Dua Pangeran Satu Cinta

Dua Pangeran Satu Cinta
Can't Help Falling in Love


__ADS_3

Esok paginya...


Udara begitu segar pagi ini. Aku terbangun pada pukul enam pagi. Beranjak dari kasur lalu segera membasuh wajahku.


"Hari ini telah kuputuskan untuk memulai kehidupan baru. Semangat!"


Kukepalkan tangan kananku seraya berkata di depan cermin wastafel kamar mandi ini. Aku tidak ingin sedih lagi. Ya, walaupun tak bisa kupungkiri jika aku merindukan mereka.


Aku lalu bergegas keluar kamar untuk mencari pangeran berkulit putih itu. Dan kutemukan jika dia sedang menuliskan sesuatu. Dia masih mengenakan switer panjangnya yang berbahan dasar wol tebal itu.


"Selamat pagi!" sapaku ceria kepadanya.


"Nona?" Dia tampak terkejut melihatku.


"Apa yang sedang kau tulis, Pangeran?" tanyaku seraya berjalan ke arahnya.


"Oh, aku sedang memberikan kabar untuk pihak istana. Mungkin mereka mengkhawatirkanku." Dia melanjutkan.


"Kau belum memberi kabar sebelumnya?" tanyaku lagi.


"Aku hanya berpesan kepada Shu. Setelahnya aku fokus bersamamu hingga lupa jika belum memberikan kabar." Dia tertawa sendiri.


Astaga. Karena aku dia sampai lupa negerinya?


Aku menyeringai. Bingung, pusing dan malu sendiri. Rasanya semua bercampur aduk jadi satu. Tak bisa kubayangkan jika aku yang hanya seorang gadis desa ini bisa membuat pangeran seperti Zu melupakan negerinya. Padahal siapakah aku? Hanya orang baru di kehidupannya.


Zu lantas menuju sudut ruang tamu vila ini. Dan di sana ternyata ada seekor burung di dalam sangkar yang sedang bertengger. Tapi ada yang sedikit aneh pada burung itu.


Bentuknya kok seperti naga, ya?


Aku heran dengan bentuk burung yang Zu ambil dari sangkarnya. Itu lebih mirip seperti naga. Atau memang jangan-jangan naga itu sebenarnya burung? Entahlah, aku masih terus memperhatikan burung berwarna merah itu.


"Tolong sampaikan surat ini kepada pihak istana Asia. Secepatnya!" Zu berkata kepada burung itu.


Burung itu lantas pergi. Sayapnya ternyata lebar sekali. Mungkin sekali kepakan dia bisa terbang dengan jauh.


Aku merasa heran dengan cara pengantaran surat di dunia ini. Medianya masih menggunakan burung. Dan yang anehnya, kok bisa burung-burung itu tahu alamat? Apa iya mereka tidak akan menemui alamat palsu?


Ah, seperti lagu saja.


"Nona, kau tampak terdiam." Zu menyadarkanku.


"Em, iya. Maaf," kataku. "Tadi itu apa ya, Pangeran?" tanyaku polos.


"Burung itu?"


Aku mengangguk.


"Itu burung naga, Nona. Bentuknya memang seperti naga. Kau bisa lihat sendiri sayapnya yang tersembunyi," tutur Zu.


Errr... Benar dugaanku. Jika yang ada itu burung naga bukan naganya.


"Kau sudah siap untuk berenang? Atau kita mau sarapan dulu?" tanya Zu kemudian.


"Em, Pangeran. Boleh aku bertanya lagi?" Aku penasaran.


"Tanyakanlah." Dia tampak antusias menanggapi.

__ADS_1


Aku tanya tidak, ya. Nanti kalau aku tanya tentang mitologi naga, pastinya dia akan mencurigai dari mana asalku.


Sungguh aku ingin menanyakan kebenaran tentang naga kepadanya. Tapi aku juga khawatir jika ia akan mencurigai asal-usulku.


"Nona?" Zu lagi-lagi menyadarkanku.


"Eh, iya. Tidak jadi. Iya, tidak jadi." Akhirnya aku menutupi rasa penasaranku sendiri.


Kulihat dia menghela napasnya. Sepertinya sikapku ini membuatnya lelah.


"Nona, kau tahu?"


"Tidak," jawabku cepat.


"Aku belum bicara, Nona." Zu tertawa seketika.


"Ma-maaf, Pangeran. Aku hanya berusaha sigap menanggapi," kataku lugu seraya memalingkan pandangan darinya.


Entah mengapa Zu berubah roman wajahnya. Ia tertawa lalu memutar badannya, membelakangiku.


"Astaga, ya Tuhan ...." Dia mengusap kepalanya sendiri.


Eh? Apa aku berbuat kesalahan? Aku bertanya sendiri.


"Baru kali ini aku menemui gadis sepertimu. Entah mengapa aku merasa sangat gemas sekali." Dia berbicara sendiri.


Sebenarnya tidak ada niatan untuk membuatnya gemas. Aku hanya bertanya ala kadarnya saja. Tapi mungkin terasa janggal untuk pangeran sepertinya. Ya, tahu sendiri bagaimana kehidupan di istana yang serba baku. Di Angkasa pun pergaulan tidak bisa sembarangan.


"Nona." Dia lantas menghadap ke arahku. "Matahari telah terbit. Apa kau ingin berenang sekarang?" tanyanya ke inti pembicaraan.


