Dua Pangeran Satu Cinta

Dua Pangeran Satu Cinta
Hit


__ADS_3

Sore harinya di istana...


Aku diantarkan Rain menuju kamar pribadiku melewati gazebo istana. Namun, sebelum sampai di gazebo, kulihat Cloud menatap tajam ke arah kami dari tengah taman.


Sepertinya aku telah membuat kesalahan.


Bersamaan dengan itu, Rain segera menggenggam tangan kiriku. Aku berjalan di sisi kanannya sambil menunduk, berusaha mengalihkan pandangan dari Cloud. Aku tahu jika hal yang kulakukan ini percuma saja. Cloud segera berjalan cepat menghampiriku.


"Ara, dari mana dirimu?" tanyanya yang menghentikan langkah kami.


"Ara habis dari manshion-ku, dia beristirahat di sana." Rain yang menjawab Cloud.


Kurasakan atmosfer tiba-tiba berubah mencekam saat Rain yang menjawab pertanyaan kakaknya itu.


"Ini masih jam kerja, kenapa harus di tempatmu?" Cloud bertanya kepada Rain.


"Em, maaf. Aku yang salah. Aku—"


"Aku yang memintanya." Rain lagi-lagi menjawab Cloud.


Cloud tampak menelan ludahnya. Dia seperti kehabisan kata-kata. Cloud kemudian memegang tangan kananku.


"Ikut denganku, Ara," katanya seraya menarik tanganku.


"Hei, Kak!" Rain segera melepaskan tangan Cloud dari tanganku. "Kau tidak punya hak terhadap Ara. Dia kekasihku." Rain memasang badan di depanku.


"Aku tidak peduli dengan hal itu. Ara masih mempunyai kontrak kerja denganku. Dan selama itu, dia menjadi tanggung jawabku." Cloud berkata tegas.


"Maaf, untuk kali ini aku yang akan mengakhiri kontrak kerjanya padamu." Rain menatap tajam ke arah Cloud.


"Em, Rain. Sudah," kataku seraya menahan dadanya yang sangat berdekatan dengan Cloud.


Aku merasa situasi ini kurang baik untuk kami. Aku lalu berpamitan kepada Cloud untuk menghindarinya. Namun ternyata, aku terlambat.


"Tidak bisa. Aku lebih berhak atasnya karena aku yang telah membawanya kemari."


"Dan karena hal itu kau merasa memilikinya?"


"Rain, sudah."


Aku berusaha memisahkan mereka. Kulihat Rain dan Cloud akan berkelahi. Keduanya mencoba untuk mencabut pedangnya.


"Tolong jangan bertengkar. Aku tahu aku yang salah. Tolong maafkan aku, Pangeran Cloud."


Aku berada di antara keduanya lalu membungkuk, memohon maaf kepada Cloud karena telah mengambil jam kerja tanpa seizinnya.


"Sekarang ikut aku, Ara!" katanya seraya menarik tangan kananku kembali.


"Hei, Kak!" Rain kembali menahannya.


"Kau mau apa? Ara urusanku!" Cloud tampak kesal.


"Urusannya, urusanku juga." Rain lagi-lagi menyahuti.


"Rain, kau memperlambatku!"

__ADS_1


Cloud kesal, dia memalingkan pandangannya lalu bergerak cepat memukul wajah Rain.


"Rain!"


Sontak saja aku terbelalak melihat Rain jatuh tersungkur, terkena pukulan Cloud. Dengan segera aku membantu Rain untuk bangun. Keributan ini memancing penghuni istana yang lewat melihatnya.


"Cloud, apa yang kau lakukan?!" tanyaku seraya menoleh ke arahnya.


"Ara, aku tidak suka kau bersama Rain. Kau harus ikut denganku," katanya lalu menarikku kembali.


Rain segera bangun sambil memegangi pipinya yang terkena pukulan Cloud. Tampak darah segar keluar dari sela bibirnya itu.


"Rain, kau terluka."


Aku cemas dengan keadaan Rain. Aku mencoba untuk mengusap darahnya itu.


"Aku baik-baik saja, Ara. Ini belum seberapa," katanya berusaha menenangkanku.


Entah mengapa hatiku terasa sakit dengan kejadian ini. Rain harus terluka karenaku.


"Aku mencintai Ara, Kak. Dia akan tetap bersamaku!" Rain beranjak berdiri.


"Dan kau pikir aku tidak mencintainya?" tanya Cloud seraya menatap tajam ke arah Rain.


Aku jadi pusing sendiri melihat hal ini. Aku sudah mencoba untuk memisahkan mereka, tapi keduanya masih saja berseteru. Hingga tak terasa air mataku mulai mengalir dari persembunyiannya.


"Aku yang pertama bersamanya. Sedang kau hanya menganggapnya sebagai—"


"Kau!"


"Cloud tenangkan dirimu!"


Seketika itu juga aku menangis, merasa bersalah atas kejadian ini. Aku tertunduk sedih menahan pilu.


Mengapa hal ini harus terjadi?


"Ara, kau menangis?" Rain beralih kepadaku, dia lalu memegang kedua pipiku ini.


"Lepaskan tanganmu itu darinya, Rain!" Cloud berseru dan berusaha memisahkan kami.


