Dua Pangeran Satu Cinta

Dua Pangeran Satu Cinta
I Want To Meet Him


__ADS_3

Di Aksara...


Seorang putri tergesa-gesa menuju ruang administrasi istana untuk menemui seseorang di sana. Putri bergaun putih itu seperti mempunyai kepentingan yang amat penting. Langkah kakinya terdengar terburu-buru hingga harus menaikkan gaunnya agar tidak terselandung. Namun sayangnya, sesampai di depan ruang administrasi langkah kakinya tertahan. Ia melihat banyak pasukan khusus sedang berjaga.


"Pangeran Cloud!"


Ia pun ingin masuk ke dalam ruangan tanpa memedulikan pasukan khusus yang berjaga. Namun, usahanya itu ternyata sia-sia belaka.


"Mohon maaf, Putri. Anda dilarang masuk ke dalam. Pangeran Cloud sedang menjalankan tugasnya." Salah satu pasukan khusus menerangkan kepada putri itu.


"Ini istanaku, tidak ada yang berhak melarangku masuk ke dalam ruang administrasiku sendiri." Ia berontak.


"Maaf, Putri. Kami hanya menjalankan tugas. Tolong jangan mempersulit kami," pinta pasukan khusus itu lagi.


"Aku ingin bertemu dengannya. Aku ada kepentingan yang amat penting," kata putri itu lagi.


"Tidak bisa, Putri. Raja Angkasa telah memerintahkan kami untuk tidak mengizinkan siapapun masuk dan menganggu pangeran Cloud yang sedang menjalankan tugasnya." Pasukan khusus itu dengan tegas melarang.


"Hah!" Putri itupun kesal karena usahanya sia-sia.


Sial! Aku tidak bisa menemuinya. Padahal pangeran Cloud lebih mudah dibujuk dibandingkan pangeran Rain. Mungkin saja aku bisa memintanya untuk membawaku ke Angkasa.


Dialah Andelin, putri satu-satunya mendiang raja Aksara. Ia kini amat ingin bertemu dengan Cloud agar bisa membantunya ke Angkasa. Menurutnya, Cloud lebih mudah dibujuk jika dibandingkan Rain. Tapi, usahanya harus tertunda sementara waktu sampai ia bisa bertemu langsung dengan Cloud.


Andelin akhirnya berjalan menjauh dari ruangan administrasi istana. Ia terpaksa menunggu Cloud keluar di ruangan lainnya. Ia sengaja menunggu sang pangeran agar keinginannya ke Angkasa bisa terlaksana.


Lain Andelin lain juga dengan Cloud. Putra sulung kerajaan Angkasa ini tampak serius mengerjakan tugasnya. Di dalam ruangan administrasi ia hanya seorang diri, berhadapan dengan banyak dokumen. Tidak ada waktu baginya untuk bersantai, ia harus terus mengejar waktu agar pekerjaannya dapat selesai dan bisa segera kembali ke Angkasa. Ia ingin menemui bidadarinya.


Sementara di Asia, Zu menendang keras pintu ruangan ratu. Sebuah ruangan bak apartemen super mewah yang hanya dikhususkan untuk ratu beserta orang-orang pilihannya. Tapi siang ini Zu memaksa masuk ke dalam ruangan itu.

__ADS_1


Di istana Asia, di ruangan ratu...


Zu berjalan cepat mencari sang ratu. Dan ternyata sang ratu sedang bersantai sambil menikmati anggur di halaman belakang ruangannya.


"Hei, kau!"


Tanpa basa-basi Zu mendatangi istri ayahnya dengan wajah penuh amarah. Kedatangan Zu ini tentu saja membuat sang ratu kaget. Terlebih tatapan Zu seperti ingin membunuhnya.


"Zu? Kau datang?" Ratu bergaun krim itu beranjak berdiri.


"Kau sudah benar-benar keterlaluan. Kali ini aku tidak akan membiarkanmu lepas, Ibu Suri," kata Zu lalu mengeluarkan pedangnya.


Sontak seisi ruangan berteriak histeris. Para pelayan berhamburan ke luar. Sedang ratu sendiri terkejut bukan main. Di hadapannya kini Zu telah mengangkat pedangnya. Ia pun amat panik melihatnya.


"Zu, apa yang kau lakukan?! Apa kau sudah gila?!" Ratu itu memundurkan langkah kakinya ke belakang.


