Dua Pangeran Satu Cinta

Dua Pangeran Satu Cinta
Don't Cry


__ADS_3

"Waktu itu aku segera kembali ke kamarku dan segera menulis surat untuk pihak kerajaan Asia," tutur Zu kepada Ara.


"Lalu?" tanya Ara antusias.


"Aku minta dikirimkan pasukan khusus malam itu juga untuk menolongmu. Dan kau tahu bagaimana perasaanku saat menunggu pasukan itu datang?" Zu bertanya kepada gadis yang duduk di samping kanannya ini.


Ara menggelengkan kepala.


"Aku tidak bisa tidur, Nona. Hingga akhirnya aku mendengar tanda jika mereka sudah tiba di tembok selatan istana," lanjut Zu seraya mengingatnya.


Malam itu...


Suara burung penanda terdengar di telinga Zu yang cemas menunggu. Ia lantas keluar kamar menuju ke titik pertemuan yang telah dijanjikan.


Zu bergerak cepat ke selatan istana. Ia menyusuri koridor seorang diri. Keadaan istana pun sudah tampak sangat sepi. Sementara pasukan khusus menunggu di balik pagar tembok istana. Mereka berpakaian hitam-hitam, hanya matanya saja yang terlihat.


Aku harus cepat!


Setibanya di sekitaran selatan istana, Zu melihat asisten Ara bersama beberapa prajurit sedang menuju ke arah titik yang sama. Lantas ia berpikir bagaimana cara menolong sang gadis tanpa diketahui oleh prajurit-prajurit itu. Terlebih Zu khawatir jika benar-benar terjadi sesuatu pada Ara. Iapun bergerak cepat, sebisa mungkin pergerakannya tidak diketahui. Dan alhasil, Zu tiba di titik pertemuan tanpa diketahui para prajurit itu.


Zu lalu memberikan sinyal jika ia sudah tiba di titik pertemuan. Para pasukan khusus itupun segera menaiki pagar tembok istana dengan cepat. Mereka bergerak dalam senyap.


"Pangeran Zu." Salah satu pasukan khusus itu menghadap Zu.


"Kita hanya punya waktu lima belas menit. Tolong bantu aku keluarkan gadis yang ada di ruang bawah tanah ini."


Para pasukan khusus itu mengerti. Mereka lantas membuka lubang penutup drainase ruang bawah tanah. Satu persatu mereka turun dan yang lain berjaga di atas. Dengan cepat mereka mengambil Ara yang sudah tidak sadarkan diri. Sementara asisten Ara beserta para prajurit istana semakin mendekat.


Ini gawat! Aku harus menundanya.


Zu memberi tanda agar semakin cepat menyelesaikan tugas ini. Ara pun akhirnya bisa di tarik ke atas dengan selamat. Para pasukan khusus menyusulnya. Ara akhirnya berhasil diselamatkan.


Ya Tuhan, tubuhnya dingin sekali.


Zu memegang tangan sang gadis yang seperti membeku. Ia lantas meminta pasukan khusus untuk segera membawa Ara keluar dari istana. Sementara asisten Ara kian mendekat ke titik pertemuan mereka.


"Cepat kalian pergi dari sini dan bawa gadis ini ke vilaku! Aku akan menunda mereka," pinta Zu segera.


"Baik, Pangeran!"

__ADS_1


Zu mempercayakan Ara kepada pasukan khususnya. Ia lantas menuju ke arah asisten dan para prajurit istana yang menuju ke titik pertemuan.


Aku harus menunda mereka.


Zu berpura-pura berkeliling istana sendirian. Ia pun menguap tak jelas saat pasukan itu berjalan mendekati. Zu lantas sengaja menabrakkan dirinya ke asisten Ara, seolah-olah tidak melihat kedatangan mereka.


"Aduh!" Mereka bertabrakan.


"Pangeran Zu?"


Lantas asisten Ara memberi hormat saat mengetahui jika dirinyalah yang tertabrak, para prajurit pun mengikuti. Sedang Zu menghempas-hempaskan tangannya seolah merasakan sakit.


"Maaf, Pangeran. Kami tidak tahu jika Pangeran ada dari balik dinding." Asisten itu meminta maaf.


Sebagai tamu kehormatan tentunya dilayani dengan baik oleh pihak istana. Zu pastinya mendapatkan perlakuan istimewa yang siapapun harus menghormatinya.


"Kalian malam-malam mau ke mana?" tanya Zu, pura-pura tidak tahu.


"Maaf, Pangeran. Kami hanya sedang mengecek keamanan saja," jawab asisten Ara.


