
Sepertinya kuda-kuda mereka mengetahui apa yang sedang dirasakan oleh pemiliknya.
"Di mana Ara, Kak?"
Rain tampak tergesa-gesa. Dia menanyakan keberadaanku.
Rain, aku di sini!
Aku mencoba berkata kepadanya, namun suaraku tak dapat didengar. Persis seperti keadaan saat koma.
"Dia sudah kembali."
Cloud lalu menjawab pertanyaan Rain. Suaranya terdengar lemah. Tatapannya masih menuju ke langit.
"Kembali?"
Rain tampak bingung dengan jawaban Cloud. Dia masih berdiri di samping kakaknya.
Cloud lalu menoleh ke arah Rain, " Ara sudah kembali ke dunianya."
"Ap-apa?!"
"Kita tidak dapat bertemu lagi dengannya." Cloud kembali menatap langit.
"Tidak. Kita pasti dapat menemuinya lagi."
Rain penuh keyakinan jika dapat bertemu kembali denganku. Rasa sakit yang sedang dideritanya, seolah ditepiskan. Kulihat bahunya masih sulit untuk digerakkan dengan cepat.
Rain ....
Dia akhirnya ikut menjatuhkan diri di atas rerumputan bukit.
"Maafkan aku, Ara. Aku yang salah. Aku yang terlalu mengikuti egoku," ucap Rain pelan.
Aku mendengar Rain berucap seperti berbisik. Mungkin ada sesuatu kesalahan yang telah dia perbuat. Kulihat dia sangat menyesal.
Bersama dengan Cloud, Rain membiarkan tubuhnya dijatuhi air hujan. Keduanya tampak lemah dan tak berdaya. Aku pun mencoba untuk mendekati, namun tak bisa. Seperti ada sekat tembus pandang di antara kami.
Rain ... Cloud ... Apakah ini mimpi?
Aku merasa hal ini nyata terjadi di depanku. Namun, lambat laun penglihatanku akan mereka memudar lalu menghilang. Setelahnya kulihat samar-samar gaun kerajaan yang berwarna biru tergantung di dinding kamarku. Sungguh masih banyak hal yang belum sempat terjawab. Keterkaitan Tetuah Agung, pohon surga dan diriku.
Ada apa sebenarnya?
Aku mencoba untuk bangun, kepalaku tiba-tiba terasa pusing. Aku berjalan menuju dapur untuk mengambil segelas air minum. Kuingat hal yang baru saja terjadi.
Sepertinya ada sesuatu yang melatarbelakangi semua ini.
Aku mencoba untuk kembali tidur, menenangkan diri sejenak dari hal yang baru saja aku alami.
Mungkinkah aku masih dapat terhubung dengan mereka? batinku bertanya-tanya sendiri.
Beberapa hari kemudian...
Tenagaku sudah pulih kembali. Kini aku sedang sibuk mempersiapkan kehidupanku selanjutnya. Dengan semangat 45, aku berangkat ke kampus untuk mengurus administrasi kuliahku. Aku akan mengambil semester pendek untuk mengejar ketertinggalan program studi.
Aku berangkat ke kampus dengan mengenakan pakaian santai berwarna merah marun tanpa lengan dengan sedikit renda di bahu. Kubalut dengan kardigan hitam dan celana jeans biru. Tak lupa sepatu kets putih menemani langkah kakiku.
Sesampainya di kampus, kulihat teman-teman sefakultas tampak heran dengan penampilanku. Rambut pirangku ternyata menyita perhatian mereka. Aku memang belum sempat mengembalikan warna alami rambutku, karena sesampainya di desa banyak hal yang harus aku selesaikan.
Kini aku sedang berada di ruang administrasi, menyerahkan formulir pengajuan lalu menunggu namaku dipanggil. Cukup lama aku berada di ruangan hingga bayang-bayang istana terbesit di benakku. Aku merindukannya. Merindukan semua yang ada di sana. Terutama kedua pangeran tampan itu.
Cloud, Rain ... sedang apa kalian?
Aku tenggelam dalam pikiran sendiri sampai tidak menyadari jika namaku sudah dipanggil. Seorang mahasiswa fakultas lain menegurku. Sekejap bayangan itupun hilang dan aku segera mengurus administrasi kuliahku.
__ADS_1
Setelah tanda tangan di sana-sini dan membayar biaya administrasi, akhirnya kudapatkan kepastian akan kelanjutan kuliahku. Bulan depan aku sudah dapat kembali duduk di bangku kuliah dan mengambil jalur khusus untuk mengejar ketertinggalan.
"Akhirnya ...."
Kulangkahkan kaki keluar dari ruangan, berjalan menuju muka kampus, berniat segera kembali ke rumah. Namun, kulihat ada sosok pemuda yang sedang menyampirkan tas kuliahnya, tak jauh dari tempatku berada.
"Baim!" teriakku memanggil.
Pemuda itu berbalik mencari asal suara dan dia menemukanku di seberang jalannya. Dia tampak pangling melihatku.
"A-ara?"
Dia seperti mengingat-ingat. Mungkin dia ingin memastikan apakah ini aku atau bukan. Akupun segera mendekatinya.
"Hai, Baim!"
"A-ara? Ara, kah?"
"Iya, ini aku, Ara," kataku.
"Benar Ara?" tanyanya lagi.
"Astaga. Ini memang aku. Kau kenapa, sih?" Aku mulai kesal.
