Dua Pangeran Satu Cinta

Dua Pangeran Satu Cinta
Who are You?


__ADS_3

Pangeran muda Asia ini datang tanpa diundang. Ratu pun memundurkan langkah kakinya saat menyadari Shu berada di sampingnya.


"Ibu Ratu, sebenarnya apa yang terjadi? Mengapa aku melihat kau ingin menampar putri ini?" Shu melihat ke arah ratu bergaun krim itu.


"Shu, gadis ini sungguh tidak tahu diri. Dia ingin menetap lama di istana padahal dia adalah orang baru!" Ratu itu berseru.


Ara seketika terkejut dibilang seperti itu oleh ratu. Ia ingin ikut bicara, tapi Shu menahannya.


"Ibu Ratu, Dewi memang orang baru di sini. Tapi dia lebih baik daripada penghuni lama istana yang telah sengaja meracuni ayahku. Dewi membantu proses penyembuhan ayah. Dan kini ayah menjadi lebih baik." Shu berucap santun.


"Ap-apa maksudmu, Shu?!" Ratu itu terkejut dengan ucapan Shu.


"Aku tidak ada maksud apa-apa. Aku hanya berkata yang sebenarnya. Tolong jangan ganggu Dewi," pinta Shu kepada ratu itu.


Seketika Ara tersenyum mendengar pembelaan Shu. Ratu itupun tampak kesal karena merasa disudutkan.


"Aku tidak mengizinkan siapapun tinggal di istana selama aku menjabat sebagai ratu negeri ini. Tidak juga dia." Ratu itu bergegas pergi meninggalkan keduanya.


Shu mencoba melindungi Ara dari ibu tirinya. Ia pun masih berlaku santun walau di hatinya ada sepercik rasa kesal menyelimuti.


Aku akan mencoba melindunginya semampuku.


Shu kemudian beralih ke Ara. "Kau tak apa?" tanya Shu kepada Ara.


Gadis itu mengangguk.


"Maaf jika istana ini membuatmu kurang nyaman," kata Shu lagi.


"Tak apa, Pangeran. Aku sudah terbiasa diperlakukan dengan tidak baik." Ara seperti menyindir Shu.


Seketika Shu menundukkan wajahnya, ia merasa malu sendiri. Ia menghela napas lalu menatap Ara kembali.


"Nona, aku sudah minta maaf padamu. Kenapa kau selalu mengungkitnya?" tanya Shu lagi.


"Eh?!" Ara terkejut. "Aku tidak mengungkitnya, Pangeran. Aku hanya mengungkapkan yang sebenarnya." Ara membela diri.


"Ya, ya. Baiklah." Shu akhirnya menerima. "Sekarang aku ingin bertanya padamu," katanya lagi.


"Bertanya?"


"Ya, aku ingin bertanya. Kenapa kau bisa sampai di bukit persik?"


"Eh?!"


"Aku hanya ingin tahu." Shu mulai serius.


"Kau ini hanya sekedar ingin tahu atau ada maksud lain, Pangeran?" Ara balik bertanya.

__ADS_1


Seketika perempatan urat muncul di dahi Shu. Ia merasa kesal karena Ara tidak langsung menjawab pertanyaannya dan malah balik bertanya.


Dia ini benar-benar gadis yang menyebalkan.


"Aku ingin tahu karena hal ini berkaitan dengan kerajaan. Kau tahu, pekerjaan kakakku sampai tertunda hanya untuk mencarimu. Sebenarnya apa yang terjadi hingga kau sampai lari dari kediamannya?" tanya Shu lagi.


Ara berpikir sejenak.


"Katakan saja, jangan membuatku menunggu." Shu mulai kesal karena merasa diperlambat.


"Sebenarnya ini urusan pribadiku dan pangeran Zu. Jika kau bertanya kenapa aku lari, sebaiknya tanyakan langsung kepada kakakmu. Oke?" Ara tersenyum lalu berbalik, beranjak meninggalkan Shu.


"Tunggu!" Shu segera menahan.


Sang gadis tersentak saat merasakan tangannya dipegang oleh Shu. Pemandangan di salah satu ruangan istana itu begitu jelas, Shu memegang tangan Ara.


"Pangeran?" Ara bingung, ia lalu melihat tangannya yang dipegang.


"Apa yang kau lakukan di bukit persik?" tanya Shu yang belum juga melepas tangan Ara.


"Apa aku harus menjawab pertanyaanmu?"


"Tentu saja. Aku pangeran di sini. Aku membantu tugas kerajaan. Dan aku harus mengetahui apa yang terjadi," kata Shu lagi.


"Pangeran." Ara mencoba melepaskan tangan Shu. "Aku ke sana jelas ingin mengambil buah persik. Kau tahu kan jika di sana buahnya lebat?"


"Ya, aku tahu. Tapi bagaimana kau bisa mengambilnya?" tanya Shu lagi.


Pertanyaan macam apa itu? "Pangeran, jika kau ingin buahnya ya tinggal memetiknya saja," jawab Ara yang mulai kesal.


"Memetiknya?"


"Ya, tinggal petik saja," kata Ara lagi.


"Kau bisa memetiknya?" Shu masih mencecar Ara dengan pertanyaannya.


