
Beberapa saat kemudian...
Aku tidak tahu berapa lama tak sadarkan diri. Dan kini aku merasa sedang berada di pangkuan seseorang.
"Pa-nge-ran ...."
Kuperhatikan samar-samar lalu semakin terlihat jelas. Dan ternyata aku melihat wajah Shu di hadapanku.
"Astaga!" Segera aku bangkit.
"Nona, kau baik-baik saja?" tanyanya tanpa dosa.
"Pangeran, apa yang kau lakukan? Mengapa aku bisa tidur di pangkuanmu? Aduh, nanti pangeran Zu melihatnya!" Aku beranjak berdiri.
"Kau tenang saja, kakak belum pulang. Dia masih akan lembur sampai tengah malam."
"Hah?" Aku terkejut.
"Dia sedang mengejar target untuk menyelesaikan pekerjaannya secepat mungkin. Dan semua karenamu." Shu ikut berdiri.
Aku sengaja menjaga jarak dengannya, karena tidak ingin terjadi fitnah di antara kami. Kurasakan kepalaku masih pusing dan sepertinya aku juga lapar.
"Pangeran, sebaiknya kau kembali ke istana." Aku mencoba masuk untuk melihat jam di dinding. "Ini sudah pukul sepuluh malam lebih. Tak baik jika kau berada denganku di sini." Aku mengusirnya.
"Kau takut jika kakakku tahu?" Dia malah bertanya padaku.
"Tentu saja, Pangeran. Aku tidak ingin dia salah paham dengan kedatanganmu. Cepat pulang dan jaga raja," pintaku lalu beranjak pergi darinya.
Aku tidak tahu apa yang dia pikirkan. Aku terus saja melangkahkan kaki menuju kamar. Namun karena lapar, aku meminta kepada pelayan untuk membawakan makanan terlebih dahulu. Sedang aku menunggunya di kamar.
Ara meninggalkan Shu begitu saja tanpa mengucapkan terima kasih atau kata penghargaan apapun. Yang mana membuat Shu diselimuti rasa penasarannya karena sikap cuek Ara. Entah mengapa seperti ada magnet yang menarik agar ia mencari tahu siapa sebenarnya gadis itu.
Apa mungkin dia benar-benar seorang dewi? Kakakku begitu tergila-gila padanya hingga sampai mengancam akan menyerang Angkasa. Tidak mungkin dia bersikap seperti itu, terlebih sebentar lagi dia akan diangkat menjadi raja negeri ini. Cinta telah benar-benar membutakan matanya.
Shu masih terus memikirkan apa yang Ara ceritakan padanya. Ia merasa prihatin dan juga khawatir jika Ara sampai menyakiti sang kakak. Ia ingin sekali mengambil jalan tengah dari hubungan keduanya, karena ia merasa jika Ara hanya berpura-pura mencintai kakaknya, tak lebih dari sebatas rasa terpaksa.
__ADS_1
Lain Shu, lain pula dengan Zu. Zu tampak lembur di ruang kerjanya agar bisa segera menyelesaikan serah terima tugas besar ini. Semakin lama, matanya pun semakin mengantuk. Hingga akhirnya ia tidak sanggup lagi untuk meneruskan pekerjaannya. Dan tepat pukul sebelas malam, ia memutuskan untuk kembali ke kediamannya.
Sementara di Angkasa...
Rain dan Cloud sedang menemani ibunya yang tengah kesakitan. Moon mengalami gatal-gatal di sekujur tubuh. Segala upaya pun telah dilakukan, tetapi tetap saja penyakit Moon hanya sembuh sementara.
Sudah tujuh orang tabib didatangkan untuk mengobatinya, namun Moon tetap harus merasakan sakitnya itu. Sky pun tampak menyerah dengan permasalahan yang melanda, sedang Rain merasa bersalah karena telah berbicara tegas kepada ibunya sebelum kejadian ini.
"Sekarang apa yang harus kita lakukan?" tanya Sky kepada kedua putranya.
Ketiganya sedang berada di ruang tamu lantai tiga. Cloud duduk di samping ayahnya, sedang Rain menyandar di dekat pintu ruangan. Mereka bermusyawarah atas penyakit yang diderita oleh Moon.
"Mungkin kita harus mendatangkan dokter dari negeri asing, Yah." Cloud tidak menemukan jalan lain.
"Maksudmu kita menggunakan obat kimia?" tanya Sky lagi.