"Em. Aku ... tidak menyangka jika ini dirimu yang sekarang," jawabnya.
"Kau mengejekku?"
"Tidak-tidak. Hanya saja ... sedikit meragukan jika Ara yang kukenal sudah berubah menjadi seorang putri yang cantik."
Aku gemas dengan temanku yang satu ini. Kucubit saja lengannya untuk melampiaskan rasa gregetku.
"Aww! Pulang dari luar negeri membuatmu kasar, Ara," katanya yang membuatku tertawa.
"Em ... mungkin ada sekitar delapan bulan."
"Hah?! Selama itu?" tanyaku tak percaya.
"Iya."
Aku tak percaya jika perbedaan waktu begitu jauh antara duniaku dan dunia mereka. Aku tertegun sejenak memikirkan hal ini.
"Hei, Ara!"
"Apa?"
"Bagaimana rasanya bekerja di luar negeri?" tanya temanku, Baim.
"Biasa saja," jawabku.
"Aku juga mau ikut bekerja di sana."
"Eh! Tidak boleh!"
"Kenapa?"
"Ini rumit, Baim."
"Benar, kah?"
"Hah, sudahlah. Kita lanjutkan di kantin saja. Aku traktir makan."
Aku mengajak Baim makan siang bersama di kantin kampus. Baim pun tak menolaknya. Teman seperjuanganku ini masih tampak merasa asing dengan kehadiranku. Dia tidak henti-hentinya memandangku dengan tatapan yang aneh.
Sesampainya di kantin...
__ADS_1
Sambil menunggu makanan datang, kamipun mengobrol.
"Baim, kau percaya adanya dunia pararel?" tanyaku mulai membuka percakapan.
Kami duduk di depan meja kantin dekat dengan parkiran motor.
"Tumben menanyakan hal ini padaku."
Baim, temanku ini tampak heran dengan pertanyaanku. Maklum saja, baru kali ini aku menanyakan hal ini kepadanya.
"Kau sering membaca buku. Buku apapun kau baca. Pastinya tentang dunia pararel dibaca juga, kan?"
"Iya, sih. Tapi heran saja. Ara yang sekarang tertarik dengan hal-hal seperti itu."
"Lalu, bagaimana menurutmu?" tanyaku lagi.
"Itu ...."
Baim seperti berpikir sejenak sebelum menjawab pertanyaanku. Kulihat dia memijat dahinya seolah berpikir keras untuk menjawab.
"Baim! Lama sekali!"
"Sabar, Ara. Aku sedang menyusun kata-kata," sahutnya.
"Astaga, kita bukan sedang berada di ruang bahasa. Katakan saja sesimpel mungkin agar aku dapat memahaminya," gerutuku.
"Baiklah-baiklah."
Baim lalu mengambil kertas dan pena dari dalam tasnya. Dia mulai menggambarkan sesuatu. Gambarnya kulihat tidak terlalu buruk, cukup untuk membuatku mengerti.
"Begini. Fakta mengenai adanya dunia paralel memang belum ditemukan. Tapi saat kau berada di dunia ini, kau dapat merasakan getaran akan kehidupan lain, bukan?"
Aku pun mengangguk.
"Bumi yang kita ketahui ini hanya beberapa persen saja, Ara. Masih banyak bagian bumi yang belum terjamah. Bisa jadi di balik batas bumi kita ada kehidupan lain," katanya.
"Seperti ada sekat antar bumi satu dengan bumi yang lain?"
"Ya, mungkin seperti itu. Jadi ...,"
Baim menggambarkan peta bumi lalu dikelilingi lingkaran besar dan di luar lingkaran itu ada peta-peta lain.
Ini seperti pemahaman bumi datar.
"Kita sedang berada di dalam lingkaran ini. Kemampuan yang kita punya belum dapat menembus sampai ke luar lingkaran. Bisa jadi di luar lingkaran itu ada kehidupan manusia lain."
"Tapi bagaimana dengan perbedaan waktunya, Baim?" tanyaku lagi.
"Setahuku, semakin menjauh dari matahari, waktu akan semakin melambat," jawabnya.
Cukup masuk di akal apa yang Baim jelaskan padaku. Buktinya aku merasa baru sekitar satu bulan di sana, tapi di sini sudah delapan bulan saja. Malahan sepertinya malah belum genap sebulan aku berada di dunia kedua pangeran itu.
Tak lama, makanan akhirnya datang. Baim segera menyantapnya dengan tak lupa menawarkannya kepadaku. Aku pun mempersilakannya. Namun, aku masih tertegun memikirkan hal ini.
Lalu bagaimana dengan lubang hitam itu? Aku jadi bingung sendiri.
"Jangan mencoba mencari tahu tentang teori ini, Ara. Semakin mencari tahu, semakin dibuat penasaran olehnya." Baim memperingatkanku.
Benar katanya, aku memang jadi tambah penasaran dengan hal ini. Malahan jadi sulit melupakan semua yang telah terjadi. Bayang-bayang dunia sana seolah menahanku untuk lari.
Bagaimana caranya agar aku dapat kembali ke sana? Apakah masih mungkin terjadi?
Aku bertanya-tanya sendiri. Dalam kerinduan kusimpan harapan untuk dapat bertemu kembali dengan kedua pangeran itu.
Cloud, Rain. Aku merindukan kalian...
__ADS_1