Dua Pangeran Satu Cinta

Dua Pangeran Satu Cinta
Love


__ADS_3

"Ibu, pernikahan itu bukan hal yang main-main. Lagipula aku ... sudah mempunyai pilihan sendiri." Cloud mencoba menjelaskan kepada ibunya.


"Kau tahu, Cloud. Sepupumu, Star sudah mempunyai seorang bayi. Istrinya baru saja melahirkan dua minggu yang lalu."


"Benarkah, Bu?!" tanya Cloud tidak percaya.


"Kau dapat informasi dari mana, Ratu?" tanya Sky kepada istrinya.


"Tadi sore utusan bibi Sun memberi kabar kepadaku. Dan rencananya aku akan menyambut kedatangan mereka minggu depan," lanjut Moon.


Sun adalah adik kandung dari mendiang paduka raja, ayah dari Moon sendiri. Sedangkan Star, cucu pertama laki-laki dari Sun. Sehingga Star bersepupuan dengan Cloud maupun Rain.


Sepertinya ada masalah baru.


Cloud tampak mengernyitkan dahi di saat mendengar sang ibu akan menyambut kedatangan Star, sepupunya itu. Lain dengan Moon, ia tampak iri hati karena mendengar keponakannya sudah mempunyai seorang bayi. Sedangkan ia, belum menerima apapun dari kedua putranya.


Beberapa saat kemudian...


Seusai makan malam, Cloud duduk di gazebo istana seperti malam-malam sebelumnya. Pekerjaannya sudah selesai, sehingga ia bisa sedikit bersantai. Namun, kali ini ia membawa biolanya. Cloud berniat melantunkan nada-nada kerinduan yang melanda hatinya.


Udara yang begitu dingin membuat istana tampak begitu sepi malam ini. Mungkin para penghuni istana sudah tertidur lelap dalam mimpi. Kecuali para pengawal yang menjaga istana, mereka tampak menjalankan tugasnya masing-masing.


Cloud mengambil biolanya, memejamkan kedua mata lalu mencoba menghayati nada yang akan dilantunkannya. Nada lagu No Matter What milik Boyzone itu ia perdengarkan kepada semesta melalui gesekan senar biolanya. Cloud merindukan Ara.


...


Cloud menggendong Ara sepanjang perjalanan menuju kamar. Istana begitu sepi di pagi ini. Mereka menyusuri koridor bersama.


"Cloud."


"Hm?"


"Bagaimana jika ada yang melihat kita?" tanya Ara kepada Cloud dari belakang.


"Tidak mengapa. Memangnya kenapa?" Cloud malah balik bertanya.


"Kau serius?" tanya Ara lagi.


"He-em. Aku serius."


"Tapi ... kau kan pangeran, apa tidak malu menggendongku seperti ini?" Ara tak percaya.


"Aku sedang tidak melakukan kesalahan, mengapa harus malu? Lagipula yang kugendong ini adalah seorang ibu," sahut Cloud.


"Hah? Apa kau bilang?" Ara merasa seperti sedang salah mendengar.


"Iya. Seorang ibu. Ibu dari anak-anakku kelak," kata Cloud yang sontak membuat wajah Ara memerah.


"Cloud!" Ara gemas, ia mencubit dada Cloud.


"Aw! Sakit, Ara. Tak bisakah lebih lembut lagi?" tanya Cloud seraya memegang dadanya yang sakit.


Pegangan pada salah satu kaki gadis itupun ia lepaskan. Ara terlihat seperti ingin merosot dari gendongannya.


"Habisnya kau, sih!" gerutu Ara yang gemas.


"Tapi kau menyukainya, bukan?" Cloud bertanya lagi.


Ara merasa terpojok dengan kata-kata Cloud. Ia tersenyum seraya menahan tawa. Tak dapat dipungkiri jika Ara menyukai Cloud. Perasaannya mengalir begitu saja.


...

__ADS_1


Alunan biola itupun terhenti, Cloud tampak begitu menikmatinya. Kedua matanya pun terbuka dan menatap lurus ke depan, seolah-olah merasakan jika Ara sedang berada di hadapannya.


Diletakkannya biola itu ke atas meja. Cloud lalu berjalan ke pintu masuk gazebo dan menyandarkan tubuh di sisi tiangnya. Ia melihat rembulan yang bersinar terang malam ini.


"Ara ... datanglah."


Cloud memohon dengan sepenuh hati. Rasa rindu ini tidak dapat ditahannya lagi. Ia begitu merindukan gadis itu. Seorang gadis yang berhasil memikat hatinya.


Angin pun tak lama datang. Awan putih seolah serempak menjauh dari bulan. Cloud merasakan sesuatu sedang terjadi.


"Ini?"


Cloud terjaga dari lamunannya. Ia merasakan kehadiran seseorang tak jauh dari tempatnya berada. Samar-samar, Cloud mendengar suara yang memanggil namanya.


"Cloud!"


Suara itu semakin lama semakin terdengar jelas. Cloud segera keluar dari gazebo lalu melihat ke sekeliling. Ia kenal benar suara siapa itu.


"Ara?"


Tubuhnya memutar, mencari asal suara. Ia kemudian menemukan seorang gadis bergaun biru sedang menjinjing gaun itu dengan kedua tangannya. Berlari mendekatinya dari arah gerbang istana.


"Ara!"


Dengan segera Cloud berlari. Ia berlari mendekati gadis bergaun biru itu. Jarak mereka yang cukup jauh membuat sang gadis tampak kelelahan.


