Dua Pangeran Satu Cinta

Dua Pangeran Satu Cinta
Wait For Me


__ADS_3

Sore hari di Asia...


Zu memanggil kedua menterinya di akhir jam kerja istana. Ia meminta kedua menteri itu untuk segera menghadapnya. Sambil terus merapikan meja kerja, pikiran Zu masih diselimuti perkataan adiknya. Entah mengapa ia merasa seperti orang bodoh saat ini.


"Pangeran!"


Terdengar ketukan pintu dari luar yang membuyarkan lamunan Zu. Ia pun segera mempersilakan masuk.


"Menteri Lu, Menteri Ta."


"Pangeran, Anda memanggil kami?" tanya salah satu menterinya.


"Ya, benar. Duduklah, ada hal yang ingin aku bicarakan."


Kedua menteri itu menurut kepada Zu. Mereka duduk di depan meja kerja sang pangeran. Zu pun lekas-lekas merapikan meja kerjanya lalu kembali duduk.


"Besok pagi aku akan berangkat ke Angkasa. Berapa jarak tempuh tercepat untuk sampai ke istananya?" tanya Zu kepada kedua menterinya.


"Mohon maaf, Pangeran. Apakah ini ada kaitannya dengan urusan kerajaan?" tanya Menteri Lu, pria paruh baya yang sudah mulai menua. Ia menjabat sebagai Menteri Luar Negeri Asia.


"Em, tidak. Ini urusan pribadiku. Tapi aku membutuhkan fasilitas Asia untuk sampai ke sana," jawab Zu sambil menyandarkan punggungnya di kursi.


"Kita mempunyai armada tercepat untuk mengantarkan Pangeran ke Angkasa. Tapi kita harus menggunakan kapal perang. Saya khawatir hal ini akan memunculkan opini baru tentang Asia, Pangeran. Terlebih Angkasa baru saja mengalami peperangan." Menteri Pertahanan tampak cemas dengan keinginan pangerannya.


"Ya. Aku juga sudah mendengar kabar itu. Dan Angkasa berhasil memenangkan peperangan. Tolong berikan aku pertimbangan untuk ke sana," pinta Zu lagi.


"Baik, Pangeran. Jika Pangeran ingin menggunakan kapal perang agar cepat sampai, risiko ditolak akan besar. Karena bisa saja Angkasa menganggap Asia ingin mengajak berperang. Tapi jarak tempuh bisa lebih cepat, sekitar sembilan jam perjalanan." Menteri Ta menerangkan.


Zu berpikir.

__ADS_1


"Namun, jika Pangeran ingin menggunakan kapal biasa, jarak tempuh bisa sampai dua belas jam perjalanan. Bahkan bisa lebih dari itu," tutur Ta kembali.


"Pangeran, apakah saya harus membuat surat kedatangan untuk Angkasa?" tanya Menteri Lu kepada calon rajanya.


Zu beranjak dari duduknya. "Aku rasa tidak perlu, ini bukan kunjungan kerajaan. Ya, anggap saja perjalanan wisataku ke sana. Dan mungkin aku akan menggunakan kapal perang agar bisa cepat sampai." Zu mengambil keputusan.


"Tapi, Pangeran. Pihak Angkasa bisa salah mengartikan." Menteri Pertahanan tampak cemas.


"Ya, aku mengerti. Aku akan menjelaskan kepada penjaga dermaga atas tujuan kedatangan ini. Tolong persiapan semuanya. Besok pagi-pagi aku akan berangkat," pinta Zu kepada kedua menterinya.


"Baik, Pangeran."


Kedua menteri itu akhirnya menyanggupi. Setelah memberikan pertimbangan, Zu tetap bersikeras untuk ke Angkasa dengan menggunakan kapal perang milik Asia.


"Oh, ya. Tolong siapkan empat puluh pasukan untuk menemaniku ke sana. Pasukan paling terlatih dalam segala medan. Ini hanya untuk berjaga-jaga saja," kata Zu lagi.


"Baik, Pangeran." Kedua menteri mengiyakan.


Kedua menteri Asia pun berpamitan setelah percakapan singkat bersama calon rajanya. Mereka segera keluar ruangan dan mempersiapkan apa yang calon rajanya butuhkan. Zu benar-benar ingin menjemput Ara dan tidak dapat menundanya lagi.


Ara, keberadaanmu belum ditemukan pasukan khusus yang aku kirim ke sana. Tapi, hati kecilku mengatakan kau memang ada di sana. Besok aku akan menjemputmu, aku harap kau bersedia kembali ke istana bersamaku. Aku berharap besar padamu, Ara.


