
"Sudahlah. Lebih baik kita menunggu petang sambil berkeliling kota," ajak Rain.
"Em, baiklah."
Kali ini aku tidak menolak. Kuturuti permintaannya sambil menunggu kepulangan Cloud.
Mungkin Cloud sedang berpikir keras untuk menyatukan negerinya dan negeri seberang sehingga dia bersikap sedikit aneh kemarin.
"Ayo, Ara. Kereta kuda sudah menunggu."
Rain segera mempersiapkan kendaraan untuk berkeliling kota. Dia mempersilakan diriku masuk terlebih dahulu ke dalam kereta. Dipegangnya tanganku dan dijaganya agar tubuhku tidak terpleset saat masuk ke dalam kereta. Dia memperlakukanku begitu berbeda. Ternyata, Rain bisa berlaku romantis padaku. Aku dibuat takjub olehnya.
Kami kemudian berkeliling kota. Kulihat jalanan perkotaan beserta para penduduk yang menyambut kedatangan kami. Rumah-rumah penduduk tampak lebih bagus dari yang kulihat sepulang dari bukit.
Aku menikmati perjalanan ini. Sampai-sampai rasa kantukku datang. Rainpun memberikan pundak kanannya untukku bersandar.
"Tidurlah. Pakailah pundakku hingga rasa kantukmu hilang."
Ada sensasi nyaman saat bersama Rain. Dia tidaklah seburuk yang kuduga. Rain ternyata bisa bersikap hangat, walaupun awalnya dia dingin bukan main.
Namanya juga Rain, hujan itu awalnya dingin, kan? Tapi lama-lama juga akan terbiasa. Asal tidak ada angin yang ikut campur, air hujan akan tetap terasa hangat.
Terima kasih, Rain. Terima kasih atas perubahan sikapmu padaku. Aku menyukainya.
Akupun tertidur di pundaknya. Kurasakan sejenak jika Rain ikut memberatkan kepalanya di kepalaku. Jari jemarinya menyelinap di antara sela-sela jemari tanganku dan menggenggamnya dengan erat. Kubiarkan begitu saja, kunikmati jalan cerita ini bersamanya.
Sejak saat ini aku mulai membuka hatiku untuknya. Untuk seseorang yang awalnya begitu menyebalkan, namun kini memberikan kehangatan. Aku merasa lebih berarti baginya.
Tenggelam dalam pikiran sendiri memang hanya akan menguras energi dan membuang-buang waktu saja. Tak ada salahnya jika mulai membuka diri dan bersantai sejenak sambil menikmati alur ceritanya.
Malam harinya...
Malam telah datang. Bulan pun bersinar dengan terang. Aku memandangi rembulan sendirian di dalam kamar. Rasa kesepian mulai mengusik kenyamanan yang baru saja kurasakan.
Tak lama terdengar seseorang mengetuk pintu lalu masuk ke dalam kamarku. Dari harum parfumnya sepertinya aku kenal siapa itu. Namun, sengaja aku tidak menyapanya, membiarkannya. Seolah-olah tidak menyadari kehadirannya.
__ADS_1
"Ara. Maaf aku baru sempat mengunjungimu," katanya seraya berjalan mendekatiku.
Benar dugaanku jika Cloud lah yang datang. Kami mempunyai ciri khas aroma parfum masing-masing. Aroma parfum yang khusus hanya diberikan kepada keluarga utama kerajaan.
"Hm, ya. Tidak apa-apa, Pangeran," jawabku seraya tersenyum.
"Ara, sepertinya ada yang harus kita bicarakan. Aku merasa ada salah paham di antara kita."
Wajah Cloud berubah menjadi murung. Mungkin kini dia telah menyadari atas perubahan sikapku.
"Bisakah kita bicara di luar?" tanyanya.
Akupun mengangguk, lalu mengikutinya ke luar kamar. Kami berjalan pelan menyusuri koridor yang belum terlalu sepi. Cloud mengajakku menuju gazebo istana.
"Kau telah berhasil membuktikan semua kerja kerasmu padaku. Aku kagum padamu, Ara."
Cloud tersenyum seraya menoleh ke arahku. Sedang aku berusaha memposisikan hati ini agar tidak goyah mendengar semua ucapannya.
"Dulu sebelum kakek meninggal, dia berpesan kepada kami untuk menjaga tanah ini. Tanah yang dibangun di atas tetes keringat dan lumuran darah." Cloud mulai bercerita.
