Dua Pangeran Satu Cinta

Dua Pangeran Satu Cinta
Ask Your Heart


__ADS_3

Aku benar-benar bahagia sekali. Rindu yang menggebu, memburu setiap helaan napasku, kini terbalaskan. Walaupun tanpa kedatangan Cloud, setidaknya Rain sudah mencukupi untukku. Semoga saja kami selalu bisa untuk terus bersama.


Terima kasih telah datang kepadaku, Rain. Terima kasih atas kesungguhanmu padaku.


Tak dapat kupungkiri jika aku menyayangi Rain. Aku juga takut kehilangannya lagi. Aku ingin selalu bersamanya. Tapi ... masih ada yang mengganjal di hatiku. Semoga saja Tuhan membantuku untuk mendapatkan yang terbaik.


Makan malam...


Ayah memenuhi ucapannya. Dia ingin berbincang lebih lanjut bersama Rain. Kami akhirnya makan malam bersama. Duduk berhadapan di depan meja makan yang berbentuk persegi.


Rain duduk berhadapan dengan ayahku sedang aku berhadapan dengan ibu. Aku duduk di sisi kiri Rain sambil menahan rasa cemas yang hampir saja kutampakkan.


Jujur saja, hatiku dag dig dug bukan main karena malam ini ayah akan berbincang lanjut bersama Rain. Aku khawatir, cemas dan juga gundah gulana. Entahlah, rasanya campur-campur seperti semua ada di sini.


"Ambilkan Nak Rain nasi, Ara."


Ayah memintaku mengambilkan nasi untuk Rain. Sontak saja hal itu membuat Rain tersenyum penuh kemenangan. Dia merasa ayah sudah memberi lampu hijau kepadanya.


"Silakan disantap, Nak Rain."


Ibuku pun tak mau kalah. Ibu dengan semringah menawarkan Rain untuk bersantap malam bersama. Kebetulan besok ayah dan ibu ingin mengunjungi rumah saudara di luar kota. Mungkin karena hal itulah mengapa ayah ingin melanjutkan perbincangannya.


"Ini, Rain."


Kuberikan seporsi nasi kepada Rain yang tampak menjaga wibawanya di depan ayah dan ibuku. Kulihat selintas Adit mengintip dari balik dinding kamar ibu. Dia tampak menahan tawanya kala melihat wajahku yang begitu kaku.


Adik kurang ajar!


Aku sebal melihat Adit seperti mengejekku. Ingin rasanya aku berlari dan mendekatinya lalu menjewer telinganya lagi.


"Nak Rain sudah berapa lama kenal dengan Ara?"


Ayah memulai percakapannya. Jantungku seketika berpacu cepat mendengar kata per kata yang ayah lontarkan kepada Rain. Kuteguk air minumku untuk meredakan kecemasan ini.


"Rain kenal Ara sejak Kak Cloud datang bersamanya, Yah," jawab Rain singkat.


"Nak Rain sendiri kerja di mana?" tanya ayahku sambil meneguk air putihnya.


"Rain bekerja menjaga keamanan negeri, Yah."


"Oh, tentara?"


"Iya. Tapi Rain sebagai panglima militernya."


Mendengar hal itu, ayahku terbatuk-batuk. Ibupun segera menuangkan air minum untuk ayah. Aku tidak tahu kenapa ayah bisa begitu. Tapi sepertinya ayah kaget saat mendengar jabatan yang Rain pegang.


"Sudah lama menjadi panglima militer?" Ayah masih saja terus bertanya.


"Baru tiga bulan, Yah."


"Oh, baru diangkat, ya?"


"Iya."


Rain juga tampak kikuk saat ayahku menanyakan pekerjaannya. Aku jadi tidak enak sendiri kepada Rain.


"Yah, kita makan dulu, yuk. Nanti sehabis makan saja dilanjutkan perbincangannya," kataku.

__ADS_1


"Iya, Yah. Nanti Ayah tersedak lagi," sambung ibuku.


Huft, untung ibu berpihak padaku.


"Ya, baiklah. Mari dimakan, Nak Rain. Jangan sungkan. Ini Ara yang memasak semuanya. Putri Ayah yang satu ini sangat pintar memasak."


Ayah memujiku?!


Kutelan besar-besar brokoli tumis ini saat mendengar ayah memujiku. Tak biasanya ayah bersikap seperti itu. Kuintip Rain dari ujung ekor mataku dan kulihat dia tersenyum manis penuh kemenangan.


Sepertinya Ayah sudah kepincut pria menyebalkan ini, gerutuku dalam hati.


Kami lalu meneruskan makan malam bersama hingga merasa kenyang. Setelahnya, aku segera merapikan meja makan bersama ibu.


"Biar Ara saja yang mencuci piringnya, Bu."


