
Selepas makan siang...
Aku bersama Zu menikmati semilir angin di gazebo istana. Dan pangeran yang duduk di sisi kiriku ini sedang merentangkan tangannya ke kursiku. Sepertinya dia memberi kode agar aku bersandar padanya.
"Em, Pangeran. Aku ingin memeriksakan kandunganku. Apakah ada tabib perempuan di sini?" tanyaku padanya.
Sontak Zu terkejut.
"Ma-maksudku perut, Pangeran. Aku ingin tahu sebenarnya sakit apa dan mengapa bisa seperti orang hamil," kataku memperjelas.
"Hah, aku pikir kau akan menarik kata-katamu tadi pagi." Dia mengurut dadanya sendiri.
"Maksudmu?" tanyaku seraya menatapnya.
Zu memegang tanganku, dia lalu menciumnya. "Betapa bahagianya aku bisa menjadi orang teristimewa bagimu."
"Pangeran?"
"Ara, kau tahu. Awalnya aku pasrah menerima takdir jika harus menjadi ayah, bukan dari darah dagingku sendiri. Tapi semenjak kau bilang jika—"
"Stop! Jangan diteruskan!" pintaku seraya menutup bibirnya dengan tanganku.
"Hm?"
"Pangeran, kenapa kau bisa berpikir jika aku sampai hamil?" tanyaku yang ingin tahu.
Zu pun tertawa. Aku tidak mengerti mengapa dia tertawa. Dia lalu menarik tubuhku agar bersandar di dadanya.
Tu kan benar. Perasaanku ini ternyata sangat peka. Dia hanya memberi kode, aku sudah mengerti. Dasar aku ....
"Sayang, sepertinya aku tidak perlu menjelaskannya padamu. Kau pasti tahu," katanya seraya mengusap rambutku ini.
"Pangeran, cepat katakan! Kalau tidak—"
"Kalau tidak apa?" Dia menarik daguku. "Kau akan menciumku?" tanyanya yang membuatku kaget.
"Pangeran!"
"Kalau begitu, ciumlah," katanya lagi.
Zu memejamkan matanya, dia menunggu ciuman dariku. Aku yang melihatnya seketika ingin tertawa sendiri. Dia ternyata tidaklah jauh berbeda dengan kedua pangeranku di Angkasa.
"Ayolah." Dia mengintipku.
"Ish!"
"Aw!"
Kucubit saja dadanya karena gemas dengan tingkahnya. Bisa-bisanya dia seperti ini di jam kerja istana. Ya, walaupun sedang beristirahat, setidaknya dia bisa lebih menjaga sikap sebagai calon raja negeri ini. Atau dia sebenarnya memang tidak tahu malu?
Kadang aku merasa dia seperti Rain, kadang seperti Cloud. Sebenarnya yang mana sifat aslinya?
__ADS_1
"Pangeran, aku bertanya serius. Tolong jawab!"
Aku pun berlagak ngambek di hadapannya. Kusilangkan kedua tanganku lalu membelakanginya. Dan kudengar dia tertawa lagi.
"Baiklah-baiklah."
"Eh! Pangeran?!"
Aku pikir dia akan menjawab dengan biasa saja. Ternyata aku didudukkan di atas pangkuannya, duduk menyamping kiri dan dia memaksa agar kedua tanganku melingkar di lehernya.
"Aku gemas sekali denganmu. Bersabarlah, aku akan segera menikahimu setelah serah terima ini selesai." Dia tersenyum padaku, lucu sekali.
Duh, hatiku. Mau dibawa ke mana perasaan ini?
"Bagaimana kau bisa yakin jika aku mau menikah denganmu?" tanyaku berlagak jutek.
"Hm ... ya, aku yakin saja," jawabnya.
"Kau menyebalkan!"
"Hei, jangan marah-marah. Kau bertambah cantik jika marah, tahu!" Dia mencolek hidungku.
Entah mengapa perlakuan-perlakuan yang dia berikan membuat sifat asliku keluar. Aku seperti terpancing agar bersikap seperti Ara yang manja dan sering ngambekan. Ya, dia memanjakanku.
"Aku sangat menyayangimu, sungguh." Dia merebahkan kepalanya di dadaku.
Pangeran ....
Seketika hatiku haru mendengar penuturannya. Lantas kuusap kepalanya dan membiarkan dia bersandar di dadaku. Mungkin dia ingin mendengar detak jantungku yang sedang mengalun merdu.
"Sudah, Pangeran. Jangan membuatku ikut sedih. Sekarang aku ada di sini." Kubelai rambutnya yang halus.
Zu lalu melihat ke arahku, dia pun mendekatkan wajahnya. Memegang tengkuk leherku lalu mendekatkan bibirnya. Dan tak ayal, kami pun lagi-lagi berciuman di siang ini.
Pangeran ... ini terlalu berlebihan.
