Dua Pangeran Satu Cinta

Dua Pangeran Satu Cinta
Black Crow


__ADS_3

Dua jam kemudian...


Aku terbangun karena merasa lapar. Dan kulihat sudah berada di atas kasur. Kucoba melihat lebih jelas di mana aku berada. Dan ternyata, aku sedang berada di kamar Cloud.


Astaga ... tidurku pulas sekali ternyata.


Mungkin karena terbawa lelah, aku sampai tidak menyadari jika ada yang mengangkatku ke dalam kamar. Yang pastinya Cloud sendiri, siapa lagi kalau bukan dia. Karena hanya dia yang tahu ruang tersembunyi ini.


"Duh, aku lapar."


Aku beranjak bangun, memakai sepatu lalu keluar dari kamar. Dan kini aku berada di ruang kerjanya. Ternyata sudah tersedia hidangan makan malam di atas meja sofa.


"Hm, aromanya sedap."


Segera aku duduk lalu menyantap hidangan yang tersedia. Mungkin para koki dapur tahu makanan kesukaanku sehingga mereka menyediakan apa yang kusukai. Ya, satu mangkok sup sapi dan satu teko teh beraroma melati, lengkap dengan gelas tentunya.


"Hm ... enaknya."


Aku pun terus menyantap hidangan yang tersaji ini. Dan mungkin karena terlalu bersemangat makan, aku sampai terbatuk-batuk.


"Aduh ...."


Kutuang teh ke dalam gelas lalu segera meminumnya. Rasanya benar-benar nikmat sekali. Bumbu di istana ini benar-benar kental dan terasa, berbeda dengan bumbu di duniaku.


"Aku jadi ingat jahe pemberian dari Zu yang amat besar ... eh, apa kabar ya dia?"


Tiba-tiba terbesit akan dirinya yang sudah coba untuk kulupakan. Namun kini, pangeran berkulit putih itu teringat kembali di pikiranku. Entah apa yang sedang dia lakukan di sana. Tapi sepertinya, aku tidak pantas untuk mengingatnya lagi. Karena dia adalah calon ayah dari bayi yang dikandung Jasmine.


"Oh, iya. Aku belum sempat menceritakan kepada Cloud jika Jasmine ada di Asia." Aku teringat akan putri itu.


Di sela-sela makan, aku mendengar suara burung gagak yang terbang di dekat sini. Semakin lama, suara itu semakin terdengar dengan jelas. Namun, aku tidak menghiraukannya.


"Akhirnya, selesai sudah satu mangkok penuh."


Aku tetap meneruskan santap malamku sampai habis lalu menyandarkan punggung di kursi. Rasanya begitu nikmat sekali. Sudah lama tidak makan sup sapi dan kini koki istana menghidangkannya untukku.


"Ih, burung itu!"


Suara burung gagak yang kudengar, semakin lama semakin keras saja. Aku jadi merasa terganggu. Segera kulihat ke luar jendela untuk melihat jenis gagak apakah yang suaranya begitu nyaring seperti ini.

__ADS_1


"Astaga!"


Betapa terkejutnya aku saat melihat burung gagak besar sedang mengepak-ngepakan sayapnya di atas langit istana. Dan tiba-tiba saja bulu kudukku merinding dibuatnya.


"Kenapa firasatku tak enak, ya?"


Aku bertanya sendiri, mencoba memahami hal ini. Dan entah mengapa, hatiku seperti digerakkan untuk melihat lebih jelas burung gagak itu. Segera saja aku keluar dari ruangan lalu menuju lantai tiga istana. Tak lupa kubawa pedang Rain untuk berjaga-jaga.


Sesampainya di lantai tiga istana...


Kulihat keadaan istana sudah dipenuhi para prajurit dan pasukan khusus. Namun, ada hal aneh kurasa saat melewati mereka yang sedang berjaga. Aku melihat raut wajah mereka mengantuk sekali.


"Di mana Cloud, ya?"


Aku mencoba melihat ke sekeliling koridor teras lantai tiga. Tapi pangeran sulung kerajaan ini tak juga kutemukan. Dan karena suara gagak itu begitu bising, aku jadi ingin naik ke teras atap istana ini.


