Dua Pangeran Satu Cinta

Dua Pangeran Satu Cinta
Searching


__ADS_3

Di ruang utama istana...


Zu datang disambut oleh Count. Menteri Dalam Negeri itu mempersilakan seluruh pangeran dan putri untuk menikmati cemilan kecil sebelum sarapan pagi datang. Di atas meja besar tersedia kue bulan dan juga teh untuk para tamu undangan.


Pandangan Zu mencari-cari keberadaan sang gadis. Tapi, ia belum juga menemukannya. Hingga akhirnya, hidangan sarapan pagi itupun datang. Namun, sang gadis belum juga tampak di kedua bola matanya.


Ke mana dia?


Zu bertanya dalam hati. Ia masih menantikan kedatangan gadis itu. Padahal di depan matanya berbaris puluhan putri kerajaan yang cantik jelita. Namun, hal itu tidak juga menyurutkan hatinya untuk mengalihkan pandangan.


"Em, Menteri Count."


Zu kemudian memberanikan diri memanggil menteri istana ini. Count pun segera mendekati Zu.


"Maaf, Pangeran. Ada yang bisa saya bantu?" tanya Count ramah.


"Em, sedari tadi aku tidak melihat gadis pendamping itu. Apakah dia ada tugas lain?" tanya Zu memberanikan diri.


"Oh, maksud Anda Nona Ara, Pangeran?" Count memastikan.


"Benar." Zu menjawab singkat.


"Maaf, Pangeran. Nona Ara hari ini diliburkan dahulu. Jadi saya yang akan menggantikannya," jawab Count segera.


Dia libur? Siapa yang memberinya libur?


"Em, baiklah kalau begitu. Terima kasih." Zu segera menutup pembicaraan.


"Jika ada keperluan lain, Pangeran bisa memanggil saya." Count pun berpamitan.


Entah mengapa Zu ingin sekali melihat gadis itu. Rasanya waktu berjalan lambat sekali. Hingga sarapan pagi berakhir, ia masih saja memikirkan gadis itu.


Daya tarik Ara begitu kuat hingga seorang pangeran pun terpikat olehnya. Wajahnya yang imut bak boneka, senyumnya yang manis dan kerlipan matanya yang lentik, membuat pangeran ini selalu terbayang-bayang dengannya. Zu tak habis pikir jika akan mengalami hal ini di negeri lain. Padahal di negerinya juga banyak gadis cantik, bahkan mungkin melebihi Ara.


Ia kini termenung, menatap taman istana dari balik jendela kamarnya. Tubuhnya yang terbalut pakaian kerajaan hitam bermotif daun dengan celana putih dan sepatu bot hitamnya itu, terlihat tak kalah sempurna dari kedua pangeran kerajaan ini.


Perasaan apa ini? Kenapa aku terus memikirkannya?


Berbeda dengan sang adik, Shu tampak tidak mau tahu dengan apa yang terjadi di sekelilingnya. Bahkan ada seorang putri yang menyapanya pun, Shu diam saja, tidak menjawab sepatah kata jua. Shu begitu dingin, tidak seperti kakaknya.


"Kakak, kita diminta berkumpul di halaman depan istana." Shu datang memberikan kabar.


Zu pun mengangguk. Ia lekas beranjak menuju halaman depan istana. Rencana hari ini akan ada instruksi baru menyambut acara puncak kebersamaan para putri dan pangeran kerajaan.


Sementara itu di ruangan Cloud...


Cloud sedang sibuk menjalani rutinitas hariannya. Tak lama kemudian Star datang menemuinya.


"Cloud."


"Star?"


"Apa yang terjadi sebenarnya?" Star tampak cemas.


"Maksudmu?" Cloud menjawab sambil mengerjakan tugasnya.

__ADS_1


"Kenapa paman merahasiakan hal ini?" tanya Star khawatir.


"Maksudmu tentang kejadian kemarin?"


Star mengangguk. Ia lalu duduk di depan Cloud.


"Ayah memang sengaja merahasiakan hal ini karena aib bagi kerajaan."


"Tapi harusnya kau cerita padaku, Cloud. Aku ini saudaramu." Star benar-benar khawatir.


"Hanya aku, ayah, Rain dan juga Ara yang mengetahui hal ini. Kau sendiri tahu darimana?" Cloud balik bertanya.


"Semalam aku bertemu Rain selepas dia rapat. Kamipun mengobrol lama dan Rain kemudian menceritakan hal ini." Star menjelaskan.


"Apa kau sudah menceritakan hal ini kepada yang lain?" tanya Cloud segera.


"Tidak, Cloud. Rain berpesan untuk tidak menceritakan hal ini."


"Baguslah kalau begitu." Cloud bernada datar.


"Cloud, kau dan Rain saling melengkapi. Aku rasa persaingan ini tidak perlu untuk diteruskan."


"Maksudmu?"


"Aku khawatir akan terjadi perpecahan pada kalian. Tidak jugakah kau mengerti?"


Star benar-benar khawatir jika Cloud dan Rain akan berseteru dan tidak lagi bisa bekerja sama membangun negeri. Ia menginginkan agar kedua sepupunya ini tetap bisa akur dan mengemban tugas bersama. Namun, Star hanya bisa menasehati. Keputusan akhir tetap ada pada keduanya.


