BETWEEN ( TERMINAL ) GIWANGAN ~ BUBULAK

BETWEEN ( TERMINAL ) GIWANGAN ~ BUBULAK
FAKTA YANG MENYAKITKAN


__ADS_3

Jangan lupa selalu tunggu update terbaru.  Jangan ditinggalkan sebelum end ya. Karena ditinggal sedang sayang-sayangnya itu menyakitkan. Lope-lope sekebon buat semua pembaca novel yanktie.


Selamat membaca cerita sederhana ini.


Hari ini Yanto mencoba pulang ke rumahnya di desa. Gendis tak mau menemuinya, hanya Herry dan Timah yang menyambut dan berbicara dengannya. Tapi mereka pun tak bicara banyak.


“Mas, ini kata ibu suruh dibawa, ibu takut di sini hilang.” Timah memberikan amplop berisi ATM dan buku rekening modal usahanya yang Fitri katakan sudah berada di tangan ibu.


“Enggak apa apa di sini aja Dek. Kalau hilang ya sudah. Bukan rejeki Mas. Mas sudah enggak punya niat kok buat bikin usaha lagi. Sudah biar di sini aja,” tolak Yanto lirih.


Timah diam, lalu dia kembali masuk kamar ibunya dan dia kunci lagi pintu kamar dari dalam. Timah simpan buku tabungan dan ATM itu di lemari ibunya kembali seperti yang biasanya Gendis lakukan.


“Bagaimana pelajaranmu Herr?” tanya Yanto memecah kebisuan antara mereka berdua.


“Alhamdulillah bagus,” jawab Herry sambil terus membaca buku pelajarannya. Herry juga mengerti bahwa ada sesuatu yang tak beres antara kakaknya dan Mbak Fitri.


“Mas kemarin ibu pesan untuk bulan berikutnya kan Mbak Fitri sudah enggak bayar sekolah kami, tapi Ibu bilang kalau Mas telepon atau sekarang malah Mas datang suruh menyampaikan Ibu tidak terima uang dari Mas. Lebih baik Mas urus sendiri urusan Mas. Enggak usah ingat kami, itu pesan ibu yang harus aku sampaikan,” bisik Herry dengan berat hati.


 Yanto kaget mendengar pesan itu, dia mencoba mengetuk kamar ibunya yang sudah dikunci oleh Timah. Dia datang ingin bersujud dikaki ibunya tapi ternyata bertemu pun tak bisa.


“Bu … Bu,” kata Yanto pelan.


Tapi Gendis tak mau membuka pintu sama sekali.

__ADS_1


Yanto tak tahu harus ke mana lagi, akhirnya dia pulang kembali ke Jogja karena nanti sore nanti dia harus narik ke Bogor.


“Loh tumben cepat datang Mas?” tanya Burhan dan Budi kondektur barunya.


“He he, masa tumben? Biasanya juga cepat koq.” balas Yanto.


“Aku tahu Mas kan pulang ke Solo, maka aku bilang tumben siang sudah di sini. Kalau biasanya cepat kan karena tidur sini,” Burhan menjelaskan alasan mengapa dia menyebut Bambang tumben datang cepat.


“Iya enggak apa-apa,” kata Yanto.


Sepanjang perjalanan ke Bogor, Yanto lebih banyak diam. Dia bingung harus bagaimana lagi dia hidup tanpa keluarganya? Yanto semakin yakin kalau anak yang dikandung Yani memang bukan anaknya setelah ibunya mengingatkan bagaimana dia sulitnya punya anak.


Fitri sudah minum obat dan dia juga sudah minum obat bertahun-tahun aja tidak berhasil. Masa Yani sekali sentuh bisa punya anak. Itu hal yang tidak mungkin. Bisa dibilang perbandingannya 1 banding 1000.


Besok Yani akan periksa kehamilan rutin ke bidan, Yanto tahu karena Yani minta uang berobat cukup besar setiap dia periksa. Memang dia tahu obat juga biaya periksa lumayan, tapi tak semahal yang Yani minta terlebih dia hanya periksa di bidan praktik buka di dokter spesialis terkenal seperti Fitri.


 ”A’a jadi nemenin ke bidan?” tanya Yani heran. Tak biasanya suaminya menemani setiap dia kontrol rutin.


“Jadilah,” jawab Bambang datar. Dia masih ngantuk karena baru pulang narik dan belum tidur. Tapi dia butuh bertemu dengan bidan untuk bertanya tentang kemungkinan anak yang dikandung Yani.


“Kenapa sih A’ tumben?” tanya Yani.


“Kepengin tahu,” jawab Bambang santai.

__ADS_1


‘Rupanya Yani biasa kontrol di seorang bidan yang cukup maju. Tapi biaya yang tertulis hanya sepertiga dari uang yang biasa Yani minta setiap bulan,’  batin Bambang melihat klinik bidan yang mereka datangi


“Wah ini sangat sehat ya Bu, Pak. Bayinya laki-laki seperti yang biasa kita lihat sejak usia 4 bulan.  Untuk usia 7 bulan bayi ini sangat sehat,” kata Ibu bidan menerangkan apa yang terlihat di layar monitor.


“Apa Bu? 7 bulan?” pekik Yanto tertahan mendengar usia kehamilan Yani saat ini.


“Iya Pak, bayi Bapak sudah 7 bulan,” kata bu bidan tanpa merasa bersalah.


“Bagaimana mungkin?” kata Yanto tak percaya. Sementara Yani tak bisa bicara, dia masih berbaring di bed periksa.


“Ya mungkin dong Pak. Ini datanya lengkap. Istri Bapak periksa awal sampai sekarang rutin kok,” bu bidan memberikan data periksa Yani sejak awal kehamilan. Yanto mengamati data pemeriksaan dengan teliti, ternyata data pemeriksaan awal Yani sudah hamil dua minggu sebelum mereka bertemu!


Yanto langsung menggebrak meja dan berteriak. “Bang_sat, kamu pela-cur! Kamu menjebak saya! Kamu sudah hamil sebelum bertemu dengan saya Mulai saat ini saya talak kamu!” kata Yanto teriak-teriak sehingga membuat banyak pasien di sana kaget. Bu bidan hanya melongo melihat Yanto yang kalap.


Yanto langsung keluar ruang periksa tanpa membayar dan memberi uang pada Yani. Yanto langsung naik ojek menuju ke kontrakan dan diambil semua barangnya.  Sebelum dia pergi dia bilang kepada para tetangga apa yang dia dapat di bidan tadi. Yanto benar-benar kalang kabut dia tak percaya akan nasib buruk yang dia terima ternyata dia hanya ditipu oleh Yani.


\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~


Sambil menunggu yanktie update bab selanjutnya, mampir ke novel karya yanktie yang beda thema dari novel yang biasa eyank tulis. Kita masuk thema HOROR dan ini berdasar kisah nyata yang di kembangkan.


Cuzz ke novel dengan judul CINTA DITOLAK DUKUN SANTET BERTINDAK yok


__ADS_1


__ADS_2