Aku mencoba memahami semua kata-katanya karena sepertinya begitu penting buatku. "Lalu?" tanyaku.
"Sepuluh tahun sudah berlalu dari kematian kakek, ayahku akhirnya berhasil mensejahterakan rakyatnya. Kesejahteraan itu dilimpahkan merata kepada seluruh rakyat," jawabnya.
Aku terdiam mendengar penuturannya.
"Ayahku begitu bijak dalam memimpin. Dia bekerja dari pagi ke pagi memikirkan bagaimana caranya agar keadilan sosial bagi seluruh rakyat dapat ditegakkan." Cloud melanjutkan.
"Paduka raja memang luar biasa," sahutku.
"Tapi itu tidak seindah yang kau kira, Ara." Cloud tersenyum.
"Maksudmu?" tanyaku penasaran.
"Ayah menikah dengan ibu di usia muda. Sekitar umur 23 tahun. Sedangkan waktu itu ibu baru saja lulus dari akademi keperawatan," jawab Cloud.
__ADS_1
"Usia berapa?" tanyaku antusias.
"Delapan belas tahun," jawab Cloud singkat.
Aku termenung sejenak.
"Mereka dijodohkan oleh kakekku karena melihat ayah adalah seorang pekerja keras. Ayah waktu itu adalah seorang pimpinan militer di negeri ini. Dahulunya negeri ini terbagi dua. Namun, ayah berhasil menyatukan keduanya dengan tanpa pertumpahan darah. Sehingga hal itulah yang membuat kakekku kagum padanya."
"Begitu, ya?"
"Kau tahu, Ara. Hasil dari perjodohan itu membuat ibuku mengurung diri dan menutup dirinya dari ayah selama beberapa tahun. Bisa kau bayangkan bagaimana rasanya menjadi pengantin baru namun tidak dapat menikmati bulan madu?"
Cloud tertawa, kali ini tawanya begitu lepas. Entah karena menutupi rasa sedih atau karena sedang berusaha menghibur diri dari kepenatan pekerjaannya.
"Aku terlahir di saat ayah sudah berusia dua puluh delapan tahun. Kadang jika aku sedang mengingat kisah ini, aku tertawa lepas tak terkendali. Tak bisa kubayangkan bagaimana jika aku di posisi ayah," katanya.
Tanpa terasa kami sudah berada di depan gazebo. Kami duduk bersama lalu meneruskan cerita. Beberapa pelayan membawakan minuman dan makanan untuk kami. Sepertinya para pelayan sudah dididik untuk cepat tanggap di sini.
"Dua tahun kemudian, Rain pun lahir. Ibu begitu kelabakan mengasuh kami berdua."
Cloud meneguk minumannya lalu menatapku dengan tatapan yang lebih ringan. Aku mengalihkan tatapan Cloud dengan mengajukan pertanyaan kepadanya agar dia lebih banyak bercerita tentang keluarga di kerajaan ini.
"Aku mendengar cerita ini dari ibu sewaktu kecil, sebelum kakek meninggal. Setelah kakek meninggal, barulah ayahku diangkat menjadi raja negeri ini. Karena tidak ada lagi yang pantas mendapatkan gelar raja selain ayah. Ayahku memenuhi semua persyaratan untuk menjadi seorang raja," ungkapnya.
"Aku setuju dengan hal itu. Walaupun aku belum pernah bertatapan langsung dengan paduka raja, aku merasa wibawa paduka memang tidak ada yang bisa menandinginya," pujiku.
Cloud tersenyum, dia kembali meneguk minumannya.
"Umur 40 tahun ayahku baru diangkat menjadi raja, Ara. Saat itu aku baru saja berusia 12 tahun, tepat seminggu sebelum kematian kakek. Dan kini sudah sepuluh tahun kakek meninggalkan kami."
Cloud tiba-tiba bersedih. Aku menjadi tidak enak hati sendiri melihatnya. Aku segera mendekatkan diri. Kutarik lembut tubuhnya agar menangis di bahuku. Cloud pun tidak menolaknya sama sekali.
"Jika memang bisa meringankan beban di hatimu, maka menangislah, Cloud."
Aku mengusap lembut rambut Cloud yang pirang kemudian mengusap-usap bahunya agar dia merasa lebih tenang. Pastinya sang kakek begitu berarti baginya hingga dapat menumpahkan air matanya malam ini.
__ADS_1