
Angin sore begitu kencang. Burung-burung laut berterbangan di angkasa. Langit pun mulai menampakkan cahaya merahnya. Tak terasa waktu sudah mulai menjelang petang, mungkin hampir pukul lima sore waktu sekitarnya.
Perjalananku masih amatlah panjang. Dan kini aku bersama Rain sedang menikmati pemandangan laut dari atas anjungan kapal. Kedua tangan kami pun menopang di atas pagar anjungan. Rencana kami ingin melihat matahari yang terbenam dari sini.
"Rain."
"Hm?"
Rain masih setia bersamaku. Ke mana-mana aku selalu digandengnya. Dia sama sekali tidak risih walaupun di depan para pasukannya. Malahan dia menunjukkan sisi lembutnya. Rain menyuapiku makan tanpa khawatir pasukannya melihat.
"Kau membawa pasukan yang tidak sedikit, Rain. Pastinya istana banyak mengeluarkan biaya untuk menjemputku."
Aku menoleh ke arah Rain yang berdiri di sisi kiriku. Dia lalu menunduk seraya tersenyum, tidak menjawab apapun. Aku jadi penasaran sendiri dibuatnya.
"Rain ...." Aku menegurnya lagi.
Dia lalu menoleh ke arahku. "Ara, aku tidak menggunakan uang istana untuk menjemputmu," katanya yang membuatku semakin penasaran.
"Lalu?"
"Kau benar-benar ingin tahu?" Dia malah balik bertanya padaku.
"He-em." Aku mengangguk, penasaran.
"Aku menggunakan uang pribadi untuk menjemputmu."
"Ap-apa?!" Aku terkejut seketika.
"Aku pergi tanpa pamit kepada ayah, Ara."
"Rain ...."
"Ini semua kulakukan untukmu." Dia tersenyum, manis sekali.
Seketika aku terharu mendengar penuturannya. "Rain kau pasti mengeluarkan uang yang tak sedikit untuk menjemputku. Belum lagi menyewa kapal ini, pasti amat mahal," kataku lagi.
Rain mengusap kepalaku. "Sudah, tak apa. Tak ada yang lebih penting darimu, Ara." Rain lalu memegang tangan kiriku.
"Rain ...."
"Kau lebih penting dari segalanya. Bahkan lebih penting dari diriku sendiri."
"Rain ...."
Rasanya aku ingin menangis. Aku pun segera menghambur ke pelukannya, tidak sanggup untuk mendengar kata-katanya lagi. Pengorbanan Rain membuatku terharu. Hatiku terenyuh dibuatnya.
Rain, kau ini selalu saja membuat hatiku tak berdaya.
Kupeluk erat tubuhnya, kulingkarkan kedua tanganku di pinggangnya. Dia pun mengusap kepalaku. Sedang aku, sebisa mungkin menahan air mata yang akan segera tumpah.
"Ara ... kau segalanya bagiku. Ya, walaupun terkadang aku begitu menyebalkan di matamu." Dia mengakui sikapnya.
"Tidak. Tidak apa-apa. Aku sudah menerimanya," sahutku seraya menggelengkan kepala.
__ADS_1
Hatiku terenyuh, benar-benar terenyuh akan ketulusannya. Air mata ini pun tidak mampu terbendung lagi.
"Hah, kau ini. Jangan menangis, bajuku basah, tahu!"
Dia menyadari jika aku menangis di pelukannya. Ya, aku menangis. Tidak mampu untuk menahan genangan air mata ini lagi. Jadi kubiarkan saja jatuh membasahi jubahnya.
"Ara."
"Hm?"
"Apakah kau mau menikah denganku?" tanyanya yang sontak membuatku melepaskan pelukan ini.
"Kenapa kau bertanya begitu?" tanyaku sambil menahan tangis.
"Ya ... aku hanya khawatir saja."
"Khawatir?"
"Aku khawatir kau tidak mau menikah denganku."
"Ih!" Kucubit saja pinggangnya itu.
"Aw! Sakit, Ara!" Rain mengusap-usap pinggangnya.
"Habisnya kau berkata seperti itu. Aku kesal jadinya!" Aku ngambek di hadapannya.
Rain tersenyum. "Sayang ...."
"Apa?!"
"Tidak mau!" Aku berbalik badan, membelakanginya.
"Benar tidak mau, nih?" Dia menggodaku.
"Bodok!" Aku tidak menggubrisnya.
Sejujurnya aku ingin sekali dia memohon padaku agar tidak lagi marah kepadanya. Tapi ... tidak ada pergerakan apapun darinya, dia malah tidak bersuara sama sekali, membuatku penasaran apa yang sedang dia lakukan di belakangku.
"Rain!"
Kubalikkan tubuhku menghadapnya, dan ternyata dia sudah tidak ada di belakangku. Seketika aku bertambah kesal karena ulahnya ini.
"Rain, kau di mana?!"
Aku mencoba mencarinya, tapi dia tidak ada di atas anjungan kapal ini. Aku pun melihat ke bawah, kali-kali saja kutemukan dirinya. Dan ternyata memang benar, dia ada di bawah, tepatnya berada di ujung kapal ini.
