Dua Pangeran Satu Cinta

Dua Pangeran Satu Cinta
Something


__ADS_3

Kini aku sudah tiba di ruang utama istana. Kulihat banyak kursi dan meja yang telah tersusun rapi dengan pot bunga mawar di atas setiap mejanya. Tidak terlalu mewah, namun cukup besar jika hanya digunakan untuk menyambut kedatangan sanak famili.


Dari jauh, kulihat Cloud masuk bersama rombongan keluarganya. Cloud tampak risih dengan seorang pria yang sedang merangkulnya itu. Dia kemudian mempersilakan kepada seluruh rombongan untuk duduk di tempat yang telah disediakan.


Raja dan ratu tampak berjalan bersama seorang nenek tua yang mengenakan mahkota perak. Entah siapa itu. Tapi yang kulihat, baik raja maupun ratu tampak antusias dengan semua perkataannya.


Aku bersama Mbok Asri ikut menyambut kedatangan mereka. Kubungkukkan badan saat raja dan ratu melewatiku sambil mengucapkan salam, mengikuti Mbok Asri. Tak lama Cloud pun lewat, dan dia tampak tersenyum ke arahku.


Senyumnya begitu menawan hati. Bisakah aku memiliki senyum itu selamanya?


Hatiku berbicara sendiri saat melihat senyum manis Cloud. Dia benar-benar mampu membangkitkan perasaan yang telah lama kupendam, jauh di dalam lubuk hati terdalam. Kini aku merasa jika sudah menjadi bagian dari dirinya.


Beberapa pelayan lalu menghidangkan wedang jahe yang buatanku. Hatiku sedikit khawatir saat keluarga utama kerajaan mulai mencicipinya. Namun, beberapa saat kemudian, kudengar nenek tua itu berbicara.


"Luar biasa! Rasanya enak sekali."


Ketakutan di hatiku seketika sirna setelah mendengar pujian itu. Kupikir dia tidak akan menyukainya. Namun ternyata, aku salah.


"Siapa yang membuat hidangan ini?" tanya nenek tua itu kepada para pelayan.


Para pelayan pun segera menuju ke arahku. Tak ayal, aku jadi pusat perhatian malam ini. Dan kulihat Cloud tersenyum sendiri kala mengetahui hal ini.


"Kemarilah, Nak."


Nenek tua itu lalu memanggilku. Akupun segera menghampirinya.


"Kau tampak berbeda dari yang lain. Siapa namamu?" tanya nenek itu kepadaku.


"Salam bahagia untuk Nenek. Namaku Ara," jawabku seraya tersenyum dan membungkukkan badan.


"Ara? Namamu seperti pohon surga," katanya lagi.


Aku hanya tersenyum membalasnya. Cloud lalu datang menghampiri dan berbisik pelan di telinga kiri nenek itu. Entah apa yang dia bicarakan.


"Hah? Ap-apa?!" Nenek itu tampak terkejut sesaat setelah Cloud selesai berbisik.


"Oh, baiklah. Terima kasih, Nak." Nenek itu lalu menyudahi percakapan kami.


Di saat bersamaan, Cloud terlihat mengedipkan salah satu matanya ke arahku. Sontak saja aku menjadi salah tingkah sendiri. Beraninya di depan banyak orang dia melakukan tindakan seperti itu.


Dasar!


Aku lalu kembali ke posisiku, berada di samping meja makan yang besar. Tak lama, paduka raja memberikan sambutannya kepada rombongan keluarga yang datang. Setelah itu, makan malam bersama pun dimulai.


Seusai makan malam...


"Cantik sekali, Putri."


Aku mencoba mendekatkan diri kepada keluarga Cloud. Kini aku berusaha menenangkan bayi perempuan yang sedang menangis. Kutimang lembut si mungil ini di dalam dekapanku.


Bayi ini adalah anak dari sepupunya Cloud. Begitu cantik, kulitnya putih bersih dengan mahkota di kepalanya.


Masih kecil saja sudah repot ya, Sayang.


Kulihat tangisan bayi ini mereda semenjak kutimang-timang dalam dekapanku. Sepertinya aku memang sudah pantas untuk memiliki seorang bayi. Ya, semoga saja niat baik ini segera terwujud.


Sementara itu...


Di sebuah sudut ruangan, tampak sang putra mahkota sedang berbincang bersama sepupunya, Star.


"Jadi kapan menyusul, Cloud?" tanya sepupunya itu.

__ADS_1


Keduanya mengobrol santai sambil menikmati segelas anggur merah yang nikmat. Dan karena pertanyaan itulah, Cloud menujukan pandangannya ke arah Ara yang sedang berbincang bersama istri Star sendiri.


"Jadi gadis itu?" tanya Star lagi, sesaat setelah melihatnya.


"Ya, sepertinya," jawab Cloud seraya tersenyum.


"Hei! Kau ini bagaimana? Yakin tidak sih dengan pilihanmu?" Star tampak bingung.


"Aku sangat yakin dengannya. Tapi sepertinya dia yang belum yakin kepadaku," jawab Cloud.


"Kau tinggal bicarakan saja dengan paman Sky. Urusan selesai."


