
Malam harinya...
Aku termenung seorang diri di teras kamar. Kulihat langit penuh bintang, berkerlip indah di angkasa. Aku tiba-tiba sangat merindukan kedua pangeranku di sana.
Sedang apa ya mereka?
Ingin rasanya berjumpa, tapi sepertinya itu tidak mungkin lagi terjadi. Zu telah mengancamku, ancaman yang bukan sekedar senda gurau belaka. Dia amat serius dengan ucapannya itu.
Sekarang aku sudah seperti geisha. Datang menunggu panggilan untuk menemaninya. Dan malam ini aku ditinggal di rumah, sedang dia kembali ke istana.
Zu memberiku waktu untuk mempersiapkan diri menjadi pengantinnya, dua minggu ke depan ini. Proses yang cukup singkat untuk menjadi seorang istri. Dan kini aku sudah terikat olehnya.
"Pangeran, jangan. Ah!"
Aku teringat kejadian di sungai tadi. Rasanya jadi malu sendiri. Dia begitu berani dan hilang kendali.
"Ke bawah lagi, Ara. Iya, di situ ... uhhhh."
Aku masih ingat bagaimana dia menikmatinya. Kedua matanya terpejam saat meminta bibirku menyusuri tubuhnya. Dia juga mengeluarkan erangan yang membangkitkan hasrat terpendamku. Walau sebisa mungkin sudah menahan dengan menggigit bibirnya sendiri, tapi tetap saja erangan itu keluar dari mulutnya.
"Aaaa! Tidak-tidak!"
Kugelengkan kepalaku berulang kali, aku tidak ingin mengingat apa yang telah terjadi di sana. Aku merasa tidak pantas lagi untuk bertemu dengan Rain ataupun Cloud. Aku telah mengkhianati mereka.
"Putri."
Tiba-tiba kudengar suara ketukan pintu berulang kali. Sepertinya ada pelayan yang memanggilku. Dan segera saja aku berjalan menuju pintu untuk membukakannya.
"Bibi?"
"Maaf, Putri. Pangeran Shu ingin bertemu." Pelayan menyampaikan padaku.
"Pangeran Shu?"
"Iya, benar. Pangeran menunggu di taman belakang," katanya lagi.
"Em, baik. Nanti aku akan ke sana," tanggapku.
"Permisi, Putri." Pelayan itu pun berpamitan.
Aku tidak tahu ada apa dengan Shu yang tiba-tiba ingin bertemu denganku. Padahal waktu sudah memasuki awal pertengahan malam.
"Bukannya aku sudah membuatkan ramuan untuk raja?" Aku heran sendiri.
Selepas bersama Zu di sungai, aku segera mandi lalu bergegas ke istana bersamanya. Dan sesampainya di istana, aku segera membuatkan ramuan sebelum tidur untuk raja. Sedang ramuan yang kudapatkan dari tabib, baru besok pagi kubuat. Sengaja menghabiskan ramuan yang kubeli dahulu di pasar, agar terlihat hasilnya.
"Ya, sudah. Kutemui saja dia."
Kulihat jam di dinding sudah menunjukkan pukul sembilan malam lewat tiga puluh menit. Tapi karena Shu sudah menunggu, kulangkahkan kakiku ke taman belakang kediaman Zu ini, dengan mengenakan gaun tidur yang berwarna krim gelap.
__ADS_1
Sesampainya di taman belakang...
Kulihat pangeran muda itu tengah menatap lampu taman sambil memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana. Aku pun segera menyapa agar tidak banyak waktu yang terbuang sia-sia.
"Pangeran Shu?" Aku berjalan mendekatinya.
Shu berbalik menghadapku dan melihatku dengan pandangan aneh. Dia memperhatikanku dari ujung rambut hingga ujung kaki, hingga membuatku risih sendiri.
Sepertinya gaunku tidak kependekan dan juga tertutup. Aku khawatir jika gaunku pendek dan mencuri perhatiannya.
"Pangeran?" sapaku lagi.
"Hem, iya. Nona." Dia tampak kaku.
"Maaf, apakah ada sesuatu yang ingin Pangeran bicarakan?" tanyaku segera.
"Kau tidak mempersilakanku untuk duduk terlebih dahulu?" tanyanya.
Astaga! Iya juga, kenapa aku tidak memintanya untuk duduk terlebih dahulu? Tapi tunggu, bukannya dia bisa saja duduk tanpa diminta? Ini kan kediaman kakaknya sendiri.
"Silakan duduk, Pangeran." Aku memintanya duduk.
Shu kemudian duduk, aku pun duduk di sisi kanannya. Namun sepertinya, ada yang aneh padanya itu. Dia selalu mencuri pandang saat aku tidak melihat ke arahnya.