Kubiarkan Ibu beristirahat di ruang TV, sedang aku segera mencuci piring bekas makan malam kami. Kulihat Rain bersama Ayah pergi ke teras belakang rumah. Sepertinya mereka melanjutkan perbincangan di sana. Sedang aku, kuselesaikan dulu pekerjaan ini.


Beberapa menit kemudian...


"Selesai."


Kuletakkan piring terakhir ke raknya lalu kulap tanganku dengan kain serbet. Tak terasa, sudah pukul delapan malam.


"Dit!" Aku lalu memanggil adikku.


"Adit!"


Dua kali aku memanggil, tapi tak kunjung ada jawaban. Aku lalu menghampirinya yang berada di kamar ibu.


Ternyata adik lakiku ini sudah terlelap bersama si bungsu. Tak biasanya Adit tidur secepat ini. Mungkin karena besok dia ingin ikut ayah ke rumah saudara yang berada di luar kota.


"Ara." Suara ibu menegurku dari belakang.


"Ya, Bu?"


"Sini!"


Suara ibu pelan sekali, seperti berbisik. Akupun segera memenuhi panggilan ibu. Kudekati lalu mengikutinya menuju balik pintu belakang rumah.


"I-ini?"


"Sst! Dengar dan lihatlah!"


Ibu menyuruhku untuk mendengar perbincangan Rain bersama ayah. Kulihat dari balik pintu, Rain duduk di sebelah kanan ayah sambil terus berbicara.


"Jadi kau berniat serius?"


"Iya, Yah. Rain berniat serius dengan anak Ayah."


Ap-apa?!


Aku tersentak, kaget dan juga terkejut. Sama saja sih sebenarnya. Intinya aku tidak percaya dengan yang kudengar ini.


"Kau sudah punya rencana untuk ke depannya?"


Rain mengangguk. "Rain menunggu keputusan Ara."

__ADS_1


Kulihat ayah terdiam sejenak sambil menyeruput kopinya. Sedang Rain, duduk sopan sambil sedikit membungkuk di atas kursi bambu. Kedua tangannya digabungkan seakan cemas menunggu sesuatu.


"Ara adalah calon penerus Ayah, Nak Rain. Dia masih mempunyai dua adik yang harus diperjuangkan. Ayah khawatir selepas menjadi istri, dia tidak dapat meneruskan pengabdiannya kepada keluarga."


"Rain siap menanggung kebutuhan Adit dan Anggi sampai lepas kuliah, Yah. Ayah jangan khawatir. Hambatannya saat ini bukan itu, tapi ...,"


"Tapi apa, Nak Rain?" Ayah sangat antusias terhadap Rain.


"Selepas dari sini, Rain harus segera pergi berperang. Rain khawatir jika tidak dapat kembali."


"Nak ...."


Ayah menepuk pundak kiri Rain, dia seperti mengerti permasalahan yang sedang melanda kami.


"Jika kalian memang jodoh, maka akan dipertemukan kembali. Dan jika kau benar-benar serius kepada anak Ayah, maka kembalilah."


"Ayah ...."


Kulihat genangan air mata di mata biru gelapnya. Rain sepertinya terharu dengan ucapan ayahku. Dia lalu memeluk ayahku tanpa ragu.


"Terima kasih, Yah. Rain akan kembali untuk Ara."


"Bagus, Nak. Teruslah berjuang!"


Ayah memberikan semangat sambil menepuk punggung Rain.


"Ayah." Rain lalu melepaskan pelukannya.


"Ini, Yah. Ini sebagai tanda keseriusan Rain kepada Ara."


Ap-apa itu?!


Kulihat Rain memberikan sebuah kotak kecil berwarna hitam kepada ayahku. Aku jadi kepo sendiri ingin tahu apa isinya.


"Baiklah, Ayah terima. Terima kasih, Rain."


Tanpa menolak, ayah segera menerima pemberian dari Rain yang entah apa itu. Mereka lalu melanjutkan obrolan tentangku.


"I-ibu ...."


Aku berbalik menghadap ibuku. Ibu tampak tersenyum-senyum sendiri. Dia lalu mendekatiku.


"Yang serius, yang bicara langsung kepada Ayah. Sekarang sudah tahu siapa orangnya, kan?" tanya ibuku.


"Tap-tapi, Bu—"


"Ibu tidak masalah kau dengan Nak Rain ataupun Nak Cloud. Asal kau bahagia. Sekarang, Ibu dan Ayah sudah tenang karena sudah mempunyai calon mantu."


"Ibu—"


"Ara anak Ibu yang cantik ... jujurlah pada hatimu sendiri. Sudah, ya. Ibu mau tidur. Besok harus berangkat pagi agar cepat pulang."


"Tap-tapi, gimana Ara, Bu—"


"Tanya hatimu, Sayang."


Ibu lalu masuk ke dalam kamar. Ibu tidur bersama Anggi dan Adit. Tak lama, Ayah pun sudah tiba di belakangku.

__ADS_1


__ADS_2