"Cloud ... aku datang!"


Namun, rupanya cinta dapat merubah segalanya. Senyum gadis itu mengembang di saat melihat Cloud ikut berlari untuk menjemputnya. Keduanya lalu bertemu di tengah taman istana.


"Cloud." Napas gadis itu terengah-engah.


"Cloud, maafkan aku."


Cloud tersenyum bahagia. Ternyata yang berada di hadapannya adalah memang benar Ara, gadis pemilik hatinya itu.


"Ara ...."


Tanpa menunggu lama, Cloud segera memeluk Ara. Ia memeluk gadisnya itu dengan erat. Didekapnya sang gadis yang sudah sekian lama begitu ia rindukan.


"Ara ... aku merindukanmu."


Ara pun membalas pelukan Cloud. Ia melingkarkan kedua tangannya di pinggang pangeran sulung itu.


"Cloud, aku juga merindukanmu."


Kata-kata Ara mampu membuat Cloud meneteskan air mata. Ia menangis bahagia karena dapat bertemu dengan gadis pemilik hatinya di malam ini.


"Ara ...."


Sejenak Cloud melepaskan pelukannya. Ia kemudian memegangi kedua pipi gadis itu.


"Ara, kau tahu ... aku sudah sangat lama menunggu kedatanganmu." Cloud menatap erat gadisnya.


"Maafkan aku, Cloud. Aku harus menyelesaikan urusanku terlebih dahulu," balas Ara seraya tertunduk.


"Tak apa. Melihatmu malam ini saja sudah membuatku bahagia sekali." Cloud tersenyum semringah.


Ara merasakan pancaran energi yang Cloud berikan begitu besar untuknya. Ia merasa sangat bahagia karena melihat keadaan Cloud baik-baik saja, tidak seperti di dalam mimpinya.


"Ara ...."

__ADS_1


Cloud lalu merendahkan tubuh seraya memiringkan sedikit kepalanya. Ia lebih mendekat ke gadis itu.


Cloud ...?


Cloud menyalurkan semua rasa rindunya. Perlahan ia mengecup bibir gadis itu. Kecupan yang begitu terasa hingga merasuk ke jiwanya.


Cloud, aku ....


Ara tidak dapat menolaknya. Bibirnya kini telah berpadu dengan bibir peach milik Cloud. Gadis itu hanya dapat merasakan setiap sentuhan yang Cloud berikan.


Cloud lalu menarik tubuh Ara untuk lebih dekat dengan tubuhnya. Ciuman ini terasa semakin lembut dan memberikan arti. Ia menekan lembut bibir Ara dengan bibirnya, sedang tangan kanannya merangkul pinggang sang gadis, sementara tangan kirinya memegangi kepala Ara agar tidak bergeser dari ciumannya. Ara pun menikmatinya.


Cloud, ini memang bukanlah yang pertama bagiku. Tapi ini yang termanis, ungkap Ara dalam hati.


Ara, kuberikan ciuman pertamaku ini kepadamu. Kuserahkan bersama hati dan ragaku. Cloud juga berucap dalam hati.


Keduanya tampak saling menikmati, begitu lembut dan memunculkan sensasi tersendiri. Tanpa terasa, butir-butir kristal berjatuhan dari langit. Angkasa kini telah memasuki musim dingin. Butiran salju itupun turun mewarnai malam yang indah ini.


Napas keduanya terdengar berat, seperti menahan hasrat yang tengah bergejolak. Cloud lalu menyudahi ciumannya. Ia menempelkan dahinya ke dahi Ara seraya memegang kedua tangan sang gadis dengan erat.


"Ara, aku mencintaimu. Jadilah permaisuriku. Temani aku," kata Cloud dengan suara tertahan.


"Cloud ...." Ara menatap Cloud.


"Aku tidak peduli dengan perbedaan di antara kita. Aku begitu menginginkanmu. Jadilah ibu dari anak-anakku kelak." Cloud memohon sambil menatap erat Ara, tepat di mata.


Ara begitu terharu mendengar kata-kata itu. Ia kemudian memegang kedua pipi sang pangeran.


"Cloud ...."


Ia sedikit berjinjit untuk meraih bibir peach itu kembali. Kali ini Ara yang mencium Cloud, ia berusaha memberikan jawaban melalui ciumannya.


Perlahan ia kalungkan kedua tangannya di leher Cloud. Cloud pun menerimanya dengan senang hati. Kini Cloud menyadari jika gadisnya itu memiliki perasaan yang sama dengannya.


Ara mencium lembut bibir Cloud, menyalurkan perasaan yang kini telah bersemi kembali. Cloud pun menarik Ara ke dalam dekapannya, lebih dekat lagi sehingga tidak ada sela.


Mereka menikmati malam turun salju bersama. Bunga-bunga di taman pun menjadi saksi akan cinta keduanya. Malam ini memberi bukti jika cinta itu mampu menembus dimensi ruang dan waktu.


...


Kau adalah udara yang kuhirup.


Kau adalah segala yang kubutuhkan.


Kau adalah kata-kata yang kubaca.


Kau adalah cahaya yang kulihat.


Dan cintamu adalah segala yang aku butuhkan.


Kau adalah lagu yang aku nyanyikan.


Gadis, kau segalanya bagiku.


Dan aku ingin berterima kasih padamu, Nona.


All That I Need...


...


Bagian Kedua Tamat

__ADS_1


__ADS_2