"Ya, untuk meringankan penyakit ibu, mungkin kita bisa menggunakan obat kimia," kata Cloud lagi.
"Tapi tabib bilang ibu seperti terkena gangguan sihir. Itu berarti obat apapun tidak akan berefek padanya." Sky menoleh ke putranya.
"Kau tahu caranya?" tanya Sky lagi.
Cloud menggelengkan kepala, ia tidak tahu.
"Rain, apa yang kau pikirkan? Apa kau mempunyai saran agar ibumu sembuh dari penyakit yang diderita?" Sky beralih kepada Rain.
Sang putra bungsu kerajaan Angkasa menghela napasnya. Ia lalu berjalan mendekati ayah dan kakaknya itu.
"Saranku bawa Ara kembali ke istana. Itu saja."
"Rain, itu bukan solusi." Sky menolak.
"Ayah, Ara bukanlah gadis biasa. Ayah tahu sendiri jika hanya dia yang bisa mengambil buah surga. Apa di antara kita ada yang mampu? Tidak, bukan?" Rain bertutur santun kepada ayahnya.
"Ya, ayah mengerti. Tapi kita tidak mungkin membawa Ara dari Asia." Sky merasa beban semakin bertambah.
__ADS_1
"Aku bingung menghadapi permasalahan ini, seperti menemui jalan buntu." Cloud mengusap kepalanya sendiri.
"Kak, apa kau bisa bertemu dengan tetua agung?" tanya Rain kemudian.
"Tetua agung?"
"Ya, benar. Mungkin kita bisa meminta tolong padanya untuk mengambilkan buah surga. Sekaligus menanyakan bagaimana cara mengembalikan sihir ini."
"Rain, kau yakin ibu terkena sihir?" Cloud bertanya pada adiknya.
"Aku tidak tahu, tapi apa salahnya mencoba?" kata Rain lagi.
Cloud berpikir, namun pikirannya tidak dapat terfokus karena mendengar suara ibunya yang kesakitan. Sky segera beranjak masuk ke dalam kamar.
"Kalian teruskan saja, ayah ingin melihat ibu dulu."
Kedua putra mahkota tampak kebingungan mencari solusi atas permasalahan yang ada. Namun, Cloud akan mencoba melakukan apa yang disarankan oleh adiknya itu.
"Aku tidak tahu ini akan berhasil atau tidak. Tapi besok aku akan pergi ke bukit surga. Kau tetaplah berjaga di istana, Rain. Aku khawatir ada pihak yang sengaja melakukan hal ini." Cloud berpesan.
"Tenang saja, Kak. Ini sudah menjadi tanggung jawabku."
Cloud dan Rain akhirnya bersepakat membagi tugasnya. Cloud akan pergi ke bukit surga untuk menemui Tetua Agung, sedang Rain berjaga di istana. Yang mana itu berarti ia akan menemani Rose, putri Negeri Bunga untuk berkeliling istana seharian.
Mau tak mau Rain harus melakukannya, karena esok akan dilakukan rapat penting antar kedua negeri, untuk membahas penyatuan wilayah kekuasaan mereka. Dan hal ini tentu saja kabar baik untuk Angkasa dan juga kedua pangeran.
Ara, cepatlah kembali. Ibuku terkena sihir dan belum ada yang mampu menyembuhkannya. Aku yakin jika kau mampu, karena hanya dirimulah yang dapat mengambil buah surga.
Rain berdoa dalam hati sambil merebahkan punggungnya di kursi. Malam ini ia akan berjaga di ruangan ibunya. Rain ingin menunjukkan baktinya sebagai seorang anak, walaupun sang ibu sudah membuat masalah besar bagi dirinya dan juga negeri ini. Rain berlapang dada menerima semua ketentuan yang terjadi.
Berbeda dengan Cloud, ia ingin segera menemui Ara walau hal ini tidak terlalu ditampakkannya di hadapan sang adik dan juga ayahnya. Cloud masih berusaha untuk tetap tenang menghadapi situasi yang melanda.
Dan kini ibu tahu jika kami amat membutuhkanmu, Ara. Cloud bergumam dalam hati.
Moon selalu saja merasa gatal pada sekujur tubuh saat petang menjelang. Dan hal itu baru berhenti di saat matahari terbit. Yang mana mengakibatkan tidur Moon terganggu dan juga membuat wajahnya kusut karena kurang tidur. Namun sayangnya, Moon belum tersadar dari kesalahan yang telah ia perbuat.
__ADS_1