Kenapa ya? Apa aku salah kostum?
Tak lama, pelayan mengantarkan cemilan dan teh hangat untuk kami. Dan segera saja aku mencicipinya tanpa menawarkannya lagi kepada Shu.
Satu, dua, tiga cemilan aku makan dan membiarkan Shu melihatku dengan tatapan aneh. Kudengar dia kemudian menghela napasnya.
"Aku tak habis pikir kakakku bisa menyukaimu." Dia akhirnya bicara.
"Eh?!" Aku terkejut dengan mulut masih penuh cemilan.
"Sepertinya kakakku sudah benar-benar gila. Bisa-bisanya dia menyukaimu. Dasar aneh." Shu berbicara sendiri.
"Em, Pangeran. Maaf—"
"Kau tidak perlu minta maaf. Kau tidak salah. Mungkin aku yang salah memandangmu," katanya lagi.
"Mak-maksud Pangeran?"
"Hei, kau belum menyadarinya?"
"Ap-apa?!"
"Kau itu lucu, menggemaskan dan membuat orang penasaran."
"Hah???"
__ADS_1
"Sudah, jangan pura-pura tidak menyadarinya." Dia segera meneguk tehnya.
Aku tidak tahu apa maksudnya mengatakan hal ini padaku. Aku masih asik makan cemilan dan belum terlalu menanggapinya. Aku masih trauma jika berlaku sopan padanya, mulutnya itu benar-benar menyebalkan.
"Dia bilang kepada ayah akan menikahimu bulan depan. Dan kau tahu jika itu hanya tinggal hitungan hari?" Shu seperti kesal. "Dalam dua puluh dua hari kau akan menjadi istri kakakku. Apa kau tidak mempunyai keinginan lain?" tanyanya kemudian.
"Em, maaf." Aku jadi bingung. "Memangnya sudah ditentukan tanggal?" tanyaku lagi.
"Sudah. Dua puluh dua hari dari sekarang." Shu menjawab segera.
Astaga! Kenapa bisa secepat ini? Tiba-tiba aku khawatir.
"Pangeran, aku belum mengerti maksud perkataanmu. Tolong bisa lebih diperjelas," pintaku padanya.
Shu lalu bangkit dan berjalan ke depan, membelakangiku. Dia menarik napas seraya merentangkan kedua tangannya, seolah menikmati angin malam dengan perasaan suka cita.
"Kau tidak ingin kembali ke Angkasa?" tanyanya lagi.
"Pa-pangeran?!"
"Aku khawatir dengan hubungan kalian. Aku tidak mau terjadi sesuatu pada kedua negeri. Aku tahu benar bagaimana kakakku jika sedang menginginkan sesuatu. Aku khawatir perasaannya hanya sesaat padamu."
Ap-apa?!!
Seketika jantungku berhenti berdetak kala mendengar penuturan Shu. Perkataannya menggiringku ke sebuah pengakuan jika perasaan Zu hanyalah sementara kepadaku. Entah mengapa hatiku terasa sakit sekali.
"Pangeran, apakah benar jika pangeran Zu hanya main-main?" tanyaku dengan nada yang lemah.
Dia berbalik ke arahku. "Aku tidak bisa memastikannya. Tapi ... hubungan kalian belum ada hitungan tahun. Aku mengambil kesimpulan sendiri atas hal ini." Shu menatapku. "Maaf, aku tidak ada maksud untuk merusak apa yang telah kalian bangun." Shu menyesal.
"Em, Pangeran. Aku tidak tahu harus bagaimana. Tapi aku tidak bisa menolak keinginannya. Di-dia ... dia mengancamku." Aku ragu-ragu memberi tahunya.
"Kau diancam?" Shu segera mendekat ke arahku.
Entah mengapa aku dengan lancarnya menceritakan apa yang telah Zu katakan padaku. Dan seketika itu juga Shu menelan ludahnya sendiri, dahinya berkeringat.
"Pangeran?" Aku lalu mencoba menegurnya.
"Nona, sebenarnya dari mana kau berasal?" tanyanya setelah mendengar ceritaku.
"Ap-apa? Maksud Pangeran?" tanyaku kurang mengerti.
"Apakah kau benar bukan penduduk bumi ini?"
Hah?!!
Jantungku berdegup kencang saat mendengar pertanyaan itu. Rasanya kepalaku ini sakit sekali.
"Nona, kau tak apa?"
__ADS_1
Tidak tahu mengapa, tiba-tiba aku merasa pusing dan pandanganku pun kabur. Dan tak lama kemudian, aku tidak mengingat apa-apa lagi.