"Pangeran, lama-lama aku tidak mengerti. Sebenarnya apa maksudmu?" tanya Ara yang bingung.


"Seharusnya aku yang bertanya padamu, Nona. Sebenarnya siapa dirimu?" Shu malah balik bertanya.


"Ap-apa?!" Ara bertambah bingung.


"Kau tahu, buah persik itu tidak bisa dipetik. Dia hanya akan jatuh sendiri. Dan dia jatuh hanya di setiap akhir musim. Dan ini masih pertengahan musim semi. Bagaimana kau bisa memetiknya?" tanya Shu lagi.


Ara terdiam sejenak.


"Ya, aku tinggal ambil saja," jawab Ara sedikit ragu.

__ADS_1


"Itu tidak mungkin, Nona. Siapa sebenarnya dirimu?" tanya Shu menyudutkan Ara.


Seketika itu juga sang gadis memundurkan langkah kakinya. Ia merasa tersudutkan dengan pertanyaan Shu. Ia khawatir jika jati dirinya akan terbongkar. Namun, semakin Ara memundurkan langkah kakinya, Shu semakin maju mendekati.


"Katakan terus terang, siapa dirimu?" Shu terus bertanya.


"Pa-pangeran, aku tidak mengerti maksudmu."


"Kau jangan pura-pura bodoh. Bukti sudah nyata di depan mata. Sekarang katakan dari mana sebenarnya kau berasal?"


Shu terus berjalan maju, mendekati Ara. Sedang sang gadis semakin memundurkan langkah kakinya ke belakang. Momen itu tentunya menarik perhatian para penghuni istana yang melihat. Sang pangeran seperti ingin menerkam Ara.


"Shu!"


Tiba-tiba Zu berseru dari kejauhan, yang mana saat itu jarak keduanya sudah semakin dekat. Pikiran Zu seketika terpecah, ia cemas melihat apa yang sedang terjadi.


"Ada apa? Mengapa kau bersikap seperti ini?" Zu berjalan cepat menghampiri keduanya.


"Kakak, tolong jangan salah paham. Aku hanya menanyakan siapa sebenarnya dia." Shu menjelaskan.


"Shu, tolong jaga sikapmu. Dia akan menjadi kakak iparmu dalam waktu dekat ini." Zu merasa cemburu.


"Kakak, jangan berpikiran yang tidak-tidak. Aku tidak mungkin mempunyai perasaan lebih terhadapnya." Shu menjelaskan.


"Baik. Untuk sekarang aku masih mempercayaimu, tapi tidak jika kau bersikap berlebihan nantinya." Zu berkata tegas kepada sang adik. "Ayo, Dewi." Zu lekas menarik tangan Ara.


Ara tertegun, ia tidak enak hati atas apa yang terjadi. Ia merasa jika Zu telah salah paham kepadanya. Ara pun mencoba menjelaskan.


"Pangeran, kami hanya sekedar mengobrol saja." Ara menjelaskan kepada Zu.


Zu diam, tidak menanggapi.


"Pangeran."


"Dewi, aku tidak suka ada yang mendekati gadisku, sekalipun itu adikku sendiri." Zu berkata tegas.


Sambil terus menarik Ara agar mengikuti langkah kakinya, Zu hanya diam sepanjang jalan. Tentunya hal ini membuat Ara semakin tidak enak karena kesalahpahaman yang terjadi.


Ya, ampun. Kenapa seperti ini? Ara tak habis pikir.


Shu sendiri masih diam di tempat. Tangannya tanpa sadar bergerak untuk menahan kepergian sang gadis, tapi ia segera menepiskannya. Shu merasa telah diberikan ultimatum oleh sang kakak karena kejadian ini. Dan entah mengapa, hatinya semakin diliputi rasa penasaran akan kebenaran jati diri sang gadis. Shu ingin sekali mencari tahu siapa sebenarnya Ara.


Benar apa kata tabib Fu. Gadis itu bisa membuat orang nyaman saat berada di dekatnya.


Shu jadi teringat saat sang gadis jatuh, tidak sadarkan diri. Yang mana ia segera menahan tubuhnya agar tidak jatuh terkena lantai. Ia menidurkan sang gadis di atas pangkuannya. Dan saat itu juga jantungnya berdegup kencang tak menentu. Dan baru kali ini Shu merasakan sesuatu hal aneh terjadi pada hatinya.


Lain Zu, lain Shu, lain pula dengan ratu. Ratu melihat apa yang terjadi di antara kedua putra mahkota. Ia ikut merasa penasaran siapa sebenarnya gadis itu. Ia kesal dan juga geram karena Ara telah berani melawannya.

__ADS_1


Dia bisa begitu mudahnya mengambil buah persik. Berarti ... dia bukanlah gadis biasa. Sepertinya aku harus menguji kemampuannya. Ratu berbicara sendiri.


Siang ini menjadi saksi kesalahpahaman antara kedua putra mahkota. Mine yang tak lain adalah Jasmine pun ikut menyaksikan kejadian itu. Seketika ia teringat dengan sebuah negeri yang pernah dikunjunginya, dan negeri itu bernama Angkasa.


__ADS_2