
Di Pelabuhan Naga...
Aku baru selesai sarapan pagi bersama Zu. Kulihat di kedai ini banyak tersedia hidangan ringan sebagai menu pembuka harian. Rata-rata berjenis makanan laut yang diolah semenarik mungkin. Dan rasanya sedikit berbeda jika dibandingkan dengan menu yang ada di Angkasa. Di sini lebih terasa asin dan juga sepat. Mungkin karena aku belum biasa.
Zu kemudian membayar sarapan pagi kami kepada pria tua tadi yang ternyata adalah pemilik kedai ini. Setelahnya dia mengajakku menuju suatu tempat, di depan dinding pagar pembatas sekitaran pinggir laut. Zu lantas mengajakku berbincang.
"Kita tunggu keretanya datang, ya."
Kami berdua akhirnya duduk memandangi lepas pantai yang ramai dan juga penuh dengan kapal-kapal. Aku sendiri masih diam sambil terus memperhatikannya. Wajahnya yang polos membuatku gemas sendiri. Tapi kemudian...
Eh?! Dia merebahkan kepalanya di pangkuanku.
"Nona, apa kau tidak bosan hanya memandangiku?" tanyanya tiba-tiba.
Aku merasa jika Zu memiliki sifat asli yang tidak jauh berbeda dari kedua pangeranku. Dia pun mulai berani menampakkan sisi lain dari dirinya itu.
"Usaplah kepalaku. Itu membuatku tenang," katanya lagi.
Aku masih diam sambil terus berpikir. Angin pagi yang menerpa, membuat geraian rambutku ke mana-mana. Zu lantas memegangnya, ia membelai ujung rambutku ini.
"Nona, kalau aku gila kau harus bertanggung jawab, ya!" katanya lagi.
"Hah?!" Sontak aku terkejut.
"Kau tahu, kau sudah membuatku gila. Aku sekarang jadi paranoid." Dia beranjak bangun.
"Pangeran?"
Dia kemudian berjalan ke belakang. Aku pikir dia mau apa. Tapi ternyata, dia malah duduk di belakangku.
"Aku menyukai apa yang ada padamu," katanya lalu menyandarkan kepala di bahu kananku.
"Pangeran, banyak yang lihat. Aku jadi risih," kataku jujur.
"Kau lebih peduli pada mereka dibanding dengan perasaanku?" tanyanya tiba-tiba yang membuatku kehilangan kata-kata.
"Tap-tapi—"
"Ssst..." Dia lalu melingkarkan kedua tangannya di perutku.
"Bisakah kau menganggapku kekasih lamamu?" tanyanya lagi.
"Pangeran!"
"Nona, jangan sekat hatimu untukku. Bisakah kita bersikap layaknya sepasang kekasih yang sudah lama menjalin hubungan?" tanyanya lagi.
__ADS_1
Aku mengerti maksudnya, tapi aku masih belum mampu sepenuhnya melakukan hal itu. Dia ingin aku tidak lagi menjaga jarak dengannya. Tapi, lagi-lagi aku merasa hal ini terlalu cepat untukku.
"Pangeran, pelan-pelan saja, ya. Aku tidak bisa terburu-bu—"
Ah!
Ucapanku tak mampu lagi kuteruskan saat dia mencium leherku ini. Entah mengapa dia mulai berani padaku.
"Aku ingin memilikimu, Nona."
Aku menjadi lemah saat kecupannya mendarat di leherku. Seluruh saraf di tubuhku bereaksi secara spontan saat merasakan daging lembut itu menyentuh permukaan kulit ini. Tubuhku pun bergetar sendiri, merasakan sensasi yang dia berikan. Getaran kecil yang dia pun seperti menyadarinya. Zu lantas menarik daguku agar melihat ke wajahnya.
"Pangeran ...."
Kami pun bertatapan, tepat di mata. Kurasakan jika dia menginginkan sesuatu dariku.
"Aku mencintaimu, Ara." Dia lantas mendekatkan wajahnya ke wajahku, dia ingin menciumku.
Tidak, jangan lagi. Aku tidak boleh seperti ini. Aku harus menjaga diriku.
Segera saja aku bangkit. Aku tidak ingin dinginnya angin laut menghanyutkan perasaan pada suatu keinginan yang belum seharusnya kupenuhi. Aku lantas berjalan pergi, meninggalkan dia sendiri di sana.
"Nona!" Zu lantas mengejarku.
"Nona." Dia membalikkan tubuhku ke arahnya. "Nona, maafkan aku. Aku tidak ada maksud untuk melecehkanmu. Aku hanya mengikuti kata hati ini. Aku benar-benar ingin memilikimu, Nona." Dia meyakinkanku.
