
Aku sudah lama tidak bermain di tepi pantai. Apalagi di sini pemandangannya indah sekali. Segera saja aku menceburkan diri ke sekitaran tepi laut agar tidak terhanyut jika tiba-tiba ada ombak besar yang datang.
Aku memang bisa berenang, tapi sedikit phobia kedalaman. Jangankan kedalaman, ketinggian pun aku takut. Aku suka yang biasa-biasa saja. Tidak dalam dan juga tidak tinggi.
"Segar sekali."
Aku naik ke permukaan dengan menolakkan kaki ke dasar pantai. Kulihat Zu tengah berenang menggunakan gaya bebasnya.
Dia begitu lihai berenang. Pantas saja menjadi pemenang lomba penyelamatan putri yang tenggelam.
Aku merasa beruntung sekalipun di situasi seperti ini. Tuhan begitu baik padaku. Dia memberi ganti setelah rasa sedih yang kualami. Memang benar roda kehidupan itu akan terus berputar. Aku percayakan saja kepada-NYA. DIA pasti lebih tahu mana yang terbaik untukku.
Zu tak lama melihatku dari jarak sekitar sepuluh meter. Kulihat air laut itu membasahi seluruh wajahnya. Dia tampak sangat tampan sekali.
Aduh, pikiranku. Baru juga berpisah beberapa hari, sudah bisa lihat yang lain.
Aku menggelengkan kepala karena tidak ingin terpesona dengan ketampanannya. Tapi aku juga manusia biasa, tidak bisa melihat yang bening-bening. Saat aku mencoba mengalihkan pandangan, di saat itu juga mataku selalu ingin melihat ke arahnya.
"Nona, kemarilah!"
Zu mengajak aku mendekatinya. Dia lagi-lagi mengulurkan tangannya. Tapi aku diam saja, lebih tepatnya sih aku bingung. Haruskah aku menerima atau menolak ajakannya?
Aku masih diam dengan tetap berusaha memalingkan pandangan darinya. Tapi mungkin dia kesal karena sikapku ini. Dia lantas berenang mendekatiku.
Di-dia mendekat?!
Aku memang tidak bisa pergi darinya dan juga dari tempat ini. Aku tidak tahu jalan dan juga tidak bisa berenang jauh.
"Nona, kenapa kau masih menahan dirimu? Berenanglah bersamaku."
Kini dia sudah berada di hadapanku. Jarak kami juga dekat, hanya sekitar lima puluh senti saja. Dan mataku melihat ke arah dadanya yang bidang.
Ya Tuhan, dadanya putih sekali. Bersih tanpa noda.
Tubuhku memang standar perempuan Indonesia, tidak terlalu tinggi seperti model. Sedangkan dia begitu tinggi. Mungkin sama seperti Rain, sekitar 180cm ke atas.
"Nona?"
__ADS_1
Dia lagi-lagi menegurku. Tapi kali ini dia lebih mendekatkan wajahnya ke depan wajahku. Sontak saja aku merasa risih.
"Pa-pangeran?" Kumundurkan langkah kakiku ke belakang.
"Nona, kau baik-baik saja?" tanyanya lagi yang melangkah mendekatiku.
Air laut menenggelamkan kaki kami. Sehingga hanya bagian pinggang ke atas saja yang bisa terlihat. Tapi penglihatanku ini benar-benar terganggu oleh tubuhnya, yang bertelanjang dada di depanku. Terlebih air laut membuat tubuhnya itu basah.
Bisa ya dia bertanya seperti itu. Sedang jarak kami sudah semakin dekat. Aku ini gadis normal lho, Pangeran.
"Nona?" Dia mencoba memegang lenganku.
"Pangeran, jangan!"
Tidak ingin merasa lebih aneh lagi, aku segera berjalan menjauh darinya. Aku berlari menuju tepi dan meninggalkannya seorang diri.
"Nona!"
Dia memanggilku, namun aku tidak peduli. Aku hanya berusaha menjaga semua ini. Aku tidak ingin dia berprasangka yang tidak-tidak terhadapku.
Kini aku berjalan sendiri, kembali ke vilanya. Jantungku benar-benar tidak bisa menyesuaikan kondisi. Hampir saja aku berteriak histeris karena terlalu dekat dengannya.
Ara tidak menyadari jika sikapnya itu semakin membuat Zu penasaran. Zu tertawa sendiri melihat tingkah sang gadis. Ia merasa jika Ara sudah bisa menerima kehadirannya.
