Dua Pangeran Satu Cinta

Dua Pangeran Satu Cinta
Message


__ADS_3

Sementara di kapal milik Angkatan Laut Asia…


Zu sedang dalam perjalanan pulang ke negerinya. Di anjungan kapal ia berdiri seorang diri sambil melihat pemandangan laut malam hari. Ia merasa kecewa dengan apa yang Ara katakan. Hatinya begitu teriris saat mendengar tiga patah kata yang Ara ucapkan. Ia tak percaya jika Ara akan mengucapkan kata itu padanya.


“Aku … tidak mencintaimu.”


Betapa sakit hati Zu. Ia pulang dengan tangan hampa tanpa membawa gadisnya. Hatinya terasa rapuh dan kosong, seperti tidak mempunyai semangat hidup lagi. Ia juga teringat akan penyebab mengapa Ara sampai pergi dari istana, yang mana membuatnya amat geram kepada Mine.


“Dia begitu percaya dengan apa yang dikatakan oleh Mine. Sebenarnya apa yang telah terjadi?!” Zu kesal sendiri.


Ia tidak tahu harus bagaimana menjelaskannya kepada Ara, perihal kedekatannya dengan Jasmine yang hanya sebatas rasa kasihan. Zu tidak memiliki perasaan khusus kepada putri dari Negeri Bunga tersebut. Ia hanya menjalankan tugasnya sebagai seorang pangeran. Dan kini Zu menyesali apa yang sudah terjadi.


“Mungkin jika aku tidak terlalu baik pada Jasmine, Ara masih bersamaku sekarang. Tapi, mengapa Jasmine bisa seberani itu? Kenapa dia lancang sekali mengatakan bahwa sedang mengandung anakku?” Zu tak habis pikir.


Yang ia inginkan hanyalah Ara seorang. Ia tidak peduli dengan gadis atau putri manapun. Ia merasa hanya Ara lah yang bisa memenuhi segala kebutuhan lahir dan batinnya. Ia tidak menginginkan yang lain. Tapi kini, harapannya itu harus kandas karena kabar yang tidak bisa diterima olehnya.


“Sesampainya di istana aku akan segera membuat perhitungan dengannya. Aku tidak bisa membiarkan namaku tercoreng karena ulahnya. Jasmine, aku akan membuat perhitungan denganmu. Selama ini aku sudah berbaik hati, tapi ternyata kau menyalahkan kebaikanku. Aku tidak akan tinggal diam dan membiarkan kesalahpahaman ini terus terjadi.” Zu berjanji dalam hatinya.


Sang calon raja Asia benar-benar ingin menyelesaikan kesalahpahaman ini. Ia juga tidak akan segan untuk membuat perhitungan dengan Jasmine. Ia akan membersihkan nama baiknya.


Kapal perang milik Angkatan Laut Asia pun terus melaju menuju pelabuhan barat negerinya. Bersama dengan seorang pangeran yang kini dirundung kedukaan hati. Ia masih berharap akan ada kesempatan untuk memiliki Ara kembali. Seorang gadis yang berhasil membuatnya bertekuk lutut tanpa perlawanan. Dialah Ara dengan sejuta talenta yang dipunya.


...


Lain Zu lain juga dengan Cloud. Setelah enam jam melakukan perjalanan dari istana, akhirnya putra sulung kerajaan Angkasa ini tiba di istana Aksara. Kedatangannya disambut beberapa pejabat yang tinggal. Ia bersama pasukannya pun segera dijamu oleh para pelayan istana Aksara. Namun karena hari sudah malam, tak terlihat Andelin yang ikut menyambut kedatangannya.


"Selamat datang, Pangeran Cloud. Salam bahagia. Mari, silakan dinikmati sajian ala kadarnya ini." Seorang pria paruh baya mempersilakan Cloud agar segera menikmati jamuan yang telah disediakan.


"Terima kasih."


Cloud pun akhirnya duduk dan menikmati sajian yang telah disediakan tanpa ada rasa khawatir sedikitpun. Sedang para pasukannya bergantian menyantap hidangan.


Sayang, aku makan ya. Aku akan ingat pesanmu. Jika ragu, lebih baik tidak dimakan.


Cloud teringat dengan pesan Ara sebelum keberangkatannya ke Aksara. Ia pun tersenyum saat mengingat kebawelan gadisnya.


Di dapur istana waktu itu...

__ADS_1


"Hati tidak bisa berbohong. Jika ragu akan sesuatu, lebih baik tidak diteruskan. Jangan terima hal apapun dari Andelin atau sesuatu yang dikhususkan hanya untukmu. Kau mengerti?!" Ara berpesan sambil mencolek hidung Cloud.


