadian di kamar, yang perempuan itu bilang tidur suka sama suka.



“Oke besok kita nikah siri dan tak akan ada pesta lain atau selamatan atau apa pun karena saya tak pernah berniat dengan anda.” jawab Bambang.



“Habis itu saya pulang karena saya harus narik ke Jogja dan jangan berharap saya full di sini. Saya hanya akan datang sesekali bila saya turun di Bogor,” kata Bambang.



“Han, tebakanmu benar. Perempuan itu mengaku hamil dan minta aku nikahi. Bagaimana ini?” curhat bambang pada Burhan.



“Lalu mas Bambang tadi bilang apa?”



“Saya bilang akan saya nikah siri, tak ada selamatan atau pesta dan saya tak akan selalu tinggal dengan dia karena domisili saya memang bukan di Bogor,” jawab Bambang jujur.



“Ulur waktu saja Mas. Kalau dia mendesak lagi katakan saja Mas akan menikahi dengan catatan langsung bercerai setelah bayi lahir. Jadi enggak bermasalah dengan istri Mas di Jogja. Kecuali Mas kemudian keenakan punya istri dua.”



“Kalau sudah lahir bisa buktikan anak itu punya Mas bukan dengan test DNA. Kalau benar anak ya nafkahi semampu kita, tapi kalau bukan, kan langsung tendang saja. Asal Mas jangan pernah gauli. Kalau perempuan seperti itu takutnya enggak bersih dan Mas bisa kena penyakit,” saran Burhan Yanto pikirkan masak-masak. Tadi perempuan itu meninggalkan nomor teleponnya dan meminta nomor telepon dirinya agar bisa mencarinya.



Yanto menyimpan nomor Yani dengan nama TERMINAL DUA.


Sambil menunggu yanktie update bab selanjutnya, mampir ke novel karya yanktie yang lain dengan judul BETWEEN QATAR AND JOGJA yok


__ADS_1


__ADS_2