Dua Pangeran Satu Cinta

Dua Pangeran Satu Cinta
Special Someone


__ADS_3

"Baiklah, kalau begitu aku akan menemani," lanjut Rain.


"Hei, aku mau kembali ke kamar dan beristirahat sebentar," cegahku.


"Tak apa, aku temani kau beristirahat."


"Tidak, Rain."


"Tidak, Ara."


"Rain!"


Rain menarikku menuju kamarku sendiri. Perjalanan kami menjadi pusat perhatian para penghuni istana. Aku masih sibuk mendekap berkas dengan tangan kiriku sedang tangan kananku dipegang olehnya. Sehingga aku tidak dapat melawan kehendak putra mahkota ini.


Sesampainya di kamar...


"Sekarang tidurlah. Aku temani."


"Rain, aku masih harus bekerja."


"Tidak, kau istirahat dulu. Aku menunggunya di kursi. Nanti pelayan akan mengantarkan obat dari tabib."


"Bagaimana jika Cloud datang dan melihat kita berdua di kamar seperti ini?"


Rain pun terdiam. Sepertinya nama Cloud bisa kupakai untuk mengusirnya dari kamar.


"Aku akan mengatakan sejujurnya jika kau sedang sakit. Sudah! Jangan dipikirkan. Tidurlah. Nanti jika kau sudah tidur, aku akan pergi."


Rain membaringkan tubuhku. Diselimutinya aku. Diambilnya berkasku lalu dimasukkan ke dalam laci meja, dekat kasur. Dia mengusap kepalaku lalu memberikan sebuah kecupan di kening. Aku begitu dimanjakan olehnya.


"Selamat tidur, calon istriku."


Rain tersenyum lalu berjalan menjauh. Dia duduk di kursi yang berada di dekat pintu masuk kamar. Hatiku sungguh nyaman dan juga terkejut dengan ucapannya. Sepertinya Rain sangat serius denganku.


Aku kemudian tidur membelakanginya, membayangkan jika benar aku menjadi istrinya. Mungkinkah aku akan sering marah karena kelakuannya? Atau malah tidak dapat berkata apa-apa karena bahagia? Entahlah, membayangkannya saja sudah membuatku senang apalagi jika hal itu benar-benar terjadi.


...


Entah berapa lama aku tertidur. Saat kubangun, kurasakan keningku dikompres menggunakan kain. Aku mengambil kainnya lalu berjalan menuju kursi. Kulihat sudah tersedia banyak makanan dan juga obat untuk kuminum.


Aku segera menyantapnya lalu meminum obat yang diberikan. Kini perutku terasa kenyang. Tak lama, Cloud datang mengetuk pintu lalu masuk ke dalam kamarku.


"Pangeran Cloud."


Aku segera berdiri lalu membungkukkan badanku ke arahnya.


"Ara, jangan terlalu formal denganku," katanya.


"Maaf, sepertinya aku sudah terbiasa dengan istana ini."


Cloud tersenyum mendengar jawabanku. Dia kemudian duduk di sisi kananku, lalu mengusap keningku.


"Ara, maafkan aku yang terlalu sibuk dengan pekerjaan hingga lupa denganmu."


Cloud menyadari kesalahannya. Aku cukup senang mendengar hal ini. Kupikir aku sudah tidak lagi diperhatikan olehnya.

__ADS_1


"Rain bilang padaku bahwa kau sakit. Aku merasa bersalah padamu," lanjut Cloud.


"Cloud, aku tidak apa-apa. Jangan khawatir."


Kulepaskan rasa cemas dari dirinya lalu meminum air hangat lagi. Kuhabiskan air itu karena tenggorokanku terasa sangat kering sekali.


"Kau bisa menunda pekerjaanmu, Ara."


Cloud sepertinya benar-benar khawatir. Dari nada bicaranya tersirat jika dia begitu mencemaskan keadaanku.


"Aku baik-baik saja, Cloud. Sebentar lagi aku pulih. Jangan khawatir." Aku memberi senyum terbaikku padanya.


"Ara ...."


Cloud meremas tanganku lalu meletakkan di dadanya. Mungkin dia ingin aku dapat merasakan detak jantungnya.


"Ara, aku berharap kau tidak berniat untuk meninggalkanku."


"Cloud?"


"Ada rasa cemas yang menyelimuti hatiku saat melihat kau bersama Rain semalam." Cloud akhirnya mengungkapkan isi hatinya. "Harus kuakui jika aku—"


Belum sempat Cloud meneruskan kata-katanya, Rain datang mengetuk pintu lalu masuk ke dalam kamar. Segera saja kulepas tanganku dari pegangan Cloud.


