Dua Pangeran Satu Cinta

Dua Pangeran Satu Cinta
Heartache


__ADS_3

Awal siang di istana Asia...


Aku baru saja selesai menyediakan ramuan untuk diminum oleh raja. Sambil dibantu oleh Shu, raja pun meminum ramuan yang kuberikan.


"Yang Mulia, bagaimana keadaannya sekarang?" tanyaku santun seraya berdiri di dekatnya.


"Aku sudah merasa lebih baikan, Nak. Terima kasih." Raja tersenyum kepadaku.


"Baiklah, kalau begitu saya permisi. Nanti malam akan saya buatkan kembali ramuannya." Aku lantas berpamitan.


"Nona, tunggu." Shu menahanku.


"Ya, ada apa Pangeran?" tanyaku segera.


"Bisa kita bicara sebentar?" tanyanya penuh harap.


Aku tidak tahu apa yang ingin dibicarakan oleh Shu. Tapi kini jam sudah menunjukkan pukul sembilan pagi. Rainku pasti sudah menunggu di bukit persik.


"Em, maaf, Pangeran. Aku ada sedikit kegiatan hari ini. Mungkin malamnya saja, ya. Aku permisi."


Kutolak ajakan Shu untuk berbincang sebentar karena tak ingin membuat Rain menunggu lebih lama. Aku khawatir dia akan nekat mendatangi istana jika aku lama datang.


"Baiklah. Terima kasih sudah merawat ayahku." Shu tersenyum padaku.


Astaga, dia bisa tersenyum? Aku pikir dia akan selalu berwajah jutek padaku.


Aku mengangguk, lalu segera melangkahkan kaki keluar dari kamar raja. Tak tahu apa yang ada di pikirannya, tapi sepertinya Shu kecewa dengan sikapku ini.


Maaf, Pangeran. Rainku itu nekat sekali. Aku khawatir dia datang ke istana karena lama menungguku.


Saat keluar dari kamar, kulihat banyak pasukan khusus berjaga di depan kamar raja ini. Dan mereka memberiku penghormatan. Aku sudah seperti ratu saja di sini.


Baiklah, saatnya pergi ke bukit persik.


Tak ingin berlama-lama, segera kulangkahkan kaki menuju halaman depan istana. Dan sesampainya, aku segera meminjam kuda milik salah satu prajurit yang berjaga. Tapi...


"Putri!"


Kulihat Jasmine tergesa-gesa berjalan ke arahku. Dia seperti ingin menunda kepergianku ini. Entahlah, aku tidak tahu pasti. Tapi kulihat raut wajahnya sendu pagi ini.

__ADS_1


"Putri, aku ingin bicara padamu." Dia bicara padaku yang sudah naik ke atas kuda.


"Maaf, Putri. Aku sedang ada urusan. Mungkin lain kali saja." Aku menolak tanpa berbasa-basi.


"Tapi, Putri. Ini berkaitan dengan pangeran Zu," katanya lagi yang terengah-engah.


Pangeran Zu? Sejenak aku terdiam.


Aku tidak tahu apa yang ingin dikatakan olehnya. Tapi sepertinya, ini adalah hal yang sangat penting. Karena waktuku tak banyak, kuturuti sebentar permintaannya itu. Aku khawatir dia malah akan curiga jika aku menolak permintaannya.


"Baiklah. Tapi aku tidak bisa berlama-lama," kataku seraya turun dari kuda.


Jasmine mengangguk.


Kami lalu berbincang di pinggir teras istana ini, sambil menatap halaman istana yang begitu luas. Jika berada di sini, pagar istana tidak bisa terlihat. Harus berjalan puluhan meter ke depan, barulah bisa melihat pagar tinggi yang mengelilingi istana.


"Putri, aku mendengar jika kau ingin menikah dengan pangeran Zu." Mine langsung menuju ke inti pembicaraan.


Errr ... aku jadi bingung harus menjawab apa.


"Putri, aku mohon. Tidak bisakah kau membatalkan pernikahan ini?" tanyanya yang sontak membuatku terkejut.


"Putri ... aku sedang mengandung."


"Hah?!"


"Aku sedang mengandung anak pangeran," katanya lagi.


Astaga!


Seketika jantungku berhenti berdetak, seolah kehilangan udara yang biasa kuhirup. Hatiku ini seakan tercabik-cabik mendengarnya. Aku tidak menyangka akan mendengar kabar ini.


"Putri, aku tidak tahu harus berkata apa. Tapi aku mohon, jauhi pangeran Zu. Kasihanilah bayiku," katanya seraya memegangi perut.


