
Satu jam kemudian...
Aku baru saja mandi setelah kaget bukan main dengan kehadiran Rain yang tiba-tiba muncul di hadapanku. Tak ada angin, tak ada hujan, dia mengagetkanku yang sedang menikmati langit cerah pagi ini. Tak ayal pertahanan tubuhku berfungsi otomatis untuk melindungi diri. Dan akhirnya, dia harus terkena pukulan tongkatku.
Hah ... dia itu.
Kukenakan gaun lengan pendek sebatas lutut bermotif bunga mawar. Gaun yang kupakai ini lebih mirip seperti baju terusan yang mewah. Mungkin di duniaku harganya sekitar lima ratus ribu ke atas. Dan aku sangat menyukainya karena di bagian pinggangnya seperti karet.
"Rain, kau sudah mandi?" Aku berjalan mendekatinya.
Kulihat Rain berdiri di depan pintu kamarku. Lagi-lagi dia mengagetkanku. Entah mengapa aku merasa sedikit aneh dengannya.
"Ara." Dia kemudian menyingkapkan rambutku ke belakang telinga. Ia memeriksa leherku.
Astaga ... aku lupa!
"Di mana kalung pemberianku?" tanyanya dengan wajah masam.
"Em, maaf. Aku melepaskannya semalam dan lupa memakainya kembali," kataku jujur.
"Apa sesuatu terjadi padamu?" tanyanya lagi.
Pertanyaannya seperti sedang menyelidikiku. Aku pun jadi kelabakan sendiri. Ingin rasanya mengalihkan pembicaraan, tapi pastinya dia akan segera menyadarinya.
"Semalam leherku terasa gatal, jadi kulepas sebentar. Dan lupa untuk memakainya kembali," jawabku lagi.
"Boleh kulihat kalungnya?" tanyanya yang seolah ingin masuk ke dalam kamarku.
"He-em." Aku pun mengangguk.
Segera kuambil kalung pemberian darinya yang kuletakkan di dalam laci meja kamar. Rain pun ikut masuk ke dalam, ia segera melihat kalungnya.
"Sepertinya harus disepuh ulang, Ara," katanya saat memperhatikan kalung.
"Apakah harus dilapisi emas lagi?" tanyaku yang sama-sama memperhatikan.
"Tidak, tidak perlu. Apakah di sini ada minyak zaitun?" tanyanya kemudian.
"Hm, ada. Tunggu sebentar."
Aku segera keluar kamar lalu mengambilkan minyak zaitun di dapur. Kulihat Rain memperhatikan setiap sudut kamarku. Entah apa yang dia cari. Tapi sepertinya dia sedang menyelidiki sesuatu.
Aduh, gawat! Bagaimana jika dia tahu Cloud menginap di sini?!!
Aku pusing sendiri. Walau sudah mendengar keputusan raja yang akan menikahkan kami sekaligus, tetap saja hati ini tidak tenang. Aku khawatir keduanya bertengkar karenaku.
"Ini, Rain."
Kubawakan sebotol kecil minyak zaitun beserta sehelai kain lembut untuknya. Rain lalu duduk di tepi kasur, aku pun mengikuti. Kulihat dia segera membersihkan kalungnya.
"Sudah, sekarang pakai lagi, ya." Dia kemudian memintaku agar membelakanginya.
__ADS_1
Aku menurut. Rain kemudian memakaikan kembali kalungnya ke leherku. Setelah selesai dia mulai melakukan sesuatu yang tidak kusangka-sangka sebelumnya.
"Rain, lepas!" Aku mencoba melepaskan diri.
"Tidak mau," katanya sambil memelukku dari belakang.
Kedua tangannya melingkar di perutku, bahu kiriku pun menjadi penopang wajahnya. Sesekali ia menghirup aroma tubuhku dengan membenamkan wajah di bahu ini. Rasanya geli sekali.
"Hampir saja aku berpikir jika kau ingin pergi dariku, Ara." Dia mulai bicara.
"Heh?" Aku jadi heran sendiri.
"Di saat aku menyadari kau melepas kalung pemberian dariku, hati kecilku menangis melihatnya. Aku takut, sangat takut kehilanganmu. Cintamu benar-benar membuatku takut kehilangan."
"Rain." Aku berbalik menghadapnya. "Jangan pernah berpikiran seperti itu. Aku masih di sini, bersamamu," kataku meyakinkan.
Rain tersenyum, dia kemudian membelai wajahku. "Aku mencintaimu," katanya lalu mencium bibir ini.
Rain ....
Dia mencium bibirku dengan lembut. Sapuan-sapuan dari daging lembutnya mampu membuat hasratku naik. Dia juga memegangi telinga kananku, sesekali dia menggelitiknya agar aku membalas ciumannya. Tak ayal, aku pun tidak bisa mengendalikan diri setelah rasa rindu yang tertahan di hati. Kubalas ciumannya dengan memberi penekanan-penekanan yang menuntut. Dia pun mengajakku untuk terus beradu.
"Rain ...."