Aku berpikir. Memikirkan apa tidak apa-apa jika aku berenang bersamanya? Bagaimana jika Rain dan Cloud sampai tahu?


Bisikan itu terlintas di benakku untuk menerima tawarannya. Padahal hati kecilku khawatir jika kami semakin dekat, bisa saja dia merasa jika aku memberi harapan padanya.


"Pangeran, apa kau yakin ingin berenang?" tanyaku mengulur waktu.


"Ya, aku ingin berenang. Udara pagi sangat bagus untuk kesehatan. Lagipula air laut akan menjadi obat di jam sekarang ini. Apa kau tidak tertarik?" tanyanya padaku.


Sebenarnya mitos mandi air laut di pagi hari itu telah lama kudengar. Aku belum tahu kebenarannya, iya atau tidak untuk memperbaiki kesehatan. Setahuku udara pagi hari memang baik untuk kesehatan paru-paru. Mungkin karena hal itu dikaitkan. Entahlah, aku harus lebih banyak belajar lagi sama mbah google.


"Em. Baiklah." Aku lantas mengiyakan ajakannya.


Setelah bergelut dengan hati, akhirnya aku memutuskan untuk menerima ajakannya, berenang pagi ini. Lantas saja aku bergegas keluar rumah dan melewatinya, tanpa sadar jika aku masih mengenakan gaun tidurku.


"Nona."


"Ya?"


Dia memanggilku saat baru sampai di depan pintu, dan aku pun segera berbalik ke arahnya. Kulihat dirinya menahan tawa.


"Kau yakin akan berenang mengenakan gaun tidur itu?" tanyanya heran.


"Astaga! Iya, juga. Maaf, Pangeran. Aku ganti pakaian dulu." Aku bergegas meninggalkannya.


Entah apa yang ada di pikirannya, aku merasa Zu selalu tertawa saat melihatku. Apakah ada kesalahan yang telah kuperbuat?


Sepuluh menit kemudian...

__ADS_1


Dengan penuh percaya diri aku keluar dari kamar mengenakan kaus tanpa lengan dan celana hawai lima senti di atas lutut. Aku juga mengenakan topi pantai yang kutemukan di dalam lemari. Zu lantas melihat penampilanku yang sedikit berbeda ini.


"Aku siap!" seruku semringah.


Zu masih menatapku, tapi kuabaikan saja. Aku lalu mengajaknya segera keluar dari vila ini.


"Ayo, Pangeran. Cepat!" kataku padanya.


Lantas kubuka pintu dan segera menuju ke tepi pantai untuk melihat mentari yang terbit. Zu pun mengikutiku dari belakang.


"Pangeran, apa kau tidak berganti pakaian juga?" tanyaku yang heran karena masih melihatnya mengenakan sweter wol tebal itu.


"Aku buka saja kalau begitu." Ia lantas ingin membuka bajunya.


"Eh-eh, jangan!" Aku menahannya.


"Lho?" Dia pun tampak bingung.


"Nanti aku melihatnya, Pangeran." Aku membalikkan badan, membelakanginya.


Aku tidak tahu apa yang dia lakukan di belakangku. Tapi tak lama kemudian, dia sudah berjalan melewatiku dengan hanya mengenakan boxer hitam selututnya. Tubuh maskulinnya pun terlihat jelas di kedua mataku ini.


Astaga, aku melihatnya tidak mengenakan baju!


Dia lantas memanggilku, memintaku untuk mengikutinya menuju pesisir pantai. Dan entah mengapa hasratku untuk berenang tiba-tiba muncul begitu saja.


Maafkan aku, Rain, Cloud. Aku ingin membahagiakan diriku sendiri. Aku tidak ingin terlalu lama terhanyut dalam kesedihan.


Kulihat Zu mengulurkan tangannya, mengajakku untuk berpegangan tangan. Lantas saja aku segera menuju ke arahnya. Namun, aku terus melangkahkan kaki menuju pesisir pantai, melewatinya dan mengabaikan uluran tangannya itu. Dan kulihat dia lagi-lagi tertawa seraya memegangi kepala.


Ara tidak menyadari jika sikapnya begitu menggemaskan di mata pangeran Asia ini. Zu tak henti-hentinya menertawakan dirinya sendiri. Ia merasa bodoh di hadapan sang gadis yang belum juga menyadari perasaannya.


Nona, kini aku mengerti mengapa kedua pangeran Angkasa itu menyukaimu. Aku telah merasakannya sendiri. Kau gadis yang unik dan juga menggemaskan.


Zu lalu mengejar Ara yang sudah mulai menginjakkan kakinya ke dalam air laut. Gadis itu tampak gembira karena bisa bermain di tempat seindah ini.


"Ayo, Pangeran! Cepat!" seru Ara dari jauh.


Zu semakin menaruh hatinya untuk gadis itu. Seorang gadis yang menarik perhatiannya dengan segala bakat yang dimiliki. Dan kini rasa tertariknya berubah menjadi rasa ingin memiliki.


Orang bijak berkata, hanya orang bodoh yang suka tergesa.


Tapi aku tak bisa berhenti jatuh cinta padamu.


Haruskah aku tinggal, akankah jadi dosa?


Jika aku tak bisa berhenti jatuh cinta padamu?


Seperti air yang mengalir, pasti ke laut.


Kasih, begitulah adanya.


Ada hal-hal yang memang telah digariskan.


Raih tanganku.


Raih juga seluruh hidupku.

__ADS_1


Karena aku tidak bisa berhenti jatuh cinta padamu...


__ADS_2