
"Ara, Andelin itu iri padamu. Kau jangan mengambil hati ucapannya." Rain lalu mencubit pipiku.
Aku duduk menyamping kiri di atas pangkuannya. Dan kini kedua tangannya melingkar di perutku.
"Rain, tetap saja aku merasa dia itu merendahkanku," sahutku kesal.
"Hah ...." Rain mengembuskan napasnya. "Bukannya wanita itu memang seperti itu, ya?"
"Maksudmu?"
"Jika ada yang bukan kelompoknya, dia akan menghujatnya."
"Rain?!"
Aku terperanjat. Rain seperti tahu benar bagaimana perempuan.
"Aku rasa itu hanya ungkapan kesalnya karena melihat kami begitu dekat denganmu, Ara. Sedangkan dia sendirian," tambah Rain.
"Ya, tapi tetap saja tidak harus berkata seperti itu. Secara tidak langsung dia merendahkanku," kataku lagi.
"Sudah-sudah. Jangan terlalu dipikirkan. Anggap saja angin lalu." Rain ingin mencium pipiku.
"Huh, kau ini! Kau sendiri bilang aku penyihir tadi!" Akupun menolak dicium olehnya.
"Hahaha." Rain tertawa. "Kau memang penyihir, Ara. Kau menyihir hatiku yang keras hingga lembut seperti ini."
"Rain ...."
"Kau merubah hidupku, pandanganku tentang hidup ini," lanjutnya.
Aku tertegun.
"Tadinya tujuan hidupku hanya satu. Tapi semenjak dekat denganmu, aku mempunyai tujuan lain," katanya lagi.
"Rain, jangan menghiburku."
"Aku serius, Ara. Sudah, jangan marah-marah. Lebih baik kita bercinta saja."
"Hei, ini tengah hari. Kau sudah gila, ya!" gerutuku.
"Ya, aku memang sudah gila. Gila karenamu." Rain mulai merebahkanku di atas sofanya.
"Rain, jangan!" Aku menolaknya.
Rain memegang kedua tanganku. Kini dia telah berada di atas tubuhku.
"Ara, jadilah pengantinku," katanya pelan lalu mulai mendekatkan wajahnya.
"Rain ...."
Kutatap kedua bola mata biru gelapnya itu. Tersirat keinginan besar dari dalam hatinya untuk segera memilikiku.
Rain, jangan membuat hatiku bertambah gundah.
__ADS_1
Aku pikir dia akan menciumku. Tapi ternyata, dia bangkit lalu beranjak pergi.
"Aku lapar, Ara. Kita makan siang dulu, ya."
Dia kembali datang dengan membawakan sepiring nasi berisi sayur dan lauk lengkap makan siang. Rain memintaku untuk menyuapinya.
Dasar manja.
Kadang aku merasa dia begitu manja. Kadang juga merasa dia dewasa. Rain membuatku menilainya dari banyak sudut pandang. Terlepas dari ketegasannya saat memimpin, Rain memiliki hati yang lembut. Tidak jauh berbeda dengan Cloud.
"Habis ini kau mau ke mana?" tanyanya seraya mengunyah makanan yang kusuapi.
"Aku mau ke tempat paman Rich untuk membicarakan gaun tarianku," jawabku lalu menyuap untuk diri sendiri.
"Baiklah, aku akan menemaninya."
"Kau tidak sibuk?"
"Sebenarnya sibuk. Tapi tak apa jika untuk bersamamu," katanya seraya tersenyum nakal.
"Jangan, Rain. Nanti kau kena marah ayah," timpalku.
"Ayah?"
"Eh, maksudku paduka raja."
Rain tampak terkejut saat aku menyebut raja dengan sebutan ayah.
"Ish, aku tidak sengaja menyebutnya ayah, Rain."
"Tak apa, Ara. Ayahku juga akan menjadi ayahmu. Berarti tidak lama lagi aku juga akan menjadi seorang ayah. Yeah!" Rain bergembira.
"Rain?!"
"Aku ingin punya banyak putra yang meneruskan perjuanganku."
"Rain, kita sedang makan."
Entah mengapa Rain tiba-tiba berubah menjadi dirinya yang menyebalkan. Dia mulai berpidato panjang tentang impiannya itu. Aku pun mau tak mau mendengarkannya.
Haduh ... ini yang tidak aku sukai.
Paragraf demi paragraf mulai dia tuturkan padaku. Aku merasa jadi pendengar setianya siang ini.
Dasar Rain.
Malam harinya...
Kini aku merebahkan diri setelah seharian mondar-mandir di istana. Rasanya kakiku ini pegal sekali. Aku membutuhkan pijatan di betisku.
