
Malam harinya di Angkasa...
Rain masih sibuk membaca dokumen dari ayahnya. Sedari siang ia berusaha mempelajari intisari dari banyak dokumen tersebut. Sang gadis pun masih setia menemani. Ia sampai harus menyuapi makan siang pangerannya karena pekerjaan tidak bisa ditinggal.
"Rain, sudah malam. Istirahatlah." Ara meminta.
"Sebentar lagi, Ara. Masih ada dua dokumen," sahut Rain.
Sang gadis pun menjauh dari pangerannya. Padahal ia sudah berdandan cantik untuk makan malam hari ini. Tubuhnya terbalut gaun sutra merah dengan bagian bahu dan lengan yang terbuka. Ia juga sudah menyanggul rambutnya bak putri. Tapi sepertinya, malam ini sang pangeran benar-benar serius mengerjakan pekerjaannya.
Hah, kalau sudah begini aku merasa sendiri. Rain sibuk sedari tadi. Lalu aku sama siapa?
Ara pun berjalan ke kamar yang ada di lantai dua. Dengan terpaksa malam ini ia tidak jadi makan malam bersama Rain. Usahanya pun gagal memikat hati sang pangeran. Tapi apa daya, pekerjaan memang tak bisa ditunda lagi.
Rain sudah cukup lama menunda pekerjaannya. Tapi semenjak kedatangan Zu, ia ingin segera menyelesaikan pekerjaan dari ayahnya. Dan malam ini ia akan menimbang ulang baik-buruk ke depannya jika menerima misi. Sebuah misi yang mengharuskan dirinya turun langsung ke medan perjuangan.
Sayang, maafkan aku. Malam ini kau tidur saja, ya.
Rain sebenarnya tidak tega membuat Ara menunggu. Dan akhirnya sang gadis pun merasa kelelahan karena menunggu Rain menyelesaikan pekerjaannya. Rain masih harus membaca dua dokumen lagi yang diperkirakan pertengahan malam baru bisa selesai.
Banyak dokumen yang ayahnya berikan. Setiap dokumen itupun terdiri dari berlembar-lembar kertas berisi perjanjian. Sehingga Rain harus teliti dalam mencermati setiap katanya. Ia tidak boleh salah mengartikan karena bisa berakibat fatal.
Salah mengartikan bisa menyebabkan kesalahpahaman. Sedang kesalahpahaman bisa menyebabkan perseteruan. Perseteruan pun bisa menyebabkan peperangan. Dan Rain tidak ingin hal itu terjadi.
Beberapa jam kemudian...
Waktu sudah memasuki dini hari. Sang pangeran pun baru saja menyelesaikan pekerjaannya. Dan kini ia sedang merapikan meja kerjanya yang berada di dekat perapian.
Rain membawa dokumen penting itu ke dalam kamarnya. Ia simpan baik-baik lalu segera melangkahkan kaki menuju kamar di mana Ara berada. Sesampainya di sana, Rain melihat Ara sudah tertidur pulas. Rasa bersalah pun menghantuinya.
__ADS_1
Sayang, maaf ya ....
Rain mendekati gadisnya. Ia selimuti tubuh itu lalu mengecup kening sang gadis. Rain begitu sayang kepada Ara, sampai-sampai tidak ada hal yang dikhawatirkannya selain Ara.
Sayang, bagaimana jika aku mengambil misi ini? Apakah kau akan menungguku pulang?
Rain mengusap kepala gadisnya. Ia duduk di pinggir kasur sambil menatap Ara yang sedang tertidur. Ingin rasanya ia membawa Ara ke manapun. Tapi Rain menyadari jika negeri ini lebih membutuhkannya.
Selamat tidur, bidadariku ....
Ia kemudian melangkahkan kaki keluar dari kamar Ara. Berjalan menuruni anak tangga lalu menuju teras belakang kediamannya, tempat favorit Ara bersantai. Ia duduk di sofa sambil menatap langit-langit terasnya. Ia merenung jika akan mengambil misi ini dari sang ayah. Ia juga berpikir jika melewatkannya.
Apakah ini memang takdirku?
Rain bertanya-tanya sendiri dalam hati. Ia merasa jika semua yang terjadi seperti telah ditakdirkan untuknya. Ia pun meletakkan kedua tangannya ke belakang kepala sambil terus membayangkan baik-buruk ke depannya. Malam ini Rain diselimuti dilema pilihannya.