"Hah! Anggap saja ini balasan untuk orang yang sudah menghancurkan masa depanku. Terimalah ini, Ibu Suri!" Zu mengarahkan pedangnya ke ratu.


Di Angkasa...


Siang ini angin sepoi-sepoi menyapu rambut Rain yang mulai panjang. Ia kini sedang berbincang bersama ayahnya di teras balkon istana. Mereka membicarakan perihal Asia dan Angkasa. Sang raja pun menyambut keingintahuan putranya. Ia senang karena sang putra memiliki daya saing yang tinggi terhadap negeri lain.


"Apa kau sudah membaca semua dokumen yang ayah berikan?" tanya Sky sambil menyeruput tehnya.


"Belum, baru satu," jawab Rain singkat."


"Astaga, dari sebanyak itu baru satu?" Sang ayah tidak percaya.


"Aku masih ingin bersama Ara, Yah. Tolong jangan paksa aku. Lagipula masih ada waktu, bukan?" tutur Rain lagi.

__ADS_1


"Lalu untuk apa kau menanyakan Asia siang ini?" tanya sang ayah menyelidik.


"Aku hanya ingin tahu seberapa jauh Angkasa untuk menyamai Asia. Itu saja." Rain bersungguh-sungguh tapi malas untuk berbasa-basi.


"Hm, begitu. Ayah pikir ada hal lain." Sky meletakkan kembali cangkir tehnya.


Rain terdiam. Ia tidak ingin banyak bicara. Tak dapat ia pungkiri jika masih kesal dengan keputusan ayahnya.


"Asia masuk sepuluh besar negeri dengan kemampuan militer terkuat. Sedang Angkasa masih berada di urutan ke tujuh belas. Kita harus menggabungkan minimal sepuluh negeri untuk menyamai kekuatan militernya." Sky menjelaskan.


"Itu berati kita tidak akan menang melawannya untuk saat ini?" tanya Rain meminta kepastian.


"Hahaha." Sang ayah pun tertawa. "Rain-rain, segala kemungkinan bisa saja terjadi di medan peperangan. Tapi jika menggunakan hitungan angka, kita memang kalah darinya," lanjut sang ayah.


"Apakah kita tidak bisa meminta bantuan negeri lain jika sewaktu-waktu Asia menyerang?" tanya Rain lagi yang seketika membuat sang ayah memahami maksud pertanyaan putranya.


"Tidak semudah yang kau bayangkan jika ingin meminta bantuan negeri lain, Rain. Mereka akan meminta imbalan seharga yang mereka keluarkan. Dan ayah tidak menginginkan hal itu terjadi. Karena bisa saja memberi cela kepada mereka dan mengetahui kelemahan negeri kita," jelas Sky.


Rain pun terdiam.


"Di dunia politik kerajaan, teman bisa jadi lawan, lawan bisa jadi teman. Maka dari itu ayah tidak pernah sembarang memercayakan sesuatu kepada seseorang. Kau tahu sendiri jika ayah amat menghargai kepercayaan." Sky mulai serius.


Rain tampak berpikir.


"Sekarang pikirkanlah tawaran dari ayah. Kita mempunyai kesempatan untuk mengejar ketertinggalan dari Asia. Bahkan kau bisa membuat Angkasa berada di atas Asia. Ayah yakin kau mampu melakukannya." Sang ayah memberi semangat kepada putranya.


"Aku akan memikirkan hal ini baik-baik, Yah." Rain menimbang kembali tawaran ayahnya.


"Ya, baiklah. Pikirkan baik-buruk ke depannya tentang keputusan yang akan kau ambil. Jangan sampai ada penyesalan di kemudian hari. Rain, ayah sangat berharap padamu. Ayah yakin kau mampu. Jadi jangan kecewakan ayah." Sky menepuk pundak putranya.

__ADS_1


Sebuah keinginan dan semangat sang raja mengalir di jiwa panglima tinggi kerajaan Angkasa. Namun, ia pun harus memikirkan masak-masak sebelum mengambil keputusan yang besar. Sebuah keputusan yang harus mengorbankan cintanya untuk sementara waktu. Rain tidak ingin mengecewakan siapapun, ia ingin membahagiakan semua orang yang telah memercayainya.


Sang panglima akhirnya kembali ke kediamannya. Ia akan membaca semua dokumen yang ayahnya berikan. Rain akan menimbang kembali kesempatan yang belum tentu datang dua kali ini. Tentang permintaan banyak negeri yang ingin menyatukan wilayah kekuasaan kepada Angkasa.


__ADS_2