
"Mbok, bisakah kita melihat yang terjadi?" tanyaku kepada Mbok Asri.
"Saya kurang tahu, Non. Tapi sepertinya bisa jika mendapatkan izin dari pangeran Cloud."
"Begitu, ya?"
Seketika aku merasa tidak enak hati kala harus meminta izin kepada Cloud untuk keluar istana. Aku baru saja mengecewakannya. Namun, aku juga ingin melihat langsung apa yang terjadi di ibu kota.
"Baiklah, Mbok. Terima kasih."
Kusudahi pembicaraan bersama mbok Asri, lalu segera meneruskan pekerjaanku sampai dengan selesai. Hari ini lebih baik di dalam kamar saja agar tidak terganggu dengan aktivitas lainnya. Aku pasti mampu menyelesaikan tujuh rancangan busana hari ini.
Semangat!!
Sementara itu di ruangan raja...
Sky menerima laporan dari penduduk mengenai wabah ini. Ia segera mengutus Rain untuk melihat kondisi yang terjadi. Rapat dadakan dilakukan bersama para menteri dan putra sulungnya, Cloud. Ia segera menindaklanjuti apa yang tengah terjadi di ibukota.
Di dalam ruangannya, Sky tampak berpikir keras mengenai masalah ini. Cloud lalu mengajukan pendapatnya kepada sang ayah. Dan para menteri tampak setuju dengan pendapat Cloud tersebut.
Hari ini pihak istana disibukkan dengan investigasi mengenai wabah penyakit yang menyerang penduduk ibu kota. Sontak saja hal itu membuat perputaran roda ekonomi terhenti sejenak.
Kini wabah telah menyebar ke seluruh ibu kota kerajaan Angkasa. Beberapa prajurit pun dikerahkan untuk membantu terlaksananya pengobatan masal yang dilakukan atas saran dari Cloud. Cloud menyarankan untuk memberi pertolongan pertama kepada para penduduk dengan mengerahkan tabib istana untuk turun langsung. Namun ternyata, Angkasa kekurangan tenaga medis untuk mengobati seluruh penduduk ibu kota.
Menjelang petang...
Kini Cloud sedang menerima laporan dari Menteri Dalam Negeri di ruangannya itu.
"Pangeran Cloud, para penduduk masih mengantri panjang. Sedang para tabib istana sudah tampak kelelahan." Count menuturkan kepadanya.
Cloud tampak berpikir keras untuk hal ini. Hari sudah menjelang petang, namun pengobatan belum selesai dilakukan.
"Bisakah kita mengumpulkan para tabib dari luar ibu kota?" tanya Cloud kepada menterinya.
"Maaf, Pangeran Cloud. Pangeran Rain memblokir semua jalan masuk ke ibu kota. Untuk sementara waktu, ibu kota ditutup dari berbagai macam aktivitas sampai wabah ini selesai."
"Mengapa Rain melakukan hal itu?" tanya Cloud yang heran.
"Pangeran Rain tidak ingin wabah ini semakin menyebar. Sehingga kita bisa fokus untuk mengobati para penduduk yang ada di ibu kota saja."
Cloud mengerti cara berpikir adiknya itu. Ia lalu bergegas menemui Ara untuk membicarakan hal ini.
"Baiklah. Aku akan mencari jalan lain agar pertolongan pertama bisa dilakukan ke seluruh penduduk ibu kota."
Cloud bergegas menemui Ara. Ia ingin meminta pendapat gadis itu. Karena Cloud tahu jika Ara adalah orang pertama yang mengetahui wabah ini.
Sesampainya di kamar Ara...
"Ara."
__ADS_1
Terdengar suara ketukan pintu dari luar, namun aku masih mengenakan pakaian.
"Ara, buka pintunya!" teriak dari luar.
"Sepertinya itu suara Cloud."
Segera saja aku bergegas mengenakan pakaian dengan rambut yang belum sempat tersisir. Aku baru saja mandi setelah menyelesaikan lima rancangan busana kebayaku.
"Tunggu!" kataku seraya berjalan menuju pintu.
Kubuka pintu kamar dan kulihat Cloud datang dengan wajah bertekuk.
"Cloud, ada apa? Mengapa wajahmu tampak kusut seperti itu?"
Seharian aku memang berada di dalam kamar untuk menyelesaikan rancangan busana kebayaku. Jadi aku tidak tahu apa yang terjadi di istana selama itu.
"Ara, kita perlu bicara."
"Em, tentang?"
"Tentang hal yang kau temui di ibu kota waktu itu."
Aku pikir Cloud akan membicarakan hubungan kami. Tapi ternyata, dia ingin membahas tentang penyakit yang kutemui waktu itu.