Kuhentikan sejenak saat merasa keadaan semakin memanas. Aku khawatir jika Cloud tiba-tiba datang dan melihat hal ini.
"Sayang?" Dia menatapku penuh rasa heran.
"Rain, aku takut Cloud datang dan melihatnya. Aku tidak ingin terjadi pertengkaran di antara kalian." Aku jujur.
"Rain ...."
Dia merebahkanku di atas kasur, menatapku dalam dengan kedua tangannya yang menggenggam erat tanganku. Kami saling berpandangan dan menikmati paras indah masing-masing. Kurasakan jika dia begitu merindukanku.
"Ara, apa kau sudah mendengar keputusan ayah?" tanyanya yang kini berada di atas tubuhku.
"He-em." Aku mengangguk seraya menatapnya.
"Menurutmu, siapa yang lebih pantas untuk menjadi suamimu?" tanyanya yang membuatku kaget.
"Rain ...?!"
"Ara, aku amat kesal dengan keputusan ayah. Tapi aku tidak bisa menolaknya. Apa yang harus aku lakukan?" Dia bertanya padaku.
Aku jadi bingung sendiri harus menjawab apa. Di sisi lain aku setuju dengan keputusan raja. Tapi melihat Rain yang keberatan, membuatku merasa berat juga untuk memilih.
"Aku ingin kau hanya menjadi milikku." Dia merebahkan kepalanya di dadaku.
"Rain ...."
Perlahan Rain melepaskan genggaman tangannya. Ia lalu memelukku sambil mendengarkan alunan detak jantungku ini. Rasa sesal pun mulai muncul. Tidak seharusnya aku berada di antara dua hati putra mahkota Angkasa.
__ADS_1
"Rain, maafkan aku. Seharusnya aku tidak hadir di duniamu." Kuusap kepalanya dengan lembut.
"Tidak, Ara. Kau tidak salah. Kami saja yang terlalu egois mempertahankan keinginan masing-masing. Harusnya aku lebih tahu diri untuk mendapatkanmu."
"Rain?!" Aku kaget mendengar ucapannya.
"Ara, jika tidak ada aku ... kau akan bersama kak Cloud, bukan?"
Dia mengangkat wajahnya, melihatku yang masih mengusap-usap kepalanya. Aku pun jadi bingung harus menjawab apa. Kukecup saja keningnya.
"Ara ...."
"Rain, aku mencintaimu. Sebagaimana kau mencintaiku. Aku juga takut kehilanganmu."
"Lalu?"
"Aku bingung menghadapi situasi seperti ini. Mungkin lebih baik aku kembali saja ke duniaku, ya? Dan kalian meneruskan hidup tanpaku," kataku yang mencoba mengambil jalan tengah.
"Apa?!" Rain segera bangkit. Ia terkejut mendengar keputusanku.
"Rain, tugasku sudah selesai di sini."
"Tidak, Ara. Aku membutuhkanmu. Negeri ini juga membutuhkanmu. Jika kau kembali, aku ataupun kak Cloud tidak akan bisa lagi menjemputmu. Kami hanya bisa sekali ke sana." Dia menjelaskan padaku.
"Aku bingung, Rain. Aku tidak ingin terjadi pertengkaran di antara kalian," kataku seraya duduk di sampingnya.
"Ya, aku mengerti kondisimu. Harusnya kau meyakinkanku jika bisa berlaku adil nanti. Bukan malah ingin kembali ke duniamu." Rain malah ngambek kepadaku.
"Apakah ini berarti?"
"Aku tidak tahu bisa tau tidak. Tapi aku akan mencobanya." Dia membuang pandangannya dariku.
"Rain?" Aku menyentuh pundaknya.
"Ara, kita tidak tahu apa yang akan terjadi ke depannya, bukan?" tanyanya yang membuatku bingung.
"Maksudmu?"
"Ayah membicarakan banyak hal kepadaku tadi pagi. Aku diminta olehnya untuk mempertimbangkan hal ini."
"Hah?" Aku semakin tidak mengerti.
"Tapi aku belum mau memikirkannya. Bisakah kita bersikap seperti biasanya?" tanyanya yang semakin membuatku bingung.
"Rain?"
"Sebentar, kututup dulu pintunya." Dia beranjak menutup pintu kamar. "Sudah." Dia kembali mendekatiku.
"Rain, kenapa ditutup pintunya? Bukankah pintu depan belum ditutup?" tanyaku lagi.
"Sudah, tenang saja. Sekarang hanya kita berdua di sini. Aku ingin melepas rindu. Lupakan hal yang kukatakan tadi, anggap saja aku tidak pernah mengatakannya."
__ADS_1
"Rain, kau ini!"
Aku tidak tahu apa sebenarnya yang dia bicarakan. Tapi sepertinya aku belum harus mengetahuinya sekarang. Ya sudahlah, aku juga tidak boleh memaksanya untuk bicara. Lebih baik menunggu waktu yang tepat daripada memaksa. Bukankah hal yang dipaksa itu tidak baik?