Dua Pangeran Satu Cinta

Dua Pangeran Satu Cinta
Touch


__ADS_3

Keesokan paginya...


Suara ayam jantan membangunkanku dari alam mimpi. Angin pagi pun ikut menyapa melalui ventilasi kamarku. Rasanya aku masih ingin tidur lagi. Beberapa hari ini aku disibukkan mempersiapkan pertunjukan busana sehingga belum sempat libur. Ya, walau kemarin tidak ada pekerjaan untukku, tetap saja aku butuh rekreasi ke luar istana.


Eh?!


Aku meraba sisi kiri kasurku. Aku merasakan ada sesuatu yang menahan tubuhku untuk berbalik. Kuraba pelan dan ternyata begitu lembut.


Apa ya?


Sontak aku terkejut kala melihat putra sulung kerajaan ini tengah tertidur menghadap langit-langit kamar. Wajahnya tampak lelah, dengan tangan kiri yang menutupi dahinya.


Kasihan Cloud, dia pasti lelah sekali.


Aku berbalik pelan menghadapnya. Kutatap wajah putra sulung kerajaan ini. Wajahnya bersih dengan kulit putih kemerah-merahan. Rambutnya pirang dan tersisir ke belakang. Hidungnya mancung, bibirnya juga tipis berwarna peach. Melihatnya saja hatiku sudah terasa senang.


Cloud, apakah kita bisa selalu seperti ini?


Aku mencoba menyentuh wajahnya. Mengusapnya pelan, merasakan betapa lembut permukaan kulitnya itu. Namun, tiba-tiba saja tanganku dipegang olehnya.


"C-c-cloud?!"


Aku terkejut karena dia terjaga. Padahal aku masih ingin mengusap wajahnya. Kulihat kedua matanya terbuka pelan lalu melihat ke arahku yang ada di sisi kanannya.


"Ara."


"C-cloud?"


Dia tersenyum, manis sekali. Senyuman yang meluluhkan hati hingga anganku melayang jauh bersamanya. Dia adalah pria pertama dalam hidupku yang berhasil memikat hatiku ini.


"Kau sudah bangun?" tanyanya dengan tetap memegang tangan kananku dengan tangan kirinya.


"Hm, iya. Aku baru saja bangun. Kau sendiri mengapa bisa tidur di sini?" tanyaku bingung.


Cloud lantas memiringkan badannya ke arahku. Dan kini kami saling berpandangan satu sama lain di atas kasurku yang hangat.


"Kau lupa mengunci pintu, Ara."


"Ap-apa?!"


"Semalam pintu kamarmu tidak dikunci, bukan?" tanyanya memastikan.


Eh?! Apa iya aku lupa mengunci pintu?


"Lain kali jangan lupa, ya." Dia lalu mencubit hidungku.


Jarak di antara kami begitu dekat. Jujur saja hal ini membuat jantungku berdetak lebih cepat. Pagi hari aku sudah kedatangan tamu istimewa seperti ini. Rasanya...


"Ara, dua hari ke depan aku akan sibuk rapat. Tidak apa, kan?" tanyanya memecah lamunanku.

__ADS_1


"Em, apakah semua penghuni istana sudah mulai sibuk?" Aku balik bertanya.


"Hah. Benar. Ayah ingin pertunjukan ini terlaksana sesempurna mungkin. Kami harus bekerja keras untuknya. Mempersiapkan segala sesuatu dan meminimalisir kesalahan." Cloud menceritakan seraya memutar badannya, dia melihat ke arah langit-langit kamar.


Mendengarnya, aku merasa tidak enak sendiri. Rasa iba itu tiba-tiba muncul di dalam benakku. Mungkin pertunjukan ini adalah puncak penilaian raja terhadap dirinya.


"Cloud, bagaimana dengan musik pengiringnya? Sampai saat ini aku hanya melatih penari dengan menggunakan ponsel." Aku menceritakan.


"Aku sudah mengirim surat kepada paman Mozart untuk datang, Ara. Jadi kau tidak perlu khawatir."


"Dia kapan datang?" tanyaku lagi.


"Mungkin hari ini atau besok pagi. Kau bisa menunggunya?"


Aku mengangguk.


"Jika aku masih sibuk, kau bisa langsung membicarakan keperluan pertunjukan nanti dengannya. Dia akan membawa band sendiri," lanjut Cloud.


"Band?"


"Ya, nanti akan banyak alat musik yang dia bawa. Kau bisa menggunakannya."


"Baiklah, aku mengerti."


"Gadis pintar."


Cloud mengusap-usap kepalaku. Aku merasa sangat disayang olehnya. Impianku yang dulu hanya sebatas angan, kini mulai terwujudkan. Cloud di sisiku, menemani dan mengisi hariku. Terlepas dari rutinitas hariannya yang padat, dia selalu berusaha meluangkan waktunya untukku.


"Cloud!" Aku menahannya.


"Ara?"


Entah mengapa aku menginginkannya. Aku menariknya hingga wajahnya berada di atas wajahku. Aku masih ingin memandangi wajahnya itu.


