Dua Pangeran Satu Cinta

Dua Pangeran Satu Cinta
Senorita


__ADS_3

Rain mengecup-ngecup leher sang gadis berulang kali. Sensasi daging lembut itu mampu membuat Ara lemas dan tak berdaya. Sang pangeran lalu mengangkat kedua tangan Ara ke atas, ia menghujami sisi dalam lengan sang gadis dengan ciumannya. Perlahan semakin turun ke bawah, hingga sampai ke ketiak sang gadis.


"Rain ... mmmh!"


Terus saja bibir nakal itu menelusuri lekuk tubuhnya, dari ketiak berlanjut ke dada. Menciuminya seraya menekan-nekan lembut sisi atas dada sang gadis.


"Huuhh ...." Rain pun terbawa suasana yang ia buat sendiri.


"Rain, kumohon sudahi." Ara tak sanggup lagi.


"Tidak ingin dilanjutkan?" tanya Rain pelan.


"Rain, nanti kita kelabasan. Aku belum siap."


Gadis itu tampak terengah-engah, napasnya tidak beraturan. Namun, hal itu semakin membuat api di dalam tubuh Rain berkobar.


"Baiklah, aku akan membuatmu siap."


"Rain!"


Rain lantas menarik Ara ke dalam dekapannya. Ia balikkan tubuh sang gadis lalu bersandar di kepala kasur. Ia pun mendudukkan Ara ke atas pangkuannya.


"Aku akan memberikan sentuhan terbaikku untukmu, Ara." Rain menggelora.


"Rain, jangan ...."


Jari-jemarinya mulai menelusuri lengan sang gadis. Rambut panjang gadis itupun disingkapkannya ke depan. Ia lantas menciumi punggung Ara.


"Ah!"


Ara mendesah saat bibir itu meraba dan menciumi punggungnya. Tak ayal Rain semakin bersemangat untuk melanjutkan aksinya itu. Ia lalu menelusuri tengkuk sang gadis, menjulurkan lidahnya lalu mulai menjilat tengkuk leher Ara.


"Rainnn!!"


Ara meremas celana yang Rain pakai. Ia sudah masuk ke dalam perangkap sang pangeran. Kedua tangannya tidak bisa bergerak sama sekali karena dicengkeram kuat oleh Rain. Napasnya memburu bersama detak jantungnya yang menggebu.


"Aku menyerah, Rain. Aku menyerah ...."


Tidak tahu apa lagi yang harus ia lakukan, akhirnya Ara mengibarkan bendera putih kepada Rain. Rain yang sudah dimabuk kepayang tidak ingin melepas Ara begitu saja.


"Berbaliklah menghadapku, Ara," pinta Rain lembut.


Ara tak berdaya, dengan lemas iapun berbalik menghadap Rain. Ia duduk di atas pangkuan sang pangeran.


"Lakukan sesukamu. Beri aku cintamu." Rain meminta.


Ara tak tahu apa yang harus dilakukan saat ini. Ia sudah lemas, tak berdaya menahan gejolak di tubuhnya karena ulah sang pangeran. Ia lantas mengecup bibir Rain. Kecupan berulang yang membangkitkan hasrat keduanya.


Aku milikmu, Ara ....


Kedua tangan Rain memegang pinggul sang gadis. Ia mulai memberikan penekanan-penekanan pada pinggul gadisnya itu. Dan tak ayal, Ara merasakan sesuatu telah mengeras, menyentuh area pribadinya.


"Aahhh!"


Keduanya meracau, Rain semakin liar tak terkendali. Ia mulai menekan-nekan pelan pinggul Ara. Ara pun dimabuk gejolak hasratnya.

__ADS_1


"Nikmat sekali, Ara ...."


Rain semakin mempercepat gerakannya. Ia menarik wajah sang gadis agar tidak berhenti mencumbunya. Ia pun mengeluarkan lidahnya, meminta Ara mempermainkannya.


"Hah, hah, hah."


Tak ada yang tahu apa yang dilakukan oleh keduanya. Gerakan itu semakin dipercepat oleh Rain. Tubuhnya semakin lama semakin menegang. Seluruh otot tubuhnya mengencang.


"Ara, sebentar lagi ...."


Ara sendiri hanya bisa mengikuti permainan ini. Ia masih terus menuruti permintaan Rain, beradu hingga akhirnya tubuh sang pangeran menegang kuat.


"A-ara ... ak-aku ...." Rain semakin mempercepat gerakannya.


"Rain, jangan dilanjutkan." Ara merasakan panas di sekujur tubuhnya.


"Padamkan api di tubuhku, Ara. Padamkan!" Rain semakin tak terkendali.


Ara akhirnya terlena dengan permainan sang pangeran. Tubuhnya ikut menegang saat merasakan sensasi itu.


"Ar-ara ... aku ... Aaaaghhh!"