"Tidak semudah itu, Star."


"Kenapa?"


Cloud tidak menjawab, dia hanya meneguk anggurnya sampai habis.


"Aku berharap dapat memiliki seutuhnya."


"Maksudmu?" Star bertambah bingung.


Cloud diam, ia tidak meneruskan perkataannya.


"Hm, sepertinya sesuatu tengah terjadi." Star tampak berpikir. "Kau mencintainya?" tanya Star lagi.


"Sangat," jawab Cloud singkat.


Star tampak mengernyitkan dahinya. Ia merasa bingung dengan setiap jawaban yang Cloud berikan.


"Sebentar, aku ke sana dulu."


Cloud lalu berpamitan kepada Star untuk menemui Ara yang sedang menimang bayi. Ia tersenyum seraya berjalan mendekati gadisnya.


...


Aku begitu senang melihat bayi perempuan ini tanpa menyadari jika Cloud sudah berada di samping kananku.


"Kau menginginkannya, Ara?"


"Cloud?!"


"Kau ingin mempunyai bayi perempuan?" tanyanya lagi.


"Em, iya. Aku suka dengan bayi perempuan," jawabku senang.


"Baiklah, mari kita membuatnya," katanya lagi.


"Hah? Apa?!"


Aku terkejut mendengar ucapan Cloud yang seperti itu. Apakah hasrat di jiwanya sedang bergejolak?


"Jika kau menginginkannya, aku bisa memberikannya kepadamu."


Cloud lalu ikut bercanda dengan bayi yang kutimang ini. Seketika itu juga aku merasa seolah sudah mempunyai bayi darinya.


Cloud ... entah mengapa aku jadi semakin menginginkannya.


"Pasti akan cantik, secantik ibunya." Ia lalu menoleh ke arahku.


"Kau bisa saja."

__ADS_1


"Pangeran Cloud, Anda tampak serasi dengan Nona Ara."


Seorang putri yang merupakan ibu dari bayi ini kembali datang dan menghampiri kami. Dia tadi pamit kepadaku untuk menemui nenek tua itu.


"Terima kasih, Putri Snow. Ara memang akan menjadi pengantinku kelak," kata Cloud seraya merangkulku.


"Eh? Pangeran?!" Aku jadi kaget sendiri.


"Semoga kebahagiaan selalu meliputi kalian," kata putri itu lagi.


"Terima kasih, Putri." Cloud tersenyum kepada putri itu.


Putri itu lalu mengambil bayinya yang sudah tertidur di timanganku. Aku pun menyerahkannya. Cloud lalu merangkul pinggangku dengan mesra.


"Cloud! Singkirkan tanganmu itu!" pintaku seraya berbisik karena takut ada yang melihatnya.


"Tidak apa. Nenek Sun juga sudah tahu jika kau adalah calon pengantinku."


"Hah? Apa?! Tap-tapi—"


"Ara, seluruh penghuni istana sudah tahu akan kisah kita. Ya, terkecuali ibuku." Cloud lalu melepas rangkulannya.


"Bagaimana jika dia tahu?" tanyaku cemas.


"Bukan masalah bagiku. Kau adalah pilihan hati yang tidak akan bisa terganti." Dia lalu mencolek hidungku.


"Huh! Dasar!"


Aku pun mencubit perutnya itu. Begitu gemas dengan kata-katanya yang mampu membuat hatiku luruh.


Dia tidak pernah berubah.


Aku lalu berpamitan kepadanya untuk kembali ke kamar karena malam semakin larut.


"Perlu kuantar?" tanyanya.


"Em, tidak usah. Aku ingin berjalan sendiri," jawabku.


"Baiklah, nanti selepas ini aku akan menemuimu."


"Eh—tidak usah," tolakku.


"Ini titah, Ara." Cloud memaksa.


Beginikah sisi ego dari seorang pria?


Kutarik napas lalu mengiyakan perkataannya. "Baiklah," kataku.


Cloud lalu mengusap kepalaku dan membiarkanku pergi meninggalkannya.


...


Entah mengapa, aku merasa sangat dimiliki olehnya. Cloud begitu menghakimi, sama seperti Rain. Kedua pangeran ini membuatku tak berdaya untuk menolak setiap permintaannya.


Hah, aku jadi bingung...


Kulangkahkan kaki keluar dari ruang utama, melewati teras luar istana. Sengaja aku melalui teras luar agar dapat menikmati udara segar di malam turun salju ini. Namun, tiba-tiba aku melihat sesuatu...


"I-itu?!"


Aku dikejutkan dengan bintang berekor yang melesat tepat di atas istana. Bintang berekor itu secepat kilat musnah dengan sendirinya. Seolah hilang karena tidak mampu menembus dinding yang ada di langit istana ini.

__ADS_1


Seketika itu juga aku merasakan energi negatif yang mencoba masuk ke dalam sini. Dan entah mengapa, kepalaku terasa sangat pusing, penglihatanku menjadi kabur. Serasa tidak kuat lagi untuk menahan tubuhku. Akupun terjatuh di lantai teras istana...


__ADS_2