Esok harinya...
Kulangkahkan kaki menuju kamarnya yang berada di lantai satu. Aku ingin menyapanya, sekedar mengucapkan selamat pagi. Tapi saat kumasuk, Rain sudah tidak ada di sana. Kulihat jam pasir yang diletakkan di atas perapian pun sudah berganti warna, pertanda jika sudah lewat dari pukul enam pagi.
Cahaya matahari menyorot menyilaukan mata saat aku membuka pintu teras belakang. Dari arah timur, mentari pagi ini terlihat terang sekali. Mungkin benar jika awal musim panas telah datang. Tapi sayangnya, Cloudku belum juga kembali. Kalau seperti ini aku memang membutuhkan keduanya. Aku tidak bisa jauh dari kedua pangeranku.
Hah ... buat kopi saja.
Semalaman aku menunggu Rain di kamar sambil mengotak-atik ponselku. Aku pun memutar rekaman ulang saat pertunjukan busana. Dan di sana ada Zu yang terekam kamera. Entah mengapa semalam aku jadi kepikiran. Tapi semoga saja dia baik-baik di sana.
Zu memang baru hadir di kehidupanku. Tapi kelembutan yang dia berikan tidaklah jauh berbeda dengan kedua pangeranku. Dia amat berharap aku menjadi istrinya. Tapi mungkin ini yang dinamakan hidup, harus memilih di antara yang terpilih. Tapi anehnya, saat di Angkasa hal itu tidak berlaku. Aku kebingungan. Ya, kebingungan menentukan pilihan sampai-sampai raja sendiri yang memutuskan. Dan kini tinggal menghitung hari pesta pernikahanku akan segera diselenggarakan.
Kenapa hari ini malas sekali, ya?
__ADS_1
Kurebahkan diriku di atas sofa teras belakang. Kunikmati angin pagi yang menyegarkan sambil menunggu kedatangan pangeranku. Tapi sampai mentari setinggi tombak, dia belum juga datang. Entah di mana dia gerangan. Mungkin lebih baik jika aku mandi saja.
Pelayan di kediaman Rain ini belum juga ada. Mungkin sengaja diliburkan atau jangan-jangan Rain memecatnya? Entahlah, aku belum sempat menanyakan hal ini padanya. Kesibukan pekerjaan terkadang membatasi waktu kedekatan kami. Tapi walaupun begitu, aku masih menunggunya.
"Non Ara."
Kudengar seseorang menyapaku. Kulihat siapa gerangan yang memanggil, dan ternyata Mbok Asri lah yang datang pagi-pagi ke kediaman Rain.
"Mbok." Aku pun segera memeluknya.
"Non, hari ini saya diminta raja untuk menemani Nona ke gedung konveksi istana." Mbok memberi tahuku.
"Apakah ini berkaitan dengan pernikahan?" tanyaku segera.
"Benar, Non. Pihak konveksi sudah menyiapkan gaun pernikahan untuk Nona. Nona bisa memilihnya sendiri mana yang lebih disukai," kata Mbok Asri lagi.
"Apakah hanya aku saja?" tanyaku pada Mbok.
"Kemungkinan seperti itu, Non. Tadi saya lihat pangeran Rain sedang di ruangan raja. Mungkin pangeran akan menyusul." Mbok menjelaskan lagi.
Aku tidak tahu apa yang dibicarakan Rain dan raja di sana, tapi sepertinya amat serius. Sampai-sampai aku tidak diberi tahu.
"Baiklah, Mbok. Satu jam lagi, ya. Aku ingin mandi dulu," kataku pada Mbok.
"Baik, Non. Nanti satu jam lagi saya tunggu di gazebo istana." Mbok kemudian berpamitan padaku.
Aku mengangguk lalu membiarkan Mbok kembali menjalankan rutinitas hariannya. Rasanya baru kemarin tiba di istana dan sekarang sudah harus memilih gaun pernikahan. Cepat sekali waktu ini berputar.
Ya sudahlah. Aku mandi saja.
__ADS_1
Akupun melangkahkan kaki menuju kamar mandi yang ada di lantai dua. Membersihkan diri lalu berdandan untuk menuju gedung konveksi istana. Semoga saja di sana aku bisa mendapatkan gaun yang ringan, tidak berat seperti gaun Cinderella.