Dua Pangeran Satu Cinta

Dua Pangeran Satu Cinta
Can't Without You


__ADS_3

"Rain?!"


"Ibu, apa benar yang dikatakan Kak Cloud?" tanya Rain serius.


"Rain, semua ini omong kosong. Ibu tidak melakukan apapun." Moon menolak.


"Lalu mengapa Ibu meminta prajurit mengosongkan kamarnya?" tanya Rain lagi.


Cloud seperti mendapat pembelaan dari sang adik. Kini Moon pun tersudutkan, kedua putranya mendesak agar segera mengakui kesalahan.


"Kalian benar-benar telah terkena sihir gadis itu. Kalian membuat Ibu sedih!"


Moon lantas pergi meninggalkan kedua putranya. Ia tampak berlinang air mata. Tak menyangka jika kedua putranya akan mencecarnya karena gadis itu.


Aku tak percaya kedua putraku seberani ini padaku. Mereka mencecarku, mendesakku untuk mengakui semuanya. Padahal aku inilah yang melahirkan mereka. Tak kusangka gadis itu benar-benar menyihir kedua putraku hingga berani melawan ibunya sendiri.


Moon semakin geram kepada Ara karena sikap kedua putranya itu. Ia semakin menaruh kebencian kepada sang gadis. Kebencian yang tanpa sadar membuatnya jatuh ke dalam kemusnahan.


Kini kedua putranya tidak dapat lagi mempercayainya. Cloud lalu menceritakan apa yang didengar olehnya kepada Rain. Rain pun merasa miris setelah mendengar hal itu karena Ara tidak menceritakan langsung kepadanya.


Ara, kenapa kau tidak menceritakan hal ini padaku? Kenapa kau sembunyikan hal ini?


Rain tak habis pikir, ia merasa tidak berguna sama sekali. Hal penting seperti ini tidak Ara ceritakan padanya dan malah bercerita kepada Cloud. Ia merasa tak berarti.


...


Waktu pun terus berlalu, mengantarkan kedua putra mahkota untuk segera beristirahat dari hari yang melelahkan. Namun, keduanya tidak bisa tidur malam ini. Baik Cloud maupun Rain terbayang-bayang dengan sang gadis. Keduanya merasa jika Ara masih berada di dekatnya.


Sky juga telah mendatangi mereka, meminta kedua putranya untuk beristirahat. Namun sayangnya, baik Rain maupun Cloud tidak menuruti perkataan ayahnya itu. Mereka tidak bersemangat untuk melanjutkan hari. Keduanya pun kini tampak duduk di atas kasurnya sambil terus memikirkan sang gadis.


Senyumnya, candanya, tawanya dan sikap manja sang gadis terngiang-ngiang di benak kedua pangeran Angkasa. Diusapnya kasur kamar itu, membayangkan jika Ara tengah berada di sampingnya. Dan kemudian lagi-lagi air mata itu mulai menetes dari tempatnya.


"Ara ...kau di mana? Aku sudah mencari ke sana dan kemari, tapi belum juga menemukanmu. Apa yang harus aku lakukan, Ara?"


Rain kesal kepada dirinya sendiri. Ia frustrasi, seolah tidak sanggup jika Ara tidak berada di sisinya. Ingatan tentang sang gadis pun kembali terngiang di benaknya.


Waktu itu...


"Ara."


"Hm?"


"Bagaimana kalau malam ini kita bercinta?"


"Hah?!"


"Istana sudah sepi. Ayolah, Sayang," rayu Rain kepada Ara.


"Tidak-tidak." Ara menolak.


"Bagaimana kalau sedikit saja," tambah Rain lagi.

__ADS_1


"Tidak!" Ara masih menolak.


"Huh! Kasihannya dirimu, Rain. Berulang kali ditolak oleh calon istrimu sendiri." Rain berbicara sendiri.


Jelas sang gadis tertawa karena sikap sang putra mahkota. Ara lalu memutar, berjalan ke belakang dan memanjat tubuh tinggi sang pangeran. Ara minta digendong oleh Rain.


"Ara?"


"Gendong aku, cepat!" pinta sang gadis.


Dengan tersenyum, Rain pun menggendong gadisnya. Keduanya terus berjalan bersama memasuki halaman kediaman Rain. Rain begitu memanjakan sang gadis.


"Nanti jika sudah menikah, gendong depan aku, ya? pinta Ara dengan manja.


"Eh? Kenapa harus menunggu menikah, sekarang juga bisa." Rain tampak bersemangat.


"Tidak-tidak. Nanti ada yang melihatnya." Ara lantas menolak.