Rain ....
Seketika aku terperanjat melihat apa yang dia lakukan. Dia bersama pasukannya mengibarkan bendera putih yang tergoreskan cat merah. Di bendera itu terdapat sebuah tulisan yang menggetarkan hatiku.
Menikahlah denganku, Ara.
Rain ....
__ADS_1
Lagi dan lagi air mata ini kembali menetes karena ulahnya. Dia meminta pasukannya untuk melebarkan bendera putih itu hingga terlihat jelas tulisan yang ada. Hatiku kembali terenyuh dengan hal yang dilakukannya.
Rain, kenapa selalu seperti ini? Selalu membuat hatiku terenyuh. Kau tahu, aku tidak sanggup melihat semuanya. Sekarang aku menyadari ke mana hati ini akan berlabuh. Aku mencintaimu, Rain.
Ara mulai menyadari ke mana langkah hatinya akan menuju. Pengorbanan-pengorbanan yang Rain lakukan, mampu membuat calon ratu Angkasa luluh-lantak dibuatnya. Rain pun berlari ke arah Ara, melompat lalu memanjat pagar anjungan hingga sampai di hadapan sang gadis. Dia merentangkan kedua tangannya. Dan tak ayal, sang gadis pun segera memeluknya.
"Rain ...." Ara berkaca-kaca, seolah kehilangan kata-kata.
"Sayangku ...."
Rain membelai lembut rambut Ara lalu menciumnya. Tampak para prajurit ikut terharu karena melihatnya. Ada yang bersorak-sorai dan ada yang menahan air matanya.
Rain benar-benar menunjukkan perasaannya. Ia nekat menjemput sang gadis dengan menggunakan uang pribadinya sendiri. Ia tidak lagi memperhitungkan seberapa besar biaya yang akan ia keluarkan. Baginya hanyalah Ara yang terpenting. Dan kesungguhannya mampu membuat sang gadis tak berdaya.
Lain Rain, lain pula dengan Zu. Sang pangeran kini telah tiba di kediamannya. Ia pun segera menuju kamar pribadinya, berniat untuk segera menemui sang gadis.
Di kamar Zu...
"Sayang, aku pulang."
Zu melepas sepatunya lalu masuk mencari Ara. Namun, keadaan kamar tampak kosong. Ia pun bergegas masuk ke dalam kamar tidurnya.
"Ara."
Dilihat kamar tidurnya dan ia tidak menemukan siapapun di sana. Pikirannya mulai ke mana-mana, ia mengkhawatirkan sang gadis.
"Dia ke mana, ya?"
Lekas-lekas Zu menemui pelayannya dan menanyakan perihal keberadaan Ara. Namun, para pelayan menjawab dengan jawaban yang sama.
"Apa?!" Seketika Zu terkejut mendengarnya.
"Benar, Pangeran. Putri belum kembali sejak tadi pagi." Pelayan kediamannya menuturkan.
"Belum kembali?" Zu cemas sekali, pikirannya gundah seketika. "Baiklah, aku akan kembali ke istana."
Zu sengaja pulang cepat hari ini hanya untuk lebih lama bersama gadisnya. Tapi ternyata, sang gadis tidak ada di rumah. Ia pun segera kembali ke istana untuk mencarinya. Hatinya kini diselimuti kekhawatiran yang tidak dapat diungkapkan dengan kata-kata.
Sepuluh menit kemudian...
Kini Zu telah tiba di istana. Sesampainya ia segera menanyakan perihal Ara kepada Shu yang sedang berjaga di kamar raja. Namun, Shu berkata sesuai apa yang terjadi tadi pagi. Jika Ara mempunyai urusan sehingga menolak ajakan perbincangannya.
"Astaga ...." Zu mengusap kepalanya sendiri.
"Kakak, ada apa?" Shu ikut khawatir.
Pikiran Zu mulai melayang ke mana-mana. Ia segera keluar dari kamar lalu memerintahkan pasukan khusus untuk mencari Ara ke sekeliling istana. Sedangkan dia sendiri pergi menuju bukit pohon persik. Ia berharap Ara ada di sana dan Zu ingin menjemputnya sendiri.
Sayang, kau pergi tanpa pamit. Sekarang kau di mana? Zu dengan cepat melajukan kudanya ke bukit persik.
Lagi dan lagi sang pangeran cemas akan keberadaan gadisnya yang pergi begitu saja, tanpa kata tanpa pamit. Pikiran Zu diselimuti kekhawatiran dan tiba-tiba saja prasangka buruk itu mulai memenuhi hatinya. Zu takut kehilangan Ara.
Sayang, kenapa kau membuatku gila seperti ini? Pernikahan kita hanya tinggal menghitung hari. Tapi lagi-lagi kau membuatku merasa cemas. Tolong jangan seperti ini. Aku amat mengkhawatirkan dirimu.
__ADS_1
Sore ini Zu akan menjemput gadisnya di bukit persik. Berharap sang gadis ada di sana lalu pulang bersamanya kembali ke istana. Zu mencintai gadisnya.