"Cloud, tenangkan dirimu! Jangan terbawa emosi! Kau tidak lihat jika wajah Ara sudah sepucat itu?" Star mencoba menenangkan Cloud.


Cloud tampak berapi-api melihat kemesraan yang Rain berikan padaku. Aku pun tidak dapat melarangnya karena tidak ada yang bisa kulakukan selain menangis.


"Maafkan aku, Cloud. Ini memang semua salahku, bukan salah Rain." Aku meminta maaf kepada Cloud.


Aku menangis tak tertahan lagi, suaraku terdengar parau. Dadaku pun terasa sesak saat ini.


"Jikalau aku boleh membela diri, tadi pagi aku pergi ke bukit pohon surga untuk mengambil buah dan daunnya, agar bisa dijadikan obat dan dibagikan kepada para penduduk. Aku mengambilnya sendiri sebanyak dua karung besar dan belum sempat sarapan. Sehingga tubuhku lemas dan Rain memintaku untuk beristirahat." Aku mencoba menjelaskan kronologinya di hadapan ketiga pangeran ini.


"Aku tahu aku salah, aku akan mengganti jam kerjaku di lain hari. Maafkan aku."


Aku membungkuk ke arah Cloud sambil menahan air mata. Setelahnya, aku segera pergi dari hadapan ketiga pangeran ini. Berjalan cepat dan tidak memedulikan mereka.


"Ara!" Rain segera mengejarku.

__ADS_1


"Ara! Ara!" Cloud juga berteriak memanggilku, namun aku abaikan.


Dengan langkah cepat aku pergi meninggalkan taman istana. Aku tidak ingin kehadiranku membuat masalah di sini.


"Ara, maafkan aku." Rain berjalan mendekati seraya meminta maaf kepadaku.


"Tidak, Rain. Aku yang salah."


Aku pun tidak terlalu menghiraukannya. Kuteruskan saja langkah kakiku menuju kamar sambil menunduk karena tidak ingin ada orang lain yang melihatku menangis.


"Aku antarkan sampai di depan kamar." Rain melepas jubahnya lalu memakaikannya kepadaku.


Aku tidak tahu apa yang terjadi pada Cloud. Aku terus saja berjalan cepat dan tidak menoleh sama sekali ke arahnya.


Sementara itu...


"Cloud, kau lihat itu?" Star bertanya kepada sepupunya.


Cloud tampak begitu geram, ia mengepalkan kedua tangannya. Ia sangat cemburu, hatinya sakit melihat Ara bersama Rain.


"Semakin kau menunjukkan sisi egomu, semakin Ara menjauh darimu," lanjut Star.


"Aku tidak bisa melihat mereka, Star."


"Cloud, harusnya kau bisa menahan emosi. Wajah Ara terlihat sangat pucat tadi. Dia sudah berusaha membantu rakyatmu. Seharusnya kau berterima kasih padanya, bukan malah membuatnya menangis." Star menasehati.


"Aku ...."


"Jika kau terus seperti ini, kau akan kehilangan Ara. Secara tidak langsung kau menyerahkan Ara kepada Rain."


"Tidak. Tidak akan." Cloud menggelengkan kepalanya.


"Harus kau ingat jika wanita itu selalu bertindak menggunakan perasaannya. Sekali kau sakiti, seribu tahun dia akan mengingatnya."


"Aku tidak bisa, Star. Ak-aku—" Cloud merasa tersudutkan.


"Aku tahu kau cemburu. Namun, kau harus lebih banyak bersabar." Star menasehati lagi.


Cloud diselimuti perasaan cemburu. Ia juga merasa bersalah karena telah membuat Ara menangis. Tapi ia tidak dapat menahan api cemburunya. Ia merasa tersingkirkan semenjak kehadiran Rain di istana ini. Ara tidak lagi mempunyai waktu untuknya.


Aku ... membuat kesalahan lagi.


Cloud adalah seorang pangeran perfeksionis. Ia selalu bekerja dengan sesempurna mungkin. Namun dalam hal asmara, Cloud telah melakukan kesalahan sebanyak tiga kali. Mengabaikan perasaan Ara di awal perjumpaan, berkata jika Ara hanya pekerja baginya kepada Rain. Dan hari ini ia kembali membuat kesalahan dengan membuat Ara menangis. Cloud kehilangan kepercayaan dirinya.


"Lebih baik kita minum kopi. Tenangkan pikiranmu dulu." Star mengajak Cloud untuk minum kopi bersama.


"Tapi bagaimana dengan Ara?" Cloud mencemaskan Ara, ia sudah menyadari kesalahannya.


"Biarkan Ara menenangkan dirinya terlebih dahulu, dia butuh istirahat sejenak. Jangan kau paksakan dia untuk bekerja."


"Star, itu hanya alasanku untuk menutupi rasa cemburu."


"Apapun alasannya, kau tidak boleh bertindak seperti itu. Kau calon raja yang harus lebih bijaksana." Star mengingatkan.


Kini Star menjadi penasehat bagi Cloud yang sedang dilanda perasaan bersalahnya. Cloud menyesal telah membuat Ara menangis. Rasanya ia ingin menemui gadis itu lalu segera meminta maaf kepadanya.

__ADS_1


__ADS_2