"Kau ini lucu, ya. Malu tapi mau." Rain tertawa sendiri.


"Apa?!"


Ara tiba-tiba kesal. Ia lantas mencubit dada sang pangeran.


"Aw! Kau tahu itu sakit, Ara? Bagaimana jika aku membalasnya?" Rain mengusap-usap dadanya yang terkena cubitan Ara.


Ara diam, ia lalu tertawa sendiri.


"Jangan memancingku, Ara. Aku bisa seperti singa yang kelaparan," jelas Rain kepada gadisnya.


Rain pun segera membalikkan tubuh gadisnya dengan cepat. Ara yang tidak punya persiapan, tampak diam dan tidak melawan.


"Baiklah, malam ini kita akan melakukannya." Rain tersenyum nakal.


"Tidak, jangan."


"Ayo!"


"Tidak, Rain!"


Rain lantas membawa sang gadis ke dalam kamarnya. Ia pun mengunci pintu dari dalam.


...


"Hah, aku tidak tahu harus bagaimana lagi. Aku merindukanmu, Ara."


Rain tersedu. Ia mencoba menahan tangisnya, namun tak bisa. Ia lalu melempar semua barang yang ada di dekatnya untuk melampiaskan kesedihannya itu. Para pelayan pun mendengar bunyi keras dari dalam kamarnya. Mereka ikut prihatin dengan kejadian ini.


"Aku kasihan jika sudah begini," tutur salah satu pelayan rumah Rain.


"Aku juga. Kalau sudah begini aku merasa ikut sedih, walaupun nyatanya dia sangat menjengkelkan," tutur pelayan satunya.

__ADS_1


"Benar. Terlebih nona Ara sangat berarti. Dia juga banyak berjasa kepada kerajaan. Pasti kabar ini pukulan berat bagi pangeran." Pelayan yang lain ikut menuturkan.


"Semoga saja Tuhan memberikan jalan. Aku tidak tega melihat pangeran Rain belum makan sejak siang tadi."


"Ya, semoga saja. Dia terlalu menyiksa dirinya sendiri tanpa menyadari jika nona Ara tahu, pastinya dia tidak akan menyukai hal yang dilakukan pangeran Rain."


"Ya, kau benar."


Ketiga pelayan kediaman Rain turut berduka atas kabar hilangnya Ara dari istana. Mereka berharap Tuhan memberikan titik temu dari masalah yang melanda. Terlepas dari sifat Rain yang begitu menyebalkan di mata mereka.


Lain Rain, lain juga Cloud. Cloud tampak beranjak dari kasurnya, ia menuju taman kecil yang ada di atas kamarnya itu. Ia pandang ke sekeliling taman, seolah melihat Ara sedang tersenyum ke arahnya.


"Ara!"


Cloud lantas ingin menggapai bayangan sang gadis. Namun ternyata, itu hanya halusinasinya semata. Karena nyatanya Ara tidak ada di sana.


"Ara ...."


Cloud berlutut, ia lantas menatap ke langit yang tampak cerah berbintang. Ia tidak kuasa untuk menahan kesedihan yang melanda hati dan jiwanya.


"Tuhan, kenapa Engkau beri kami ujian ini? Kenapa Engkau pisahkan kami? Padahal esok adalah hari penentuan bagiku. Esok hari yang telah dijanjikan ayah kepadaku ...."


Cloud terisak, ia kembali menitikkan air mata. Kedua tangannya menjadi tumpuan tubuhnya, air matanya pun berjatuhan. Tak pernah terbayangkan jika ia harus kembali kehilangan gadis itu. Gadis yang telah mengisi ruang kosong di dalam hatinya.


Tidak hanya hatinya, tapi juga jiwanya. Harapan besar sudah Cloud percayakan kepada gadis itu. Namun, kini ia telah pergi entah ke mana. Cloud benar-benar terpuruk. Ia tidak mampu melawan takdirnya.


...


Setiap kali aku bernapas, aku mengingatmu.


Dan jantungku kembali berdetak.


Sayang, aku tak mampu menuntun hatiku.


Kau membuatku tenggelam dalam cintamu.


Setiap kali kucoba untuk meraih kebebasan, aku terhempas oleh gelombang cinta.


Sayang, aku tak mampu menuntun hatiku.


Kau membuatku tenggelam dalam cintamu.


Teruskanlah dan tenggelamkan aku.


Selimuti aku dengan mimpi.


Cintailah aku selamanya.


Kau tahu aku tidak mampu menolak.


Karena kau adalah udara yang selalu aku hirup.

__ADS_1


Setiap saat aku bernapas, aku merasakanmu.


Dan hatiku kembali berdetak...


__ADS_2