Mendengarnya, aku semakin sakit, marah, kesal, bingung, semuanya bercampur aduk menjadi satu. Aku benar-benar terkejut akan berita ini.


"Maaf, Putri. Lebih baik bicarakan langsung dengan pangeran. Aku tidak punya kuasa. Permisi."


Tak mampu berlama-lama dalam kepahitan, segera kunaiki kuda yang kupinjam. Aku bergegas pergi sambil menahan rasa sakit di hati. Aku tidak mengerti mengapa kabar ini harus kudengar.

__ADS_1


Pangeran ....


Kulajukan kudaku dengan cepat menuju belakang kediaman Zu, mendaki jalan yang ada di seberang sungai kecil ini. Pikiranku tiba-tiba kosong, tidak mampu berpikir apapun.


Pangeran ... apa benar kabar yang kudengar?


Aku merasa sakit, sakit sekali. Tak bisa kubayangkan apa yang telah terjadi di antara kami. Dia bilang aku adalah gadis pertama baginya. Tapi kenapa kabar menyakitkan ini harus kudengar?


Ara sakit hati mendengar kabar dari Jasmine. Jasmine memintanya untuk menjauhi Zu karena bayi yang sedang dikandungnya. Rasa sakit yang Ara rasakan, tidak mampu membuatnya berpikir jernih. Ia menelan mentah-mentah kabar yang diterimanya itu. Dan kini ia ingin pergi dari istana sejauh mungkin.


Ara membulatkan tekad untuk kembali ke Angkasa. Karena menurutnya hanya Angkasa lah tempat ia untuk pulang. Ia juga sudah lama tinggal di sana, tidak seperti di Asia yang semuanya masih baru.


Ara tahu jika Rain sudah menunggunya di bukit persik. Ia pun terus melajukan kudanya menuju bukit itu, melewati semak belukar lalu mendaki jalan setapak di seberang sungai. Ia tidak lagi mempunyai alasan untuk tetap tinggal di Asia.


Sementara itu di istana...


Ratu Asia menghampiri Jasmine. Terlihat raut wajahnya yang begitu senang karena kepergian Ara dari istana. Sedang Jasmine sendiri merasa bersalah karena telah menuruti perintah ratu.


"Gadis pintar. Sekarang dia pergi dari istana." Ratu senang sekali.


"Maaf, Ratu. Aku tidak tahu bagaimana jadinya jika pangeran Zu mengetahui hal ini." Jasmine merasa bersalah.


"Sudah jangan dipikirkan. Kau menyukai Zu, bukan? Jika dia pergi, Zu tidak akan bisa lagi dekat dengannya. Kau bisa mengambil kesempatan ini untuk mendekati Zu," tutur ratu itu.


"Tapi ... aku takut." Jasmine menggigit bibirnya sendiri.


"Kau tenang saja, Mine. Ada aku di sini. Tujuan kita sama, menyingkirkan gadis yang tak tahu diri itu. Jikalau harus memilih, aku lebih memilihmu untuk menikah dengan Zu. Bukan dia yang hanya seorang pendatang baru di istana." Ratu tersenyum karena Ara sudah pergi dari istana.


Jasmine tidak berdaya untuk menolak permintaan ratu. Terlebih selama ini ia sudah tinggal di Asia dalam waktu yang lama. Ia memang mengakui jika menyukai calon raja negeri ini. Tapi cara yang ia lakukan sungguh tidak berbeda dengan saudara tirinya.


Aku tidak tahu apa dampak ke depannya, aku hanya mengikuti permintaan ratu saja. Lagipula tidak ada tempat kembali untukku. Negeri Bunga pastinya sudah menganggapku tiada.


Jasmine berwajah sedih.


Tak dapat dipungkiri jika sebuah kejadian membuat Jasmine harus tinggal di Asia. Ia juga tidak tahu bagaimana untuk membalas jasa Asia yang telah menerimanya. Sehingga ia berpikir dengan memenuhi permintaan ratu adalah satu-satunya cara untuk membalas budi. Tanpa berpikir jika Ara terluka karena mendengar berita yang ia sampaikan. Sementara sang ratu terlihat amat bahagia karena telah berhasil membuat Ara pergi dari istana.


Gadis tidak tahu diri. Kau datang dan ingin menjadi ratu di sini? Cih! Aku tidak rela melepas mahkota ini untukmu. Ratu tersenyum picik.


Kehidupan istana tidaklah seindah yang dibayangkan. Terkadang sikut-menyikut juga terjadi di dalam keluarga kerajaan. Tak lain hanya untuk memperebutkan harta, tahta dan jabatan semata. Tidak jauh berbeda dari dunia yang sebenarnya.

__ADS_1


__ADS_2