Nona, kau begitu menarik perhatianku. Dan kini kau menarik hatiku dengan sikapmu itu. Bagaimana mungkin aku bisa melepas rasa yang kini tengah bersemi? Senyummu saja sudah mampu membuatku tidak bisa tertidur. Dan kini kau berada di dekatku. Maka izinkanlah aku untuk mendapatkan hatimu.
Zu lantas berjalan, menyusul Ara dari belakang. Gadis itu pun menoleh sesaat ke arahnya dan melihat tubuh Zu yang basah karena terkena air laut. Sontak Ara semakin mempercepat langkahnya, menjauh dari Zu. Ia tidak ingin terjadi sesuatu pada dirinya.
Ara mengakui jika Zu begitu tampan. Pesona sang pangeran juga tidak kalah jauh dari kedua pangeran yang dicintainya. Tapi ia tidak bisa berbuat apa-apa selain menjaga jarak dengan Zu. Namun, hal itulah yang membuat Zu semakin diliputi rasa penasarannya. Terlebih Ara adalah gadis pertama yang berhasil membuatnya sampai tidak bisa tidur dengan nyenyak.
Di Negeri Aksara...
Hari ini Andelin akan melangsungkan pesta pernikahannya. Kini ia sedang didandani oleh penata rias kerajaan. Sedari pagi putri itu tampak menangis. Ia belum juga berhenti dari isak tangisnya. Ia merasa tidak berdaya.
Mungkin ini hukuman bagiku karena telah memfitnah gadis itu.
Andelin menyadari jika telah melakukan kesalahan. Namun, bukan tanpa sebab ia melakukannya. Ia melakukan semua itu karena desakan sang ayah. Jauh di dalam lubuk hatinya, ia tidak menginginkan hal ini.
__ADS_1
Sekarang aku merasa sangat hina.
Ia juga menyadari jika telah melakukan kesalahan fatal. Ia tidak lagi bisa berkunjung ke Angkasa karena Sky sendiri yang telah melarangnya. Kini ia tidak lagi mempunyai tempat untuk pergi.
"Putri, tolong redakan tangismu. Make-up ini tidak akan kering-kering." Penata rias itu meminta.
Andelin merasa jika sedang menerima balasan dari perbuatan buruknya itu. Ia ingin sekali meminta maaf kepada Ara atas ucapannya terdahulu. Tapi ia pun sadar jika tidak bisa pergi begitu saja dari Aksara. Hari ini pernikahannya akan dilangsungkan.
...
Di waktu bersamaan, Sky mendatangi putranya. Ia meminta Cloud untuk menghadiri pesta pernikahan Andelin karena pihak Aksara secara resmi mengundang istana.
"Maaf, Ayah. Aku sedang tidak ingin pergi. Aku ingin menyelesaikan pekerjaanku." Cloud beralasan.
"Pihak Aksara telah mengajukan permohonan damai kepada kita, Cloud. Kurang pantas jika kita tidak menyambut niat baiknya." Sky masih berharap putranya mau menghadiri pesta pernikahan putri Aksara itu.
"Maaf, Yah. Rain saja." Cloud masih menolak dan terus mengerjakan tugasnya.
Sky terdiam. Ia tahu jika putranya sedang tidak ingin diganggu.
"Baiklah, Ayah mengerti. Tapi bagaimana jika Ara ada di sini, apa kau tetap tidak ingin pergi bersamanya?"
Sky bertanya kepada putranya itu kemudian berjalan pergi. Cloud pun tampak menghentikan aktivitasnya sejenak.
Andai dia ada di sini. Pastilah aku yang akan menikahinya, Yah.
Cloud termenung. Ia membiarkan sang ayah melangkahkan kaki, pergi dari ruangannya. Ia terdiam, kedua tangannya menopang dahinya. Cloud merasa pusing menghadapi hal ini, walaupun sebisa mungkin ia menutupinya.
Ara ... aku berharap hari ini akan mendapatkan kabar tentang keberadaanmu. Aku sangat merindukanmu, Ara ....
Cloud masih berharap bisa menemukan gadisnya. Ia berjanji kepada dirinya sendiri untuk tidak pernah meninggalkan gadisnya itu. Cloud begitu membutuhkan Ara sebagaimana bunga membutuhkan hujan.
...
Dan sama seperti sebuah bunga yang membutuhkan hujan.
Aku akan berdiri di sisimu melewati kegembiraan dan rasa sakit...
__ADS_1