Dua Pangeran Satu Cinta

Dua Pangeran Satu Cinta
I Know


__ADS_3

Sesampainya di desa...


Dua keranjang besar sudah menanti untuk diisi. Aku bersama Adit dan Rain mulai turun dari mobil. Kami memarkirkan mobil tepat di halaman depan rumah.


"Rain, ini rumahku dulu."


Rain tampak terkejut melihat rumah papanku. Dia menoleh ke arahku lalu mengembalikan pandangannya ke depan.


"Ayo, Kak!"


Adit dengan sigap mengambil dua keranjang besar untuk kami bawa ke dalam kebun.


"Biar Kak Rain saja, Dit."


Rain segera membantu, dia tidak membiarkan Adit membawa keranjang itu sendirian.


"Tak apa, Kak Rain. Adit sudah terbiasa bawa yang berat."


Rain tersentak, dia seperti mengenang sesuatu. Dia terdiam di tempat sambil melamun. Sedang Adit berjalan duluan di depan.


"Rain, kau tak apa?"


Aku menegurnya seraya menyentuh lengannya yang kokoh. Kulihat Rain tersadar dari lamunannya itu.


"Ara, entah mengapa saat aku melihat adikmu ... aku seperti melihat diriku dahulu," katanya dengan suara yang pelan.


Aku mengusap-usap lengannya, mencoba untuk menenangkan hatinya yang terlihat gundah. Kupegang tangan kanannya lalu kuajak jalan bersama.


"Sudah, lebih baik kita berkebun. Tak baik jika terlarut dengan masa lalu. Masa depanmu kan sedang berada di sini."


Aku tersenyum kepadanya, memberinya semangat. Rain pun membalas pegangan tanganku. Dia menggenggamnya erat.


"Ya, itu benar. Masa depanku memang berada di sini. Tidak mungkin aku membiarkannya untuk pergi lagi."


Rain tersenyum lalu berjalan bersamaku. Kulihat dia sudah kembali ke dirinya sendiri dan tidak terlarut dengan masa lalu. Masa dimana dia berjuang habis-habisan untuk menjadi tentara kerajaan. Masa-masa sulit membentuk dirinya sendiri.


Sesampainya di kebun...


Adit mengambil sayur-sayuran yang sudah lebat. Daun selada, daun kemangi dan sawi. Sedang aku ditemani Rain mengambil tomat dan cabai merah besar. Jarak kami tidak terlalu jauh. Mungkin hanya sekitar 10-15 meter antara aku dan adikku. Sedang Rain, selalu berada di sisi.


"Rain, bajumu kotor."


Aku tunjukkan perhatianku kepada Rain. Kulihat bajunya sedikit terkena tanah saat mengambil tomat-tomat yang jatuh.


"Tak apa, Ara. Jangan khawatir."


Rain tampak senang dengan responku sekarang. Tidak seperti dulu yang begitu cuek terhadap dirinya. Dan kutahu pasti, jika Rain memang menginginkan hal ini sejak dari awal pertemuan kami.


"Ara, aku menyukai sifat aslimu."


Dia berbisik di telinga kananku. Aku jadi merinding dibuatnya. Kulihat dia tersenyum sambil terus memegangi keranjang kecil tempat tomat yang kami bawa.


"Rain ...."


"Hah, kalau begini terus. Aku semakin tidak sabar," katanya.


"Hush! Jangan dilanjutkan. Nanti saja. Lihat!"


Aku menunjuk Adit di seberang, Rain pun seolah mengerti. Dia tidak lagi melanjutkan kata-katanya.

__ADS_1


Kami berkebun cukup lama hingga jam makan siang datang. Setelah selesai, kami segera kembali ke rumah papan untuk makan siang bersama. Pertama kalinya bagiku makan siang bersama Rain di rumah ini. Dulu, Cloud lah yang berada di sini.


Astaga, aku teringat akan dirinya. Entah sedang apa dia di sana?


Selepas makan siang...


Aku masih duduk di depan teras rumah bersama Rain. Sedang Adit pamit untuk mengunjungi teman-teman lamanya. Aku pun tidak keberatan. Bagaimanapun kami dulu pernah menjadi warga desa ini. Masa kecil kami habiskan di sini.


Kini aku lebih leluasa untuk mengobrol bersama Rain. Kulihat dia memandangi sekeliling rumah papanku. Sambil meneguk secangkir kopi, aku lalu memberanikan diri untuk bertanya kepadanya.


"Rain?"


"Hm, kenapa, Ara?"


"Ada sesuatu yang mengganjal di pikiranku."


"Katakanlah."


"Em, bagaimana bisa kau sampai di sini?" tanyaku kemudian.


"Oh, itu."


Rain terdiam sejenak, sementara aku masih memperhatikannya dari samping.


"Aku meminta tolong kepada Tetua Agung untuk membuka portalnya."


"Tetua Agung? Kau bisa bertemu dengannya? Bukannya dia sangat sulit untuk ditemui?" tanyaku lagi.


