
Jam makan siang di istana...
Siang ini angin berembus amat pelan. Mungkin sebentar lagi musim panas akan segera tiba. Dan itu berarti pangeran sulungku akan merayakan ulang tahunnya yang ke dua puluh tiga. Aku jadi bingung harus memberikan kado apa.
Selepas bertemu ratu, aku masih duduk sendiri di teras balkon istana. Namun, tak lama kemudian datang seorang pelayan lalu memintaku untuk menunggu Cloud di ruang kerjanya. Dan kini aku sedang duduk-duduk di dalam ruangan sambil melihat dokumen yang datang.
Banyak sekali pekerjaannya.
Aku tahu pekerjaan Cloud amat menumpuk. Bahkan terkadang dia sampai lupa makan siang karena terlalu fokus dengan pekerjaannya. Waktunya amat sedikit untuk beristirahat. Malam pun terkadang dia masih lembur.
"Hah ... akhirnya."
Kulihat Cloud masuk ke ruangan sambil mengembuskan napas panjang. Tersirat kelelahan dari parasnya yang tampan. Tapi karena aku baru marah, kupasang wajah jutek di depannya. Seolah-olah tidak peduli.
"Lama menungguku?" tanyanya lalu duduk di sampingku.
"Lumayan," jawabku singkat.
"Sepertinya waktuku sudah tiba, Ara," katanya yang sontak mengagetkanku.
"Maksudmu?" Aku segera menoleh ke arahnya.
"Ya ... ayah memintaku untuk berangkat ke Aksara sekarang juga."
"Apa?!" Aku pun terkejut.
"Katanya agar pekerjaanku lebih cepat selesai." Dia terlihat pasrah.
"Jam berapa akan berangkat?" tanyaku, berubah sikap lebih peduli.
"Mungkin dua jam lagi. Sebelum sore aku akan berangkat," jawabnya.
Entah mengapa aku jadi sedih.
"Sayang."
"Hm?"
"Jangan nakal, ya." Dia menatapku seraya menggenggam tangan ini.
"Apaan, sih?!" Kupalingkan pandanganku.
"Aku takut kau nakal selama kutinggal." Dia tiba-tiba merebahkan kepalanya di pundakku.
__ADS_1
"Cloud?"
"Aku amat menyayangimu. Aku tidak ingin membagimu dengan siapapun, termasuk Rain sekalipun. Aku ingin cintamu hanya untukku." Dia mulai manja padaku.
"Sudah jangan dipikirkan. Sebentar lagi kita akan menikah. Kau harus lebih semangat kerjanya."
Kuusap pelan pipinya. Rasa kesalku pun berubah menjadi takut kehilangan. Aku takut kehilangan Cloud lagi. Entah mengapa aku seperti tidak rela dia pergi ke Aksara. Bayang-bayang kenekatan Andelin masih terngiang di benakku.
"Cloud, aku akan membuatkan cemilan untukmu," kataku seraya menepuk pelan tangannya.
"Cemilan?" Dia mengangkat wajahnya, melihatku.
"Iya. Kita ke dapur sekarang, yuk!" Aku mengajaknya ke dapur.
Aku berdiri lalu menarik tangannya agar mengikuti ke dapur istana, Cloud pun diam saja. Malahan dia tersenyum manis padaku. Mungkin karena roman wajahku tidak jutek lagi padanya.
Aku tidak tahu di mana Rain sekarang. Mungkin dia masih sibuk dengan pekerjaannya. Jadi karena Cloud akan segera berangkat, aku lebih mendahulukannya. Siang ini aku akan membuatkan cemilan untuknya. Semoga saja cemilan ini selalu membuatnya terjaga dari bahaya tak terduga. Terutama sihir yang hampir membuatku kehilangan dirinya.
Ya, harus aku akui jika aku khawatir Cloud terkena sihir Andelin lagi. Yang mana sihir itu bisa membuatnya menurut apa saja yang Andelin katakan. Tapi semoga saja hal itu tidak terjadi. Doaku ini selalu menyertai di manapun dia berada.
Sesampainya di dapur istana...
Aku dan Cloud masuk ke dapur istana. Sesampainya di dalam, para koki memberi salam kepada kami. Dan untuk yang pertama kalinya aku bertegur sapa dengan para koki setelah kepergianku waktu itu. Namun, rasanya sedikit berbeda, mereka lebih ramah sekarang dan memuji-mujiku di depan Cloud.
