Dua Pangeran Satu Cinta

Dua Pangeran Satu Cinta
I Wanna Touch


__ADS_3

Satu jam kemudian...


Pihak Negeri Bunga sedang dijamu makan oleh Angkasa. Kedua putra mahkota pun menemani raja dan ratu Negeri Bunga tersebut. Di depan meja makan itu juga turut hadir putri bergaun hitam dengan bando mawar di kepalanya.


"Pangeran Cloud, Pangeran Rain, mengapa paduka raja tidak ikut serta makan bersama kami?" tanya ratu Negeri Bunga.


"Mohon maaf, ayah tidak bisa ikut makan bersama karena masih ada urusan penting." Cloud lekas menanggapi.


"Oh, begitu. Baiklah." Ratu Negeri Bunga pun memahami.


Diam-diam sang putri berbando mawar melihat ke arah Rain yang sedang makan. Hal itu pun segera disadari oleh Rain. Namun, Rain tampak diam dan memasang wajah tak peduli. Sedang Cloud masih memperhatikan keduanya.


Aku berharap mempunyai kesempatan memiliki Ara dengan kehadiran Rose di sini. Semoga saja Rose bisa mengalihkan perhatian Rain sehingga aku tidak harus bersaing lagi dengannya.


Cloud berharap jika putri negeri itu bisa mengalihkan perhatian Rain dari Ara yang ia cintai. Ia tidak ingin bersaing dengan adiknya sendiri, walaupun ia telah mengakui kesalahan yang diperbuatnya, di awal kedekatannya dengan Ara.


Lain Cloud, lain pula dengan Rain. Ia mencoba untuk menutupi rasa risih yang kian melanda. Sebisa mungkin ia menjaga perasaan tamu kehormatan istana ini.


Ara, cepatlah kembali. Kau tidak ingin aku dijodohkan dengan putri lain, bukan?


Rain merasa musyawarah yang akan segera dilangsungkan kedua negeri ini, menuju ke suatu keputusan yang tidak jauh berbeda dari sebelumnya. Ia sebisa mungkin menjaga sikap agar pihak Bunga tidak merasa tersinggung dengan sikapnya. Walaupun sejujurnya ia merasa risih dengan Rose, yang sedari tadi memperhatikannya.


Sementara itu...


Rombongan Asia baru saja sampai di istana. Mereka pun segera mengantarkan raja untuk segera beristirahat. Sementara Ara lekas berpamitan untuk kembali ke kediaman Zu.


"Kau tidak ingin membuat ramuan untuk ayahku dulu?" Shu tampak menahan kepergian sang gadis.


"Nanti aku akan kembali setelah jam makan malam, Pangeran," jawab gadis itu segera.


"Hm, baiklah. Jangan sampai tidak datang. Kau telah diberi kepercayaan untuk membantu pengobatan ini." Shu mengingatkan Ara.


"Iya, bawel!" Ara menggerutu lalu membelakangi Shu, menunggu kudanya.


Ap-apa?!


Seketika itu juga Shu tertegun. Ia tampak terkejut saat Ara memanggilnya dengan sebutan bawel. Ia lantas melihat ke sekeliling untuk memastikan jika kakaknya tidak ada.

__ADS_1


"Baiklah, Pangeran. Sampai nanti." Ara beranjak pergi, ia menaiki kudanya.


Entah mengapa tangan Shu seperti ingin menahan kepergian Ara, tapi segera ia tepiskan tangannya itu. Ia lalu bergegas menuju kamar ayahnya, yang mana Zu tengah memberi perintah kepada para pelayan dan prajurit yang berjaga.


Astaga, kenapa aku selalu teringat dengan perkataan tabib itu, ya? Apakah aku akan menjilat ludahku sendiri?


Ada suatu perasaan yang tidak dapat dijelaskan olehnya. Shu merasa terus kepikiran dengan hal yang Tabib Fu katakan. Tak ayal, pikirannya mulai terganggu. Ia teringat-ingat dengan gadis itu.


Setengah jam kemudian...


"Hah, aku mengantuk sekali."


Perjalanan panjang tadi sungguh membuatku lelah. Dan kini aku sedang merebahkan diri di kasur. Aku juga jadi terbayang-bayang dengan hal yang Zu lakukan tadi di dalam kereta.


Dia berani sekali menunjukkannya padaku.


Aku tak habis pikir dengannya yang mulai menggila ini. Aku juga tidak tahu harus bagaimana. Aku bisa apa? Apa mungkin aku dapat melawannya?