Zu berharap dalam hatinya sambil memikirkan risiko yang akan terjadi jika ia ke sana. Ia amat ingin menjemput Ara walau perkataan adiknya masih terngiang-ngiang di benaknya. Shu, sang adik pun melihat kedua menteri itu keluar dari ruangan Zu. Ia menyadari sesuatu saat mengetahui gerangan apa yang membuat kedua menteri masuk sore hari ke ruangan Zu. Shu pun cemas dengan kegigihan kakaknya.


Astaga ... aku tidak tahu harus bagaimana lagi untuk mencegahnya. Aku amat khawatir terjadi sesuatu kepada kedua negeri ini. Apa yang harus aku lakukan untuk mencegah kepergiannya ke Angkasa?


Shu berpikir, ia mencari cara untuk mencegah keberangkatan kakaknya ke Angkasa.


Nenek Lin? Ya. Mungkin nenek bisa membantu mencegah kakak berangkat ke sana. Aku harus cepat-cepat menemui nenek.

__ADS_1


Shu pun bergegas melangkahkan kakinya menuju kediaman sang nenek yang tak jauh dari istana. Ia merasa harus cepat bertindak sebelum kekhawatirannya terjadi.


Lain kedua pangeran Asia, lain pula kedua pangeran Angkasa. Cloud tampak kesal saat melihat Rain membawa Ara kembali ke istana.


Di taman depan, dekat gazebo istana Angkasa...


Keduanya beradu mulut. Baik Rain atau Cloud tidak ada yang mau mengalah. Tak ayal sang gadis pun berusaha memisahkan keduanya.


"Rain, Cloud, sudah. Aku yang salah. Tolong hentikan pertengkaran ini."


Sang gadis merentangkan kedua tangannya untuk memisahkan Rain dan Cloud yang sedang berseteru. Kejadian itu pun dilihat oleh Sky dari balkon teras lantai tiga istana.


"Aku tidak mengerti mengapa kau melarang Ara ke istana. Bukannya kau sendiri yang bilang jika ayah memintanya datang? Tapi kenapa kau malah marah-marah padaku?" Rain tidak terima dimarahi oleh kakaknya.


"Kau tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi, Rain. Sikapmu ini amat membahayakan keberadaan Ara." Cloud membalasnya segera.


"Sudah, Cloud. Aku yang salah, aku tidak cerita kepada Rain. Aku hanya bercerita kepadamu." Ara pun menyesal.


"Ara, sebenarnya apa yang terjadi? Mengapa pria bodoh ini bersikeras dengan pendapatnya?" tanya Rain ke Ara sambil menunjuk Cloud.


"Apa kau bilang?!" Cloud pun kesal mendapat ucapan seperti itu dari adiknya. Ia segera mendekat ke arah Rain, namun Ara menahannya.


"Sudah-sudah. Tolong jangan bertengkar lagi. Nanti akan kujelaskan padamu, Rain. Lebih baik sekarang kita menemui raja," pinta sang gadis yang masih berusaha menahan pertengkaran kedua pangerannya.


Tak ayal kejadian itupun membuat sang raja pusing sendiri, akibat adu mulut yang terjadi di antara kedua putranya. Ia kemudian masuk ke dalam ruang kerjanya, meninggalkan pemandangan keributan di antara kedua putranya. Sedang sang gadis segera menggandeng Rain dan Cloud masuk ke dalam istana. Ia berniat memenuhi panggilan raja sore hari ini.


Langkah demi langkah ketiganya lalui. Sontak sikap Ara yang melerai kedua pangeran membuat beberapa pelayan yang melihat berbisik-bisik. Namun, sang gadis terus saja melangkahkan kakinya, menaiki anak tangga menuju lantai tiga istana, tempat di mana sang raja berada. Ia tidak ingin memedulikan pendapat orang tentang dirinya.


Aduh ... aku seperti mempunyai dua bayi besar sekarang. Aku pikir mereka tidak akan bertengkar. Ternyata ... mereka masih sama saja seperti dulu. Cloud yang merasa menjadi kakak dan ingin dituruti, dan Rain yang tidak mau mengalah karena merasa bungsu. Astaga ... kenapa bisa begini?

__ADS_1


Ara berusaha tersenyum di tengah usahanya menjadi penengah antara kedua pangeran. Rasa lelah karena berada di antara dua hati pun mulai ia rasakan. Namun, ia masih sanggup untuk menghadapinya. Ia mencoba berlaku adil kepada keduanya karena berpikir baik Rain ataupun Cloud akan menjadi suaminya kelak. Namun, entah suatu hari nanti. Mungkin saja ia bisa menyerah dengan situasi seperti ini.


__ADS_2