"Pangeran, kita baru saja kenal dan belum genap dua minggu. Tapi kita sudah sejauh ini." Aku berusaha menjelaskan.
"Nona, kita sudah mengikat hubungan ini. Lihat!" Dia menunjukkan cincin yang melingkar di jarinya. "Dan lihat!" Dia juga memperlihatkan cincin di jari manisku.
"Ini adalah sepasang cincin yang menjadi saksi pernyataan cintaku padamu. Apa kau masih belum juga mengerti? Apa kau masih ragu akan perasaanku?" tanyanya sungguh-sungguh.
"Pangeran, aku—"
"Aku tahu jika hal ini terlalu cepat bagimu. Tapi aku tidak bisa menghentikan perasaan ini, Nona. Lalu aku harus bagaimana? Apa aku harus menceburkan diri ke dalam laut agar perasaan ini hilang? Kalau itu maumu, aku akan memenuhinya."
Dia lantas pergi meninggalkanku, menuju ke ujung jembatan kapal yang mengarah ke tengah laut. Sontak aku menjadi panik.
"Pangeran!"
Spontan aku mengejarnya, aku berusaha menahan kepergiannya. Kami pun akhirnya berkejaran di atas jembatan yang menuju ke tengah laut.
"Pangeran, tunggu!" Aku terus mengejarnya. "Pangeran!"
Namun...
__ADS_1
"Akh!"
Aku merasa perutku tiba-tiba sakit. Aku tak mampu lagi mengejarnya. Aku menjatuhkan diri, berlutut di atas jembatan kayu ini, menahan rasa sakit yang melanda.
Aduh ... perutku sakit sekali.
Kucoba meluruskan kedua kaki, mengambil napas sejenak. Zu pun menoleh ke belakang, dia melihatku kesakitan.
"Nona!" Dia segera berbalik lalu berlari mendekatiku. "Nona, kau tidak apa-apa?" tanyanya, tapi aku sudah merasa sakit sekali.
"Nona, bertahanlah."
Dia segera menggendongku, menuju ke daratan pelabuhan ini. Zu tampak panik.
"Nona, maafkan aku."
Tak lama berselang, kereta kuda datang menghampiri kami. Salah seorang keluar dari kereta itu, sedang aku masih berada di gendongan Zu.
"Pangeran." Satu orang menyapanya.
"Untung kalian cepat datang. Buka pintunya, cepat!" Zu meminta pintu kereta dibukakan.
Aku tidak tahu mengapa perutku sakit seperti ini. Mungkin ada baiknya jika aku mengeceknya terlebih dahulu.
"Kau istirahat, ya."
Zu merebahkanku di atas kursi kereta kuda ini. Sedang dia menemani sambil terus menenangkanku, mengusap-usap kepalaku. Aku pun mengangguk pelan, menurutinya. Dan tak lama secangkir teh hangat datang untukku.
"Minumlah." Zu membantuku minum.
Entah bagaimana mengungkapkannya, aku merasa Zu amat serius dengan perasaannya. Tapi hatiku berkata jika semua ini terlalu cepat bagiku. Ada rasa khawatir yang melanda jika awal dan akhir itu akan sama saja. Ya, aku khawatir jika dia cepat mendapatkan hati ini, dia juga akan cepat melepaskannya. Dan hatiku bukanlah arena permainan untuknya.
Ara merasa khawatir dengan perasaan Zu. Ia takut jika perasaan Zu itu hanya sementara. Karena setahunya, awal dan akhir itu tidak akan jauh berbeda. Cepat dapat, cepat lepas. Hal itu sudah tertanam di pikirannya sejak kecil, sehingga ia tidak ingin terburu-buru. Tapi sayangnya, hal itu tidak berlaku bagi Zu. Zu hanya mengikuti kata hatinya semata.
Zu tidak peduli perasaan yang tengah bersemi ini terlalu cepat atau tidak. Yang ia tahu, ia mencintai gadis itu. Dan ia menginginkan sang gadis seutuhnya. Pria gila mana yang rela tidak tidur hanya karena melihat seorang gadis tanpa ada perasaan apapun? Dan pria gila mana yang berusaha keras untuk seorang gadis tanpa mempunyai niat di belakangnya?
Zu menyadari jika Ara adalah cinta pertamanya. Namun sayangnya, Ara masih menjaga jarak kepada dirinya. Yang mana membuat Zu semakin diselimuti perasaan takutnya sendiri. Ya, Zu takut kehilangan Ara. Sebagaimana mata takut kehilangan cahaya. Dan terkadang, cinta memang tidak mengenal logika, karena yang dia butuhkan hanya balasan semata.
...
Kau adalah udara yang kuhirup.
Kau adalah cahaya yang kulihat.
Dan cintamu adalah yang kubutuhkan...
__ADS_1