"Gagak itu benar-benar mengganggu. Bisa-bisa prajurit yang berjaga tidak fokus!"


Segera kulangkahkan kaki menuju teras atap istana. Dan sesampainya, kulihat tim pemanah sebagian sudah ada yang mengantuk.


"Jangan-jangan!"


"Ini tidak boleh dibiarkan karena amat membahayakan."


Segera kudekati tim pemanah yang berjaga di teras atap istana ini. Aku pun bertanya kepada mereka.


"Permisi, apakah kalian mendengar suara burung gagak?" tanyaku memastikan.


Tim pemanah pun menyadari kedatanganku, mereka segera menjawabnya. "Nona Ara? Kami tidak mendengar apapun," jawab salah satu pemanah.


"Hah? Apa?!" Seketika jantungku berpacu cepat.


"Benar, Nona. Sedari tadi kami tidak mendengar suara burung gagak. Apakah Nona mendengarnya?" Salah satu pemanah bertanya balik padaku.


"Kalian serius? Apa kalian tidak melihat burung gagak sedang terbang di atas istana ini?" tanyaku lagi.


Sontak tim pemanah melihat ke sekeliling hingga badan mereka berputar untuk mencari keberadaan burung gagak hitam itu. Namun...


"Maaf, Nona. Kami juga tidak melihatnya."

__ADS_1


Jawaban mereka seketika membuatku merinding seketika. Jelas-jelas burung gagak itu berputar-putar di atas taman istana, tak jauh dari teras atap ini. Tapi mengapa mereka tidak bisa melihatnya? Hanya aku saja yang bisa melihat ataupun mendengar suara burung gagak itu?


Ini tidak beres. Aku harus melakukan sesuatu.


Karena tidak ingin terjadi hal-hal aneh malam ini. Aku segera meminta busur panah beserta anak panah yang tak terpakai kepada mereka. Mereka pun memberikan busur panah beserta lima anak panahnya kepadaku.


Sepertinya ini cukup.


Aku segera berdiri di dekat pagar teras atap ini. Kuambil anak panahku lalu kuarahkan ke burung gagak itu. Kufokuskan pandangan mata lalu memanahnya. Dan...


"Kena!"


Satu anak panah mengenai burung gagak itu. Burung itupun berbalik menghadapku. Dia menyadari jika akulah yang memanahnya.


Anehnya, burung itu tidak langsung jatuh ke tanah. Dia masih bisa terbang di udara. Aku semakin curiga jika burung itu bukanlah burung gagak sungguhan.


Kupanah lagi saja.


Kuambil satu anak panah lagi lalu kuarahkan ke burung gagak itu. Dan...


"Kena!"


Dua anak panah telah mengenai tubuh burung gagak itu dan burung itu pun hampir jatuh. Namun anehnya, dia masih bisa terbang dan menatap tajam ke arahku.


Sepertinya burung ini adalah jelmaan.


Karena tak ingin membuang waktu, segera kuarahkan anak panah ke tigaku padanya. Namun, sesuatu terjadi. Burung itu menukik cepat ke arahku. Anak panahku beserta busur panahnya pun dihempaskan olehnya. Seketika anak panah beserta busurku jatuh.


"Astaga?!"


Aku terkejut saat melihat ukuran burung gagak itu. Dia berdiri di hadapanku. Dan lama-kelamaan, tubuhnya berubah bentuk menjadi wujud manusia. Ya, seorang wanita dengan tubuh gagak hitam.


Astaga ... ini menyeramkan sekali.


Wanita itu mengangkat wajahnya lalu melihat ke arahku. Sontak aku pun merinding saat melihat tatapannya. Dan yang lebih menyeramkan, dia mempunyai gigi taring yang tajam.


Ya Tuhan, apakah ini makhluk yang terkutuk?


Aku tidak tahu apa yang ada di hadapanku sebenarnya. Namun, satu hal yang kusadari, aku sudah berpindah dimensi. Yang mana tim pemanah tidak lagi bisa melihatku. Terbukti dari mereka yang memanggil-manggil namaku dan mencari keberadaanku. Sedang aku bisa melihat mereka dengan jelas.

__ADS_1


__ADS_2