Cloud masih menemaniku di sisi. Sedang aku mulai meminta bahan-bahan yang diperlukan untuk membuat cemilan. Para koki pun segera menyiapkan bahan-bahan yang kuperlukan. Mulai dari wafer, cokelat batang, butir nasi kering dan karamel. Semuanya mereka sediakan.
"Nona, jika ada yang dibutuhkan lagi, bisa memanggil kami di samping." Para koki berpamitan setelah menyediakan semua bahan untukku.
"Baik, terima kasih." Aku pun tersenyum kepada mereka.
Para koki sengaja meninggalkan kami berdua di dapur. Dan kini tinggal aku bersama Cloud saja. Kuminta dia duduk di depan meja dapur sambil melihat apa yang akan aku buat untuknya. Pangeranku yang satu ini tampak tersenyum-senyum sendiri.
"Hei, dari tadi tersenyum terus," kataku sambil menyiapkan loyang berukuran sedang ke atas meja.
Kumasukkan cokelat batang ke dalam mangkok lalu kucairkan di atas wajan berisi air panas. Cokelatnya pun meleleh semua. Segera saja kuangkat lalu kuletakkan ke atas meja.
"Hm, memangnya tidak boleh tersenyum?" Cloud memperhatikanku.
"Boleh, tidak ada yang melarang untuk tersenyum. Tapi aku ingin alasannya," kataku sambil mengaduk cokelat di dalam mangkok.
"Aku bahagia, Sayang. Rasanya hampir-hampir tak percaya kita akan menikah." Dia mencoba mencolek cokelatku.
"Hush! Nanti dulu," kataku yang menepiskan tangannya.
__ADS_1
"Sedikit saja, aku ingin." Dia mulai manja.
"Dasar! Pakai sendok." Segera kuambilkan sendok untuknya.
"A?" Cloud pun membuka mulutnya, ingin kusuapi.
Dasar bayi besar. Manjanya kelewatan.
Aku lalu menyuapi Cloud dengan sesendok coklat yang sudah meleleh. Kulihat dia menikmati cokelat yang kusuapi ini.
"Bagaimana?" tanyaku sambil melihatnya.
"Enak sekali. Aku mau lagi," katanya.
"Nanti dulu. Sekarang kita masukkan wafer ke dalam loyang," kataku.
"Lalu?"
"Oleskan karamelnya agar menempel."
"Lalu?"
"Tambahkan wafer lagi."
Kulihat Cloud memperhatikan setiap langkah yang kulakukan. Dan akhirnya wafer karamel sudah jadi berlapis-lapis. Akupun segera menaburkan butir nasi kering ke atasnya. Setelahnya, kutuangkan cokelat ini ke seluruh bagian loyang. Dan akhirnya...
"Taraaaa! Wafer karamel cokelat ala Ara sudah jadi!" kataku dengan wajah amat ceria.
"Wow!" Dia kagum melihat hasil buatanku. "Apa aku boleh memakannya sekarang?" tanyanya lagi.
"Tunggu, Sayang. Biarkan menyatu dulu sampai cokelatnya membeku. Nanti akan kupotong-potong agar mudah memakannya." Aku tersenyum kepada si sulung ini.
Dia beranjak berdiri lalu memelukku dari belakang. "Istriku ini benar-benar pintar." Cloud menempelkan wajahnya di pipiku.
"Siapa dulu?!" kataku sambil tertawa.
"Hahaha, dasar."
Dia mencium pipiku lalu mengusap-ngusap perutku. Seperti tidak sabar menunggu hari bahagia itu. Namun, hari ini dia harus berangkat terlebih dulu ke Aksara. Mau tak mau aku pun harus merelakannya. Ya, apa boleh buat, ini tugas kerajaan.
Ara merasa cemas akan keberangkatan Cloud ke Aksara. Ia masih teringat dengan putri negeri tersebut yang hampir mencelakai pangerannya. Ara khawatir jika Andelin berulah lagi, terlebih ia tidak diizinkan raja untuk ikut pergi. Raja meminta agar Ara tetap berada di istana sampai hari bahagia itu tiba.
Ya Tuhan, tolong jaga Cloudku. Kapanpun dan di manapun dia berada.
__ADS_1
Sang gadis tak henti-hentinya berdoa sebelum mengantarkan keberangkatan Cloud ke Aksara. Ara mendoakan keselamatan dan kebaikan untuk pangeran cinta pertamanya.