
"Em, baiklah. Tolong antarkan aku, ya."
Aku meminta diantarkan ke kolam yang dimaksud. Salah satu dari mereka akhirnya mengantarkanku. Tempatnya memang berada di sudut dan sedikit jauh dari jangkauan orang lewat. Tapi kolam ini berada di ruangan terbuka. Dan yang kusukai, aku bisa melihat langit tanpa pembatas. Di sekeliling kolam juga ada bebatuan kali untuk terapi.
"Terima kasih," kataku kepada pelayan yang mengantarkan.
"Baiklah. Saya permisi, Nona. Jika ada keperluan, Nona bisa memanggil saya." Pelayan itu kemudian berpamitan, aku pun mengiyakan.
Airnya jernih sekali. Bebatuannya juga bersih. Walau terletak di sudut, kolam ini begitu terjaga. Bunga-bunga mawar juga menghiasi sekeliling sudut kolam ini.
Kulihat ada pancuran air hangat berada di sisi kolam. Sehingga sambil berendam bisa menikmati pancuran airnya. Segera saja aku membuka keran pancuran ini. Dan kurasakan airnya hangat dan sedikit harum.
"Hah, nikmatnya."
Setelah melepas gaun dan hanya menyisakan kemben serta celana pendek yang membalut tubuhku, aku segera berendam di kolam air panas. Rambut sengaja kugulung agar tidak ikut basah terkena air panas. Kucuci juga wajahku menggunakan air pancuran yang hangat ini.
"Ara, kau di sini?"
Tak lama, kudengar suara tak asing memanggilku. Akupun segera menoleh ke asal suara dan kutemukan Cloud yang tengah bersiap masuk ke dalam kolam. Dia sedang meletakkan pakaian ganti di lemari yang ada di sudut kolam ini.
"Cloud?"
"Kupikir kau tidak suka berendam di air panas, Ara." Dia berjalan mendekat.
Cloud segera masuk ke dalam kolam. Tubuhnya yang hanya terbalut celana pendek hitam ketat itu membuat pikiranku melayang ke mana-mana.
"Ak-aku sedang ingin berendam saja, Cloud." Aku beralasan, menutupi rasa canggung karena melihatnya berpakaian terbuka.
"Baiklah, aku temani." Dia kemudian mendekatiku.
Cloud duduk di sisi kiriku. Dia mulai menyandarkan punggungnya di tepi kolam seraya menghirup dalam udara sore ini. Kedua tangannya direntangkan sehingga kepalaku menyentuh lengan kanannya.
"Ara."
"Hm?"
"Maafkan aku," katanya seraya menatap langit sore.
"Maaf untuk?" Aku menoleh ke arahnya.
"Maaf jika kecemburuanku membuatmu merasa tidak nyaman." Cloud menoleh ke arahku.
Aku tersenyum, tertunduk dan malu sendiri mendengarnya.
"Aku tidak tahu apa jadinya negeri ini bila tanpa dirimu," katanya lagi.
"Maksudmu?" tanyaku bingung.
"Iya, hanya dirimu yang bisa mengambil buah surga itu. Sebelumnya tidak ada."
"Benarkah?"
Cloud mengangguk, dia lalu menatapku dari sisi. Sinar matanya sungguh membuatku tidak mampu melihatnya terlalu lama. Dia begitu memikatku.
"Aku tidak menyangka jika akan sangat bergantung padamu. Aku membutuhkan sekaligus menginginkanmu, Ara." Cloud tampak serius dengan ucapannya.
"Aku juga membutuhkanmu, Cloud," sahutku seraya tersenyum. Namun, Cloud terlihat menundukkan wajahnya setelah mendengar perkataanku.
"Entah mengapa ... aku merasa dipermainkan olehmu."
"Ap-apa?!"
__ADS_1
Aku terkejut mendengar kata-katanya. Seketika hatiku sakit dibilang seperti itu.
"Cloud, bagaimana bisa kau berbicara seperti itu sedang aku masih berada di sisimu?" Aku membela diri.
Cloud memutar badannya ke arahku. Dia menatapku lalu merapikan poni ini.
"Kau menggantung hatiku, Ara," katanya dengan tatapan yang membuatku tertunduk.
Kami duduk sangat berdekatan, bahkan tidak ada jarak lagi di antara kami. Cloud membuatku tak mampu melihat sinar bening matanya itu. Sungguh aku tak mampu. Dari awal dia sudah memikat hatiku, membuatku tenggelam dalam anganku sendiri.
Cloud, maafkan aku.
Kubiarkan saja dirinya melepas gulungan rambutku ini. Cloud pun membelainya sesuka hati. Beberapa saat kemudian, dia melebarkan kakinya. Sehingga aku seolah-olah duduk di depannya. Dia lalu memelukku dari belakang.
"Apakah memilih itu sangat sulit?" tanyanya yang membuat hatiku tersentak.
Dia menyandarkan dagunya di pundak kiriku. Napasnya terasa hangat saat menyentuh permukaan kulit ini.
"Cloud, aku tahu perasaanmu. Tapi seperti yang sudah kubilang, tolong beri aku waktu."
Aku menoleh ke arahnya, mencoba meminta waktu. Dia lalu mencium pipiku sambil melingkarkan kedua tangannya di dadaku.