"Hah, Rain itu terlalu overprotektif ternyata."
Aku teringat kejadian saat berada di gedung konveksi. Rain tidak mengizinkanku menari dengan pakaian yang terbuka, meskipun hanya sedikit. Dia memintaku untuk mengenakan gaun dengan lengan yang panjang. Katanya sih, cantik bukan berarti harus menampakkan lekuk tubuh ke banyak orang.
__ADS_1
"Pokoknya tidak boleh. Semua harus tertutup."
Aku jadi merasa sangat dimiliki olehnya.
"Kakak beradik itu berbeda sekali."
Lain dengan Cloud. Selama menurut pandangannya masih dalam batas wajar, dia memperbolehkan aku mengenakan gaun pendek. Malahan dia sendiri yang memberiku gaun pendek. Cantik sih dan terkesan lebih imut.
"Selera mereka memang berbeda."
Malam ini aku berniat tidur lebih cepat. Kebetulan raja meminta para pekerja untuk beristirahat lebih awal agar bisa bangun lebih pagi dan segera menyelesaikan tugas. Tugas menjadikan istana terlihat mewah dan megah sebelum kedatangan para putri dan pangeran dari kerajaan lain.
"Semoga saja berjalan lancar."
Aku hanya menikmati proses ini. Kehidupanku di istana memang sangat berbeda jauh dengan di duniaku. Di sini apa-apa serba tersedia. Tidak perlu mencuci, menyapu dan membersihkan ruangan sendiri. Aku seperti diratukan di sini.
"Selamat tidur, pangeran-pangeranku."
Kupejamkan kedua mata seraya tersenyum. Kubayangkan jika hari bahagia itu segera tiba. Ya, aku hanya membayangkan yang indah-indah saja agar energi positif itu terserap ke dalam tubuhku. Aku berharap apapun nanti keputusannya, itu yang terbaik. Buat apa pusing memikirkan kehidupan, toh semua sudah diatur.
Percayakan semuanya kepada Sang Pencipta, maka ketenangan hidup akan mudah didapatkan. Tetap berpikiran positif dalam menjalani kehidupan dan berikan yang terbaik untuk dirimu sendiri.
Satu minggu kemudian...
Waktu terus saja berlalu. Tanpa terasa sudah satu minggu terlewati. Kini istana terlihat lebih mewah dari sebelumnya. Gedung istana bercat putih dengan dinding dalam berwarna biru keunguan-unguan. Kaca-kaca jendelanya juga begitu bening dengan tirai biru metalik di setiap sisi. Aku jadi merasa sedang berada di istana lain.
"Tamannya tampak tersusun rapi."
Kulihat taman depan istana begitu rapi dengan bunga-bunga yang berkelompok membentuk hati. Taman istana ini tampak sangat manis di pandanganku. Pagar sekeliling istana juga sudah dicat berwarna putih susu dengan pintu gerbang berwarna hitam. Anehnya, aku tidak menemukan butiran salju di pagi ini.
"Apa sudah musim semi, ya?"
Tak lama, seorang pangeran berjubah putih terlihat berjalan mendekatiku. Dia mengenakan atribut kerajaan lengkap. Pedang dengan sarung putih di sisi kiri pinggangnya, jubah putih yang terukir batik emas di sisinya, dan celana putih panjang dengan bagian kaki tertutupi sepatu bot tinggi berwarna putih.
"Cloud?"
Dia begitu rupawan. Wajahnya putih kemerah-merahan dengan bibir peach tipis yang menggoda. Rambutnya disisir ke belakang hingga dahinya terlihat jelas di kedua mataku.
"Rain juga datang?"
Dari belakang sang adik terlihat menyusul kakaknya. Perbedaan mereka sangat mencolok. Rain mengenakan jubah merah dengan celana dan sepatu bot yang berwarna hitam. Dan pedang di sisi kiri pinggangnya yang bersarung merah.
"Merah putih, seperti warna bendera negaraku."
Kulihat paras Rain begitu berwibawa. Bibir tipisnya yang berwarna merah muda itu menandakan jika Rain bukanlah seorang perokok. Sepanjang berkenalan dengannya, aku belum pernah melihatnya menghisap batang rokok. Begitu juga dengan Cloud.
"Kedua pangeranku datang."
Lain dengan Cloud, Rain menyisir rambutnya ke depan sehingga rambutnya itu sebagian menutupi dahinya. Dia tampak lebih perkasa dibanding kakaknya.
"Bagaimanapun mereka, aku tetap menyayanginya."
Kusambut kedatangan keduanya seraya tersenyum. Rain dan Cloud pun semakin berjalan mendekatiku.
__ADS_1