
Sayang...
Jangan engkau berpura-pura menyesalinya.
Aku tahu kau tidak menyesalinya.
Kau tahu kau punya kekuatan untuk meluluhkan hatiku.
Sayang, kau meninggalkanku saat terengah-engah.
Namun, tak mengapa karena kau adalah hidupku.
Sekarang dengarkan perkataanku...
Aku tidak bisa membayangkan hidup ini tanpa cintamu.
Meskipun selamanya tidak akan seperti dulu lagi.
Karena setiap kali aku bernapas, aku mengingatmu.
Dan jantungku kembali berdetak.
Sayang, aku tak mampu menuntun hatiku.
Kau membuatku tenggelam dalam cintamu.
Setiap kali kucoba untuk meraih kebebasan, aku terhempas oleh gelombang cinta.
Sayang, aku tak mampu menuntun hatiku.
Kau membuatku tenggelam dalam cintamu.
Mungkin aku orang yang terdampar saat tengah malam karena hidupku tidak nyaman.
Yang terhempas bebas dari dekapanmu.
Aku tidak butuh kekasih yang lain.
Itu bukanlah untukku.
Karena hanya kaulah yang bisa menyelamatkanku.
Oh, bisakah kau mengerti?
Teruskanlah dan tenggelamkan aku.
Selimuti aku dengan mimpi.
Cintailah aku selamanya.
Kau tahu aku tidak mampu menolak.
Karena kau adalah udara yang selalu aku hirup.
Setiap saat aku bernapas, aku merasakanmu.
Dan hatiku kembali berdetak.
Sayang, aku tak bisa menuntun hatiku.
Kau membuatku tenggelam dalam cintamu.
Tetaplah tenggelamkan aku.
Aku tetap tenggelam dalam cintamu.
Sayang, aku tidak bisa menuntun hatiku.
__ADS_1
Tidak bisa menuntun, tidak dan tidak...
...
Bayangan sang gadis terlintas di benaknya. Cloud menatap gazebo istana yang disinari lampu taman dengan perasaan yang amat sedih. Kini ia telah kehilangan gadisnya, kehilangan cintanya. Ia merasa telah sia-sia berjuang, merasa hidupnya tak berarti.
Musim semi kali ini adalah musim yang paling tidak disukainya. Setelah berusaha untuk terus berjuang dan bertahan, akhirnya ia harus kehilangan kembali. Cloud benar-benar terpuruk. Ia tidak mempunyai semangat lagi.
Waktu itu di gazebo istana...
"Cloud."
"Hm?"
"Aku ada sesuatu untukmu."
"Untukku?"
Ara mengeluarkan sesuatu dari saku kecil gaunnya. Ia ingin memberikan sesuatu kepada Cloud.
"Apa ini, Ara?" Cloud menerima sesuatu itu.
"Bukalah," pinta Ara seraya tersenyum.
Keduanya baru saja selesai makan siang bersama. Cloud tampak penasaran dengan isi dari kantong biru tersebut.
"Kalung?" Ia melihat kalung bergantung awan.
"He-em. Kau suka?" tanya Ara lembut.
"Ara, kau tidak perlu repot-repot seperti ini." Cloud merasa terharu.
"Tidak repot, kok. Selama ini kau banyak memberiku sesuatu, tapi aku belum pernah memberi apapun. Jadi, anggap saja ini hadiah dariku."
"Ara ...."
Cloud terharu, ia lantas memeluk Ara dengan pelukan bahagia. Ara pun membalas pelukannya.
Ara lalu memakaikan kalung itu ke leher Cloud. Kalung tipis yang terbuat dari perak.
"Lumayan cocok." Ara terkekeh sendiri melihatnya.
"Ara? Apa ini lucu?" tanya Cloud yang penasaran.
"Tidak-tidak. Pakai saja tapi jangan diperlihatkan seperti aku. Masukan ke dalam jubahmu, ya."
Ara lalu membantu memasukkan kalung itu ke dalam jubah Cloud agar tidak terlihat orang. Ia tampak senang karena bisa memberikan hadiah kepada sang pangeran sulung kerajaan ini.
...
"Ara ... kau di mana?"
Cloud bersedih saat kenangan itu terngiang di benaknya. Ia lantas memegang kalung pemberian dari sang gadis yang masih melingkar di lehernya.
"Pangeran Cloud."
Bersamaan dengan itu, Menteri Luar Negeri datang menghadapnya. Cloud pun segera menyembunyikan kesedihannya.
"Tuan Shane, apa sudah ada kabar?" tanya Cloud segera.
"Maafkan kami, Pangeran Cloud. Kami belum bisa memberikan kabar untuk saat ini, tapi kami sudah mengirimkan surat kepada negeri terdekat mengenai hal ini." Shane menjelaskan.
"Baiklah, terima kasih." Cloud terlihat murung setelah mendengar kabar ini.
"Pangeran Cloud, Anda jangan khawatir. Saya rasa nona Ara baik-baik saja." Shane berusaha menenangkan.
"Terima kasih, Tuan Shane." Cloud tersenyum tipis.