"Masuklah, Cloud."
Aku memintanya masuk. Ia lalu duduk di kursi tamuku.
Cloud menungguku. Dia tidak banyak bicara. Aku semakin merasa bersalah dan juga khawatir kalau rasa sayangnya hilang.
Semoga saja hal itu tidak terjadi.
Aku mengenakan make-up minimalis dan parfum yang lebih banyak agar Cloud tidak lari dariku. Ya, bagaimana pun senjata wanita adalah make-up dan parfum.
"Cloud, ada apa?"
Aku lalu menemuinya dengan penampilan yang menarik. Namun nyatanya, Cloud tetap saja bersikap dingin kepadaku. Dia hanya berbicara seperlunya.
"Ini mengenai wabah penyakit, Ara. Penduduk ibu kota tengah terkena wabah seperti yang kau lihat waktu itu."
"Lalu?"
"Aku membutuhkanmu untuk memberi solusi. Karena para tabib istana sudah kewalahan melakukan pertolongan pertama. Sedang akses masuk ke ibu kota sudah diblokir oleh Rain."
Aku sedikit lega mendengar kabar ini karena kedua putra mahkota bekerja sama menuntaskan masalah. Memang benar kata ibu, semua musibah pasti ada hikmahnya. Dan kini hikmah itu aku rasakan sendiri.
"Baiklah, lalu apa yang harus aku lakukan?" tanyaku.
"Kau bisa membantu mengobati para penduduk?"
__ADS_1
"Hah? Apa?!" Aku terkejut dengan pertanyaan Cloud.
"Maksudku bisa membantu memberikan pertolongan pertama?" tanya Cloud lagi.
"Tentu bisa, Cloud. Tapi masih ada dua rancangan yang harus kuselesaikan. Apakah harus malam ini?" tanyaku serius.
"Sebaiknya kita turun langsung untuk membantu, Ara. Rancangan itu bisa dikerjakan nanti. Aku juga tidak terlalu terburu-buru."
"Em, baiklah. Aku ikut denganmu."
Beberapa menit kemudian...
Aku dan Cloud bergegas ke balai kota untuk melihat penduduk yang sedang mendapatkan pertolongan pertama. Kami menaiki kereta kuda bersama.
Kurasakan hawa aneh menyelimuti saat keluar dari istana. Apa mungkin karena sudah menjelang malam? Aku pun belum dapat memastikannya.
Sepanjang perjalanan, di dalam kereta aku dan Cloud berdiam diri. Kami tidak bicara sepatah kata pun. Aku merasa keadaan ini begitu mengganggu ketentraman hatiku.
Sesampainya di ibu kota pun, Cloud turun sendiri dari kereta kuda dan tidak membantuku untuk turun. Dia bersikap dingin kepadaku.
Cloud, apakah kesalahan yang kubuat terlalu besar di matamu?
Aku mencoba menormalkan suasana hati yang mulai gundah-gulana. Kini di hadapanku banyak orang yang meminta pertolongan. Aku harus dapat menyingkirkan perasaan itu dulu dari hatiku.
"Ara?"
Rain tampak terkejut dengan kedatanganku. Dia segera menghampiriku yang baru saja sampai di balai kota.
"Rain, kau di sini?" tanyaku.
"Iya, sejak siang aku sudah berada di sini. Maaf tidak sempat mengabarimu," katanya.
"Em, tidak apa-apa. Kau sudah makan?" tanyaku padanya.
"Aku belum bisa makan sebelum semua penduduk mendapat pengobatan, Ara."
"Rain, nanti kau sakit." Aku mencemaskannya.
Tiba-tiba Cloud datang menghampiri kami. Dia memintaku untuk segera masuk ke balai kota.
"Kak, kenapa kau ajak Ara kemari. Bagaimana jika dia tertular wabah ini?"
Aku terkejut saat mendengar Rain menyapa Cloud. Aku pikir mereka berdiaman. Tapi syukurlah, ternyata itu hanya perasaanku saja.
"Ara yang pertama mengetahui wabah ini. Jadi aku meminta tolong padanya." Cloud menjawab singkat.
"Baiklah. Tapi jika terjadi sesuatu pada Ara, aku akan meminta pertanggungjawabanmu." Rain berkata tegas.
"Rain, aku tidak apa-apa."
__ADS_1
Suasana seketika mencekam saat Rain memberi penekanan terhadap kata-katanya itu. Tersirat raut kesal pada wajah Rain saat berbicara kepada kakaknya. Cloud pun tampak memandang Rain dengan tatapan dingin.