Aku tidak tahu apa yang ada di dalam pikirannya. Mungkin saja dia ketagihan setelah berciuman tadi pagi. Atau mungkin ini cara dia menyalurkan perasaan sayangnya padaku.
Aku pernah sempat membaca artikel yang menjelaskan jika seorang pria meminta cium wanitanya, tidak selalu berdasarkan nafsu semata, melainkan dia ingin menyalurkan perasaan kasih sayangnya. Dan juga ingin hubungan yang terjalin lebih dekat, nyaman dan saling merasa memiliki.
Katanya sih pria yang serius dengan cinta dan sayangnya akan cenderung menunjukkan perasaan tersebut lewat ciuman dan pelukan, dibanding lewat kata-kata atau rayuan. Dan mungkin memang benar, karena sekarang aku merasakannya.
"Sayang, kenapa diam saja?" Zu melepas bibirnya dari bibirku.
"Pangeran, tadi pagi sudah," kataku padanya.
"Itu kan tadi pagi. Siang belum, sore belum, malam juga belum." Zu tersenyum gembul padaku.
"Apa?!" Aku terkejut mendengarnya.
"Tak apa, kan? Anggap saja sebagai penyemangat untukku!" Dia tersenyum seraya memperlihatkan gigi-gigi putihnya.
__ADS_1
"Ish, dasar!" Kucubit pelan pipi kirinya itu.
"Kapan-kapan kita mandi bersama, ya?" pintanya lagi.
"Eh?!"
"Hanya mandi saja, kok. Tidak yang lain."
"Pangeran!" Aku beranjak pergi darinya.
"Mau ke mana, di sini saja."
Dia menahanku sebelum sempat pergi. Dan kini aku duduk membelakanginya.
Aduh jantungku. Jangan-jangan dia ingin melakukan sesuatu terhadapku?
Aku jadi khawatir sendiri. Terlebih dia mulai menyingkapkan rambutku ke depan. Dia seperti ingin mencium tengkuk leherku ini.
"Pangeran, jangan!" Aku menolak.
Aku mencoba bergerak, tapi tak bisa. Kedua tanganku dipegangi erat olehnya.
"Pangeran, kumohon. Jangan di sini." Aku semakin panik.
"Apa kita harus kembali ke rumah sekarang?" tanyanya seraya mendekatkan wajah ke punggungku.
"Pangeran, jauhkan wajahmu!"
Aku bisa merasakan hangat napasnya yang menyentuh tengkuk leherku. Seketika aku pun berusaha menahan rasa geli yang melanda ini. Tubuhku bergerak sendiri, mencoba menghindari napasnya itu. Dan kurasakan ada sesuatu yang mulai mengeras di bawah sana.
Astaga, aku bisa malu jika terus seperti ini.
Tak ada cara lain untuk menghindar selain melakukan kekerasan. Kuinjak saja kakinya, Zu pun kesakitan. Dia melepaskan pegangannya dan di saat itulah aku kabur. Aku pergi, lari sejauh mungkin darinya. Tanpa sadar jika masih mengenakan sepatu hak tinggi.
Ih, dia itu menyebalkan!
Karena ribet, kulepas sepatuku lalu pergi sejauh mungkin darinya. Aku tidak peduli dia mau berpikiran apa tentangku. Aku harus menyelamatkan diri dari cengkramannya yang memabukkan.
Ara khawatir tidak dapat mengendalikan diri sehingga ia menghindari Zu. Ia lari terbirit-birit dari pangeran tampan itu. Dan hal itu terlihat jelas di kedua mata sang pangeran. Zu pun tertawa sendiri saat melihat gadisnya lari.
"Hah, dia itu. Selalu saja bisa menghiburku."
Zu mengusap bibirnya sendiri. Ia memandangi kepergian sang gadis dengan tatapan yang menginginkan sesuatu.
Tubuhnya ternyata begitu sensitif. Aku semakin gemas padanya. Ya Tuhan ... aku sudah gila.
Zu mengusap kepalanya sendiri. Ia tidak sadar siapa dirinya. Ia sampai melupakan jika dirinya adalah calon raja negeri ini. Tapi di depan Ara, ia hanyalah pria biasa. Ara dapat membuat Zu lupa dengan segalanya. Dan kini Zu merasa ketagihan, ia ingin selalu bersama gadis itu.
Sayang, jadikan aku pria teristimewa di hatimu. Maka akan kujadikan ratu di hatiku. Miliki apa yang kumiliki, dan cintai aku sepenuh hati. Seperti aku mencintaimu.
Pangeran Asia itu bergegas keluar dari gazebo istana. Tak lupa ia juga membenarkan celananya yang terasa sempit karena ulahnya sendiri. Dan kini pangeran itu kembali menuju ruang kerjanya. Ia begitu bersemangat menyelesaikan serah terima jabatan ini.
__ADS_1