
Pagi harinya, di istana kerajaan Angkasa...
Pagi ini Cloud tanpak semringah. Ia mendapat kabar jika Rain sudah sampai di perbatasan negeri dalam keadaan selamat. Cloud tampak bersyukur. Ia segera mengabarkan hal itu kepada Moon dan Sky.
"Syukurlah."
Moon berucap syukur karena putra bungsunya dalam keadaan baik-baik saja. Sky juga terlihat bahagia meski tidak terlalu tampak di wajahnya yang mulai menua. Ia lalu mengajak istri dan putra sulungnya itu untuk sarapan pagi bersama.
Bersamaan dengan itu, Ara terlihat sudah bersiap untuk pergi ke negeri Cloud. Ia tampak sedang berpamitan kepada kedua orang tuanya.
"Ayah, Ibu. Doakan Ara." Ara meminta restu.
"Pasti, Nak. Doa Ibu dan Ayah selalu menyertaimu." Sang ibu mengusap kepala anaknya.
"Kakak, mengapa kami tidak boleh mengantar ke bandara?" tanya Adit yang heran.
Sontak saja Ara bingung untuk menjawabnya. Ia berpikir keras agar mendapatkan jawaban yang bagus.
"Kau kan sebentar lagi akan mengikuti ujian masuk SMA. Jadi sebaiknya fokus dengan ujianmu itu. Lagipula Kakak sudah besar, jadi tidak perlu diantar." Ara memberikan alasan.
"Kak Ara ...." Anggi, adik bungsu Ara segera mendekati kakaknya. "Kakak hati-hati ya di sana. Jaga diri Kakak. Jika Kakak rindu, Kakak bisa memanggil kami," ucapnya polos.
Seketika Ara tertawa mendengarnya. Ia lalu mengusap-usap poni sang adik. Ara pun memeluk adik bungsunya itu.
"Tenang saja. Kak Ara pasti akan baik-baik saja." Ara begitu optimis.
"Baiklah kalau begitu. Ayah dan Ibu berangkat ke pasar. Jaga diri kalian baik-baik," pesan ayahnya.
Hari ini ayah dan ibu Ara masih berangkat ke pasar dan menjaga tokonya. Sedang Anggi dan Adit sibuk belajar, mempersiapkan tahun ajaran baru.
Waktuku semakin dekat.
Ia kemudian kembali ke kamarnya, mempersiapkan barang-barang yang harus dibawa.
"Sepertinya tak apa membawa ponsel," ucapnya, kemudian memasukkan ponsel ke dalam tas kecil berwarna hitam.
Ara tidak membawa banyak barang untuk pergi ke negeri Cloud. Ia hanya membawa perlengkapan seperlunya dan juga ponselnya itu. Ara yakin jika istana akan menyediakan segala sesuatu untuknya.
"Baiklah. Saat keadaan sepi, aku akan mencoba untuk membuka portalnya."
Ia kemudian menunggu waktu yang tepat, menunggu kedua adiknya itu tertidur agar tidak melihat apa yang terjadi. Ara ingin tetap merahasiakan hal ini dari keluarganya.
Sementara itu di perbatasan...
Rain tampak membangun tenda bersama prajuritnya di atas perbukitan yang ada di perbatasan. Dengan berada di tempat yang lebih tinggi, Rain dapat melihat pergerakan yang terjadi dari negeri seberang. Setidaknya ia dapat mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan. Rain tampak begitu serius mengemban tugas ini.
"Pangeran."
Seorang pasukan khusus datang lalu memberikan informasi kepadanya. Rain pun segera menerima informasi itu.
"Tidak ada pergerakan sama sekali dari Negeri Aksara. Mata-mata yang menyusup juga memberi kabar jika Aksara masih dalam keadaan tenang."
Pasukan itu memberikan kabar kepada Rain. Rain pun tampak sedikit tenang.
"Baik, terima kasih. Terus lakukan pengawasan dan pantau pergerakan Aksara," pinta Rain kepada pasukan khusus itu.
__ADS_1
"Baik, Pangeran. Siap laksanakan perintah!"
Pasukan itu lalu segera undur diri dari hadapan Rain. Ia kembali ke tugasnya.
Rain kemudian duduk di atas rerumputan bukit seraya menatap ke langit. Tampak rembulan yang tertutupi awan hitam.
Aku berharap keadaan di istana baik-baik saja. Aku percaya kak Cloud dapat menjaganya.
Jauh di dalam lubuk hati Rain, ia mengakui jika Cloud memang lebih pantas mengemban tugas sebagai seorang raja. Karena Rain tahu, Cloud sangat berhati-hati dan begitu teliti dengan segala sesuatunya. Pertimbangannya juga dapat menguntungkan semua pihak. Tidak seperti dirinya yang belum dapat bersifat tenang, masih terburu-buru dalam mengambil keputusan.
Ara ....
Rain termenung sejenak dalam pikirannya sendiri.
Apa jadinya aku bila tanpamu?
Saat sedang bertugas pun Rain masih memikirkan gadisnya itu. Ia begitu ingin bertemu dengan Ara. Namun, tugas penting ia emban saat ini sehingga harus menyingkirkan perasaannya itu sementara waktu. Rain hanya bisa berdoa dan berusaha semaksimal mungkin agar kebaikan selalu menyertai kerajaan Angkasa.