__ADS_1
"Baiklah. Saya permisi, Pangeran." Shane lantas undur diri dari hadapan Cloud.
"Tuan Shane!"
"Ya, Pangeran?"
Sebelum menteri itu benar-benar pergi dari ruangannya, Cloud memanggil. Sang menteri pun menghentikan langkah kakinya lalu kembali menghadap Cloud.
"Menurutmu apakah Ara masih berada di sekitar negeri ini?" tanya Cloud kepada menteri itu.
"Mohon maaf, Pangeran. Saya tidak bisa memastikannya. Tapi menurut saya pribadi, nona Ara belum jauh dari perbatasan negeri jika ia memang diculik." Shane menuturkan.
"Begitu ... baiklah, aku rasa cukup." Cloud menyudahi pembicaraannya.
Menteri itu lalu berpamitan, dan kini tinggal Cloud sendiri di ruang kerjanya. Ia kemudian duduk di atas sofa sambil mengusap kepalanya, dari arah depan ke belakang.
Ara ... aku harap kau baik-baik saja. Aku tidak ingin mendengar hal yang tidak-tidak tentangmu. Cepatlah kembali ....
Cloud meminta para menterinya untuk mengurus masalah ini. Namun, belum ada kabar yang jelas. Dan tiba-tiba saja ia teringat sesuatu.
"Mbok Asri bilang jika ratu yang menyuruh kamarku untuk dikosongkan." Cloud teringat perkataan gadisnya.
"Astaga. Kenapa aku tidak berpikir untuk menanyakan hal ini kepada ibu?"
Cloud teringat dengan kabar yang Ara ceritakan waktu itu. Lantas saja ia bergegas keluar ruangan lalu menuju lantai tiga istana. Ia ingin menemui ibunya.
Langkah kakinya terdengar begitu cepat. Di jam malam seperti ini para penghuni istana tampak belum beristirahat karena turut berduka atas kabar ini. Mereka prihatin dengan hilangnya Ara dari istana.
Aku harus menanyakan hal ini kepada ibu.
Cloud terus melangkahkan kakinya. Hingga akhirnya ia tiba di teras depan lantai tiga istana. Ia melihat sang ibu sedang menatap halaman seorang diri.
"Ibu."
Cloud menyapa ibunya. Moon pun segera menyadari kehadiran putranya itu.
"Ada apa kau mencari Ibu?" tanya Moon datar.
"Ibu, aku ingin menanyakan perihal ini kepadamu," tutur Cloud.
"Maksudmu?" Moon berbalik ke arah putranya.
"Ibu, aku tahu jika Ibu kurang menyukai Ara. Apakah Ibu telah melakukan sesuatu padanya hingga dia pergi dari istana ini?" tanya Cloud berterus terang.
"Jadi kau mencurigai Ibu, Cloud?" Moon balik bertanya.
"Maafkan aku, Bu. Di istana ini hanya Ibu yang tidak menyukainya. Apa aku salah menanyakan hal ini?" Cloud meminta pengakuan.
"Hah! Aku heran pada putraku. Kini dia telah berani mencurigai ibunya sendiri karena gadis itu." Moon tampak kesal.
"Ibu, aku tidak mencurigai, aku hanya bertanya. Mengapa Ibu punya pikiran seperti itu?" Cloud mulai menyelidiki.
Pembicaraan keduanya tanpa sengaja dilihat oleh Rain. Rain lantas bersembunyi di balik dinding untuk mendengar pembicaraan itu. Karena tak biasanya sang kakak berbicara semalam ini bersama ibunya.
Ada apa dengan Ibu dan Kak Cloud? Apa ada kaitannya dengan Ara? Rain bertanya sendiri.
Rain terus bersembunyi sambil mendengarkan percakapan sang kakak dan ibunya. Dan sontak saja ia terkejut saat Cloud berterus terang dengan apa yang ditanyakan.
"Bukankah Ibu yang meminta prajurit untuk mengosongkan kamarnya? Sehingga Ara tidak mempunyai kamar lagi." Cloud mendesak Moon.
Perkataan Cloud itu tentu saja membuat Rain terkejut. Ia tidak menyangka jika ibunya sendiri yang telah berbuat demikian kepada Ara.
Astaga, jadi ini yang dimaksud ayah waktu itu? Ibu tidak menyukai Ara?
Rain mencoba mengaitkan hal ini dengan kejadian yang menimpa gadisnya. Ia lalu berspekulasi jika sang ibu ada kaitannya dengan hilangnya Ara dari istana.
"Ara tidak tahu jalan, Bu. Dia baru di tempat ini. Tidak mungkin jika dia pergi sendiri dari istana. Itu sangat mustahil!" Cloud menolak perkataan ibunya.
__ADS_1
"Cloud, kau terus mendesak Ibu untuk mengakui jika Ibu yang menyuruhnya pergi. Kau pikir seberapa penting dia sampai Ibu harus turun tangan?" Moon bersikeras, tidak mengakui.
Percakapan itu lantas saja membuat Rain berpikiran lain. Ia segera keluar dari persembunyiannya dan menampakkan diri di hadapan keduanya. Moon pun terkejut melihat kedatangan putra bungsunya itu.