Mengecek keamanan atau kau ingin membuang gadis itu ke dalam hutan? Zu bertanya sendiri dalam hati.


Para prajurit tampak saling melirik. Ia menunggu tanggapan dari asisten itu.


"Maaf, Pangeran. Kami masih harus bertugas," jawab sang asisten.


Zu sebisa mungkin memperlambat mereka. Ia ingin pasukan khususnya membawa Ara terlebih dahulu, sejauh mungkin dari istana. Zu lantas banyak bertanya tanpa menuai kecurigaan.


Sepertinya aku berhasil.


Tanpa disadari sepuluh menit sudah berlalu karena pertanyaan yang Zu ajukan kepada asisten itu. Ia juga sudah merasa cukup waktu untuk menundanya.


"Baiklah. Aku sudah mulai mengantuk. Selamat bertugas." Zu akhirnya berpamitan.


"Baik, Pangeran."


Asisten Ara dan para prajurit itu membungkukkan badan, memberi hormat kepadanya. Zu pun segera kembali, menuju kamarnya. Ia tampak senang karena telah berhasil menunda waktu para pelaksana misi ratu Angkasa itu.


...

__ADS_1


"Begitulah ceritanya, Nona." Zu menuturkan.


Ara masih diam sambil menunduk sedih. Ia tidak percaya jika harus mengalami hal seperti ini. Hatinya terasa sakit. Apa yang telah diusahakannya untuk Angkasa, ternyata mendapat balasan seperti ini dari ratunya sendiri.


"Nona, kau baik-baik saja?" Zu khawatir karena Ara diam saja.


Tanpa sadar, Ara menitikkan air matanya. Sontak Zu berjalan mendekat lalu duduk berlutut di depan gadis itu.


"Nona, jangan menangis." Zu berusaha mengusap air mata itu.


"Pangeran, aku tidak tahu apa salahku. Kenapa ratu sangat membenciku? Aku merasa tidak pernah berbuat salah padanya. Aku—"


"Nona, tenanglah."


Zu berusaha menenangkan. Ia lantas mengusap air mata Ara dengan jemari tangan kanannya.


"Sekarang ada aku. Kau tidak perlu cemas lagi." Zu mulai mengutarakan niatnya.


"Tapi, Pangeran. Aku tidak bisa pergi begitu saja tanpa meninggalkan pesan. Aku tidak ingin membuat Cloud dan juga Rain khawatir padaku." Ara mengungkapkan.


Zu terenyuh. Entah mengapa hatinya merasa sakit saat sang gadis membicarakan kedua pangeran Angkasa. Namun, sebisa mungkin ia tepiskan perasaan itu.


"Nona, untuk sementara waktu biarkan seperti ini. Aku khawatir ratu akan mencari alasan untuk menyudutkan dirimu. Dan bisa saja dia semakin menjadi-jadi." Zu mengutarakan isi pikirannya.


Ara hanya terdiam. Ia lantas mengusap air matanya sendiri.


"Biarkan pihak istana mengintrospeksi dirinya, terutama ratu. Itu pun jika ia menyadari kesalahannya," tutur Zu lagi.


Ara mengangguk. Ia tampak menyetujui saran dari sang pangeran.


"Tersenyumlah, hari esok masih panjang." Zu memberikan semangatnya.


Entah mengapa, Ara merasa terhibur. Ia lantas tertawa kecil seraya tersenyum kepada Zu. Tampaknya Zu bisa menenangkan hati sang gadis.


Sementara itu di istana kerajaan Angkasa...


Kedua pangeran kerajaan ini sedang mengadakan rapat dadakan mengenai hilangnya Ara dari istana. Rain menginterogasi seluruh prajuritnya mengenai keadaan istana selepas acara pertunjukan busana usai. Namun, jawaban semuanya sama. Mereka tidak melihat tanda-tanda yang mencurigakan sama sekali.


Sky sendiri tampak curiga saat Moon bersikap biasa-biasa saja setelah mendengar kabar tentang hilangnya Ara. Tapi untuk sementara waktu, ia tidak ingin memicu keributan rumah tangganya di saat suasana kalut seperti ini. Sky ingin mencari buktinya sendiri.

__ADS_1


Lain Rain, lain Sky, lain pula Cloud. Sang putra mahkota ini tampak melamun di depan jendela ruang kerjanya. Malam yang semakin larut tak menyurutkan niatnya untuk segera beristirahat. Cloud masih menunggu kabar tentang gadisnya.


__ADS_2