
Malam ini aku mendapat kabar jika Cloud menyetujui semua saranku. Semua pelayan istana dikerahkan olehnya untuk membantu proses penyelesaian tugas di berkas biru. Tak tanggung-tanggung, Cloud sampai meminta Rain menurunkan puluhan prajuritnya untuk membantu.
Kulihat para prajurit dan pelayan istana saling bahu-membahu, membantu membersihkan istana. Mulai dari atap, plafon, dinding, lantai, hingga ruangan lainnya. Semuanya di sapu bersih tak menyisakan debu kotoran sedikit pun.
Selanjutnya para pelayan yang bertugas melakukan pengecatan mulai beraksi. Mereka bekerja sama mengecat seluruh gedung istana. Ruang-ruang yang ada di dalam istana dicat begitu rapi. Istana yang kuno sedikit demi sedikit mulai menampakkan kemewahannya.
Beberapa pelayan perempuan sibuk menyusun bunga-bunga di dalam pot bening besar. Yang mana di dalam pot itu diisi ikan pemakan nyamuk. Sehingga walaupun ruangan dihias bunga hidup, tidak ada ruang bagi nyamuk untuk berkembang biak.
Jendela kaca istana pun terlihat berkilauan saat sinar matahari mengenainya. Tirai-tirai berwarna ungu metalik dengan ukiran batik emas di pasang di berbagai sisi kaca jendela.
Tak kusangka dalam waktu kurang dari dua hari, semuanya sudah selesai. Aku begitu terharu melihatnya. Cloud benar-benar mewujudkan semua saran dan pendapat dariku. Semua yang terlihat kini persis seperti apa yang aku ajukan padanya.
Aku melihat di setiap ruangan terdapat lilin beraroma terapi mawar merah muda. Seperti di kamarku. Semerbak wanginya membuatku nyaman. Terkecuali bagi penghuni kerajaan yang alergi terhadap aroma mawar. Aku tidak memaksanya untuk menggunakan seperti yang kuajukan.
Setelah semuanya selesai, aku kembali ke kamarku. Segera merebahkan diri di atas tempat tidur dan beristirahat dari lelahnya kesibukanku di kerajaan ini.
Tak lama kemudian, kudengar samar-samar suara Cloud mengetuk pintu, tapi kuabaikan. Aku berusaha membahagiakan diriku sendiri tanpanya. Dan ya, aku bahagia. Aku merasa tidak perlu berlelah hati menunggu seseorang yang tak pasti.
Lambat laun kedua mataku terpejam, tidur dengan nyenyak dan mimpi indah bersama bintang.
Keesokan harinya...
Aku bangun pagi seperti biasanya. Masih ada tugas yang menungguku. Kali ini berkas berwarna merah yang harus kukerjakan. Cloud memintaku untuk menata halaman istana sebaik mungkin.
Semenjak menjalankan tugasku, aku mempunyai banyak kenalan di istana. Mulai dari para pelayan, juru masak, hingga penata rias kerajaan. Rasanya begitu senang mempunyai banyak teman. Akupun memperlakukan diri sesederhana mungkin agar jenjang di antara kami tidak begitu mencolok.
Sehabis mandi, masih dengan menggunakan handuk, kubuka lemari pakaianku. Di sana tersisa satu gaun yang berwarna putih. Kesibukanku sampai membuat tak sempat menanyakan ke mana gaun-gaunku yang lain kepada para pelayan istana.
"Apa aku harus memakai gaun putih ini?"
Kubuka penuh lemari pakaian, mencoba menemukan pakaian lain di sana. Ternyata ada sejenis kebaya batik yang kutemui. Tapi saat aku mencobanya, roknya hanya sebatas lutut.
"Betisku tidak terlalu indah untuk dipandang. Apakah aku harus mengenakan kebaya ini?"
Aku bertanya sendiri sambil berkaca di depan cermin. Kalau dilihat-lihat, kebaya ini manis juga. Kembennya berwarna biru dengan rompi merah muda, sedang roknya bercorak batik.
"Tak apa mungkin jika aku mengenakan kebaya ini."
Aku segera memakainya. Kebetulan kebayanya pas di badanku. Kulihat sepasang sepatu berwarna perak sepertinya cocok dengan kebaya ini. Aku pun memakai sepatu setinggi tujuh sentimeter itu.
__ADS_1
Rambutku sengaja kusisir menyamping lalu kubuat simpul yang menguncinya agar tidak acak-acakan saat terkena angin. Kemudian barulah kupakaikan jepit kupu-kupu zamrud hijau di simpul tersebut.
"Aku siap!"
Aku segera keluar kamar dengan tak lupa mengenakan parfum pilihanku terlebih dahulu. Dan sapuan make-up minimalis di wajah, menyesuaikan dengan lembutnya warna kebaya yang kupakai, serba muda.
Aku berjalan menuju gazebo istana, sebuah tempat seperti pondokan untuk duduk-duduk atau bersantai. Di sana, belasan tukang kebun dan Mbok Asri sudah menungguku.
Di taman istana...