Tubuh Rain berkedut kuat, memberikan sensasi tiada tara untuk sang gadis. Sang pangeran akhirnya melepaskan hasratnya malam ini. Ara pun tampak lemas karena telah mengikuti permainannya.


"Sayang." Rain lalu menatap gadisnya.


"Sudah, Rain. Aku tak sanggup lagi," kata Ara pelan.


"Kau belum, bukan?" tanya Rain kepada gadisnya.


"Yang benar?" tanya Rain lagi.


"Iya. Saat kau menggetarkan tubuhku. Kau pikir tubuhku tidak bereaksi?" Ara menatap Rain dengan lemas.


Mendengarnya, Rain merasa senang. Ia lantas mencium kembali gadisnya itu.


"Aku mencintaimu, Ara. Sangat mencintaimu. Miliki aku sepenuhnya. Aku serahkan semuanya padamu. Jangan tinggalkan aku."


Rain meminta seraya memeluk erat tubuh Ara.


"Kau masih bisa berkata seperti itu setelah apa yang kita lakukan?" tanya Ara lalu menggigit leher Rain.


"Aw! Sakit, Sayang." Rain pun memegang lehernya yang digigit.


"Sekarang aku harus mandi dan mengganti gaunku. Ini semua karena ulahmu!" Ara pun beranjak bangun.


"Aku ikut."


"Aku mandi di atas, kau di sini saja."


"Kau tidak ingin ditemani?" tanya Rain menggodanya.


Dia ini masih belum puas juga.


"Kau kan masih ada tugas. Cepat pergi mandi dan kembali ke ruang utama!" seru Ara.

__ADS_1


"Baiklah." Rain menuruti gadisnya itu.


Sepintas Ara melihat perut sang pangeran, dan ia melihat sesuatu tengah menempel pada perut itu. Ara pun terkejut sendiri melihatnya.


"Astaga!" Ara terperanjat.


"Ara?"


"Rain, itu!"


Ara menunjuk perut Rain. Rain pun melihatnya.


"Haha, ya beginilah. Banyak sekali, ya." Rain kemudian mengambil tisu dari atas lemari.


Celananya sampai basah. Berarti tadi ...? Ara tak habis pikir.


"Ya, sudah aku ke atas dulu." Ara bergegas meninggalkan Rain.


Astaga, apa yang telah aku lakukan? Kami melakukannya? Ah, tidak. Aku masih mengenakan gaunku, Rain juga masih mengenakan celananya.


Sebagai manusia biasa, Ara tidak dapat menguasai dirinya kala berhadapan dengan Rain. Terlebih Rain sangat ahli memainkan perannya. Ara hanya bisa pasrah saat sang pangeran melancarkan aksinya. Karena ia pun tak berdaya jika ingin melawannya.


Satu jam kemudian...


Ara sedang makan di kediaman Rain. Ia tampaknya kelaparan. Habis betugas langsung diterjang sang putra mahkota. Ia tidak lagi menghiraukan kalori yang masuk, ia menyantap hidangan apa saja yang tersedia di atas meja makan.


"Ini semua karena ulah Rain."


Ara kesal, tapi ia juga tidak dapat melakukan perlawanan di hadapan sang pangeran. Ditelannya bulat-bulat rendang sapi itu, ia kunyah sambil menggerutu karena kejadian tadi.


Sementara di ruang utama, Cloud tampak mencari Ara. Ia tidak juga menemukan sang gadis.


"Sebentar lagi pertunjukan busana akan segera dimulai. Tapi di mana dia?"


Cloud mencari Ara. Ia menuruni anak tangga menuju lantai satu dan melihat Rain sedang mengobrol bersama Star.


Dia tidak bersama Rain?


Cloud lantas meneruskan langkah kakinya menuju ruang ganti, sementara acara terus saja berlangsung. Kini para pangeran dan putri sedang mengungkapkan kesan dan pesannya untuk kerajaan Angkasa.


Cloud tidak menghiraukan acara, ia terus mencari Ara. Namun, di ruang ganti pun sang gadis tidak ada.


Astaga, Ara. Kau di mana? Jangan buat aku cemas.


Karena tidak juga menemukan sang gadis, Cloud beranjak ke barat istana. Ia ingin ke kediaman Rain. Dan benar saja, ternyata sang gadis sedang duduk menyantap hidangan.


"Ara."


Ara pun menoleh. "Cloud?"


"Aku mencarimu. Ternyata kau di sini." Cloud bergegas mendekati Ara.


"Ah, iya. Maaf aku tidak pamit, aku lapar sekali." Ara terus menyantap makannya.


"Kau habis mandi?" tanya Cloud kemudian.

__ADS_1


Tiba-tiba Ara tersentak saat Cloud menanyakannya seperti itu. Jantungnya berdegup kencang, ia gugup untuk menjawabnya.


__ADS_2