"Aku sangat mencintai Ara. Aku tidak mungkin melepaskannya, Star."


"Aku tahu, Cloud. Begitu juga dengan Rain yang mencintai Ara." Star tampak begitu cemas.


"Aku tidak tahu bagaimana akhir cerita kami ini. Tapi yang jelas, aku membutuhkan Ara. Hanya dia yang bisa mengerti aku. Aku tidak ingin kehilangannya lagi."


Cloud mengingat bagaimana dirinya memperjuangkan gadis itu. Ia tidak ingin kehilangannya lagi. Cukup sekali baginya merasakan sakit karena kehilangan.


"Semoga Tuhan memilihkan yang terbaik untuk kalian."


Star berjalan mendekati Cloud lalu menepuk bahu sepupunya itu. Ia turut merasakan apa yang Cloud rasakan. Ia hanya bisa berdoa untuk kebahagiaan kedua sepupunya.


"Ya, semoga Tuhan menetapkan hatinya untukku." Cloud pun berharap.


Baik Cloud maupun Rain sama-sama mencintai Ara. Keduanya tidak ingin kehilangan gadis itu. Tapi kepada siapakah takdir nantinya akan berpihak? Hanya doa yang bisa merubah segalanya.


Dua jam kemudian...


Ara terbangun dari tidurnya dan ia menemukan sedang tidur bersama Rain. Ia pun terkejut.


Bagaimana aku bisa berada di sini? Bukannya tadi di sofa teras, ya?


Ia segera mengecek pakaiannya dan ternyata pakaiannya masih tertutup. Ia khawatir jika Rain mencuri kesempatan di saat dirinya tengah tidak sadarkan diri.


Huft, untunglah.


Ara lalu beranjak bangun. Ia keluar dari kamar Rain menuju kamarnya yang berada di lantai dua. Diambilnya ponsel lalu melihat jam yang sudah menunjukkan pukul sepuluh pagi.

__ADS_1


"Tidur pagi itu memang enak, tapi tidak baik bagi kesehatan."


Lekas-lekas ia mandi lalu berdandan serapi mungkin. Ia mengenakan gaun tanpa lengan berwarna merah muda dengan dibalut rompi lengan pendek berwarna putih. Ia telah bersiap untuk menjalani hari liburnya ini.


"Aku memasak saja."


Membahagiakan diri sendiri adalah kunci utama menghilangkan stres. Karenanya, Ara menjalankan hobinya itu agar stres hilang dari pikirannya.


Tak dapat dipungkiri, banyaknya tugas membuat imun Ara turun dan otaknya selalu bekerja. Berpikir bagaimana agar tugas-tugasnya itu dapat terselesaikan dengan baik.


"Aku paling suka sup sapi. Rasanya benar-benar enak."


Ara membuat sup sapi di dapur rumah Rain. Setelahnya, ia menggoreng bawang sebagai toping sup itu. Ia lalu menyantap masakannya sendiri di teras belakang kediaman Rain. Alhasil, aroma sedap masakannya membuat Rain terbangun dari tidur.


"Ara ...."


Suara Rain terdengar serak, maklum saja ia baru terbangun dari tidurnya. Ia berjalan mendekati gadis itu yang sedang menyantap sup. Ara pun menyadari kehadirannya.


"Rain, kau sudah bangun?" tanya Ara seraya menoleh ke arah Rain.


Rain lalu duduk di dekat Ara. Ia menikmati aroma sup yang sedap.


"Sepertinya enak." Rain mengecap bibirnya sendiri.


"Kau mau?" tanya Ara.


"He-em." Rain mengangguk.


"Ambil sendiri sana!" Ara menyuruh Rain mengambil sendiri supnya.


"Ambilkan, Sayang." Rain memohon.


Seketika itu Ara terdiam. Ia tampak jengkel dengan permintaan Rain.


"Aku baru saja duduk, Rain." Ara menolaknya.


"Please, Honey." Rain memelas.


Ara tidak bisa melihat tatapan mata Rain yang berbinar-binar seperti itu. Ia merasa geli dan juga jijik bersamaan. Rain yang gagah perkasa ternyata tidak malu bersikap seperti itu di hadapannya.


"Ya, ya. Baiklah."


Dengan kesal akhirnya Ara mengambilkan Rain sup sapi buatannya. Namun, saat ia kembali ke teras belakang, ternyata sup sapinya telah habis disantap oleh Rain.


"Rain!!!"


Ara segera mengambil bantal sofa lalu memukul-mukulkannya kepada Rain. Rain pun pasrah menerima pukulan itu, ia tidak melawan sama sekali.


Dia ini menyebalkan!


Rain yang selalu membuat ulah di depan Ara, membuat Ara semakin terikat padanya. Kenangan ini mempunyai nilai tersendiri di hati sang gadis. Ia tidak ingin kebahagiaan ini berakhir begitu saja.


"Maafkan aku, Ara. Aku lapar."


Rain akhirnya meminta maaf setelah berulang kali dipukuli Ara. Wajahnya tampak begitu memelas, mengundang rasa iba dari hati sang gadis.

__ADS_1


__ADS_2