Aku menjelaskan rencanaku kepada para tukang kebun untuk merubah tatanan taman, kolam bahkan pagar istana. Kujelaskan kepada mereka bagaimana cara-cara untuk memulainya. Sedang Mbok Asri menemaniku di sisi.
Hari ini kami asik menata bunga-bunga di taman. Sampai-sampai aku tidak menyadari jika sedari tadi ada yang sedang memperhatikanku.
Ternyata kebaya ini benar-benar berguna untukku.
Entah kebetulan atau tidak, tapi sepertinya memang harus mengenakan kebaya ini. Tugasku menata taman dapat terbantu dengan baik. Lain halnya jika aku mengenakan gaun. Pastinya bakal sangat merepotkan.
Harum semerbak semak mawar membuatku terhanyut melakukan pekerjaan hari ini, hingga akhirnya terik matahari memaksaku untuk berteduh sejenak di gazebo.
Aku duduk di depan meja yang sudah tersedia berbagai hidangan kue. Kucicipi satu per satu kuenya. Dan ternyata, rasanya sangat enak sekali. Sampai aku lupa sudah berapa kue kulahap. Maklum, sekarang tidak ada lagi yang mengirimkan sarapan pagi untukku. Jadinya aku tidak sarapan.
Sontak aku kaget mendengarnya. Hampir saja aku tersedak.
"Hei, biasa saja. Jangan grogi begitu dengan kedatanganku."
Kata-kata itu membuatku mual. Siapa juga yang grogi akan kedatangan dirinya. Aku hanya kaget tiba-tiba ada seseorang yang berbicara kepadaku tapi tidak tampak wujudnya.
Aku pun menoleh ke belakang, memastikan suara siapakah itu.
"Rain?!"
"Pangeran Rain. Kau lupa jika aku seorang pangeran di sini?" ucapnya bangga.
Sejujurnya aku tidak peduli dia berstatus pangeran ataupun seorang pelayan, sebab Cloud lah yang membawaku ke sini. Jika bukan karena membawa nama baik Cloud, tentunya pria bernama Rain ini sudah kuacak-acak tiada berbentuk.
"Maaf. Maafkan aku."
Tak ingin pembicaraan ini berbuntut panjang, segera saja aku meminta maaf kepadanya. Sosok yang menyebalkan bagiku.
__ADS_1
"Nona, sepertinya kau tidak kuat menahan panas matahari, ya?" tanyanya yang berjalan memutariku.
"Maksudmu? Apa kau mengejekku?" Aku mulai kesal akan perkataannya.
Haruskah aku dipermalukan untuk kesekian kali olehnya? Mengapa dia selalu hadir di dalam setiap kesempatan? Apa dia tidak punya pekerjaan lain selain membuntutiku. Aku bertanya-tanya sendiri di dalam hati.
"Kau merasa terejek, ya?" tanyanya dengan intonasi meremehkan.
Arrgh...
Sepertinya kali ini aku tidak dapat menahan emosiku. Kata-katanya benar-benar membuatku kesal. Aku langsung keluar dari gazebo lalu meninggalkannya.
"Hei, tunggu!"
Rain mengejarku. Dia menarik tangan kiriku. "Kau sangat tidak sopan meninggalkan seseorang yang sedang berbicara. Terlebih dia adalah seorang pangeran di kerajaan ini."
Rain masih tidak menyadari mengapa aku sampai bersikap seperti ini, pergi meninggalkannya. Aku pun sudah tidak dapat membendung perasaan kesal di hatiku.
"Aku tidak peduli," kataku sambil mendekatkan wajah ke wajahnya.
Semilir angin yang lewat menjadi saksi pertengkaran kami di taman istana. Rain terdiam sejenak, dia mengamati setiap gerak-gerik bibirku. Entah apa yang ada di dalam pikirannya saat aku mencoba melawan, tapi aku tetap tidak peduli. Andaipun nanti terkena sanksi, aku akan menjelaskan kenapa begini.
"Nona, kau tidak tahu siapa diriku, ya?"
Lagi-lagi dia berkata seperti itu. Kepalaku terasa sakit mendengarnya. Aku pun mengambil dedaunan yang berada di dekatku, tanpa dia sadari.
"Memangnya siapa dirimu?" tanyaku mulai mengikuti permainannya.
"Aku adalah ...."
Aku bergerak cepat, kumasukkan dedaunan yang kupegang ke mulutnya lalu kuinjak kaki kirinya dengan kaki kananku.
"Mmmmm?!!"
Rain tidak bisa berucap, mulutnya tersumpal. Roman wajahnya terlihat sangat terkejut karena tidak mempunyai persiapan akan hal yang kulakukan. Setelahnya, dia pun mengangkat kakinya yang terinjak.
"Rasakan! Ini balasan untuk orang sombong sepertimu!"
Aku segera berbalik lalu berjalan cepat, menjauh darinya. Kulihat Bibi Rum mendekati Rain dengan tergesa-gesa. Dia segera membantu Rain mengeluarkan dedaunan dari mulutnya. Entah apa yang mereka bicarakan, aku terus saja berlalu dan tidak memedulikannya.
__ADS_1