"Siap, Nyonya Cloud. Laksanakan perintah!" Cloud pun berlagak bak prajurit di hadapan Ara.


"Begitu, dong. Ini baru Cloudnya Ara." Ara pun memeluk pangerannya.


"Iya-iya."


Cloud segera membalas pelukan sang gadis sambil mengusap rambutnya. Ia pun mencium kening Ara dengan penuh penghayatan. Keduanya berpelukan di dapur istana tanpa memedulikan siapapun yang lewat.


Di waktu bersamaan, di kediaman Rain, di kamar sang pangeran…


Malam semakin larut, mengantarkan sepasang insan ini menuju kamar tidurnya. Rain meminta Ara tidur di kasurnya. Dan kini sang gadis tengah berada dalam pelukannya.


“Ara.”


“Hm?”


“Nanti aku hanya ingin memiliki satu orang putra saja.” Rain membelai lembut rambut gadisnya.


“Karena kalau dua, aku khawatir nasibnya sama seperti ayahnya. Berebut cinta seorang gadis.” Rain berkata jujur.


“Hahahaha.” Sang gadis pun tertawa. “Kau ini bisa saja.” Ara mencubit Rain.


“Aw! Sayang, tanganmu ini nakal sekali. Nanti lama-lama aku gemas, lho.” Rain kesakitan.


“Iya, maaf. Tak lagi.” Ara pun kembali memeluk pangerannya.


“Hei, kau tahu?”


“Apa?”


“Buahmu semakin membesar, ya? Mengapa bisa seperti itu?” Rain mulai nakal.


“Rain, mengapa bertanya seperti itu, sih?!” Ara ngambek, ia merona malu.


“Tidak, aku hanya heran saja. Memangnya tidak boleh tahu?” tanya Rain sambil mencolek hidung gadisnya.

__ADS_1


“Kau menyukainya?” Ara balik bertanya.


“He-em.” Rain pun mengangguk.


“Mengapa kau menyukainya?” tanya Ara lagi sambil menatap pangerannya.


“Karena … aku tidak punya,” jawab Rain ala kadarnya.


“Hahahahaha." Ara pun tertawa. Seketika ia bangun lalu duduk di samping Rain. “Kau ini lucu sekali. Apa sadar hal yang kau katakan barusan itu lucu?” Ara ingin tahu.


“Eh? Aku hanya menjawab apa adanya saja. Memangnya lucu, ya?” Rain balik bertanya.


“Astaga, Rain.” Ara pun menepuk jidatnya sendiri.


“Kenapa, Sayang?” Rain ikut bangun lalu duduk di samping gadisnya.


“Kau tahu, aku ingin menggigitmu,” kata Ara lagi.


“Jangan digigit, Sayang. Dikecup perlahan saja, itu lebih terasa,” tutur Rain yang membuat Ara mengambil bantal.


“Dasar kau, ya!”


Ara pun memukul Rain dengan bantal. Ia begitu gemas dengan sikap Rain padanya. Sang pangeran pun hanya diam saat bantal itu mengenai tubuhnya. Ia tampak pasrah dan tidak melawan. Sedang Ara, menyalurkan rasa gemasnya karena tingkah Rain. Dan malam ini menjadi saksi canda tawa keduanya.


Pukul saja sepuasmu, Sayang. Tapi habis ini giliran aku, ya. Tidak akan aku biarkan satu inchi dari tubuhmu pun terlewat dari jamahanku. Malam ini aku akan menyiksamu sampai kau merintih, memohon untuk berhenti.


Rain membiarkan Ara terus memukulinya.


Ara tidak menyadari jika tingkahnya juga membuat sang pangeran gemas. Setelah selesai menyalurkan rasa gemasnya, Rain pun melirik ke Ara dengan tatapan yang nakal.


“Rain?" Sontak Ara terdiam.


“Sudah, kan? Giliran aku, ya.”


"Ja-jangan!" Ara menyadari apa yang akan Rain lakukan padanya. "Rain ...!"


Sang pangeran mulai menerjang dan mengunci tubuh gadisnya. Alhasil Ara tidak dapat bergerak apalagi melarikan diri. Dan akhirnya Ara pasrah dengan apa yang dilakukan pangerannya. Mereka menghabiskan waktu sampai lelah datang dan meminta untuk segera beristirahat. Rain menyalurkan perasaannya kepada Ara.

__ADS_1


__ADS_2