"Kau sudah di sini rupanya, Kak Cloud."


Rain mendekati kami sambil menyapa kakaknya. Cloud pun mengalihkan pandangannya kepada Rain.


"Rain, kau harus bertanggung jawab. Ara sakit karena ulahmu."


Aku memperhatikan percakapan kakak-beradik yang ada di hadapanku ini. Ternyata saat jauh dari pandangan para penghuni istana, mereka bisa lebih akrab dan santai kala bicara. Tidak formal seperti biasanya.


"Ara, kau sudah merasa lebih baik?" Rain mengalihkan pandangannya padaku.


"He-em." Aku mengangguk.


"Kak Cloud, sebaiknya segera meninggalkan tempat ini. Beberapa tamu sudah menunggumu. Cepat pergi sana!" Rain mengusir kakaknya.


"Tolong jaga, Ara," pesan Cloud sebelum pergi.


"Tenang saja. Negeri ini pun kujaga sepenuh hati apalagi hanya Ara yang seorang."


Aku tertawa kecil mendengar kata-kata Rain bersamaan dengan kulihat Cloud beranjak pergi dan meninggalkan satu map untuk kubaca.


"Kalian ternyata lucu."


Aku tertawa, membuat Rain membangunkanku.


"Kau bilang apa, Nona? Kami lucu?" tanya Rain, lalu menarikku ke dalam dekapannya.


"Rain, aku masih belum pulih benar," kataku, mencoba menahan dekapannya.


"Kau ingin cepat pulih, bukan?" tanyanya lagi.


"Iya."

__ADS_1


"Kalau begitu kita harus membuat keringat mengalir deras dari dalam tubuh."


"Maksudmu?" Aku mulai ragu.


"Kita akan berkeringat bersama, Ara. Kau mau, kan?"


"Rain, lepaskan aku. Kau ini mesum!"


Aku berusaha melepaskan diri dari dekapannya, namun tenaga Rain sungguh tidak dapat kulawan. Berulang kali mencoba bergerak, aku selalu terkunci.


"Aku memang mesum, Ara. Kalau tidak mesum, bagaimana bisa memberikan penerus untuk kerajaan ini?" belanya.


"Tapi kau harus tetap dapat menempatkan diri, Rain."


"Aku tahu, Ara. Aku berlaku seperti ini hanya di hadapanmu. Kau tahu, kau adalah wanita kedua yang kupeluk setelah ibuku," lanjut Rain.


"Benarkah?" tanyaku tak percaya.


"Apa yang membuatmu tak percaya padaku?"


"Rain, apa kau tidak takut jika semua orang tahu kita terlalu dekat seperti ini?" tanyaku lagi.


"Ara, mati pun aku tidak takut apalagi untuk dekat denganmu. Tolong jangan memancingku. Aku bisa saja meminta kedua orang tuaku untuk melamarmu sekarang." Rain seperti mengancamku.


"Rain, lepaskan!"


"Tidak, sebelum kita berkeringat bersama."


Rain ini sangat menyebalkan. Kemauannya tidak bisa jika tidak dituruti. Aku yang telah lemas melawan, akhirnya pasrah.


"Baiklah."


Aku mulai membuka resleting belakang gaunku. Melihat itu, Rain menutupnya segera.


"Kau mau apa, Ara?" tanyanya heran.


"Tadi katamu mau berkeringat bersama. Maka itu aku membuka gaunku."


"Hahahaha."


Rain tertawa. Dia memegangi perutnya. Aku yang melihatnya jadi bingung sendiri.


"Ara-ara. Kau benar-benar lucu. Berkeringat bersama bukan berarti kita melakukan hal itu. Aku ingin mengajakmu berlatih memanah dan juga bermain pedang. Kau ini." Rain tak henti-hentinya tertawa.


Aku jadi malu sendiri mendengarnya. Aku benci pikiranku ini. Kenapa tidak kucoba untuk berpikir positif tentang semua ajakannya. Aku selalu saja berpikir yang tidak-tidak. Malunya aku.


"Sudah. Sekarang ikut aku ke belakang istana. Aku akan mengajarimu bermain pedang."


Rain membukakan pintu untukku. Dia membungkukkan badannya mempersilakan aku keluar kamar terlebih dahulu.


"Silakan, Nona."


Perlakuan istimewa dari Rain ini membuatku merasa beruntung. Di antara penghuni istana yang lain, hanya akulah yang berhasil mendapatkan perlakukan khusus dari Rain, putra mahkota sekaligus panglima tinggi di negeri ini.


Aku jadi semakin betah tinggal di dunia ini. Rasanya aku ingin berlama-lama di sini. Atau mungkin menetap selamanya.

__ADS_1


__ADS_2