"Iya. Memang benar. Tapi dengan usaha keras, akhirnya aku dapat bertemu dengannya. Aku tidak bisa menahan rasa rindu ini lebih lama lagi, Ara."


Rain mulai mengisahkan dirinya semenjak kepulanganku ke dunia ini. Tersirat raut wajah sendu kutangkap dari paras tampannya. Rain kemudian menggenggam tanganku.


"Rain ...."


"Aku sudah mencoba untuk memainkan logikaku. Tapi tetap saja tak bisa. Hingga akhirnya aku mencari tahu tentang misteri bukit pohon surga itu."


"Dan kau mendapatkannya?"


"Ya, Paman Rich menceritakannya kepadaku."


Paman Rich? Dia yang di gedung konveksi itu?


Aku tertegun sejenak. Kini aku mulai mengerti mengapa mendiang paduka raja dulu sering berkunjung ke gedung konveksi Paman Rich. Mungkin di sana, mendiang paduka raja menitipkan pesan untuk disampaikan kepada cucu-cucunya mengenai bukit pohon surga itu.


"Ara, ikutlah bersamaku ke istana dan menetaplah di sana. Kau mau kan?" tanya Rain membuyarkan lamunanku.


"Ak-aku ... masih mempunyai tugas di sini, Rain."


"Sampai kapan?"


"Mungkin dua atau tiga bulan lagi. Itu pun jika tidak ada kendala."


"Tapi aku tidak bisa menunggu, Ara."


"Kenapa?"


"Selepas ini aku harus pergi berperang."


"Hah? Apa?!"

__ADS_1


Aku terkejut mendengar penuturannya. Tak kusangka jika akan terjadi peperangan di sana.


"Rain, apa yang terjadi? Mengapa kau harus sampai pergi untuk berperang?" tanyaku khawatir.


Rain tampak menghela napasnya. Dia beranjak dari duduk lalu berjalan ke depan untuk lebih dapat menghirup udara segar, sedang aku masih duduk di atas teras.


"Ara, terjadi kekacauan di sana. Entah apa penyebabnya."


"Rain ...."


Aku lalu bangkit dan berjalan mendekati Rain.


"Tapi semua baik-baik saja, kan? Bagaimana dengan keadaan penghuni istana?" tanyaku cemas.


"Saat ini keadaan penghuni istana masih baik. Ayah dan ibu juga sudah kembali semenjak mendengar ada penyusupan."


"Lalu, Cloud?" tanyaku yang membuat Rain membalikkan badannya lalu menatapku.


"Kau mencemaskannya?"


"Rain, bagaimanapun Cloud yang datang menjemputku. Aku tidak bisa melupakannya begitu saja."


"Ara ...."


Rain memengang kedua lenganku, dia menatapku dalam. Dari sorot matanya tersirat kesungguhan. Aku pun menatapnya dengan erat. Kuamati setiap gerak-gerik bibirnya itu.


"Ara, aku sudah tahu hubunganmu yang sebenarnya dengan Cloud."


"Ap-apa?"


"Semenjak kepergianmu dari istana, aku banyak mencari tahu tentangmu. Jadi tolong tidak perlu disembunyikan lagi."


"Rain ... maafkan aku."


Aku menunduk, ada perasaan bersalah kepadanya. Namun, Rain mengangkat wajahku agar terus menatapnya.


"Kau tidak bersalah, Ara. Mungkin akulah yang bersalah karena sudah berani datang di cerita kalian. Tapi, aku pun tidak dapat membohongi perasaanku sendiri."


"Rain ...."


"Aku akan terus berjuang untuk mendapatkanmu. Sampai kau menjadi milikku seutuhnya."


Hatiku terenyuh mendengar penuturannya. Kupikir Rain akan mundur dari kisah ini. Namun, dia malah semakin bertekad bulat untuk menjadikan aku miliknya.


"Aku ... aku tidak tahu harus berkata apa lagi," kataku seraya mengalihkan pandangan darinya.


Rain tersenyum. Dia kemudian menarik tubuhku, akupun dipeluknya.


"Ara, setelah kejadian malam itu, ada sesuatu hal yang kusadari." Rain memelukku erat.


"Apa itu?"


"Aku punya kesempatan besar untuk memilikimu."


"Rain ...."


Entah mengapa aku jadi terharu sendiri. Sikap Rain yang kini mulai dewasa membuatku terharu. Dia sekarang dapat memposisikan rasa cemburu di hatinya. Dia juga menyadari maksud hatiku yang tidak mungkin melupakan Cloud begitu saja. Karena bagaimanapun, Cloud yang membuat aku bertemu dengannya.


Sepertinya hari ini aku berakhir di pelukannya. Tubuhku terasa begitu hangat didekapnya. Rain lalu membenamkan wajahnya di pundakku. Dia juga mengecup lembut bahuku. Sedang kedua tangannya memelukku dengan erat.

__ADS_1


__ADS_2