Sore harinya di istana...
Cloud tampak disibukkan dengan semua pekerjaan sang adik. Ia mengecek pasukan yang ada di istana. Melihat mereka berlatih dan juga menerima semua surat yang berkaitan dengan keamanan negeri.
Kini pekerjaan yang dilakukannya berlipat ganda. Setelah menyelesaikan pekerjaan hariannya, Cloud harus menyelesaikan pekerjaan sang adik selama Rain belum kembali ke istana. Cloud tampak kelabakan, namun berusaha tetap tenang menghadapi banyak pekerjaan yang menunggunya.
"Untung saja pekerjaanku tidak terlalu banyak sehingga dapat menyelesaikan pekerjaan Rain dengan cepat."
Menjelang petang, pekerjaan itupun selesai dengan baik. Cloud segera merendam diri di kolam air panas kerajaan. Ia mencoba merelaksasikan tubuhnya yang sedari pagi sudah bermain dengan banyak dokumen penting.
Di kolam air panas...
"Semalam daun buah tin itu gugur. Aku khawatir jika terjadi sesuatu kepada Rain. Namun ternyata, Rain baik-baik saja. Lalu apa maksud daun yang gugur itu ya?"
Cloud bertanya sendiri. Ia mengalami hal aneh semalam. Firasatnya mulai tak enak.
"Ara, cepatlah datang. Tolong aku ...." Cloud mulai cemas.
Pangeran sulung ini segera menutup petang dengan doanya. Ia berharap kedatangan Ara secepat mungkin ke istana. Cloud rindu dan juga ingin segera bertemu. Rasa rindunya hampir saja meluap-luap ke permukaan. Terlebih saat ia teringat waktu Ara begitu manja kepadanya.
Waktu itu...
"Cloud."
"Hm?"
"Bantu aku berdiri," pinta Ara.
Ara sedang berada di kamar Cloud sehabis menghabiskan malam bersama.
Cloud mengangguk. Ia memegang kedua tangan Ara lalu membantunya berdiri. Cloud begitu lembut memperlakukan sang gadis.
Cloud lalu berjalan menuju pintu kamar tapi Ara terlihat diam saja, tidak bergerak dan masih terpaku.
"Ara?" Cloud tampak bingung melihat Ara yang diam.
"Cloud." Ara lalu memanggil Cloud dengan nada yang manja.
__ADS_1
"Kenapa, Ara?" tanya Cloud sedikit bingung.
"Gendong aku," kata Ara seraya memasang raut wajah manjanya.
Sontak Cloud tersenyum dan tertawa kecil melihat Ara. Ia pun tidak menolaknya. Cloud segera menghampiri sang gadis.
"Baiklah, Tuan Putri. Mau digendong depan atau belakang?" tanya Cloud yang gemas sambil mencubit kedua pipi Ara.
"Belakang saja, depan terlalu vulgar," jawab Ara singkat yang membuat Cloud tertawa.
"Baiklah-baiklah."
Cloud memutar badannya. Ia membelakangi Ara lalu sedikit berjongkok.
"Silakan naik, Tuan Putri."
Ia akhirnya menggendong belakang gadisnya itu. Cloud tampak menyanggupi permintaan sang gadis.
...
"Ara ...."
Cloud tersenyum sendiri, berharap waktu itu akan kembali terulang.
Makan malam tiba...
Rasanya ada yang kurang tanpa kehadiran Rain di depan meja makan ini. Moon tampak bersedih. Selera makannya berkurang drastis.
"Ibu, makanlah selagi hangat."
Cloud yang sudah mulai berselera makan itu meminta sang ibu untuk segera menyantap hidangan makan malamnya. Tapi sang ibu tidak juga memedulikan perkataan Cloud.
"Ratu, makanlah," pinta Sky kepada istrinya.
"Aku kurang berselera makan malam ini. Aku sedang memikirkan Rain," cetus Moon seraya meletakkan sendok dan garpunya ke atas piring.
"Rain dalam keadaan baik-baik saja, Ibu." Cloud menjelaskan.
"Cloud, kau sebagai kakak tertua harusnya bisa memberikan contoh yang baik kepada adikmu." Moon menatap ke arah Cloud yang duduk di depannya.
"Maksud Ibu?"
"Cloud, seusiamu itu sudah pantas untuk menikah. Mengapa belum juga menikah?"
Sang ibu tiba-tiba menanyakan hal itu kepada Cloud. Sontak saja Cloud tersedak makanannya sendiri.
"Ratu ...."
"Biar saja, Sayang. Aku tidak habis pikir dengan putraku ini. Sebenarnya apa sih yang dia tunggu?" Moon heran sendiri.
"I-ibu, aku masih menunggu seseorang."
"Lalu kapan orang itu datang? Apa kau akan terus melajang sampai orang itu datang?" Moon berapi-api.
Entah mengapa Moon keluar dari pembahasan. Ia sepertinya sedang mengalihkan pikiran cemasnya tentang Rain, sehingga Cloud yang menjadi sasarannya.
__ADS_1