Dua Pangeran Satu Cinta

Dua Pangeran Satu Cinta
Damn!


__ADS_3

Kembali ke Angkasa...


Ara dan Rain sarapan pagi bersama di gazebo istana. Kabar akan pernikahan mereka tentunya menjadi kabar bahagia untuk semuanya. Para pelayan pun tampak menyajikan sarapan pagi dengan hati-hati. Baik Rain dan Ara tidak merasa mempunyai jarak lagi, sehingga mereka lebih leluasa, apa adanya.


Sang pangeran tersenyum-senyum sendiri saat menyuapi gadisnya. Begitu juga dengan Ara yang menyuapi Rain bak bayi. Keromantisan mereka membuat semua pelayan di istana iri dan menggigit jari. Mereka berharap keduanya bahagia sampai akhir hayat nanti.


Musim panas tidak lama lagi akan datang. Cuaca hari ini juga sudah menandakan akan terjadi pergantian musim. Matahari yang biasanya menghangatkan, pagi ini terasa lebih panas, tidak seperti sebelumnya. Tentunya hal ini juga berpengaruh terhadap sepasang insan yang sedang menyantap sarapannya. Ara tampak berkeringat begitu juga dengan Rain. Beberapa lembar tisu pun harus menyeka keringat mereka.


"Sepertinya musim panas telah datang, Ara." Rain meneguk air minum setelah menyelesaikan sarapan paginya.


"Benar, kah?" Ara sendiri masih berusaha menghabiskan sarapannya.


"Ya, pagi ini cuaca lebih panas tidak seperti sebelumnya. Apa kau mempunyai keinginan di musim panas kali ini?" tanya Rain sambil mengelap kedua tangannya dengan tisu.


"Hm, apa ya?" Ara pun berpikir.


"Sayang."


"Hm?"


"Semalam itu—"


"Hush! Sudah lagi." Ara menolak untuk meneruskannya.


"Tapi aku ingin membahasnya sedikit, boleh ya?" Rain meminta.


"Memangnya mau membahas bagian yang mana?" Ara kini sudah menyelesaikan sarapannya.


"Bentar. Kupanggil pelayan dulu untuk membersihkan meja."


Rain memanggil pelayan untuk membersihkan meja gazebo. Ara pun lekas-lekas meneguk air minumnya sebelum semua peralatan makan dibereskan. Dan tak lama dua pelayan datang, membersihkan meja gazebo yang habis digunakan untuk sarapan.


"Terima kasih, Mbok." Tak lupa Ara tersenyum seraya mengucapkan terima kasih saat meja telah dibersihkan.


Rain hanya diam saja. Sikapnya kepada orang lain begitu dingin dan tegas. Tapi saat bersama Ara, jangan ditanya.


"Sayang."


"Hm?"


"Semalam kau manja sekali padaku." Rain tersenyum.


"Lalu?" Ara berusaha menanggapinya.


"Aku gemas sekali. Rasanya ingin kutelan saja," kata Rain lagi.


"Hih, kau ini! Nanti aku tidak bisa bernapas." Ara menggerutu.


"Suaramu itu lho, Sayang."


"Kenapa suaraku?"


"Aduh ...." Rain gelisah sendiri.


"Kau ini kenapa, sih." Ara pun tertawa melihat tingkah Rain yang aneh.


"Sayang, suaramu itu begitu lembut. Lembut sekali dan juga..."

__ADS_1


"Dan juga apa?" Ara bertolak pinggang.


"Hehehe." Rain merasa geli.


"Sudah, ah. Kau terlalu banyak berkhayal." Ara memalingkan pandangannya.


"Baiklah-baiklah. Lain kali seperti semalam lagi ya." Rain mengecup tangan Ara.


"Huh! Dasar!" Ara pun menggerutu.


Pagi ini angin terasa tak ada. Ara pun menyingkapkan rambutnya ke samping, yang mana bahunya terlihat jelas di kedua mata Rain.


Astaga, dia ini.


Seketika Rain menelan ludahnya. Ia tidak bisa melihat pemandangan menggairahkan dari gadisnya.


"Ara, kita berenang saja, yuk." Rain pun mendapat ide bagus.


"Berenang? Masih pagi, tahu!" Ara menolak halus.


"Baiklah, kalau begitu kita kembali ke tujuan awal. Aku ingin mengetahui apa maksud Zu berbicara seperti itu padamu."


Seketika Ara terdiam saat Rain kembali menanyakan perihal Zu padanya.


"Kau benar-benar ingin tahu?"


"Hm, ya. Aku rasa ini ada kaitannya dengan salam perpisahan kami," kata Rain.


"Salam perpisahan? Maksudmu?" Ara penasaran.


"Kemarin setelah berbicara padamu, dia kembali ke ruang tamu istana." Rain mulai menceritakan.


"Lalu?"


"Lalu?" tanya Ara lagi.


"Lalu..."


Sebelum kepergian Zu dari Angkasa...


Rain mengantarkan Zu sampai ke teras depan istana. Ia terpaksa mengantarkannya karena sang ayah meminta. Sebagai sesama putra mahkota, tentunya harus menjaga sikap dan etika. Sehingga mau tak mau Rain melakukannya, walaupun dengan amat berat hati.