"Aku hanya takut keduluan Rain, Ara. Aku takut ...."
Dia memelukku erat dan mencium pundakku. Seketika aku merasa geli, sekujur tubuhku merinding dibuatnya. Namun, aku masih bisa bertahan dari sentuhan dan kecupan bibir manisnya itu.
"Cloud, kau ini lucu. Rain itu adikmu sendiri." Aku mencoba menenangkannya.
"Aku takut kehilanganmu, Ara. Aku merasa selalu kalah cepat darinya."
"Cloud ...."
"Cloud, aku takut salah satu dari kalian merasa tersakiti karena pilihanku. Andai aku memilihmu, tentunya Rain akan sakit hati. Begitu pun jika aku memilih Rain, pastinya kau juga akan sakit hati." Aku mencoba menjelaskan.
"Jadi maksudmu?"
"Biarkan takdir yang memutuskan. Untuk saat ini, bantu aku menyelesaikan tugas-tugasku. Tolong, ya?"
Aku tersenyum kepadanya, mencoba memberi penjelasan. Dan kurasa Cloud pun mengerti akan maksudku. Dia lalu membenamkan wajahnya di pundak kiriku ini.
"Aku menyayangimu, Ara. Mencintaimu sepenuh hati. Tolong jangan permainkan aku." Pelukannya semakin erat.
Mendengar Cloud berkata seperti itu, aku jadi kesal sendiri. Siapa juga yang ingin mempermainkannya. Aku hanya belum bisa memutuskan dengan siapa akan menjalani sisa usiaku. Kucubit saja perutnya itu untuk melampiaskan rasa kesalku.
"Aw! Sakit, Ara!" Cloud memegang perutnya.
"Biar saja. Ucapanmu itu lebih sakit dari cubitanku, tahu!" gerutuku.
"Ara, aku hanya mengutarakan apa yang kurasa. Tidak ada maksud untuk melukai perasaanmu."
Cloud mencoba menjelaskan kepadaku. Dia seperti menyesal telah mengatakan hal itu. Wajahnya tiba-tiba berubah muram.
"Sudah, lupakan. Sekarang sini kuobati yang sakit. Duduklah di tepi."
Aku memintanya untuk duduk di tepi kolam. Cloud pun menuruti. Dia lalu beranjak duduk di tepi kolam dengan kedua tangan yang memegang tepi. Akupun segera mengobati rasa sakitnya itu.
"Ar-ara, apa yang akan kau lakukan?"
Aku duduk berlutut di hadapannya sambil mengusap-usap perutnya agar tidak sakit lagi. Posisi ini sepertinya membuat khayalan Cloud melayang jauh. Awalnya dia memang tampak kaget, namun lama-kelamaan Cloud akhirnya pasrah juga. Dia membiarkanku berbuat sesuka hati.
"Ara ... agh!"
__ADS_1
Kulihat Cloud memejamkan matanya saat bibirku ini mulai mengecup bagian perutnya yang sakit, karena terkena cubitanku.
"Sudah. Tidak sakit lagi, kan?" tanyaku setelah mengecup bagian yang sakit.
"Ara ...." Suara Cloud terdengar berat. Dia lalu menarikku dari kolam.
"Cloud?"
"Ara, aku ... menginginkannya," katanya dengan tatapan memohon.
Wajahnya sangat rupawan, membuatku berat untuk menolak semua keinginannya itu. Bibirnya yang berwarna peach juga terlihat begitu menggairahkan.
Cloud, aku ....
Bentuk tubuhnya sangat maskulin dengan rambut halus di bagian dada, membuatku semakin tertarik untuk melakukannya. Cloud menggodaku dengan semua yang dimilikinya.
"Ara, jadikan aku yang pertama dan satu-satunya," katanya lalu mencium bibirku ini.
Dia merendahkan tubuhnya, sedikit membungkuk sambil menarikku agar lebih dekat dengannya. Cloud mencium bibirku dengan lembut. Dia mengecupnya berulang kali, memberi penekanan atas hasratnya yang menggelora. Aku pun membalas lembut ciumannya itu.
Kutahu jika Cloud mencintai dan menginginkanku. Aku juga begitu menginginkannya. Namun, aku masih mempunyai Rain yang sangat menyayangiku. Aku belum bisa memberi keputusan secepatnya.
Entahlah bagaimana akhir dari kisah ini, dengan siapa akan bersanding nantinya. Dengan siapapun itu, pasti yang terbaik untukku. Aku menyakininya.
...
Gadis, saat kamu memelukku.
Bagaimana kamu mengendalikanku.
Kamu membungkuk dan melipatku.
Dengan cara apa pun yang kamu suka.
Pasti mudah bagimu.
Hal-hal indah yang kamu lakukan.
Tapi hanya sekedar hiburan untukmu.
Aku tidak akan pernah bisa.
Dan aku tidak pernah tahu.
Jika harus tetap tinggal atau pergi.
Karena game yang kamu mainkan.
Teruslah membuatku pergi.
Jangan cintai aku untuk bersenang-senang, Gadis.
Biarkan aku menjadi satu-satunya.
Cintai aku karena suatu alasan.
Dan biarkan alasannya menjadi cinta...
...
Bagian Ketiga Tamat
__ADS_1