Ternyata dia lebih mesum dari Rain.


Entah mengapa aku merasa jika Zu lebih mesum dari pangeranku di Angkasa. Hanya saja Zu terkadang masih bisa menjaga kata-katanya. Ketimbang Rain yang ceplas-ceplos, tidak memikirkan bagaimana perasaan orang yang mendengarnya.


Kadang aku membenci pikiranku sendiri. Jika sedang tidak ada kerjaan, fantasiku berselancar dengan riangnya. Aku sendiri khawatir jika Zu selalu bersikap nakal, secara tidak langsung dia mengajak ku untuk terbang bersamanya.


"Hah! Aku mandi saja!"


Tak ingin terbawa suasana, segera kuambil handuk lalu keluar kamar. Namun, tiba-tiba kulihat Zu datang menghampiri.


"Kau belum ke sana juga?" tanyanya.


"Hah? Ke sana?" Aku jadi bingung.


"Tadi kan sudah kubilang, aku menunggumu di sungai. Kenapa masih di sini?" Dia bertanya seraya menyilangkan kedua tangan di dada.


"Pangeran Zu?"


"Ara, kau tidak bisa lari dariku. Sekarang penuhi apa yang kupinta." Dia menatapku dengan tatapan yang menindas.

__ADS_1


Aduhh ... bagaimana ini? Aku jadi bingung sendiri.


"Kutunggu di sungai." Dia lalu berjalan pergi.


Dia sepertinya serius.


Kututup wajahku dengan handuk seraya menepiskan pikiran yang bergelut dengan hatiku. Dia memang benar, aku tidak bisa lari. Tapi, aku juga tidak bisa menuruti permintaannya, aku takut.


"Permisi, Putri." Tiba-tiba seorang pelayan masuk.


"Bibi, ada apa?" tanyaku segera.


"Maaf, Putri. Anda diminta pangeran untuk segera menemuinya di sungai. Dan ini perlengkapan mandi Putri. Pangeran meminta Putri datang sendiri ke sana dan mengenakan kain ini." Pelayan itu menuturkan.


"Baik, terima kasih."


Aku berusaha tersenyum kepada pelayan. Tidak mungkin juga aku meminta bantuannya untuk menolak permintaan Zu. Dan kulihat kain yang dibawakan untukku ini tipis sekali.


Astaga ... apa ini akhir dari penjagaanku?


Aku bingung, pusing, ragu, sekaligus penasaran. Aku hanyalah gadis biasa, sama seperti gadis pada umumnya. Aku juga masih takut untuk memenuhi permintaannya.


"Saya permisi, Putri. Tolong jangan menundanya, saya bisa terkena marah pangeran nanti." Pelayan itu berpesan lalu beranjak pergi.


Aku tidak tahu bagaimana nanti. Aku juga tidak punya kekuatan untuk melawan ataupun melarikan diri. Dengan ragu aku mulai melangkahkan kaki menuju sungai buatan yang ada di kediamannya ini. Apa yang terjadi, terjadilah. Tapi semoga saja semuanya masih bisa terus terjaga, hingga kata sah itu kudapatkan.


Ara masih ragu untuk memenuhi permintaan Zu, tapi ia juga tidak mempunyai daya untuk menolak permintaan sang pangeran. Dan dengan jantung yang berdetak kencang, ia melangkahkan kakinya menuju sungai buatan, masuk ke dalam ruangan yang disekat itu.


Pangeran ....


Terlihatlah Zu yang sudah membasahi dirinya dengan air sungai. Seluruh tubuh pangeran itu terlihat jelas di kedua mata Ara, hanya area pribadinya saja yang masih tertutupi celana. Ara pun menelan ludahnya.


"Ara, kau sudah datang?" Zu menyadari kehadiran gadisnya. "Kemarilah, mari bermain air bersamaku."


Zu tersenyum lebar seraya mengedipkan matanya ke Ara. Sontak detak jantung Ara semakin tidak menentu dibuatnya. Dan Zu merasa senang melihat ekspresi gadisnya itu.


Mulai petang ini kau akan menjadi milikku, Sayang. Tidak ada yang boleh memilikimu selain aku. Kemarilah dan mulai bercinta denganku.

__ADS_1


Sang gadis pun masuk ke dalam ruang ganti. Ia melepas gaun dan segera mengenakan kain yang diberikan oleh pelayan tadi. Dengan malu ia keluar dari ruangan dan berjalan pelan menuju ke arah Zu yang sudah menunggu.


__ADS_2