
Selepas makan siang...
Aku diajak Zu duduk bersamanya sambil melihat-lihat peta dunia ini. Aku duduk di sisi kirinya sambil terus memperhatikan peta dunia yang ia pegang.
Aku juga bisa merasakan harum parfumnya yang lembut. Dan entah mengapa, jantungku berdebar saat dekat dengannya.
"Ini adalah Negeri Asia, Nona."
Zu menunjukkan padaku sebuah negeri yang bentuknya lebih besar dari negeri lain. Di sekeliling negeri itu ada negeri-negeri yang belum kuketahui namanya.
"Dan ini Angkasa." Zu menunjuk negeri kedua pangeranku.
Kuperhatikan jika Angkasa memang diapit oleh dua negeri. Namun, di sekeliling Angkasa merupakan lautan, atau mungkin lebih tepatnya selat. Dan ada pulau-pulau kecil di sekelilingnya.
"Pangeran, kita sedang berada di mana?" tanyaku memberanikan diri.
Zu lalu mengarahkan jari telunjuknya menuju suatu pulau yang ada di timur Angkasa. Pulaunya kecil sekali, hampir kukira hanya sebuah titik di dalam peta.
"Kita di sini, Nona." Zu menunjukkan.
Lantas saja aku mencari tahu tentang keberadaanku ini. Kali-kali saja aku bisa ke Angkasa sendiri.
"Pulaunya kecil sekali ya, Pangeran," kataku lagi.
"Ya, pulau ini memang kecil. Tapi jika diperhatikan saksama, ada yang unik dari pulau ini," katanya menanggapiku.
"Benarkah?" tanyaku tak percaya.
Zu mengangguk.
"Apa yang unik, Pangeran?" tanyaku lagi.
"Pulau ini berbentuk hati jika dilihat dari atas."
"Bentuk hati?!"
"Benar. Maka itu aku tertarik membelinya. Aku pikir bisa dijadikan tempat berbulan madu bersama istriku," tuturnya kemudian.
"Hah?! Pangeran sudah punya istri?!" tanyaku kaget.
Sontak dia menutup peta dunia itu. Ia seperti merasa telah salah menjelaskan padaku.
"Tidak, Nona. Maksudku bersama istriku nanti. Aku belum beristri, baru saja memulai hubungan dengannya," katanya seraya tersenyum.
Eh ...? Apa dia menggodaku?
"Baru denganmu aku tinggal berdua seperti ini."
"Pangeran—"
"Rasanya aneh sekali. Aku juga bingung kenapa bisa seberani ini." Dia menunduk malu.
"Pangeran, apa sebaiknya kita tidak kembali saja?" tanyaku padanya.
"Kembali?"
"Iya, kita kembali ke Ang—"
"Tidak. Aku tidak akan membiarkanmu kembali ke Angkasa."
"Tapi, Pangeran—"
"Nona, tolonglah mengerti. Aku sudah bersusah payah membawamu kemari. Jika kau berada di sana, aku tidak dapat berbuat apa-apa lagi."
Dia tampak mengkhawatirkan keadaanku. Tapi aku juga tidak ingin diam saja di sini. Aku terbiasa bekerja. Tapi ini...
__ADS_1
"Bagaimana jika kau ikut denganku ke Asia, Nona." Dia lantas menawarkan.
"Ke negerimu?" tanyaku lagi.
"Ya." Zu mengangguk.
"Aku rasa kau seorang gadis petualang yang menyukai tantangan. Bukan begitu?"
Ih, dia seperti sedang menggodaku.
"Darimana kau mengetahuinya, Pangeran?" tanyaku menyelidik.
"Bukannya kau berasal dari negeri lain? Kau bukan penduduk asli Angkasa, kan?"
Astaga!
Aku merasa jika Zu sudah mulai mencari tahu asal-usulku. Entah dari mana dia mengetahui hal itu. Aku merasa cemas sendiri jadinya.
"Nona, ikutlah denganku ke Asia. Di sana kau tidak perlu bekerja keras lagi. Kau akan dilayani dengan baik. Dan aku sendiri yang akan melayanimu."
Ap-apa?!
Aku tak percaya jika Zu mengatakannya. Ia bilang akan melayaniku sendiri. Ini benar-benar tidak masuk diakal.
"Pangeran, kita baru saja berkenalan. Mengapa kau bisa sepercaya itu padaku?" tanyaku penasaran.
Dia lantas beranjak bangun.
"Aku juga tidak mengerti mengapa bisa seperti ini. Mungkin saja jika aku benar-benar jatuh hati padamu."
"Pangeran ...."
"Kau tidak keberatan, bukan?" Dia memandangiku.
Aku belum dapat menjawab pertanyaannya, aku masih bimbang. Ya, walaupun dia sudah menjelaskan.
"Tak apa jika kau belum mampu. Aku akan menunggunya." Zu lantas duduk berlutut di hadapanku.
"Pangeran, apa yang kau lakukan?"