Sepanjang jalan dari ruang tamu sampai di teras depan, keduanya berdiaman. Sky juga menyadari hal ini. Namun, ia percayakan jika Rain bisa mengendalikan diri saat mengantarkan tamu kerajaan. Rain pun akhirnya menyelesaikan tugasnya. Ia mengantarkan Zu sampai di teras depan istana. Tetapi, sebuah percakapan pun terjadi sebelum calon raja Asia itu pergi.


"Aku titip Ara padamu, Pangeran Rain. Suatu hari nanti aku akan mengambilnya lagi." Zu berbicara sambil membelakangi Rain.


"Hah, kau terlalu banyak bermimpi, Pangeran Zu." Rain pun membalasnya segera.


"Jika ini mimpi, aku tidak ingin terbangun. Asal Ara tetap bersamaku." Zu tidak menyerah.


Rain pun kesal mendengarnya. "Jika kau berani mengambilnya, maka aku tidak akan segan-segan untuk membuat perhitungan denganmu. Bukan sebagai seorang pangeran, tapi sebagai laki-laki."


Rain mendekati Zu lalu menepuk bahunya. Ia berbisik untuk menghindari keributan.


Zu pun menoleh ke arah Rain. "Kita lihat saja nanti. Semoga di waktu mendatang, keberuntungan berpihak padaku."


Zu segera menaiki kudanya. Sedang para pasukan Asia telah menunggunya. Ia kemudian keluar dari halaman istana Angkasa dengan meninggalkan pesan kepada Rain.

__ADS_1


...


"Jadi dia berkata seperti itu?" tanya Ara sambil menatap Rain dengan saksama.


"Ya, dia berkata seperti itu. Maka aku ingin mengetahuinya langsung darimu. Sebenarnya apa yang telah dia katakan padamu? Mengapa dia amat bersikeras untuk membawamu ke Asia." Rain ingin Ara jujur padanya.


"Aku ...." Ara pun ragu untuk mengatakannya.


"Katakan saja, Sayang. Aku akan mendengarkannya." Rain meyakinkan, ia memegang tangan Ara.


"Rain, tapi aku mohon jangan gegabah setelah mendengar hal ini," pinta Ara.


"Ya." Rain mengangguk.


Ara pun mengambil napas panjang. Ia hirup udara yang seakan ingin lari. Ia mencoba mengatakan hal yang sebenarnya kepada Rain karena Rain amat ingin mengetahuinya.


"Zu ingin menikahiku. Dia ingin aku menjadi istrinya dan menemaninya memimpin Asia." Ara akhirnya mengutarakan kepada Rain.


"Astaga!" Rain terperanjat kaget.


"Dia bilang sendiri padaku. Dia sangat menginginkanku," kata Ara lagi.


"Lalu apa kau mau?" tanya Rain masih dalam rasa tak percaya.


"Aku ... katakanlah jika waktu itu aku terdesak."


"Maksudmu?"


"Aku diminta menurut olehnya, karena kalau tidak ...,"


Suasana hening sejenak. Ara mengambil napas dalam-dalam sebelum mengatakannya kepada Rain.


"Ara?" Rain pun masih menunggu.


"Karena kalau tidak, dia akan menyingkirkan kalian dan tak akan segan untuk menyerang Angkasa."


"Apa?!!"


Rain pun benar-benar terkejut kali ini. Ia tidak menyangka jika akan mendengarnya langsung dari Ara.


"Ja-jadi kau ...?"


"Rain, maafkan aku. Aku terdesak waktu itu. Aku juga sendirian di sana. Aku tidak bisa melakukan apapun selain menuruti apa katanya. Tolong mengerti kondisiku." Ara memohon.


Rain menelan ludahnya. Ia lalu membuang pandangannya dari Ara. Sebuah pernyataan kini ia dengar tentang Zu.


Dia menggunakan kekuasaannya untuk membuat Ara patuh. Dia bahkan berani mengancam Ara. Astaga ... inilah yang kukhawatirkan.


Pagi ini sang putra bungsu Angkasa dilanda kecemasan, terlebih sebuah pernyataan telah didengarnya. Tentu saja sebagai seorang pangeran dan panglima tinggi, ia tidak akan membiarkan hal itu terjadi. Rain harus bersiap menghadapi segala risiko. Benar atau tidaknya, ia tetap harus berjaga.


Kini bukan hanya Ara yang harus aku lindungi. Tapi juga semua rakyat negeri ini. Aku harus bertindak secepatnya.


Rain berusaha menstabilkan emosinya pagi ini. Sedang Ara masih mencoba mengajaknya berbicara. Rain pun segera menarik Ara ke dalam pelukannya. Ia kecup kening sang gadis sambil memegang erat tangannya.


"Sayang, jangan khawatir. Aku baik-baik saja."


Ara pun tidak bisa berbuat apa-apa setelah melihat ekspresi Rain yang berubah seketika. Ia hanya bisa mencoba untuk mengembalikan suasana hati Rain ke sediakala.

__ADS_1


...


...Ayo, berikan votemu untuk update bab selanjutnya!...


__ADS_2