Kuletakkan tangan kananku di dadanya. Sesaat kemudian aku dapat merasakan detak jantungnya itu. Napasnya pun mulai terasa berat.


"Kau tidak ingin ada jarak lagi, bukan?" tanyaku seraya menatapnya.


Cloud tersenyum. Dia mencium tangan kananku. Segera saja aku memejamkan mata di hadapannya. Aku ingin Cloud seperti Rain, yang menyerangku dulu. Ya, bagaimana juga aku seorang perempuan. Malu rasanya jika harus memintanya terlebih dahulu.


Sesaat aku merasa napasnya kian mendekat. Aku mengintip dari balik kedua kelopak mataku, Cloud mendekatkan wajahnya. Daging lembut itu kemudian menyentuh bibirku.


Cloud ....


Kurasakan hangat napasnya yang mulai menghangatkan jiwa ini. Dia menciumku perlahan dengan tekanan-tekanan yang lembut. Aku pun membalasnya, seakan tidak ingin kalah darinya. Cloud lantas menyingkapkan rambutku ke belakang telinga. Dia memegang tengkuk leherku.


Semakin lama, perasaanku terhadapnya semakin dalam. Sedalam ciumannya yang berusaha memenuhi ruang di hatiku. Bibirnya menekan bibirku, meminta izin agar mulutku terbuka.


Akupun mempersilakannya. Lidahnya kemudian masuk ke dalam mulutku ini. Seolah mencari-cari sesuatu.

__ADS_1


Cloud, rasanya ....


Lidahnya mulai menari di langit-langit mulutku. Memunculkan sensasi geli yang luar biasa. Aku belum pernah merasakan hal ini sebelumnya. Semakin lama, hasratku ini semakin naik. Akupun mulai melepas kancing jubahnya satu per satu.


Satu, dua, tiga, hingga seluruh kancing jubahnya terlepas dengan sambil terus berciuman. Dan kini hanya dalaman jubahnya saja yang dia pakai.


"Ara ...."


Dia menatapku, melepaskan cumbuannya setelah jubahnya itu kujatuhkan ke atas lantai. Wajahnya tampak ragu, namun dia kemudian tersenyum. Tak lama, Cloud melepaskan dalaman jubahnya.


Cloud?!


Kulihat dia kini bertelanjang dada di depanku. Rambut halus terlihat memenuhi dadanya yang bidang itu. Perutnya kotak-kotak, otot-otot tubuhnya juga terlihat begitu memukau pandangan.


Aku meraba dadanya lalu ke lengannya yang kekar. Aku kembali menariknya ke dalam cumbuanku, kami berciuman lagi. Kukalungkan kedua tangan ini di lehernya. Cloud lantas menarikku, berganti posisi hingga aku berada di atas tubuhnya.


Ini benar-benar gila.


Aku sadar apa yang sedang aku lakukan. Tapi aku tidak ingin semua ini cepat berakhir. Aku menginginkannya.


"Ara, lakukanlah ...."


Suaranya terdengar berat. Napasnya juga seperti tertahan. Cloud memintaku untuk memulainya.


Apakah ini nyata?


Masih tidak habis pikir dengan hal yang kami lakukan. Ini seperti mimpi. Cloud menyerahkan dirinya padaku. Dia tampak pasrah seraya menatapku dalam. Dan kini aku sudah duduk di atas perutnya.


Aku mulai mencium bibirnya dan dia membalasnya segera. Kuangkat badanku dari atas perutnya lalu mulai merangkak. Mencoba memberikannya kenyamanan.


"Uuuhh..."


Cloud melenguh, ia mengembuskan napas beratnya saat jari-jemariku mulai menyusuri dada hingga perutnya itu. Cloud memejamkan kedua matanya.


"Ara ... jangan berhenti."


Hasratnya sudah naik. Terasa dari suaranya yang terdengar berat. Dia menginginkanku untuk segera memulai permainan ini.


Cloud, ini seperti mimpi.


Aku menuruti kemauannya. Kucumbu lehernya itu, menyusuri lehernya dengan bibirku ini. Sesekali kugigit pelan telinga kirinya. Cloud pun meremas gaun tidurku.


Dia tampak sangat menikmatinya.


Wajahnya begitu menggairahkan. Hasratku menggelora saat melihat tubuhnya yang bertelanjang dada. Otot-otot lengannya, perutnya, dadanya yang bidang, membuatku ingin melampiaskan hasrat ini. Cloud sama sekali tidak keberatan dengan hal yang aku lakukan.


"Teruskan, Ara ...."


Dia meronta, memintaku untuk meneruskannya. Namun, aku masih ingin memandangi wajahnya itu. Aku tidak akan melepaskannya.

__ADS_1


"Ara, lakukanlah."


Dia kembali meminta padaku dengan suara tertahan. Aku rasa dopamin itu sudah mulai bekerja. Cloud tampak sangat rileks dan menikmati setiap sentuhan dariku.


__ADS_2