Aku merasa risih saat dia melakukan hal itu. Tidak sepantasnya seorang pangeran merendahkan diri di hadapan seorang gadis. Apalagi gadis desa sepertiku ini. Tapi, dia melakukan sesuatu yang terduga.
Pangeran ...?!
Dia merebahkan kepalanya di atas pangkuanku, dengan kedua tangan sebagai alasnya. Aku merasa seperti amat dibutuhkan olehnya. Hatiku cenat-cenut dibuatnya.
"Pangeran ...."
Aku spontan mengusap kepalanya. Tanpa sadar aku mengusap rambut hitamnya itu. Dia lalu mengangkat kepalanya, melihat ke arahku.
"Nona, aku ... menyayangimu."
Pangeran ....
"Aku tidak peduli dengan semua yang telah terjadi. Aku tidak bisa mengingkari hatiku. Jika aku ... benar-benar menyayangimu."
"Tap-tapi—"
"Ssttt..." Dia menutup bibirku dengan telunjuk tangan kanannya. "Tak apa perlahan. Aku akan membuatmu mencintaiku, menyayangiku. Sebagaimana aku menyayangi dan mencintaimu."
Pangeran ....
Hatiku terenyuh, benar-benar terenyuh. Dia kemudian bangkit dan menatapku tepat di mata. Dia menatapku dalam lalu mulai mendekatkan wajahnya ke wajahku.
Ap-apa dia ingin menciumku?
__ADS_1
Aku tidak tahu harus bagaimana. Kedua lenganku kini dipegang olehnya. Perlahan-lahan aku pun dapat merasakan hangat napasnya itu.
"Aku menyayangimu, Ara."
Sontak aku terkejut karena dia tidak lagi menggunakan kata nona saat memanggilku. Dia hanya menggunakan namaku saja.
"Pangeran ...."
Aku merasa terharu dengan kelembutan yang diberikan olehnya. Rasanya aku ingin memeluknya saja. Tapi, aku masih malu.
"Aku akan bertanggung jawab dengan apa yang terjadi," katanya lagi.
"Pangeran ...?"
"Jika memang benar, aku bersedia menjadi ayahnya."
"Ma-maksud Pangeran?" Tiba-tiba aku merasa pembicaraan ini menjurus ke sesuatu.
"Nona, keadaanmu membuatku cemas. Aku tidak tahu bagaimana mengungkapkannya. Tapi aku bersedia menjadi ayah dari anakmu."
"Ap-apa?!!"
Seketika aku terbelalak mendengarnya. Lantas saja aku memundurkan dudukku ke belakang. Aku merasa jika dia sedang menuduhku.
"Nona, maaf. Aku tidak ada maksud untuk melukai perasaanmu." Dia mencoba untuk memelukku.
"Pangeran, bagaimana bisa kau berpikiran seperti itu?" tanyaku seraya menolak pelukannya.
"Nona, aku tidak tahu hal apa yang sebenarnya terjadi. Tapi jika memang benar, aku bersedia bertanggung jawab atas anak yang kau kandung."
"Pangeran! Kau keterlaluan!"
Aku segera berdiri, tak ingin berlama-lama mendengarkan hal ini.
"Nona, dengarkan aku dulu." Zu menahanku.
"Pangeran, kembalikan aku ke Angkasa. Aku mohon. Aku tidak ingin pikiran burukmu itu menggangguku." Aku beranjak pergi.
Dengan cepat Zu menahanku, ia menarik tanganku lalu meraih tubuh ini. Dia memelukku.
"Aku tidak akan mengembalikanmu ke Angkasa. Tidak akan, Nona."
"Pangeran, lepaskan aku!" Aku berontak.
"Aku mencintaimu, Nona. Aku menginginkanmu. Aku tidak peduli dengan semuanya. Aku tak ingin kehilangan udaraku. Apa kau tidak juga mengerti?"
"Pangeran!"
"Aku bersungguh-sungguh. Aku tidak bisa tidur nyenyak karena terus-menerus memikirkan hal ini. Nona, tolong aku. Biarkan aku mencoba untuk mendapatkan hatimu. Ikutlah bersamaku ke Asia." Dia memohon padaku.
Rasanya sedikit aneh, tapi jika diperhatikan dari intonasi ucapannya, Zu terlihat bersungguh-sungguh. Aku tidak tahu apa yang ada di dalam hatinya. Tidak ada yang bisa kulakukan saat ini selain menuruti permohonannya itu.
"Mau, ya?" tanyanya lagi.
Pelukan ini seakan memaksaku untuk mengiyakannya.
"Aku akan menjagamu, aku berjanji dan akan membuktikannya."
Pangeran ....
Aku tidak punya pilihan selain mengiyakan permohonannya. Aku mengangguk, mengiyakan. Barulah setelah itu dia melepaskan pelukan ini.
Akhirnya aku bisa bernapas.
Dia tersenyum bahagia setelah aku memenuhi apa yang diminta olehnya. Dengan janji dan bukti yang akan dia berikan, aku mencoba percaya dengan ucapannya itu. Aku menerima takdirku. Biarlah Tuhan yang menunjukkan jalan.
__ADS_1